Saturday, July 30, 2005 

Amerika dan Papua

Hari ini baca berita di detik.com dengan judul "DPR siap lobi Kongres AS" jadi aneh juga deh. Kata beritanya, Kongres AS sudah menyetujui RUU 2601 yang memuat masalah Papua. Dalam UU tersebut ada pasal yang menyatakan bahwa Menlu AS harus melapor ke Kongres tentang efektivitas otonomi khusus Papua dan keabsahan Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969.

Apa yang bikin aneh? Ya pernyataan DPR yang katanya siap melobi Kongres AS. Kenapa harus pergi ke AS untuk membicarakan masalah Papua? Kenapa sih DPR harus bersikap lemah seperti itu? Yang tinggi dong rasa nasionalismenya! Damprat itu Amerika! Ngapain ikut ngurusin negara orang sedetail itu! Harusnya DPR mendukung dan meniru sikap SBY yang secara tegas langsung memperingatkan AS untuk tidak ikut campur tangan dalam masalah dalam negeri Indonesia.

Kalau selama ini di Papua ada masalah, itu memang kesalahan kita yang bisanya cuman menguras habis kekayaan alam Papua sementara rakyatnya diterlantarkan. Penyelesaiannya ya harus dengan memperbaiki kebijakan dalam negeri, tidak perlu datang ke Kongres AS. Mau dateng ke Kongres AS, nyembah-nyembah di sana, nyiumin kaki anggota Kongres sampe bibir jontor, tapi rakyat Papua tetap dibiarin (hanya mau bijih-bijih logam berharga dan hutannya aja) ya sama aja bohong atuh.

Kenapa sih justru takut sama Amerika? Harusnya kan ya takut sama rakyatnya sendiri. Udah dikasih kepercayaan jadi wakilnya rakyat, dengan panggilan "anggota dewan yang terhormat" , gajinya berlipat-lipat, mau dinaikkin tinggal ketuk palu sendiri, eh bisanya cuman pergi studi banding musim panas ke Eropa, adu tinju, tidur atau bolos waktu sidang soal rakyat dan mengemis ke Kongres AS. Takut hidup susah seperti rakyat kebanyakan ya oom/tante?

Friday, July 29, 2005 

Ali... Ali...

Baru saja selesai nonton film Ali yang diputar di RTL II. Ada yang kenal Ali? Ya betul, petinju legendaris abad ke-20. Saya sempat sedikit ingat jaman-jaman keemasan Muhammad Ali. Waktu itu saya masih kecil. Satu yang saya ingat betul adalah, siaran tinju Muhammad Ali di TV paling ditunggu orang. Bahkan saya sempat merasakan, hari Muhammad Ali bertinju adalah hari libur nasional di Indonesia, atau setidaknya hari sekolah tanpa pelajaran karena pak guru dan bu guru semua kompak nonton Ali ber- hit and run.

Waktu kecil dulu saya mengira Muhammad Ali itu petinju Indonesia karena dia begitu terkenal dan dikenal di Indonesia. Setelah agak gede dikit baru ngeh, kalau sebenarnya Ali adalah petinju Amerika yang sebelum masuk Islam bernama Cassius Marcellus Clay. Lucu juga ya...

Saya sendiri sebenarnya nggak begitu suka tinju, tapi karena waktu itu Ali begitu ngetop jadi pingin tahu juga deh. Akibatnya jadi suka ikutan nonton deh kalau Ali lagi boxen. Apalagi waktu kecil dulu saya tinggal di asrama Brimob di Kedung Halang, Bogor. Tahu sendiri deh yang namanya bapak-bapak polisi dan anak-anak kolong itu, kebanyakan mereka kan pada suka yang namanya nonton boxen. Saking pada ngefansnya sama Ali, mereka juga nggak ketinggalan teriak Ali... Ali... Wow, kebayang kan serunya!?

Eh iya, nonton film Ali ini, saya juga jadi inget sama lagunya Bimbo yang udah lama banget. Ini saya cuplikin bagian yang ada kata Muhammad Ali nya.

Muhammad Ali bertinju
harus pakai sarung tangan
gadis dan tante kegelian
kalau lihat bulu, bulu tangan...

Jadi bernostalgia deh ya...

 

Firefox vs IE

Ini bukan artikel ilmiah ala ahli TI, cuman ungkapan pemakai aja. Saya buka www.kompas.com pakai Firefox. Di layar Firefox, ada beberapa link berita yang ternyata ketika mouse diarahkan ke link tersebut nggak keluar tanda kalau link tersebut bisa dibuka (gambar jari tangan biasanya, padahal itu link beritanya aktif). Saya penasaran, dalam hati mikir "nggak mungkin kan kompas ngasih link berita tapi nggak bisa diklik?" (kalau link beritanya bisa diklik dan keluar layar kosong itu lain perkara). Akhirnya saya buka pakai IE, eh ternyata link berita itu bisa diklik tuh! Keluar lagi beritanya... Ini siapa yang salah yah? Kompas bikin website-nya yang nggak standar atau Firefox-nya?

Di lain kesempatan saya buka sebuah blog pakai IE, eh koq tampilannya ada yang sedikit nggak enak di mata. Saya penasaran, saya buka blog itu pakai Firefox, lho koq keluarnya bagus? Saya tanya ke yang bikin blog, katanya kecuali di IE, tampilan blognya bagus di software penjelajah situs yang lainnya.

Tapi ini asli yang paling mengganggu pakai software penjelajah situs apapun, kalau buka www.kompas.com, flash iklannya suka menutupi paragraf pertama berita yang ada. Jadinya sebel membacanya dan suka bikin hilang mood. Kasus lain, kalau buka detik.com, dari awal mata sudah terganggu dengan flash iklan yang amit-amit banyaknya, berkerlap-kerlip dan bergoyang-goyang. Tapi ada juga web berita yang masih enak untuk tempat baca-baca berita seperti republika.co.id. Nggak banyak iklannya.

Ada yang bisa kasih saran ke saya kira-kira gimana supaya iklan yang kerlap-kerlip, bergoyang-goyang, dan menutupi artikel nggak bikin mengganggu? (tentunya selain saran "jangan kunjungi situs berita itu").

Wednesday, July 27, 2005 

Trotoar

Si Hasna memang kalau kasih komentar suka spontan dan to the point. Ketika sedang berjalan-jalan di sekitar masjid Salman ITB, dia ngelihat ada keanehan di sana. Di tengah-tengah trotoar ditanam pohon yang besar atau ditaruh pot beton yang juga besar. Sampai bingung dia. Setahu dia yang namanya trotoar itu adalah tempat untuk para pejalan kaki berjalan. Nah kalau di tengah-tengah trotoar ditanam pohon atau ada pot besar, apa yang jalan disuruh nubruk sampe benjol? Aneh katanya.

Di sepanjang Jalan Ganesha (komplek ITB) trotoarnya juga aneh, nggak rata, selang-seling tinggi rendah (pakai lantai dan tidak pakai lantai). Jadi kalau jalan, kaki kanan akan menginjak tempat yang lebih tinggi sedangkan kaki kirinya akan ketemu dengan tempat yang lebih rendah. Seperti naik sepeda dengan roda yang berbentuk elips. Saya sendiri bingung, apa motifnya bikin trotoar seperti itu? Mungkin biar kelihatan aneh atau nyeni kali ya?

Kalau trotoar yang di tengahnya ada pohon atau ada pot beton besar, mungkin supaya kelihatan indah. Model trotoar seperti ini juga pernah saya lihat di Bogor dan Jakarta. Trotoar dibuat menjadi indah memang perlu, tapi kan nggak harus mengurangi fungsi sebenarnya. Apalagi jumlah pejalan kaki itu sebenarnya kan banyak. Masa harus jalan kaki di tempat jalannya mobil? Masa sih yang dimanja sama pemerintah cuman mereka yang punya mobil? Coba aja perhatiin di mana-mana di sepanjang jalan, berapa besar porsi yang diberikan ke pemakai dan pemiliki mobil? Sangat besar. Mereka mendapatkan jalan raya sekaligus tempat parkirnya di sepanjang tempat. Sementara pejalan kaki, hanya dikasih trotoar yang tidak rata dengan lebar 1 meter, itu pun tidak di sepanjang jalan ada trotoarnya, selain itu sudah banyak pula yang direbut sama pedagang kaki lima.

Koq ngeluh ya... Memang begitu kali budaya kita dari dulunya. Di desa saya aja nggak ada yang namanya trotoar. Jadi kalau mau jalan kaki harus hati-hati, suka ada angkutan umum yang balapan ngejar penumpang. Kalau mau aman, ya jalan lewat kebun belakang, ada jalan setapaknya dan lebih segar... Siapa tahu ketemu sama tetangga yang lagi manen rambutan, mangga atau buah-buahan yang lainnya, bisa ikut kebagian...

Tuesday, July 26, 2005 

Luxus Leben

Kemarin dapat sms dari istri yang sedang berlibur di Jakarta, isinya adalah komentar dari Hasna (nama anak kami, 8 tahun) yang sedang menikmati liburan di Jakarta: pergi bermain seharian di Dunia Fantasi (Dufan), menginap 2 malam di hotel dengan fasilitas kolam renang yang nyaman, makan malam di hotel, katanya "Luxus Leben! (hidup mewah)". Lucu juga mendengar komentarnya yang sudah bisa menilai kehidupan seperti itu sebagai sebuah kehidupan yang mewah.

Ya, memang sejujurnya itu adalah kehidupan yang mewah! Sebagai mahasiswa di luar negeri yang mengandalkan beasiswa yang pas-pasan, untuk bisa hidup bermewah-mewah seperti itu adalah tidak mungkin. Namun, kadang-kadang, kawan-kawan di tanah air suka melihat kami yang sekolah di luar negeri sebagai memiliki kehidupan yang dinilai serba berlebihan. Mereka kadang melihat dari uang beasiswa yang kami terima yang jika di kurs ke mata uang rupiah bernilai puluhan juta. Ditambah lagi jika mereka misalnya mendengar kami bisa jalan-jalan ke negara-negara lain di Eropa. Padahal itu tak ubahnya seperti mereka yang tinggal di Yogyakarta dan jalan-jalan ke Bandung atau ke Jakarta.

Untuk bisa melakukan perjalanan liburan ke negara-negara Eropa seperti itu dari tempat kami tinggal di Jerman, biasanya kami selalu mencari paket-paket murah yang mencakup perjalanan dan akomodasi dalam satu paket. Hal itu pun biasanya kami lakukan pada saat libur sekolah anak, dimana pada setiap pergantian musim selalu ada liburnya (jadi ada libur musim gugur, libur musim dingin, libur musim semi, dan libur yang paling panjang yaitu libur musim panas). Biasanya pada hari-hari menjelang liburan seperti itu, biro-biro perjalanan selalu menyediakan paket-paket murah.

Biaya hidup di kota seperti Hamburg ini sebenarnya cukup tinggi, tetapi masih ada cukup banyak pilihan untuk bisa hidup berhemat. Untuk mereka yang jeli melihat harga, bisa berhemat cukup banyak dengan membeli barang-barang keperluan sehari-hari di toko-toko tertentu yang harganya lebih miring dengan kualitas yang hampir sama. Untuk sayur-sayuran, buah-buahan dan ikan, setiap Minggu pagi di dekat pelabuhan Hamburg ada yang namanya Fisch Markt atau Pasar Ikan dengan harganya yang super obral! 1 Euro bisa dapat satu keranjang sayuran atau buah-buahan cukup untuk 1 minggu! Kalau mau gratis, bisa tunggu sampai pasar bubar (pkl.11). Ikan-ikanan (asap dan segar) pun dijual super obral! Kami bisa membeli calamari berkilo-berkilo dengan harga setara 1 kilo saja (jika kami beli di toko), atau ikan-ikan asap sekian potong dengan harga 1 potong, juga ikan segar sekian kilo dengan harga 1 kilo. Apalagi kalau yang suka kepala ikan, bisa dapat kepala ikan gratis cukup untuk 1 minggu.

Selain di Fisch Markt, setiap hari Jumat selesai shalat Jumat di beberapa toko Turki yang besar di sepanjang jalan Steindamm (mungkin ada juga di beberapa daerah yang lain) selalu ada angebot (obral) sayur-sayuran dan buah-buahan. Satu kardus buah-buahan dengan isi lebih dari 1 lusin dijual dengan harga hanya 1 Euro. Kalau kuat bawanya, kita bisa beli berkardus-kardus.

Maka dari itu, kata istri saya, orang-orang miskin yang tinggal di Hamburg akan selalu tetap terpenuhi kebutuhan gizinya karena alternatif untuk mendapatkan barang dengan harga murah masih banyak. Yang gratis pun masih bisa dicari!

 

Hikmah Republika hari ini

Kemarin baru aja posting "Udin dan Ulama", eh hari ini baca di kolom Hikmah Republika ada tulisan dengan judul "Nilai Ulama" yang ditulis oleh Bapak Didin Hafidhuddin. Jadinya nyambung deh...

Di artikel dalam kolom itu diberikan beberapa hadits Rasulullah SAW tentang siapa itu yang disebut sebagai ulama. Berikut petikannya:

''Ulama itu adalah panutan dan pemimpin umat. Barangsiapa yang selalu bergaul dengannya, maka akan bertambah kebaikannya'' (HR Jamaah).

''Ulama itu adalah orang-orang yang dipercaya oleh para rasul, selama tidak mukhallatah (dikendalikan) oleh penguasa yang zalim dan selama tidak menjadikan materi sebagai tujuan hidupnya. Apabila mereka dikendalikan oleh penguasa yang zalim, maka sesungguhnya mereka telah berkhianat kepada para rasul. Jauhilah mereka itu'' (HR Anas Ibn Malik).

Monday, July 25, 2005 

Udin dan Ulama

Barusan saya ngobrol-ngobrol dengan seorang kawan tentang kondisi di Indonesia yang menurut dia penuh dengan kesemrawutan manajemen. Dia sendiri sebelumnya lama belajar di luar negeri dan beberapa tahun yang lalu telah kembali ke tanah air untuk bekerja di sana. Pertama ia bercerita tentang betapa banyaknya para spekulan properti yang menjadikan sektor properti sangat amburadul. Kedua ia bercerita tentang Dana Abadi Umat (DAU) Departemen Agama yang secara logika orang waras sangat keterlaluan. Sebenarnya masih banyak lagi persoalan yang ia kemukakan, mulai dari kebijakan pemadaman penerangan umum untuk penghematan BBM yang ia bilang sebagai kebijakan yang ngaco (kalau tidak mau dibilang tidak cerdas), tentang kesemrawutan lalu-lintas, dll.

Pada posting kali ini saya tertarik untuk mencoba menuliskan tentang hal menarik yang ia simpulkan setelah menghirup udara tanah air tercinta setelah menimba ilmu di luar negeri. Ia mengatakan bahwa saat ini di Indonesia ternyata masih sangat kekurangan ulama, yang ada saat ini (yang mengaku ulama) ternyata kebanyakan hanyalah sekedar udin atau orang yang tahu agama sebagai ritual rutin, tapi sangat kurang ilmunya. Kenapa demikian? Ia mengambil kasus DAU sebagai bukti konkret akan kesimpulannya ini.

Lalu ia mulai bercerita tentang bagaimana masyarakat kebanyakan yang ingin pergi naik haji harus menabung dengan sekuat tenaga, bahkan ada juga di antara mereka yang harus menjual tanahnya (dia memberi contoh masyarakat Betawi) demi untuk mewujudkan keinginan tersebut. Tapi apa yang terjadi kemudian? Ongkos Naik Haji (ONH) yang mereka setorkan tersebut ternyata sebagian harus dimasukkan ke dalam DAU dan secara turun temurun dijadikan bancakan oleh para birokrat untuk membiayai mereka melaksanakan haji abidin (atas biaya dinas) dengan alasan sebagai pemimpin rombongan dan lain-lain. Dan yang perlu anda tahu, itu berlaku secara nasional. Di setiap daerah, kesempatan untuk menjadi haji abidin digilir bak arisan. Tahun ini dari instansi ini, tahun depan instansi itu, dan seterusnya dan seterusnya. Yang lebih parah dari itu, ternyata mereka yang disubsidi oleh kebanyakan orang yang sudah bekerja keras mengumpulkan uang untuk bisa pergi berhaji itu mendapat fasilitas yang lebih di tanah suci sana.

Bahkan ia menggeleng panjang ketika mendengarkan keterangan dari mantan Menteri Agama Tarmizi Taher sebagai mbah-nya DAU yang berasalan bahwa DAU diadakan karena banyaknya keuntungan yang diperoleh Depag selama menyelenggarakan (memonopoli) urusan haji. Tetapi di kesempatan lain, ketika beliau masih menjabat sebagai menteri, juga pernah mengatakan bahwa tidak mungkin untuk menurunkan ONH. Mereka yang mempunya logika yang normal mungkin akan ikut geleng-geleng kepala juga jika mendengar tentang hal ini. Logika berpikir macam apakah yang dimiliki oleh para birokrat yang mengurusi ibadah haji ini? Dan yang lebih parah lagi, hal semacam ini bisa berjalan dalam waktu puluhan tahun!

Dari hal seperti itulah makanya ia berani mengambil kesimpulan bahwa Indonesia masih memerlukan banyak ulama (orang yang berilmu). Menurutnya, kebanyakan mereka yang saat ini mengaku sebagai ulama atau yang didaulat oleh umat sebagai ulama ternyata hanyalah sekedar udin (orang yang sekedar lebih mengutamakan ritual agama). Jika mereka memang benar-benar ulama, pastilah tidak punya logika berpikir yang amburadul seperti itu. Yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah berbuat sesuatu yang salah. Yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa mereka telah memakan yang bukan haknya. Mereka mungkin pemeluk agama yang baik, tetapi kurang bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam berbisnis, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara.

Mungkin kita semua perlu mengoreksi diri, sejauh manakah kita telah memandang agama? Apakah kita hanya memandangnya sebagai ritual rutin belaka ataukah kita menganggapnya sebagai pedoman hidup dalam segala bidang kehidupan yang harus kita pelajari, pahami dan amalkan?

Saturday, July 23, 2005 

Proses Terciptanya Alam Semesta Menurut Al-Quran

Dalam salah satu teori mengenai terciptanya alam semesta (teori big bang), disebutkan bahwa alam semesta tercipta dari sebuah ledakan kosmis sekitar 10-20 miliar tahun yang lalu yang mengakibatkan adanya ekspansi (pengembangan) alam semesta. Sebelum terjadinya ledakan kosmis tersebut, seluruh ruang materi dan energi terkumpul dalam sebuah titik. Mungkin banyak di antara kita yang telah membaca tentang teori tersebut.

Sekarang, mungkin ada di antara kita yang ingin tahu bagaimana Al-Quran menjelaskan tentang terbentuknya alam semesta ini. Dalam Quran surat Al-Anbiya (surat ke-21) ayat 30 disebutkan:

"Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?"

Lalu dalam Quran surat Fussilat (surat ke-41) ayat 11 Allah berfirman:

"Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati".

Kata asap dalam ayat tersebut di atas menurut para ahli tafsir adalah merupakan kumpulan dari gas-gas dan partikel-partikel halus baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperatur yang tinggi maupun rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil.

Lalu dalam surat At-Talaq (surat ke-65) ayat 12 Allah berfirman:

"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu"

Para ahli menafsirkan bahwa kata tujuh menunjukkan sesuatu yang jamak (lebih dari satu), dimana secara tekstual hal ini mengindikasikan bahwa di alam semesta ini terdapat lebih dari satu bumi seperti bumi yang kita tempati sekarang ini.

Beberapa hal yang mungkin mengejutkan bagi para pembaca Al-Quran di abad ini adalah fakta tentang ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan tentang tiga kelompok benda yang diciptakan(Nya) yang ada di alam semesta yaitu benda-benda yang berada di langit, benda-benda yang berada di bumi dan benda-benda yang berada di antara keduanya. Kita dapat menemukan tentang hal ini pada beberapa surat yaitu surat To-Ha (surat ke-20) ayat 6 yang artinya:

"Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah"

Lalu dalam surat Al-Furqan (aurat ke-25) ayat 59 yang artinya:

"Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa..."

Juga dalam surat Al-Sajda (surat ke-32) ayat 4 yang artinya:

"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa..."

Dan surat Qaf (surat ke-50) ayat 58 yang artinya:

"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan"

Dari surat-surat tersebut di atas terlihat bahwa secara umum proses terciptanya jagat raya ini berlangsung dalam 6 periode atau masa dimana tahapan dalam proses tersebut saling berkaitan. Disebutkan pula bahwa terciptanya jagat raya terjadi melalui proses pemisahan massa yang tadinya bersatu. Selain itu disebutkan pula tentang lebih dari satu langit dan bumi dan keberadaan ciptaan di antara langit dan bumi.

Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa sebelum para ahli mengemukakan tentang teori big bang (yang dimulai sejak tahun 1920-an), ayat-ayat Al-Quran telah secara jelas menceritakan bagaimana alam semesta ini terbentuk.

(*diolah dari berbagai sumber*)

 

Konsekuensi Keimanan

Dalam ajaran Islam, salah satu syarat wajib untuk menjadi pemeluk Islam adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu suatu ikrar atau kesaksian pribadi bahwa yang bersangkutan mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Ketika kita telah bersedia untuk mengucapkan kesaksian tersebut, maka kita pun harus bersedia untuk menerima segala konsekuensinya.

Dalam Islam, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Seseorang yang setelah mengucapkan dua kalimat syahadat dilanjutkan dengan berusaha untuk sedikit demi sedikit belajar dan mengamalkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan ikhlas akan lebih baik daripada seseorang yang banyak melakukan amalan tapi dengan tujuan hanya untuk mendapat pujian manusia semata atau supaya dianggap sebagai orang yang beriman oleh manusia lainnya.

Sebagai konsekuensi dari ikrar atau kesaksian kita yang percaya dengan sungguh-sungguh bahwa hanya Allah lah Tuhan kita, maka kita pun akan dengan sungguh-sungguh percaya dan meyakini akan sifat-sifat Allah. Dikatakan bahwa Allah Maha Melihat, maka sebagai konsekuensinya kita pun akan selalu menjaga tingkah laku kita agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang-Nya meskipun kita sedang sendirian atau berduaan dengan orang lain yang mungkin adalah lawan jenis bukan muhrim, teman yang dipercaya tidak akan membocorkan rahasia bila kita melakukan perbuatan jelek atau jahat, dll. Demikian juga, jika kita percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah mempunya sifat Maha Mendengar, maka sebagai konsekuensinya kita tidak akan berani untuk menggunjing, berkata bohong, memfitnah, mengumpat, bersumpah palsu, membuat kesepakatan jahat atau persengkokolan, dan lain-lain. Demikian juga dengan sifat Allah lainnya seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Tinggi, dan lain-lain.

Selanjutnya, kita juga berikrar bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Rasul secara sederhana dapat diartikan sebagai orang yang ditunjuk oleh Allah untuk menerima wahyu-wahyu-Nya dan menyampaikannya kepada umat manusia. Dengan meyakini bahwa Muhammad adalah rasul Allah, maka kita yakin secara sungguh-sungguh dan sadar bahwa ajaran yang disampaikan oleh Muhammad adalah benar adanya karena ia menerimanya secara langsung dari Allah dan bukan merupakan hasil imajinasi atau karangannya. Jadi kita harus meyakini secara sungguh bahwa Al-Quran yang diwahyukan Allah kepada Muhammad adalah benar. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya adalah bahwa kita harus berusaha untuk mempelajari dan memahami isi Al-Quran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mempelajari dan memahami Al-Quran? Bacalah sebanyak-banyaknya literatur atau tulisan para ahli Islam yang mengupas isi Al-Quran atau anda dapat mengawalinya dengan membaca Al-Quran setiap hari, lalu sedikit demi sedikit mulai mencoba untuk memahami artinya dan menanyakan kepada yang lebih tahu jika ada yang belum benar-benar anda pahami.

Kecenderungan manusia adalah ia akan mencoba mencari tahu jika ada sesuatu yang belum benar-benar ia pahami (keinginan untuk belajar). Untuk mengetahui bahwa ia belum tahu akan sesuatu hal ia harus banyak berinteraksi dengan hal-hal tersebut. Contoh sederhananya adalah sebagai berikut:

Seseorang yang ingin bisa memasak tentu akan mencari resep-resep masakan. Ketika ia telah berhasil mendapatkan resep masakan, hal selanjutnya supaya ia bisa memasak adalah dengan mencoba resep itu. Jika dalam mencoba resep itu ia menemukan sesuatu yang tidak ia pahami tentu ia akan bertanya kepada orang lain yang bisa memasak. Tetapi untuk mengetahui bahwa ia tidak paham akan sesuatu di dalam resep itu ia harus mencoba resep itu terlebih dahulu bukan? Artinya ia harus berinteraksi dengan resep tersebut. Jika hal yang dilakukannya berhenti hanya pada mengumpulkan buku resep saja, maka ia akan tetap tidak bisa memasak karena ia belum mempelajari resep tersebut dengan mencobanya.

Ilustrasi tersebut setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa hanya sekedar menyimpan Al-Quran di dalam rumah tanpa pernah membukanya tidak akan menjadikan kita benar-benar mengerti akan isi yang terkandung di dalamnya. Untuk mengetahui isi yang terkandung di dalamnya maka kita harus mulai membuka-buka Al-Quran tersebut, membacanya, mengerti artinya, menanyakan kepada orang yang lebih tahu jika kita menemukan sesuatu yang kurang kita pahami, mencari referensi dari tulisan-tulisan para ahli yang mengupas secara lebih detail isi Al-Quran dan seterusnya dan seterusnya. Dan untuk bisa sampai ke tahap itu, anda harus mulai berinteraksi dengan Al-Quran yaitu dengan membacanya dan tidak hanya sekedar menyimpannya di lemari buku sebagai hiasan atau menyimpannya di tempat yang tidak tersentuh sebagai barang keramat.

Friday, July 22, 2005 

Fatamorgana 3-tas

Kapolri yang baru mengatakan di depan DPR bahwa dalam 1 minggu ia akan memberantas perjudian di Indonesia. Setelah pernyataan tersebut, kita membaca di berita-berita bahwa perjudian di banyak daerah di Indonesia menurun drastis. Operasi-operasi penggerebegan pun berlangsung di mana-mana. Makna apa yang dapat kita ambil dari berita-berita ini?

Kalau saya menangkap: "jika kita mau dan punya tekad yang kuat, memberantas sesuatu yang buruk insya-Allah bisa kita lakukan!" Artinya apa? artinya bahwa sebenarnya kita mampu untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik! Bagaimana caranya? dalam hal bermasyarakat dan bernegara, kecenderungan kita yang selalu menunggu aksi lebih dulu dari pemimpin masyarakat atau penyelenggara negara mengharuskan kita untuk bisa selektif memilih pemimpin. Mulailah untuk bisa melihat figur calon pemimpin bukan hanya dari popularitasnya belaka, tetapi lebih dari itu kita harus meninjau sisi-sisi lain yang lebih realistis seperti integritas, kreativitas dan kualitas (3-tas).

Calon pemimpin yang suka mencari popularitas belum tentu mempunyai 3-tas di atas. Mungkin saja ia 'memilikinya' tetapi terbatas hanya untuk mendapatkan tas yang ke-4 yaitu popularitas. Kapolri yang baru pun mesti kita uji, apakah ia benar-benar mempunyai 3-tas di atas atau hanya 'memanfaatkan' 3-tas tersebut untuk mendapatkan tas yang ke-4. Semacam fatamorgana 3-tas istilahnya. Selamat menunggu hingga beberapa bulan ke depan! Mudah-mudahan saja ia termasuk orang yang amanah.

Thursday, July 21, 2005 

Diundang makan malam

Malam ini pkl. 22.30 baru pulang dari Finkenwerde, habis diundang makan malam oleh keluarga Mas Siswono (mantan karyawan IPTN yang sekarang bekerja di Air Bus Hamburg). Wah mantab sekali deh masakannya, apalagi selama bulan Juli ini kan kalau makan selalu sendiri (maklum sedang jadi pria kesepian alias jomblo). Di sana ada juga keluarga mas Edvin, peneliti BPPT yang sedang jadi peneliti tamu di Max Planck Institute dan keluarga Mas Donny yang juga mantan karyawan IPTN yang sekarang kerja di Air Bus.

Menu masakannya bermacam-macam, ada bakso tahu (bener kan ya namanya?) yang sedap (perasaan lebih sedap daripada yang dijual di Bandung deh!), ada lodeh nangka, perkedel jagung, cah jamur, dan masih ada beberapa lagi yang saya nggak tahu apa namanya. Eh iya, nggak ketinggalan juga mie bakso dan tentu saja kerupuk putihnya. Wah, pokoknya menunya benar-benar mantab man! Benar-benar bersyukur deh hari ini bisa menikmati suasana makan yang enak dengan makanan yang lezat pula.

Meskipun hidup jauh dari Indonesia, kebanyakan kita masih memakan makanan Indonesia yang rasanya masih sangat khas di lidah. Mencari bumbu-bumbu dan segala pernak-pernik untuk membuat masakan Indonesai pun sekarang tidak susah di Hamburg karena sudah ada Toko Indonesia yang khusus menjual segala macam barang produksi Indonesia. Mulai dari bumbu-bumbuan, daun singkong, kerupuk, ikan asin, sambel, teh celup sampe teh botol sosro pun ada.

Orang Indonesia yang tinggal di Hamburg menurut kabarnya mencapai ribuan jumlahnya. Sebagian besar dari mereka adalah abang-abang mantan pelaut. Sisanya ada mantan karyawan IPTN yang bekerja di Air Bus, mahasiswa/i, ibu-ibu yang bersuamikan orang Jerman, dan lain-lain. Biasanya kita suka saling ketemu setahun sekali pada perayaan hari ulang tahun kemerdekaan RI di KJRI. Untuk yang beragama Islam kadang-kadang kita ketemu setahun sekali atau dua kali pada hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, atau jika kita aktif di pengajian bulanan bisa ketemu setiap bulan.

Untuk pengajian bulanan ini ada organisasi resmi yang tercatat di pemerintah Jerman yang mengkoordinirnya yaitu Indonesisches Islamisches Centrum e.V. Lain waktu nanti saya akan coba ceritakan tentang organisasi ini dan segala kegiatannya secara lebih detail. Dan mungkin juga organisasi-organisasi lain yang ada di Hamburg seperti Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia (IASI).

Baiklah, rasanya sudah terlalu larut untuk menambah baris cerita (sekarang sudah pkl.23:41, waktunya shalat Isya). Selamat beristirahat untuk semuanya, semoga esok hari dibangunkan-Nya dalam keadaan sehat jasmani dan rohani dan penuh semangat.

 

Kecanduan Internet?

Hari ini Hamburg diguyur hujan dan angin. Dingin... Pertama nyalain komputer, koneksi ke internet ngaco, nggak mau nyambung. Coba utak-atik beberapa kali akhirnya bisa juga. Tapi masih nggak tahu kenapa bisa begitu. Kali karena sering diforsir ol 24 jam karena tarifnya flat.

Baca postingan di blog cosmomama, katanya harus mulai melakukan penghematan dengan memotong anggaran-anggaran yang nggak perlu, tapi asalkan jangan koneksi internet. Seluruh anggota keluarga sudah kecanduan internet katanya. Mungkin bukan hanya keluarga cosmomama yang seperti itu. Sepertinya hampir sebagian besar orang di dunia ini (yang bisa akses internet) sudah terbiasa hidup dengan internet dan cenderung menjadi kecanduan.

Terus juga baca komentarnya mama bear di postingan saya sebelumnya yang katanya kalau cuaca lagi nggak memungkinkan buat jalan ke luar, alternatif mengisi kekosongan waktu adalah dengan duduk di depan komputer dan surfing. Malah awalnya sempet ribut sama suami. Syukur bahwa akhirnya masalah seperti itu bisa diatasi dengan pintar membagi waktu.

Internet memang bikin komunikasi jadi gampang. Akses data dan informasi jadi lebih cepat. Dunia seperti tanpa batas. Mungkin kemudahan-kemudahan seperti itu yang menjadikan kebanyakan orang menjadi kecanduan internet. Sakaw kalau internet down! Beberapa tahun ke depan kayaknya bakalan ada deh rumah sakit untuk merehabilitasi orang-orang yang kecanduan internet. :)

Oh iya, kalau anda juga punya pengalaman dengan 'kecanduan internet' dan bagaimana mengatasinya, silahkan tuliskan pengalaman anda di bagian komentar ya. Siapa tahu aja bisa jadi tips ampuh buat yang lainnya. Apalagi buat yang tagihan teleponnya suka meledak karena koneksi internetnya pakai dial-up.

Wednesday, July 20, 2005 

Apa hobby dan cita-cita mu?

Huh! beberapa hari ini cuaca mendung, kadang hujan dan berangin... Mulai suntuk nih kalau lagi di rumah sendirian. Nunggu hasil running program belum keluar-keluar. Ternyata dengan model asimilasi pasang surut yang baru selesai dibikin dan sekarang sedang diuji coba, perlu waktu yang sangat lama sampai keluar hasilnya. Padahal belum tentu juga hasilnya langsung betul.

Sambil iseng di depan komputer, terpaksa deh bikin blog baru lagi. Kali ini bikin blog tentang ilmu yang dikuasai yaitu oseanografi. Alamatnya di http://oseanografi.blogspot.com. Isinya belum banyak juga, soalnya baru kerasa sekarang kalau menulis itu susah! Biasanya memang paling males kalau disuruh nulis. Apalagi nulis yang serius, yang nggak serius aja jelek! huh! Emang nggak bakat nulis sih! Bakatnya ngapain ya? Paling susah deh kalau ditanya gitu. Sama aja susahnya kalau disuruh jawab hobby-nya apa? Kalau dipikir-pikir, kayaknya nggak ada deh yang bener-bener bisa dijadiin hobby. Membaca? nggak juga. Dulu mungkin iya waktu masih bujangan, sehabis nikah hobby baca berkurang soalnya istri suka melotot kalau suaminya lebih milih ngelus-ngelus buku cerita/novel dan nyuekkin istrinya. Lagian harga buku makin kesini makin mahal, nggak punya duit deh buat beli buku. Mau pinjem, males pergi ke tempat minjemnya. Olahraga? huh, boro-boro. Dulu pernah suka main badminton, tapi karena kalah terus jadi bosen. Pernah juga main voli tapi yang nggak diterusin juga, nggak ada bakat. Apalagi main bola sepak! busyet deh, nonton orang main bola aja suka males!

Apalagi coba? Hobby komputer? Kalau komputer sih bukan hobby, tapi ya emang kerjaannya harus berhubungan dengan memakai komputer. Kalau ada istri dan anak di rumah, mana pernah kerja di depan komputer. Malah istri yang akhirnya asyik chatting dan nge-blog, sementara saya lebih memilih nonton tv nemenin anak. Nah itu kali, nonton! Huh, boro-boro! Jam nonton bisa dihitung deh, ke bioskop aja jarang-jarang. Palingan dulu waktu jaman SMA atau kuliah ya cuman supaya bisa sambil jalan bareng sama temen aja (nggak enak, takut dikira sombong!). Apalagi di Jerman, semua acara tv pakai bahasa Jerman! Nemenin nonton tv anak juga cuman film-film kartun. Dan kalau anak udah ditemenin nonton, suka protes dianya kalau bapaknya mulai ngomel soalnya film kartunnya suka diulang-ulang.

Jadi begitulah... tapi saya memang dari dulu suka bingung kalau ditanya hobby. Mulai dari jaman sekolah di SD deh kayaknya. Sebenernya ada 2 pertanyaan yang suka bikin saya bingung dan sebel ngejawabnya yaitu: hobby-nya apa? dan cita-citanya apa? Abisnya memang dari kecil nggak ada sih yang di-'fanatik'-in dan diimpiin. Biasanya kan anak-anak kalau ditanya suka jawab: "pingin jadi dokter!" atau "pingin jadi insinyur!" atau "pingin jadi penganten!" (hus!). Nah saya waktu kecil hidup di desa kecil, belum ada yang namanya dokter sama insinyur. Ada juga bidan sama mantri kesehatan. Paling keren di sana ya guru, polisi, tentara sama pak lurah. Saya nggak mau jadi polisi, wong bapak saya juga polisi dan kalau kerja suka nggak jelas waktunya! Apalagi kalau udah menjelang lebaran, natal, pemilu, dll. Belum lagi kalau dikirim ke Timor-Timur. Jadi tentara juga nggak mau, hampir semua oom saya jadi tentara dan disuruh perang juga ke Timor-Timur. Jadi guru? Hihihi... nggak ah, wong saya mulai dari SD juga sudah diajar sama bapak dan ibu guru, jadi tahu kerjaannya guru gimana, nggak enak! Cuap-cuap di depan kelas seharian, periksa hasil ulangan, bikin soal ulangan, dan harus gonta-ganti baca buku pelajaran setiap tahun ajaran baru karena bukunya diganti terus sama depdikbud!. Jadi Pak Lurah? Di desa saya jadi Lurah mah nggak dapet gaji, cuman dapet tanah bengkok! (kalau tanah lurus mau kali.. hehehe). Padahal kalau kepingin jadi Lurah harus siap-siap keluar modal puluhan juta rupiah (sekarang kali udah sampe ratusan juta deh!) untuk menarik pemilih. Bayangin aja, sebulan sebelum pemilihan Lurah tamu-tamu sudah berdatangan ke rumah, biasa studi banding. "OK nggak nih suguhannya dan servisnya!" kata mereka. Kalau OK, boleh deh kita pilih, kalau nggak OK, ya kita bisikin semua tetangga supaya jangan milih. Belum lagi harus nyogok panitia pemilihan, soalnya kalau nggak disogok bisa-bisa nggak lulus deh tesnya. Jadi ya, karena waktu kecil pikiran dan logika masih jauh lebih waras (sekarang juga masih waras lho!), mana mau coba dikerjain kaya gitu cuman dapet tanah bengkok. Bisa sih mungkin cari peluang lain, tapi ya namanya di desa apa sih yang mau ditilep? Paling banter uang PBB (Pajak Bumi dan Bangunan). Tapi kalau ketahuan ya jadi terpidana juga. Lagian itu kan namanya korupsi. Kata Pak ustadz yang suka ngajarin gaji di desa, korupsi itu nggak boleh sama Allah. Dosanya sangat besar dan sama aja seperti orang syirik. Kenapa sama seperti orang syirik? Karena ternyata orang korupsi itu lebih takut nggak punya uang daripada takut sama Allah. Nah syirik itu kan artinya menduakan Allah. Nah mereka yang suka korupsi itu menduakan Allah dengan uang dan kekuasaan. Hebat juga ya pak ustadznya!

Nah kalau gitu kenapa nggak jadi ustadz aja? Wah, kalau didesek gitu jadi nggak enak nih! Pinginnya sih bisa jadi ustadz (serius deh!), cuman ternyata jadi ustadz itu susahnya minta ampun. Bayangin aja, kalau jadi ustadz itu (yang asli lho ya, bukan yang gadungan) kan harus selalu sejalan tuh antara apa yang dibicarain, diajarin atau dikotbahin dengan yang dilakuin sehari-harinya (meskipun nggak ada orang yang ngelihat karena ustadz percaya kalau Allah maha melihat). Nah, orang kaya saya! Shalat aja masih sering di akhir waktu mana bisa jadi ustadz, padahal ustadz kan selalu bilang "shalatlah di awal waktu, karena itu lebih utama!". Terus lagi: "belanjakanlah hartamu di jalan Allah!" Nah kalau saya, masih lebih banyak belanja di mall-nya daripada ngasih infak atau sedekah. Belanja di mall bisa sampe abis ratusan ribu rupiah (masih senyum lagi meskipun uangnya habis), lha sementara ngasih sedekah belum tentu seminggu sekali pas shalat Jumat dan paling banter cuman orde ribuan rupiah. Itu baru 2 contoh ya, belum lagi contoh yang lainnya.

Sebenarnya ada juga sih tekad di hati ini supaya mudah-mudahan bisa niruin para ustadz. Tapi memang kehidupan jaman sekarang makin berat aja tantangannya. Kehidupan dunia yang fana kadang-kadang menjerat kita terlalu kuat dan melenakan kita. Kadang kita menyadarinya, tapi seringkali pula kita tidak punya kekuatan yang cukup untuk melepaskan jeratannya. Tapi kita memang harus terus berusaha. Orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dia adalah orang yang celaka. Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, dia adalah orang yang merugi. Orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dialah orang yang beruntung.

Wah, udah panjang lebar deh ceritanya. Ngelantur dari A sampe Z. Udah dulu ya! bis morgen!

Tuesday, July 19, 2005 

Presiden, DPR dan Partai

Di zaman reformasi ini,
Presiden takut sama DPR
Kekuasaan presiden sudah banyak dikurangi
Sementara kekuasaan DPR ditambah

DPR berani manggil presiden dan para menteri
Kalau dianggap ada yang bermasalah
DPR nggak takut lagi sama presiden
Karena DPR adalah wakil rakyat

Segala sesatu yang dirumuskan presiden
Harus dikonsultasikan sama DPR
Kalau tidak, DPR bisa menggelar sidang
Kalau sudah sampai sidang digelar
Adu tinju pun akan dihadapi oleh anggota dewan

Hanya satu orang yang tidak begitu takut sama DPR
Dialah wakil presiden
Kenapa wakil presiden tidak takut sama DPR?
Karena ketua DPR bawahan dia di partai
Tanpa mengendarai partai, mana bisa jadi ketua DPR
Untuk berani sama ketua partai, ketua DPR harus berpikir banyak kali

Presiden punya wakil presiden yang ketua partai
Wakil presiden itu pembantu presiden
Harus ngikutin apa yang dirumusin Presiden
Wakil presiden jadi ketua partai karena dia wakil presiden
Kalau dia bukan wakil presiden, belum tentu jadi ketua partai

Jadi...
Pusing deh gua bacanya....
Tau ah... gelap!

 

Hi DPR!

Baca-baca berita katanya 'penghasilan' anggota DPR bakal dinaikkan 83-104% ya? Hehehe... jadi ikutan senyum deh. Kasihan ya mereka, ternyata sebagai wakil rakyat gajinya masih kurang besar. Padahal kan tugas wakil rakyat memang berat, bayangin aja harus ikut rapat ini rapat itu, kadang-kadang rapatnya maraton. Kalau pas lagi ngantuk kan susah juga tuh tidur sambil duduk, suka pegel leher. Apalagi kalau pas palu diketok sama pimpinan sidang, suka bikin kaget kan?

OK deh, buat anggota DPR saya ucapkan "selamat memperjuangkan kenaikan gaji!" Nggak usah kuatir dan dipikirin kalau banyak rakyat yang protes dengan perjuangan anda. Kenaikan gaji anda kan bagian dari urusan rakyat? Hitung-hitung, kalau ngusulin kenaikan gaji untuk seluruh rakyat kan cukup berat ya? Jadi naikkin gaji wakilnya rakyat aja dulu...

Tapi saya nggak ikutan ngedukung ya! Mendingan ikutan ndengerin lagu yang dinyanyiin Il Divo dari blognya Mama Bear. Mendung-mendung begini cukup enak juga didengerin. Have a nice Tuesday buat semuanya!

Monday, July 18, 2005 

Gaji ke-13, siapa takut!

He..he..he.. hari ini dapat kabar dari teman kerja di BPPT bahwa PNS dapet gaji ke-13. Gaji ke-13 kali ini seingat saya adalah yang ke-2 dikeluarkan setelah keruntuhan ORBA. Yang pertama dikeluarkan di masa pemerintahan Ibu Megawati menjelang akhir masa jabatannya (karena setelah itu beliau kan kalah di pemilu langsung). Kata Pak Menkeu waktu itu, gaji ke-13 sengaja diberikan tepat pada saat tahun ajaran baru, karena pada tahun ajaran baru itulah terjadi peningkatan pengeluaran yang cukup besar untuk membayar biaya sekolah anak.

Dahulu kala, gaji ke-13 biasanya jatuh atau diributkan menjelang hari raya Idul Fitri dan sifatnya pun tidak menentu. Kadang ada, kadang tak ada. Setelah kejatuhan ORBA, banyak pula instansi yang berinisiatif untuk mengadakan gaji ke-13 secara swa sembada (inget senyumnya Pak Harto deh kalau ketemu kata-kata swa sembada) dengan mengandalkan dana taktis. Sumber dana taktis sendiri tidak jelas, ada yang 'disisihkan' dari 'sisa' anggaran Daftar Isian Proyek (DIP). Kata disisihkan dan sisa sengaja saya kasih tanda petik karena definisinya berbeda dengan definsi yang ada di kamus besar Bahasa Indonesia. Yang membaca blog ini tentu tahu sendiri kan dimana bedanya. Sebagai gambaran mudahnya anda bisa mengacu pada dana taktis KPU atau Dana Abadi Umat (DAU) Departemen Agama.

Gaji ke-13 yang diterima besarnya adalah 1 bulan gaji. Buat PNS yang memang hanya mengandalkan sepenuhnya pada gaji yang ada (artinya tidak punya penghasilan tambahan di luar gaji), gaji ke-13 ini memang cukup terasa manfaatnya dan bisa membuat nafas sedikit lega (seperti iklan orang yang habis minum obat asma) dan mereka mensyukurinya. Hanya saja, sayangnya, para pedagang suka latah kalau melihat PNS dapat gaji ke-13, akibatnya mereka suka menaikkan harga barang dagangan ketika mendengar PNS mendapat gaji ke-13. hahaha... Apalagi kalau mendengar kabar gaji PNS bakal dinaikkan, wah tambah latah deh itu para pedagang. Fatalnya, kenaikan gaji PNS kadang-kadang baru digosipin eh pedagangnya sudah latah duluan menaikkan harga... curi start nih ye...

Jadi PNS di Indonesia memang boleh dibilang sangat memprihatinkan, gajinya sangat kecil. Apalagi untuk mereka yang masih bisa membawa dan menjaga idealismenya, karena berarti dia harus berani jujur dan menghindarkan diri dari godaan pendapatan 'tambahan' yang abu-abu. Kalau gaji kecil saja sebenarnya tidak terlalu masalah, toh yang namanya pengeluaran masih bisa sedikit disesuaikan dan ditekan dengan penghasilan supaya tidak besar pasak daripada tiang atau gali lubang tutup lubang. Yang cukup berabe adalah menghadapi godaan ruar biasa untuk tidak ikut terjebak dan terlena secara berjamaah menjadi koruptor dan manipulator. *karena mengerjakan dengan cara berjamaah akan lebih mudah dan aman, semua kebagian dan semua tutup mulut*

Bukan rahasia umum lagi bahwa hampir di semua departemen, yang namanya praktik korupsi, kolusi dan manipulasi adalah hal yang biasa dan wajar. Pertama saya menjadi PNS pun, hal yang saya dapatkan dan temukan adalah praktik-praktik yang berhubungan dengan itu yang kadang-kadang tidak bisa saya hindari karena begitulah ritme kehidupan di instansi pemerintah pada umumnya. Jadi sebenarnya saya 'cukup maklum' kalau sampai saat ini SBY belum bisa sepenuhnya memberantas korupsi, dan saya sependapat juga dengan komentar di rehat Republika yang mengatakan bahwa aktivitas pemerintahan bisa lumpuh kalau semua koruptor dimasukkan ke tahanan. Bukan karena saya pro-korupsi, tapi karena korupsi memang sudah bisa dibilang 'mendarah-daging' dalam kehidupan instansi pemerintah. Korupsi bisa diberantas, tapi masih perlu waktu yang cukup lama untuk bisa melihat hasilnya. Kalau ingin bisa melihat hasil yang agak cepat, semua pihak yang ingin korupsi enyah dari muka bumi Indonesia harus mendukungnya dengan konsisten dan jangan hanya bisa mencemooh saja.

Wah... koq jadi ngelantur ke masalah korupsi ya, padahal kan tema awalnya tentang gaji ke-13. OK deh, saya sudah tidak punya ide lagi untuk menuliskan tentang gaji ke-13. Yang jelas sebagai PNS saya juga ikut bersyukur bahwa ada gaji ke-13 yang bisa sedikit meringankan beban pengeluaran di tahun ajaran baru. Saya pernah merasakan beratnya tahun ajaran baru ketika memasukkan anak ke Taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Maka dari itu, saya selalu memilihkan anak saya sekolah yang biayanya murah dan terjangkau. Perhitungannya, kalau anaknya cukup mampu, mau disekolahkan di sekolah murah juga akan tetap baik buat dia, apalagi kalau orang tua bisa ikut berpartisipasi mendidiknya dan tidak hanya mengandalkan guru. ('tul kan ya?)

Alhamdulillah sekarang di Hamburg, kami tidak perlu dipusingkan dengan kebutuhan uang yang terlalu banyak di tahun ajaran baru karena sekolah masih gratis. Hanya saja memang mulai tahun ajaran 2006 ini akan mulai dikenakan biaya sekolah sekitar 80 Euro per tahun atau sebanding dengan Rp.944.000,- Juga untuk mahasiswa akan dikenakan biaya 500 Euro (per semester kalau tidak salah).

 

Maunya koq seragam sih...

Banyak orang yang bilang bahwa orang-orang di negara kita banyak yang sukanya mengekor. Ketika seorang mantan presiden membuat center, mantan-mantan pemimpin yang lain pun ikutan membuat center. Ketika seorang presiden membuat layanan sms, para pemimpin yang lain pun ikutan membuat layanan sms. Ketika seorang pemimpin di suatu daerah menterjemahkan penghematan energi dengan mematikan lampu-lampu penerangan jalan, para pemimpin di daerah yang lain pun menirunya dengan melakukan hal yang sama. Ketika sebuah serial televisi produksi luar negeri ngetop dan banyak penggemarnya di dalam negeri, para rumah produksi pun menirunya dengan membuat serial dengan cerita yang serupa dengan menggunakan komponen dalam negeri. Ketika acara horor dan mistis laris manis dan disukai khalayak ramai dan memberikan banyak keuntungan dari penjualan slot iklan, semua stasiun tv pun saling berlomba membuat acara yang serupa tapi tak sama. Ketika suatu kota menggunakan angkutan kota (angkot) dengan jenis mobil tertentu sebagai sarana transportasi umum, semua daerah pun menggunakan angkot dengan jenis mobil yang sama meskipun itu menimbulkan kemacetan. Ketika suatu kota dipenuhi dengan jalan bertingkat, kota yang lain pun menirunya dengan membuat jalan bertingkat yang serupa. Ketika sebuah Factory Outlet (FO) diserbu oleh pesuka mode, hampir di semua sudut kota (meskipun peruntukan awalnya adalah untuk permukiman) muncul FO-FO baru. Semua serba disamakan, semua serba ditiru, semua saling mengekor.

Satu yang saya ingat ketika dahulu masih belajar di SD adalah bahwa makanan pokok di Indonesia berbeda-beda. Ada yang makanan pokoknya nasi, ada yang sagu, ada yang jagung, dan lain-lain. Tetapi semenjak jaman ORBA berkuasa, makanan pokok orang Indonesia hanya satu yaitu nasi. Struktur pemerintahan pun disamakan, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kotamadya/Kotatif dan Propinsi. Struktur tradisional/adat dihilangkan dan dimarjinalkan. Anak-anak sekolah pun harus pakai seragam. Alasannya supaya semua sama dan seragam, supaya yang kaya tidak memakai baju yang berlebihan dan yang miskin tidak perlu merasa iri karena tidak bisa memakai seperti yang dipakai oleh si kaya. Bapak dan Ibu guru di sekolah pun mengajarkan anak-anak didiknya untuk selalu sama. Jika ada anak yang menunjukkan perbedaan dibilang sebagai anak yang nakal dan tidak boleh ditiru. Jika ada anak yang berbeda karena berada di bawah rata-rata dibilang sebagai anak yang bodoh. Bukannya mendapat perhatian lebih dari sang guru, mereka malah 'disingkirkan'. Di rumah pun demikian, anak yang suka membantah dan protes kepada orang tua dibilang sebagai anak yang nakal dan harus menjadi sasaran kemarahan orang tua yang seharian bekerja di luar, pergi pagi pulang larut malam. Cap anak yang baik hanya diberikan kepada mereka yang selalu menurut apa kata orang tua. Mereka yang 'berbeda' dengan apa kata orang tua masuk pada kategori 'nakal' dan harus mendapat marah.

Pertanyaannya adalah: "Benarkah kita suka meniru dan mengekor? Haruskah kita selalu sama?" Jawabannya adalah: tidak semua suka meniru dan mengekor, tetapi kebanyakan dari kita memang suka seperti itu. Dan tidak seharusnya kita selalu sama dalam segala hal. Tapi itulah fenoma yang ada di kita. Hampir semuanya serba mengekor dan meniru. Sebagai negara agraris kita bernafsu untuk menjadi negara industri meniru negara tempat kita dulu menuntut ilmu mengambil gelar sarjana, master dan doktor. Kawasan pertanian (sawah dan kebun) dirubah menjadi kawasan industri (pabrik), sementara hutan dan lahan gambut dirubah menjadi sawah. Pesawat ditukar dengan beras ketan, sementara sawah tempat menanam padi jenis ketan dirubah menjadi pabrik pesawat.

Saya suka berkhayal dan mengandai-andai, mungkin kita bisa memanfaatkan kesukaan kita untuk selalu sama dan meniru dengan tujuan yang baik. Seandainya saja para pemimpin suka naik angkot untuk pergi ke tempat kerja, maka para orang kaya kolega sang pemimpin pun akan menirunya untuk naik angkot ke tempat kerja, akibatnya angkot akan dibuat senyaman mungkin, masyarakat pemakai angkot sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki angkot yang nyaman. Andai para pemimpin suka berjalan kaki menggunakan trotoar, para orang kaya kolega sang pemimpin pun akan menirunya untuk suka berjalan kaki di trotoar, akibatnya trotoar akan dibuat senyaman mungkin, dan masyarakat pemakai trotoar sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki trotoar yang nyaman. Andai para pemimpin suka berbelanja di pedagang kaki lima, para orang kaya kolega sang pemimpin pun akan menirunya untuk berbelanja di pedagang kaki lima, dan para pedagang kaki lima pun akan diberi tempat yang nyaman untuk berdagang supaya para pemimpin dan koleganya nyaman berbelanja, akibatnya masyarakat pelanggan pedagang kaki lima sesungguhnya pun menjadi senang karena bisa berbelanja di tempat terjangkau yang nyaman. (Seandainya) para pemimpin selalu berpikir untuk tidak menerima gaji yang sama kecilnya dengan gaji masyarakat kebanyakan, sehingga mereka tidak harus kelimpungan untuk membayar SPP anaknya, dan dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah yang 'mantab'... hus... kalau yang ini sih bukan pengandai-andaian tapi kenyataan... Udah ah, back to work.

Sunday, July 17, 2005 

Jakarta banjir di musim kemarau?

Menurut perhitungan, bulan Juli adalah musim kemarau di Pulau Jawa. Namun anehnya, Jabotabek, menurut ramalan cuaca dari BMG, masih akan terus diguyur hujan. Berita terakhir yang saya baca di Kompas hari ini Minggu 17 Juli 2005 menyebutkan bahwa Jakarta Selatan Siaga III Banjir. Ketinggian permukaan air di Sungai Pesanggrahan berada di atas batas normal.

Kenapa terjadi penyimpangan pola musim? Menurut teman saya Dr. Edvin Aldrian dari Unit Pelaksana Tekhnis Hujan Buatan BPPT yang saat ini sedang jadi visiting scientist di Max Planck Institute for Meteorology Hamburg, hal ini terjadi karena adanya anomali negatif tekanan udara di Australia sehingga kemarau di Indonesia tahun ini sangat lemah dan cenderung basah. Artinya kemungkinan tetap turun hujan di musim kemarau (dan kemungkinan banjir lokal seperti di Jakarta) cukup besar untuk terjadi.

Tapi mudah-mudahan saja musim kemarau yang basah ini tidak sampai membuat banjir. Tapi sebenarnya dengan musim kemarau yang seperti ini, mereka yang hidup di daerah yang biasanya mengalami kekeringan di musim kemarau akan sedikit diuntungkan. Kemungkinan terjadinya kekeringan yang cukup parah akan berkurang karena masih terjadi hujan sewaktu-waktu. Dan menurut pengamatan saya, kemarau tahun ini kita belum mendengar kabar akan terjadinya kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Mudah-mudahan saja tidak terjadi lagi kebakaran hutan di sana. Kasihan mereka yang harus menderita infeksi saluran pernafasan karena menghirup asap. Semoga Indonesia semakin membaik!

Jadi... siapa yang berminat belajar meteorologi? Sekarang masalah iklim penting lho untuk diketahui!

Friday, July 15, 2005 

susah login ke blogger.com

Beberapa hari ini saya lagi susah masuk ke blogger.com buat nge-posting. Nggak tahu kenapa juga bisa begitu. padahal sepertinya nggak ada announcement kerusakan tuh...

 

Pemanasan Global

Global WarmingMeskipun (menurut perasaan) temperatur di sekitar kita terlihat berfluktuasi secara tetap, namun pada kenyataannya (berdasarkan data yang ada) ternyata selama 50 tahun terakhir ini temperatur rata-rata di bumi telah naik secara cepat. Penyebab utama naiknya temperatur bumi adalah akibat efek rumah kaca yang menurut sebagian ahli disebabkan oleh meningkatnya kandungan karbon dioksida (CO2) dan partikel polutan lainnya di atmosfer bumi. Diibaratkan bagaikan selimut, gas-gas tersebut akan menghalangi energi panas yang dipantulkan kembali oleh bumi ke ruang angkasa. Untuk membayangkan efek rumah kaca ini sangat mudah. Mungkin ada di antara anda yang sudah pernah merasakan bagaimana ketika pertama kali memasuki sebuah mobil yang diparkir di tempat yang panas. Temperatur di dalam mobil akan terasa lebih panas daripada temperatur di luar, karena energi panas yang masuk ke dalam mobil terperangkap di dalamnya dan tidak bisa keluar.

Pada kondisi yang normal, efek rumah kaca adalah baik karena dengan demikian bumi akan menjadi hangat dan dapat menjadi tempat hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Tanpa efek rumah kaca, bagian bumi yang tidak terkena sinar matahari akan menjadi sangat dingin seperti di dalam freezer lemari es anda (-18C). Sejarah terbentuknya bumi hingga bisa ditempati oleh manusia seperti saat ini sebenarnya tak lepas dari 'jasa' efek rumah kaca. Jadi sebenarnya yang namanya efek rumah kaca itu sudah ada sejak jaman dahulu kala seiring dengan proses terbentuknya bumi.

Kondisi akan menjadi tidak baik jika kandungan gas-gas rumah kaca di atmosfer bumi semakin hari semakin meningkat. Kenapa demikian? karena dengan semakin meningkatnya gas-gas rumah kaca, semakin memanas pula bumi, akibatnya akan terjadi pencairan es di daerah kutub yang dapat menenggelamkan sebagian daratan tempat manusia dan makhluk-makhluk hidup darat lainnya tinggal. Dan gas rumah kaca yang saat ini banyak disalahkan oleh sebagian ahli pengusung isu pemanasan global adalah gas CO2 di atmosfer. Sementara sebagian ahli lain berpendapat bahwa sebenarnya jumlah CO2 di atmosfer tidak cukup signifikan untuk dijadikan kambing hitam pemanasan global karena jumlahnya yang hanya 0.04%. Selain itu, para ahli ini juga menyatakan bahwa seluruh gas yang ada di atmosfer adalah gas rumah kaca, tanpa terkecuali dimana komposisi terbesar adalah nitrogen (78%), oksigen (21%) dan uap air (hingga 3%). Nah lo, pusing kan jadinya? Santai, tidak perlu pusing.

Lalu, apakah yang menyebabkan meningkatnya kandungan karbon dioksida dan partikel polutan di atmosfer? Ternyata kontribusi terbesar adalah akibat pemakaian bahan bakar fosil seperti batubara, gas dan minyak bumi. Ketiga jenis bahan bakar tersebut adalah yang paling murah saat ini jika dibandingkan dengan sumber energi lainnya. Pemakaiannya pun dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang sangat berarti setelah tercetusnya revolusi industri. Apalagi kalau sekarang kita sering merasakan kemacetan di mana-mana akibat jumlah kendaraan bermotor dan bermobil yang meningkat. Pabrik/industri yang tumbuh di mana-mana untuk memenuhi pola konsumsi masyarakat modern yang semakin hari semakin meningkat. Namun hal ini juga disangkal oleh sebagian ahli. Menurut mereka, kontribusi dari penggunaan bahan bakar fosil di seluruh dunia dalam menambah jumlah CO2 hanyalah 0,013% (sedikit sekali bukan?). Wah jadi makin seru deh sampai di sini...

Pro dan kontra terus terjadi, namun demikian seiring dengan adanya Protokol Kyoto (1997?), Beberapa negara maju sepakat untuk mengurangi jumlah emisi gas CO2 dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil sebanyak 30% dalam 10 tahun ke depan. Untuk itu saat ini beberapa negara maju/industri telah mencoba mengembangkan metode dan teknologi dalam rangka memanfaatkan sumber-sumber energi-energi alternatif yang (lebih) ramah lingkungan, terutama sumber energi yang terbarukan. Apa itu energi terbarukan? Energi terbarukan adalah lawan kata dari energi tak terbarukan (anak kecil juga tahu kalau gitu sih). Jadi begini, energi terbarukan adalah energi yang dapat dipakai secara terus- menerus tanpa perlu kuatir sumber dari energi tersebut akan habis. Lawan katanya adalah energi tak terbarukan yaitu energi yang jika dipakai secara terus-menerus akan habis pada suatu waktu tertentu. Jadi jelaskan sekarang? Apa saja contoh dari energi terbarukan? banyak sekali, seperti energi angin, matahari, panas bumi, air, dan biomassa (berasal dari tanaman perkebunan, pertanian, hutan, sampah, dan peternakan).

Sebenarnya, secara alamiah di alam, akibat adanya interaksi antara laut dan udara (seperti TNI aja ya?), jumlah energi panas yang ada di atmosfer dan di permukaan laut akan dapat dikontrol oleh mekanisme global conveyor belt. Apa itu global conveyor belt? Global conveyor belt adalah sirkulasi global yang berperan dalam mentransfer (memindahkan) energi panas dari suatu tempat ke tempat lainnya melalui aliran udara dan air laut. Pola iklim di bumi diatur oleh mekanisme ini.

Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa 'ketakutan' dan analisis sebagian ahli akan pemanasan global selama ini masih baru didasarkan melulu pada hasil model numerik yang belum secara 'sungguh-sungguh' dibandingkan dengan data pengamatan. Selain itu, kebanyakan model yang digunakan saat ini masih jauh dari sempurna dalam merumuskan mekanisme rumit sesungguhnya yang terjadi di bumi. Memang pemanasan global sedang dan terus akan terjadi, demikian juga dengan efek rumah kaca. Mencairnya es yang terbentuk sejak jaman es pun terus berlangsung karena memang temperatur bumi mengalami perubahan dari semenjak es itu dahulu terbentuk, permukaan laut pun terus mengalami kenaikan (yang dikenal dengan istilah sea level rise). Siklus seperti itu terus terjadi dan takkan terhindarkan. Sebagian pakar menyatakan bahwa fenomena itu masih merupakan suatu kewajaran yang memang harus terjadi dan tak perlu ditakutkan.

Tapi memang tak ada salahnya untuk membuat suatu aksi yang positif. Setidaknya, dengan mengurangi emisi CO2 dan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil serta mencoba alternatif energi ramah lingkungan dan terbarukan akan menjadikan bumi sedikit bersih dari polutan yang telah membuat manusia sesak nafas dan teracuni paru-parunya. Apalagi untuk Indonesia yang saat ini berada pada tingkat polusi yang katanya sudah agak membahayakan bagi kesehatan penduduknya.

Wednesday, July 13, 2005 

Hari ini rindu Bandung euy!

nostalgiaHari ini saya rindu Bandung euy... Sudah sejak tahun 2003 saya meninggalkan Bandung membuat rasa rindu semakin menggelora di dada. Menurut SMS yang saya terima dari istri yang saat ini sedang liburan di Bandung menengok orangtuanya, di Bandung sekarang ini banyak berdiri jalan bertingkat seperti di Jakarta. Namun demikian, meskipun sudah banyak berdiri jalan bertingkat ternyata Bandung makin bertambah macet saja. Kendaraan semakin banyak yang berseliweran di jalanan yang terlihat semakin sempit.

Saya pergi dan menetap di Bandung sejak tahun 1989 ketika diterima kuliah di ITB. Waktu itu saya merasakan Bandung begitu sejuknya, maklum saya berasal dari daerah yang panas di tepi Sungai Serayu bernama Banyumas. Kota Bandung banyak memberikan kenangan manis bagi saya sehingga setelah menyelesaikan kuliah sayapun memutuskan diri untuk menjadi penduduk kota Bandung. Hanya saja, sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan tetap di Bandung dan harus mendapatkannya di Jakarta, sementara istri bekerja di Bandung sebagai dosen di ITB. Akhirnya saya terpaksa menjadi anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), sebagai pelanggan setia kereta api Parahyangan. Pulang mudik ke Bandung setiap hari Jumat untuk berkumpul bersama keluarga di akhir pekan dan kembali lagi ke Jakarta setiap hari Ahad (Minggu) untuk kembali menjadi anak kos di sana. Seingat saya, teman-teman senasib banyak juga saya jumpai di kereta Parahyangan ini, karena di setiap hari Jumat kereta ke arah Bandung ini akan selalu penuh sesak oleh mereka. Dan sebaliknya, pada hari Minggu atau Senin kereta ke arah Jakarta lah yang akan penuh sesak. Akibatnya, banyak di antara mereka yang harus rela untuk duduk di lantai atau berdiri selama 3 jam perjalanan.

Gedung Sate
Biasanya saya selalu memesan tiket kereta sebelumnya untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Jadi jika hari Minggu sore atau Senin pagi saya tiba di Stasiun Gambir, hal pertama yang harus saya lakukan adalah pergi menuju loket pemesanan dan mengantri untuk memesan tiket Jakarta-Bandung untuk hari Jumat. Sementara itu istri saya di Bandung pada hari Senin atau Selasa siang akan memesankan tiket Bandung-Jakarta untuk hari Minggu atau Senin berikutnya. Selalu begitu setiap minggunya. Jika misalnya saya tidak bisa mendapatkan tiket dengan tempat duduk, maka saya harus rela untuk duduk di lantai atau berdiri selama 3 jam perjalanan. Kadangkala, jika beruntung, ada pula tempat duduk yang kosong yang bisa saya tempati. Tetapi itu jarang sekali terjadi dan sangat banyak pesaing dan peminatnya.

Kembali ke mengenang Kota Bandung, di Bandung (waktu itu) masih banyak kita jumpai tempat-tempat yang rindang dengan pohon-pohon besar. Jalan Tamansari, Juanda, Wastukencana dan Ganesha adalah beberapa contohnya. Di Ganesha, saya bisa menikmati rindangnya Taman di samping Masjid Salman sambil duduk-duduk melepas lelah dan menikmati ringkikan dan derap kaki kuda serta lonceng delman. Di Wastukencana, saya biasa duduk-duduk di Taman Balai Kota yang juga rindang dan sejuk.

Setiap hari Minggu, tempat favorit kami untuk berjalan-jalan sambil berolahraga dan menikmati jajanan adalah Gasibu dan Gedung Sate. Di sepanjang jalan yang melingkari Gasibu dan Gedung Sate, setiap hari Minggu akan dipenuhi oleh para pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan segala jenis dagangan. Mulai dari VCD bajakan, peralatan dapur made in China, pakaian, aneka makanan sampai ada pula kredit motor semua tumpah ruah di jalan. Sampai-sampai pejalan kaki pun menjadi sedikit tak nyaman dibuatnya saking padatnya jumlah PKL yang berebut pembeli.

Awalnya, jumlah PKL yang ada tidaklah terlalu banyak. Biasanya mereka yang suka berjualan pada hari Minggu adalah para pedagang bubur ayam. Dahulu, untuk berjalan-jalan di Gasibu dan Gedung Sate masih sangat mengasyikkan. Semenjak terjadinya krisis moneter dan meningkatnya jumlah pegawai yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Gasibu dan Gedung Sate mulai dipenuhi oleh PKL sebagai alternatif untuk mencari penghasilan tambahan.

Dahulu saya sering mengikuti senam yang diadakan oleh GESAT yang instrukturnya adalah tenaga pengajar dari IKIP Bandung. Dahulu senam ini diadakan di jalan raya persis di depan Gedung Sate, namun terakhir saya lihat mereka pun tergusur oleh para PKL yang semakin memenuhi jalan itu dan akhirnya terpaksa pindah ke lapangan GASIBU bercampur dengan orang-orang yang berlari pagi di lintasan lari. Selain senam pagi yang diadakan oleh GESAT di lapangan GASIBU itu, di depan kantor Telkom pun ada senam pagi yang saya tidak tahu diadakan oleh siapa. Malah yang lebih seru lagi, di Jalan Japati (depan kantor Telkom) berdiri pula panggung Nasyid. Jadi bisa dibayangkan kan betapa hingar-bingarnya GASIBU dan Gedung Sate di hari Minggu?

Tempat lain yang juga memberikan kenangan indah buat saya adalah Pasar Simpang dan Balubur. Menurut informasi terakhir, Pasar Balubur sudah tidak ada lagi karena tergusur oleh jalan bertingkat. Para mahasiswa biasanya suka makan dan nongkrong di pinggir jalan di sekitar kedua pasar itu. Ada yang sekedar menikmati roti bakar sambil minum susu atau kopi hangat sambil ngobrol ngalor-ngidul, ada pula yang memesan makanan lain seperti soto, mie rebus, nasi goreng, masakan Padang, dan lain-lain. Kebanyakan rumah-rumah yang berada di sekitar kedua pasar tersebut juga merupakan tempat kos-kosan dan kontrakan.

Tempat kos pertama saya dulu berada di Lebak Siliwangi, yang sekarang sudah tidak ada lagi karena tergusur untuk pembangunan Sasana Budaya Ganesha (SABUGA). Untuk pergi ke kampus dari tempat kos-kosan waktu itu harus melalui jalan 'setapak' yang cukup terjal dan cukup membuat ngos-ngosan pula. Apalagi jika ada kuliah pagi sementara kita bangun kesiangan. Tidak lama mendiami kos-kosan di Lebak Siliwangi karena terlalu banyak nyamuk, saya dan beberapa kawan satu angkatan pindah mencari kos-kosan di dekat Pasar Balubur. Alhamdulillah di sana kami mendapatkan tempat yang cukup nyaman dengan harga yang relatif murah. Hanya saja atap rumahnya terlalu rendah, sehingga seorang kawan dari Medan yang agak tinggi harus sedikit bungkuk jika hendak berjalan. Di tempat kos yang baru ini ada aturan yang agak aneh bagi kami, yaitu di siang hari listrik dimatikan oleh Bapak kos. Sehingga beberapa kali kami harus mengajukan protes untuk bisa menikmati listrik di siang hari. Di siang hari biasanya memang kami jarang berada di kos-kosan karena lebih sering berada di kampus, namun di hari-hari libur peraturan aneh itu banyak mengganggu kami.

Sebagai mahasiswa dengan uang yang sangat pas-pasan, yang kadang-kadang tidak cukup untuk hidup sebulan, membuat saya harus mencari kos-kosan yang semurah mungkin. Selain itu saya juga harus bisa mencari warung makan yang bisa dihutangin di akhir bulan ketika uang bulanan telah habis terkuras. Syukur bahwa saya bisa menemukan semua itu, sehingga di saat saya tidak punya uang pun masih bisa makan dengan cukup enak dan hanya mencatat berapa harga makanan yang saya makan pada saat itu. Di awal bulan ketika saya mendapatkan uang kiriman dari orang tua, maka hutang-hutang itu harus segera dilunasi supaya tidak semakin menumpuk. Menginjak tahun ke-3 saya baru mulai bisa mendapat penghasilan tambahan dengan membantu proyek-proyek dosen atau terlibat dalam kepanitiaan kursus atau pelatihan yang diadakan oleh jurusan. Kadang-kadang juga mendaftar sebagai asisten atau pengawas ujian di jurusan sendiri atau jurusan lain. Memang tidak besar honornya, namun cukuplah untuk sedikit meringankan beban yang ada.

He..he..he.. jadi terharu juga deh mengingat masa-masa seperti itu. Masa-masa ketika hidup 'susah' namun 'bahagia'. Jadi ngelantur deh ya nostalgianya... Ya udah deh... buat yang baca blog ini selamat bernostalgia juga deh ya... Buat penghuni kota Bandung, I miss you all!

Monday, July 11, 2005 

Berita lucu sekitar hemat energi

Hari ini di Kompas ada berita 'lucu' yang berjudul: Di Tempat Gelap Polisi Ada. Berita ini berkaitan dengan gerakan hemat energi yang dicanangkan pemerintah. Lucunya penghematan dilakukan dengan memadamkan sebagian lampu-lampu penerangan umum. Dan untuk mengantisipasi tempat-tempat umum yang menjadi gelap, Polda Metro Jaya akan memberikan pengamanan ekstra.

Hal-hal yang buat saya 'lucu' adalah: Waktu tempat-tempat umum tersebut masih terang saja keamanannya mengkhawatirkan, apalagi sekarang kalau gelap! Selain itu, kenapa harus mematikan penerangan umum? rakyat kan sudah bayar pajak untuk itu? Kasihan sekali mereka. Tidak adakah alternatif lain yang lebih bagus?

 

Pesta Tuan Presiden, contoh buruk sang pemimpin

Saya baca di beberapa blog yang saya kunjungi, banyak pendapat kontra yang mengomentari tentang Pesta Tuan Presiden yang baru saja diselenggarakan di Istana Bogor beberapa hari yang lalu. Mengapa mereka kontra? Karena ternyata Tuan Presiden telah memberi contoh yang buruk sebagai seorang pemimpin di sebuah negara yang saat ini tengah mengalami banyak masalah dan terpuruk. Ternyata Tuan Presiden tak punya kemampuan yang lebih baik sebagai negarawan untuk sedikit mengekang 'nafsu hura-huranya'. Mungkin untuk Tuan Presiden perhelatan yang baru saja diadakan di Istana Bogor itu bukanlah 'hura-hura' karena beliau bisa mengadakan perhelatan yang jauh lebih akbar beberapa kali lipat dari yang diadakan kemarin. Artinya, dari sudut pandang beliau yang memiliki banyak pundi-pundi, perhelatan yang diadakan kemarin itu berada dalam tingkatan 'sangat sederhana'.

Tuan Presiden rupanya lupa bahwa untuk melihat sesuatu itu 'wah' atau sederhana, beliau tidak boleh menggunakan standar yang terlalu tinggi yang tidak bisa dijangkau oleh orang kebanyakan. Mungkin menurut beliau dan kolega serta kroninya (yang menurut dugaan saya semuanya punya pundi-pundi yang cukup berlimpah dan 'biasa berhura-hura' serta tidak pernah secara nyata merasakan penderitaan yang sesungguhnya), perhelatan yang dilakukan kemarin itu sangat sederhana. Maka dari itu kita tidak mendengar satupun nada kontra dari para kolega dan kroni Tuan Presiden.

Pro-kontra perhelatan di Istana Bogor kemarin akan sedikit membuka mata kita bahwa kualitas pemimpin di Republik Indonesia yang ada saat ini memang masih tidak ada apa-apanya. Semuanya masih di bawah standar seorang pemimpin selayaknya. Itulah realita! Satu hal yang bisa diambil sebagai pelajaran adalah: "Jangan ditiru contoh buruk yang telah mereka tunjukkan di depan hidung kita itu!". Kita harus prihatin, sebagai pemimpin ternyata mereka masih memerlukan banyak bimbingan dan didikan dari kita. Jadi mari kita bersama-sama membimbing dan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya supaya mereka bisa menjadi pemimpin yang sesuai dengan standar yang layak! Kasihan mereka, kurang mendapat pendidikan kepemimpinan! Tugas kitalah memberikannya.

Ada kawan yang bertanya dengan sedikit sewot: "Kenapa sih kita ribut-ribut? biarin aja lah! kan itu memang hak dia bikin pesta pernikahan?". Hi..hi..hi... kalau beliau itu levelnya bukan Tuan Presiden sih terserah, mau mengadakan pesta 365 hari non-stop juga perduli amat. Ini lain brur! Baru saja beliau mengeluarkan Inpres Penghematan Energi, bicara sana-sini tentang penghematan, wakilnya juga begitu, menterinya juga, lho koq malah kasih contoh yang salah! Kalau misalnya pelayan salah, kan harus dibetulkan toh? Katanya Tuan Presiden dan para koleganya itu pelayan rakyat? *eh, jangan-jangan yang dimaksud rakyat sama Tuan Presiden dan koleganya itu ya mereka dan keluarganya ya?*

Sunday, July 10, 2005 

Nostalgia : Film Ghost

GhostMalam ini, Minggu 10 Juli 2005, di stasiun TV SAT1 (Jerman) diputar film Ghost yang dulu ketika saya masih kuliah di Bandung (tahun 90-an) sempat ngetop. Salah satu indikator kengetopan dari film ini adalah kegandrungan sebagian besar perempuan di Indonesia untuk meniru model rambut Demi Moore yang memerankan Molly. Kalau tidak salah, ada juga teman satu angkatan saya kuliah yang menjadi korban Demi Moore ini. Indikator lainnya adalah populernya lagu Unchained Melody yang dinyanyikan oleh The Righteous Brothers dimana banyak permintaan dari pendengar radio di Bandung untuk diputarkan lagu itu.

Film ini diperankan oleh Patrick Swayze sebagai Sam Wheat, Demi Moore sebagai Molly Jensen, Whoopi Goldberg sebagai Oda May Brown, dan Tony Goldwyn sebagai Carl Bruner. Whoopi Goldberg sendiri berhasil mendapatkan piala Oscar sebagai pemeran pembantu dalam film ini.

Film ini bertema cinta, bercerita tentang hal-hal supranatural (arwah dan kematian) dan misteri pembunuhan, dengan bumbu komedi. Cerita diawali dengan pasangan Sam dan Molly yang dibantu oleh teman baik mereka Carl yang 'menyulap' sebuah bangunan tua menjadi sebuah apartemen yang nyaman. Bagian romantis dari film ini dimulai ketika Molly yang tak bisa tidur dan kemudian membuat kerajinan dari tanah liat 'diganggu' oleh Sam dengan iringan lagu Unchained Melody.

Namun selanjutnya, suasana romantis dalam film ini berubah menjadi suasana supranatural, misterius dan 'kocak' ketika pada suatu malam Sam terbunuh dalam aksi melawan perampok ketika tengah berjalan berdua bersama Molly menuju ke apartemen mereka. Arwah Sam yang terkejut mendapati tubuhnya yang telah mati terus mengikuti Molly ke apartemennya. Perampok yang membunuhnya kembali ke apartemen mereka dan mencoba mencari sesuatu di sana, namun kabur melarikan diri ketika mendapat cakaran dari kucing Molly.

Sam terus mengikuti sang pembunuh hingga ke apartemennya dan mengetahui nama sang pembunuh tersebut dari nama yang ada di pintu depan apartemen. Selanjutnya Sam mencoba mencari pertolongan kepada seorang ahli spiritual bernama Oda May Brown. Mulai dari bagian pertemuan antara Sam dan Oda May inilah kejadian-kejadian kocak terjadi. Salah satu kejadian yang cukup kocak adalah ketika Oda May yang disuruh oleh Sam untuk menjadi Rita Miller mencairkan uang di Bank sebesar 4 juta Dolar dan menyumbangkannya ke biarawati yang sedang mencari dana. Pada saat disuruh menyerahkan cek sebesar 4 juta Dolar tersebut, tangannya tak mau melepaskannya hingga harus dipaksa-paksa oleh Sam, saking shoknya baru bisa memegang cek senilai 4 juta Dolar eh sudah harus melepaskannya pada saat itu juga.

Sisi supranatural dari film ini adalah pada penggambaran mengenai kematian. Dalam film ini, orang jahat yang mati arwahnya akan diambil secara menyakitkan oleh bayangan-bayangan hitam sementara itu orang-orang baik arwahnya akan disambut oleh cahaya berwarna putih. Namun demikian visualisasi yang diberikan tidaklah vulgar dan sadis dan tidak seperti yang sering kita temukan dalam sinetron-sinetron Indonesia. Dengan penggambaran yang demikian saja sebenarnya penonton sudah bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan.

Di Jerman ini, memang seringkali diputar film-film lama yang cukup bagus pada jamannya. Salah satu film yang juga diperankan oleh Patrick Swayze yang saya sukai dan pernah diputar ulang di TV Jerman adalah Dirty Dancing.

*sumber gambar: http://www.sozialprojekte.de/*

 

Inpres Hemat Energi Dikeluarkan

Hari ini Instruksi Presiden mengenai Penghematan Energi diterbitkan di Jakarta *aneh ya... hemat energi saja harus dikasih instruksi*. Semua pihak supaya menghemat segala jenis pemakaian yang ada hubungannya dengan energi seperti listrik dan bahan bakar minyak. Buat PNS yang suka pakai jas, diharap ganti dengan memakai kemeja biasa supaya AC-nya di kantor tidak perlu diset terlalu dingin *kalau perlu tidak usah pakai AC* Pemakaian listrik dan bahan bakar di kantor-kantor pemerintah supaya lebih diefisienkan.

Apakah mungkin itu kan terjadi? Kalau harga BBM masih dimurahkan *masih disubsidi maksudnya*, mana ada orang yang mau berhemat? Boros saja masih bisa beli BBM kok! *kan disubsidi, tinggal sedikit 'ngantri' saja*

Tapi *asli* sebenarnya saya bingung kalau orang-orang sedang membicarakan subsidi BBM. Kenapa subsidi BBM masih harus terus dipertahankan? apalagi kalau subsidinya sudah keterlaluan seperti sekarang ini. Kesannya manja sekali ya orang-orang yang tinggal di Indonesia?. Eh tapi jangan pada manyun dulu ya! Sungguh! saya tidak tahu secara jelas dasar perhitungan dan alasannya kenapa BBM harus disubsidi sebegitu besar?. Kalau ada yang tahu sejelas-jelasnya, tolong saya dikasih pencerahan.

Kalau menurut saya, kurangi saja sebanyak dan sebesar mungkin subsidi BBM. Otomatis kan nanti, kalau harga BBM menjadi mahal, orang akan berpikir berkali-kali jika hendak berboros-borosan. Selain itu, pemerintah juga harus bisa menciptakan transportasi umum yang lebih efektif dan efisien. *angkutan kota (angkot) itu menurut saya kurang efisien, ukurannya terlalu kecil, jumlahnya terlalu banyak, suka membuat macet, dan banyak yang sudah tua ('angkot jadul') yang boros dalam pemakaian BBM*

Mungkin memang awalnya akan terasa berat, tapi kan memang yang namanya perubahan, pasti ada masa-masa tidak enaknya *dari era ORBA ke reformasi saja tidak enak awalnya*. Kita saja dulu ketika baru lahir belum bisa apa-apa, tidak enak, bisanya hanya menangis kalau ada apa-apa! Tapi coba lihat sekarang? sudah jago ngeblog!

Harus ada perubahan yang benar dan terencana dengan baik mulai dari sekarang juga. Jangan hanya bertumpu pada program tambal sulam. Anda bisa membayangkan kan yang namanya tambal sulam? Seperti baju kita, jika ada yang sobek ditambal, nanti jika ada yang sobek lagi di tempat lain ditambal lagi, terus seperti itu. Bajunya tidak akan menjadi lebih bagus, justru akan menjadi banyak tambalan di sana-sini yang tidak karuan. Kenapa tidak sekalian saja kita beli baju baru? baju yang sudah sobek-sobek dibuang saja, ganti dengan yang baru. Ada yang manyun sambil berkata: "kalau tidak punya uang?". Benar-benar tidak punya uang atau tidak mau keluar uang? Kalau memang benar-benar tidak punya uang, ya harus berusaha supaya bisa mendapatkan uang!

Yang jelas, kalau kita mau mencermati dengan secermat-cermatnya, keluarnya Inpres mengenai Penghematan Energi ini bukan karena alasan apa-apa, alasan utamanya adalah karena subsidi BBM yang terlalu gila-gilaan! Bayangkan saja, separuh harga BBM disubsidi oleh pemerintah, bagaimana tidak berat beban APBN? Coba cermati apa kata Sri Sultan Hamengkubuwono X berikut ini (saya kutip dari detik.com Minggu, 10 Juli 2005 *yang tidak bisa di copy-paste*) :

komentar HB X

Semua yang terjadi di Indonesia akan bergantung pada sikap dan komitmen seluruh rakyat Indonesia. Mengandalkan semuanya pada aksi Tuan Presiden tidak akan merubah apapun *apalagi kalau Tuan Presidennya suka bikin janji gombal, sementara itu para pembantunya adalah tokoh-tokoh yang 'pemalu' dan 'penakut' tidak berani kasih komentar atau menegur kalau presidennya lupa atau tidak konsisten dengan janjinya*. Selama rakyat adem ayem, nrimo, dan tidak mau tegas berkomitmen demi masa depan mereka yang lebih cerah, selama itu pula mereka yang akan menerima akibatnya.

Masa depan bukanlah sesuatu yang instan *hari itu dikerjakan dan hari itu juga kita mau hasilnya*, semua perlu proses dan pengorbanan. Tidak bisa dengan bermanja-manja dan cengeng. Dan masa depan kita semua tidak bisa hanya disandarkan kepada seorang figur seperti Tuan Presiden. Semua harus terlibat secara aktif, termasuk berani menegur Tuan Presiden dan para koleganya jika tidak sesuai harapan kita. Peribahasa luhur mengatakan: "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian". "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Seluruh negeri di dunia ini, yang saat ini rakyatnya sudah menikmati kemakmuran, telah membuktikan sendiri arti peribahasa luhur tersebut, kenapa kita tidak?

 

Selamat...

Hari ini mau mengucapkan selamat...

Selamat ulang tahun buat Bapak Mertua...

Selamat buat SBY yang sukses dengan "mantuannya" di Bogor meskipun banyak yang demo...

Selamat buat Pulau Bali yang terpilih sebagai Pulau Wisata Terbaik Dunia 2005 versi majalah Travel+Leisure...

Selamat buat semua anggota Blogger Family... sukses selalu...

Saturday, July 09, 2005 

Breaking News: Generasi Tulalit

Di harian Kompas hari ini, 9 Juli 2005, ada sebuah artikel menarik berjudul Generasi Tulalit. Penulisnya adalah Bapak Hendrawan Nadesul, seorang dokter yang mungkin kita semua sudah banyak membaca artikelnya. Artikel dibuka dengan kalimat yang cukup menggigit:

Jadi memang kalau yang punya masalah orang ngetop, semuanya ribut. Giliran yang kena masalah orang biasa-biasa saja (meskipun jumlahnya banyak dan masalahnya gawat), ya kebanyakan kita memang adem ayem aja *kebiasaan nonton infotainment kali ya? yang disorotin orang-orang ngetop melulu*

Yang dimaksud dengan generasi tulalit pada artikel tersebut adalah anak-anak yang kekurangan gizi, sehingga otaknya menjadi kosong. Yang diberi makan hanya untuk sekedar kenyang, dimana makanan yang dimakan bergizi rendah.

Dalam artikel tersebut, Pak Hendrawan Nadesul juga memberikan suatu solusi yang sebenarnya mudah untuk diterapkan di masyarakat dalam rangka mencegah semakin banyaknya generasi tulalit, yaitu:

"Meningkatkan gizi rakyat tidak perlu menunggu kemiskinan sembuh dulu. Kuncinya adalah penyuluhan. Rata-rata keluarga yang memiliki anak baduta (bayi bawah dua tahun, red) kurang gizi selain papa, ternyata buta gizi juga. Tanpa dibantu kader, tangan puskesmas kelewat pendek untuk menjangkau keluarga papa agar melek gizi. Program PMT(Pemberian Makanan Tambahan, red) hanya sekrup kecil. Mesin besarnya pada membangun keluarga tidak gagap gizi".

Intinya, perlu ada bantuan kader. Siapa kader itu? Sebenarnya ya kita-kita semua bisa jadi kader, tinggal mau atau tidak.

Dalam berita lain yang juga saya baca di harian yang sama pada tanggal yang sama disebutkan:

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebaiknya kembali dihidupkan, mengingat fungsinya yang cukup vital sebagai sarana sosialisasi dan advokasi kesehatan, terutama di daerah miskin.

"Yang kita lakukan seringkali adalah gerakan reaktif saja, padahal hal tersebut tidak akan bertahan lama, beda dengan gerakan preventif, misalnya dengan memberikan pendidikan kepada ibu-ibu" katanya lagi.


Jadi mari kita saling bekerjasama bahu membahu mengatasinya. Mereka semua adalah calon generasi penerus Indonesia. Sayang dan kasihan jika generasi penerus kita kelak adalah generasi yang tulalit.

 

Koleksi perangko bekas dan kartu pos

Salah satu kegiatan yang agak saya sukai dalam hidup ini (pada beberapa waktu belakangan ini *sudah berjalan sekitar 10 tahun kira-kira*) adalah mengoleksi perangko bekas. Perangko bekas yang saya punyai saat ini masih belum terlalu banyak jenisnya (baru dalam orde puluhan *ya hampir mendekati orde ratusan sih*), tetapi kalau dilihat dari jumlahnya ya sudah dalam orde ratusan lah. Kebanyakan adalah perangko Jerman, sebagian ada perangko Indonesia, sebagian lagi perangko dari beberapa negara di Asia seperti Malaysia, Thailand dan Jepang. Ada juga beberapa perangko bekas dari negara-negara di Eropa seperti Italia, Yunani, dan Spanyol (perangko dari 2 negara yang terakhir disebut adalah oleh-oleh dari Ni Londo kalau sedang ada acara copy darat the biggoser).


koleksi perangko
gambar beberapa perangko bekas koleksi saya

Selain itu, ada juga koleksi kartu pos dari kota atau negara yang saya dan istri telah kunjungi selama ini. Sebenarnya istri saya yang rajin membelinya, hanya saja saya yang kebagian mengumpulkannya supaya tidak tercecer ke mana-mana.

Selain dari kartupos yang sengaja kami beli, ada juga kartu pos-kartu pos gratis dengan tema-tema tertentu yang kami kumpulkan. Kartu pos-kartu pos tersebut kami dapatkan dari beberapa tempat umum yang ada di Hamburg ini seperti gedung bioskop, kantin, universitas, bank, mall, dan lain-lain. Temanya juga bermacam-macam, ada tentang AIDS, olahraga, promosi barang/alat dan tema-tema lainnya.

koleksi kartu pos
gambar beberapa kartu pos koleksi kami

Jumlah kartupos yang telah kami miliki saat ini mencapai seratusan buah *lebih dikiiiit*. Anehnya dari sekian banyak kartupos yang ada, tidak ada satupun kartupos tentang kota tempat kami tinggal yaitu Hamburg *psst... sebenarnya ada sih 2 buah kartu pos 'saru' tentang daerah prostitusi di Hamburg, hiks!*. Mungkin perhitungannya, nanti saja belinya kalau sudah mau meninggalkan Hamburg :)

Friday, July 08, 2005 

Gempita menjelang Piala Dunia 2006

Piala Dunia masih tahun depan, tetapi sebagai tuan rumah Jerman sudah banyak berbenah. Promosi juga sudah dilakukan dengan berbagai macam cara. Tiket-tiket tim unggulan juga sudah ludes terjual. Yang tersisa hanya tim-tim tak diunggulkan saja. Hotel-hotel juga sudah hampir penuh di-booking, termasuk di kota tempat saya tinggal yaitu Hamburg karena akan ada pertandingan yang juga dilangsungkan di AOL Arena Hamburg. Stadion-stadion tempat pertandingan pun telah direnovasi dengan biaya yang minta ampun banyaknya.

Orang-orang Jerman kebanyakan suka sekali nonton sepak bola. Kalau sedang ada pertandingan sepakbola, stasiun kereta api penuh sesak oleh para pendukung kesebelasan, sehingga perlu dijaga oleh para polisi. Bau alkohol dari bir yang mereka minum pun merebak kemana-mana. Kadang-kadang mereka masih bernyanyi di dalam kereta dengan suara yang memekakan telinga (seperti kalau kita nonton pertandingan di televisi). Pokoknya heboh. Anak saya paling sebel dan suka ngomel kalau sudah begitu dan kadang-kadang sampai tutup telinga.

Kaos-kaos bergambar lambang Piala Dunia pun sudah banyak bertebaran dan dijual. Ada yang dengan merek terkenal untuk mereka yang dompetnya tebal dengan uang dan kartu kredit, ada juga yang dengan merek 'terkenal' (pakai tanda petik, artinya terkenal juga tapi untuk level menengah ke bawah) untuk mereka yang dompetnya agak tebal dan pas-pasan (ada sedikit uang, beberapa kartu nama kenalan, foto pacar, kartu diskon atau kartu untuk ngumpulin poin belanjaan, bon-bon belanjaan dan EC-karte (sejenis ATM kalau di Indonesia)).



Gambar di atas adalah contoh sablonan dan logo Piala Dunia pada kaos dengan merek 'terkenal' (inget ya kata terkenalnya pakai tanda petik!) untuk orang yang dompetnya agak tebal dan pas-pasan. Kualitas kaosnya bagus dan logo piala dunianya pun resmi, hanya mereknya saja yang 'sedikit' membedakan. Tidak apa-apa, Piala Dunia toh milik semua kalangan dan kelas. Perbedaan merek itu soal biasa.

 

Agustusan di luar negeri

Acara Agustusan, untuk kebanyakan mereka yang tinggal di luar negeri, adalah acara yang sangat ditunggu-tunggu termasuk di kota tempat saya tinggal Hamburg. Biasanya, setelah upacara bendera di halaman belakang KJRI Hamburg yang cukup luas, akan diadakan acara makan-makan dan pesta musik yang dimeriahkan oleh para pemusik dan penyanyi lokal (WNI yang tinggal di Hamburg dan sekitarnya) . Lagu-lagu, mulai dari pop, dangdut sampai Batak ada semuanya. Makanan Indonesia pun laris manis diserbu pengunjung. Mereka semua betah untuk berlama-lama di sana, bergembira bersama. Apalagi kalau peringatan Agustusan-nya jatuh pada hari libur, makin penuh sesak dan hampir tak muat saja halaman belakang KJRI.

Agustusan 2005 sudah sebentar lagi. Biasanya acara-acara lomba seperti gaple, catur, sepakbola, dll. (kecuali panjat pinang) akan diadakan menjelang peringatan Agustusan. Pemenang segala macam lomba akan diumumkan setelah pelaksanaan upacara bendera.

Pada peringatan HUT RI ke-59 bulan Agustus 2004 yang lalu, Chrisye menghibur masyarakat Indonesia yang ada di Hamburg. Ibu-ibu sampai lupa sama suaminya pada 'ngerubutin' Chrisye, cuma ada satu Bapak yang ikutan 'ngerubutin' Chrisye pada foto di atas yaitu saya sendiri. Foto ini hasil jepretan Ni Londo si ahli dangdut.

 

kampanye terumbu karang

lestarikan terumbu karangDalam rangka turut serta berpartisipasi mengkampanyekan pentingnya melestarikan terumbu karang, saya mencoba membuat gambar animasi sederhana (sebisa saya saja) dan dipajang di blog ini. Mudah-mudahan saja ada yang ngecengin ya... jadi kampanyenya nggak sia-sia. Syukur-syukur ada juga yang mau menggunakan gambar ini dan dipajang di website mereka :)

Terumbu karang di Indonesia sudah semakin rusak, padahal di situlah ikan-ikan hidup dan berkembang biak (coba liha deh film Finding Nemo). Kalau terumbu karang sudah rusak, untuk menumbuhkannya lagi diperlukan waktu yang sangat lama. Kasihan kan anak cucu kita karena oleh orangtuanya hanya diberi peninggalan terumbu karang yang sudah rusak. Maka dari itu, mulailah dari sekarang juga untuk turut berperan aktif dalam mengkampanyekan pelestarian terumbu karang, atau dalam skala yang lebih luas lagi: pelestarian lingkungan hidup. Desak pemerintah untuk serius mengusung program pelestarian lingkungan hidup, kalau perlu gantung para perusak lingkungan hidup! *marah deh*

Thursday, July 07, 2005 

turut berduka cita

turut berduka citaTurut berduka cita atas tragedi yang baru saja terjadi hari ini, 7 Juli 2005 di London. Ketika orang-orang di kota itu tengah bergembira karena kotanya terpilih menjadi tuan rumah Olimpiade 2012, ketika itu pula kekejaman tak berperikemanusiaan telah merenggut nyawa-nyawa mereka yang tak berdosa.

Dunia terus berduka atas tragedi kemanusiaan yang selalu terjadi dan tiada henti melanda bumi ini. Semoga manusia-manusia yang selalu mendambakan kedamaian di muka bumi ini, masih diberi kesabaran oleh yang Maha Pengasih dan Penyayang. Semoga tragedi seperti ini tidak mampu mematahkan semangat mereka untuk selalu mendambakan dan menegakkan kedamaian di muka bumi ini.

Kedamaian adalah dambaan setiap insan yang memiliki rasa kasih dan sayang di dalam hatinya. Mengapa selalu saja ada yang tega mengoyaknya, menggoreskan dan meninggalkan luka yang teramat dalam...?

 

tips matlab (2) - baca/simpan bagian 1

Pada bagian ini saya akan mencoba memberikan tips bagaimana membaca dan menyimpan file data dalam berbagai format yang berbeda.

Dengan matlab kita dapat membaca file-file yang berformat ascii, csv (biasanya dari hasil upload alat-alat pengukuran oseanografi dimana masing-masing nilai dipisahkan oleh tanda koma) dan unformatted (hasil keluaran dari fortran). Juga file-file dengan format netcdf dan hdf yang banyak digunakan pada data-data meteorologi dan oseanografi.

Sedangkan untuk penulisan file, akan saya berikan bagaimana caranya menyimpan variabel-variabel hasil perhitungan (matriks dan vektor) dari program matlab anda ke dalam format ascii, csv (yang nanti bisa dibuka dengan excel) dan juga unformatted (yang nanti bisa dibaca oleh program fortran anda atau program tampilan seperti Grads).

Karena cukup panjang, maka tips matlab mengenai baca/simpan file ini akan dibagi menjadi beberapa. Bagian 1 ini akan membahas tentang membaca file dalam format ascii terlebih dahulu. Dalam uraian ini huruf miring menyatakan perintah sedangkan huruf tebal menyatakan data.

Jika jumlah kolom pada setiap baris dari file ascii yang hendak dibaca seragam (jadi membentuk sebuah matriks m baris x n kolom), maka kita dapat memanggilnya dengan cara berikut:

misalnya kita memiliki data kecepatan dan arah arus laut 'arus.dat' :

1.0 180.0
1.5 220.0
2.0 270.0


cara pertama:

arus=load('arus.dat');
kec = arus(:,1);
arah = arus(:,2);


cara kedua:

[kec arah] = textread('arus.dat','%f %f')

Namun kadangkala juga kita mempunyai file data dengan kategori di atas namun pada baris pertama terdapat header seperti (misalnya nama file data adalah 'arus.dat'):

kec arah
1.0 180.0
1.5 220.0
2.0 270.0


untuk membacanya, berikan perintah:

[kec arah] = textread('arus.dat','%f %f','headerlines',1)

Jika pada file yang kita miliki terdapat jumlah kolom yang tak seragam, misalnya kita memiliki data pengukuran elevasi pasang surut setiap jam 'pasut.dat' dengan format:

1.0 1.1 1.2
1.3 1.4 1.5 1.6
1.7 1.9


maka untuk membacanya dapat digunakan perintah:

elevasi = textread('pasut.dat', '%f')

atau jika pada baris pertama terdapat header seperti di bawah ini:

data pasut Riau
1.0 1.1 1.2
1.3 1.4 1.5 1.6
1.7 1.9


maka dapat dugunakan perintah:

elevasi = textread('pasut.dat', '%f', 'headerlines',1 )

Jika kita memiliki data 'arus1.dat' yang merupakan data pengamatan arus dengan selang pengukuran 1 jam yang dipisahkan oleh tanda koma (format csv, biasanya hasil upload dari alat pengukuran sepertu current meter menggunakan format ini) seperti:

data arus Riau
dd/mm/yyyy,hh:mm:ss,kec,arah
1/1/2000,00:00:00,1.0,180.0
1/1/2000,01:00:00,1.5,220.0
1/1/2000,02:00:00,2.0,270.0


maka kita dapat membaca harga kecepatan dan arah arus dengan perintah:

arus = csvread('arus1.dat', 2, 2);

dimana angka 2 yang pertama pada perintah di atas berarti kita mulai pembacaan data setelah 2 baris pertama diabaikan, dan angka 2 yang kedua berarti kita mulai pembacaan data setelah 2 kolom pertama diabaikan.

selanjutnya kita dapat mendefiniskan kecepatan dan arah arus dengan perintah:

kec = arus(:,1);
arah = arus(:,2);

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares