« Home | Koleksi perangko bekas dan kartu pos » | Gempita menjelang Piala Dunia 2006 » | Agustusan di luar negeri » | kampanye terumbu karang » | turut berduka cita » | tips matlab (2) - baca/simpan bagian 1 » | tips matlab (1) » | kata presiden: "hemat pemakaian BBM" » | gosip BBM » | rapor hasna » 

Saturday, July 09, 2005 

Breaking News: Generasi Tulalit

Di harian Kompas hari ini, 9 Juli 2005, ada sebuah artikel menarik berjudul Generasi Tulalit. Penulisnya adalah Bapak Hendrawan Nadesul, seorang dokter yang mungkin kita semua sudah banyak membaca artikelnya. Artikel dibuka dengan kalimat yang cukup menggigit:

Jadi memang kalau yang punya masalah orang ngetop, semuanya ribut. Giliran yang kena masalah orang biasa-biasa saja (meskipun jumlahnya banyak dan masalahnya gawat), ya kebanyakan kita memang adem ayem aja *kebiasaan nonton infotainment kali ya? yang disorotin orang-orang ngetop melulu*

Yang dimaksud dengan generasi tulalit pada artikel tersebut adalah anak-anak yang kekurangan gizi, sehingga otaknya menjadi kosong. Yang diberi makan hanya untuk sekedar kenyang, dimana makanan yang dimakan bergizi rendah.

Dalam artikel tersebut, Pak Hendrawan Nadesul juga memberikan suatu solusi yang sebenarnya mudah untuk diterapkan di masyarakat dalam rangka mencegah semakin banyaknya generasi tulalit, yaitu:

"Meningkatkan gizi rakyat tidak perlu menunggu kemiskinan sembuh dulu. Kuncinya adalah penyuluhan. Rata-rata keluarga yang memiliki anak baduta (bayi bawah dua tahun, red) kurang gizi selain papa, ternyata buta gizi juga. Tanpa dibantu kader, tangan puskesmas kelewat pendek untuk menjangkau keluarga papa agar melek gizi. Program PMT(Pemberian Makanan Tambahan, red) hanya sekrup kecil. Mesin besarnya pada membangun keluarga tidak gagap gizi".

Intinya, perlu ada bantuan kader. Siapa kader itu? Sebenarnya ya kita-kita semua bisa jadi kader, tinggal mau atau tidak.

Dalam berita lain yang juga saya baca di harian yang sama pada tanggal yang sama disebutkan:

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan bahwa Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) sebaiknya kembali dihidupkan, mengingat fungsinya yang cukup vital sebagai sarana sosialisasi dan advokasi kesehatan, terutama di daerah miskin.

"Yang kita lakukan seringkali adalah gerakan reaktif saja, padahal hal tersebut tidak akan bertahan lama, beda dengan gerakan preventif, misalnya dengan memberikan pendidikan kepada ibu-ibu" katanya lagi.


Jadi mari kita saling bekerjasama bahu membahu mengatasinya. Mereka semua adalah calon generasi penerus Indonesia. Sayang dan kasihan jika generasi penerus kita kelak adalah generasi yang tulalit.

Jadi memang kalau programnya bagus ya tidak perlu diganti karena kita tidak suka sama *ORBA*, tinggal diperbaiki saja manajemennya.

Saya berani menebak, setelah kejatuhan Pak Harto, pasti anak-anak baru lahir yang diberi nama Soeharto jumlahnya berkurang... *takut dicap ORBA*

iya keknya begitu ya mas kebanyakan nonton infotainment jadi masalah2 yg bener2 gawat malah ga keliput. repotnya lagi dikita kecenderungannya brebut ngasih gizi n service ke orang yang udah kelebihan gizi n layak dapat service.

soal penyuluhan krn semua kembali lagi ke biaya saya kira kembali kepada para pengambil keputusan yg mesti melek n sadar kemana harus menginvestasikan uang. anak adalah investasi masa depan bangsa atau mestikah terucap: "selamat menuai generasi tulalit!"

met hari minggu ya mas agus :D

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares