« Home | Maunya koq seragam sih... » | Jakarta banjir di musim kemarau? » | susah login ke blogger.com » | Pemanasan Global » | Hari ini rindu Bandung euy! » | Berita lucu sekitar hemat energi » | Pesta Tuan Presiden, contoh buruk sang pemimpin » | Nostalgia : Film Ghost » | Inpres Hemat Energi Dikeluarkan » | Selamat... » 

Monday, July 18, 2005 

Gaji ke-13, siapa takut!

He..he..he.. hari ini dapat kabar dari teman kerja di BPPT bahwa PNS dapet gaji ke-13. Gaji ke-13 kali ini seingat saya adalah yang ke-2 dikeluarkan setelah keruntuhan ORBA. Yang pertama dikeluarkan di masa pemerintahan Ibu Megawati menjelang akhir masa jabatannya (karena setelah itu beliau kan kalah di pemilu langsung). Kata Pak Menkeu waktu itu, gaji ke-13 sengaja diberikan tepat pada saat tahun ajaran baru, karena pada tahun ajaran baru itulah terjadi peningkatan pengeluaran yang cukup besar untuk membayar biaya sekolah anak.

Dahulu kala, gaji ke-13 biasanya jatuh atau diributkan menjelang hari raya Idul Fitri dan sifatnya pun tidak menentu. Kadang ada, kadang tak ada. Setelah kejatuhan ORBA, banyak pula instansi yang berinisiatif untuk mengadakan gaji ke-13 secara swa sembada (inget senyumnya Pak Harto deh kalau ketemu kata-kata swa sembada) dengan mengandalkan dana taktis. Sumber dana taktis sendiri tidak jelas, ada yang 'disisihkan' dari 'sisa' anggaran Daftar Isian Proyek (DIP). Kata disisihkan dan sisa sengaja saya kasih tanda petik karena definisinya berbeda dengan definsi yang ada di kamus besar Bahasa Indonesia. Yang membaca blog ini tentu tahu sendiri kan dimana bedanya. Sebagai gambaran mudahnya anda bisa mengacu pada dana taktis KPU atau Dana Abadi Umat (DAU) Departemen Agama.

Gaji ke-13 yang diterima besarnya adalah 1 bulan gaji. Buat PNS yang memang hanya mengandalkan sepenuhnya pada gaji yang ada (artinya tidak punya penghasilan tambahan di luar gaji), gaji ke-13 ini memang cukup terasa manfaatnya dan bisa membuat nafas sedikit lega (seperti iklan orang yang habis minum obat asma) dan mereka mensyukurinya. Hanya saja, sayangnya, para pedagang suka latah kalau melihat PNS dapat gaji ke-13, akibatnya mereka suka menaikkan harga barang dagangan ketika mendengar PNS mendapat gaji ke-13. hahaha... Apalagi kalau mendengar kabar gaji PNS bakal dinaikkan, wah tambah latah deh itu para pedagang. Fatalnya, kenaikan gaji PNS kadang-kadang baru digosipin eh pedagangnya sudah latah duluan menaikkan harga... curi start nih ye...

Jadi PNS di Indonesia memang boleh dibilang sangat memprihatinkan, gajinya sangat kecil. Apalagi untuk mereka yang masih bisa membawa dan menjaga idealismenya, karena berarti dia harus berani jujur dan menghindarkan diri dari godaan pendapatan 'tambahan' yang abu-abu. Kalau gaji kecil saja sebenarnya tidak terlalu masalah, toh yang namanya pengeluaran masih bisa sedikit disesuaikan dan ditekan dengan penghasilan supaya tidak besar pasak daripada tiang atau gali lubang tutup lubang. Yang cukup berabe adalah menghadapi godaan ruar biasa untuk tidak ikut terjebak dan terlena secara berjamaah menjadi koruptor dan manipulator. *karena mengerjakan dengan cara berjamaah akan lebih mudah dan aman, semua kebagian dan semua tutup mulut*

Bukan rahasia umum lagi bahwa hampir di semua departemen, yang namanya praktik korupsi, kolusi dan manipulasi adalah hal yang biasa dan wajar. Pertama saya menjadi PNS pun, hal yang saya dapatkan dan temukan adalah praktik-praktik yang berhubungan dengan itu yang kadang-kadang tidak bisa saya hindari karena begitulah ritme kehidupan di instansi pemerintah pada umumnya. Jadi sebenarnya saya 'cukup maklum' kalau sampai saat ini SBY belum bisa sepenuhnya memberantas korupsi, dan saya sependapat juga dengan komentar di rehat Republika yang mengatakan bahwa aktivitas pemerintahan bisa lumpuh kalau semua koruptor dimasukkan ke tahanan. Bukan karena saya pro-korupsi, tapi karena korupsi memang sudah bisa dibilang 'mendarah-daging' dalam kehidupan instansi pemerintah. Korupsi bisa diberantas, tapi masih perlu waktu yang cukup lama untuk bisa melihat hasilnya. Kalau ingin bisa melihat hasil yang agak cepat, semua pihak yang ingin korupsi enyah dari muka bumi Indonesia harus mendukungnya dengan konsisten dan jangan hanya bisa mencemooh saja.

Wah... koq jadi ngelantur ke masalah korupsi ya, padahal kan tema awalnya tentang gaji ke-13. OK deh, saya sudah tidak punya ide lagi untuk menuliskan tentang gaji ke-13. Yang jelas sebagai PNS saya juga ikut bersyukur bahwa ada gaji ke-13 yang bisa sedikit meringankan beban pengeluaran di tahun ajaran baru. Saya pernah merasakan beratnya tahun ajaran baru ketika memasukkan anak ke Taman kanak-kanak dan Sekolah Dasar. Maka dari itu, saya selalu memilihkan anak saya sekolah yang biayanya murah dan terjangkau. Perhitungannya, kalau anaknya cukup mampu, mau disekolahkan di sekolah murah juga akan tetap baik buat dia, apalagi kalau orang tua bisa ikut berpartisipasi mendidiknya dan tidak hanya mengandalkan guru. ('tul kan ya?)

Alhamdulillah sekarang di Hamburg, kami tidak perlu dipusingkan dengan kebutuhan uang yang terlalu banyak di tahun ajaran baru karena sekolah masih gratis. Hanya saja memang mulai tahun ajaran 2006 ini akan mulai dikenakan biaya sekolah sekitar 80 Euro per tahun atau sebanding dengan Rp.944.000,- Juga untuk mahasiswa akan dikenakan biaya 500 Euro (per semester kalau tidak salah).

soal gaji ketiga belas ini saya dpt tau dari kakak yg pns di depdikbud n bisa baca gimana senengnya doi.

praktek korupsi itu dimana2 mas ga cuma di indon saja disinipun kerap terungkap. tapi belajar dr sini juga andai pns bisa dapet gaji yg bener2 bisa memenuhi kebutuhan sebulan sebuah keluarga (bukan minimum loh ya mas) saya kira korupsi bisa agak ditekan... naif ga ya? enggak juga kali yach, pikiran tenang juga mengurangi keinginan mreka kasak kusuk untuk mencari sampingan. soal ttd proyek fiktif terasa familiar dikuping saya, alesannya takut klo enggak diabisin ga dapet lagi ato jatahnya berkurang tahun berikutnya... klo ngliat ga standar pns sini, kalah jauh deh dari jumlah total duit2 proyek yg bisa dibawa pulang oleh orang2 yg ada dijalur basah pns :)

gaji ketiga belas , baru saja dapat .. kalo ditempat ane itu disebut dengan bonusan , mungkin aja nanti bakal ada gaji ke 14 alias rapelan .

ngomongin rapelan ya itu yg jadi masalah karena , selama ini rapelan ini lah yg paling susah keluarnya.

Lebih mending PNS yg sudah "diangkat" daripada PNS kontrak , sudah di kontrak kadang gajinya gak keluar - keluar , bisa sampe 2 sampae 3 bulan baru nongol kan kasihan tuh.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares