« Home | Berita lucu sekitar hemat energi » | Pesta Tuan Presiden, contoh buruk sang pemimpin » | Nostalgia : Film Ghost » | Inpres Hemat Energi Dikeluarkan » | Selamat... » | Breaking News: Generasi Tulalit » | Koleksi perangko bekas dan kartu pos » | Gempita menjelang Piala Dunia 2006 » | Agustusan di luar negeri » | kampanye terumbu karang » 

Wednesday, July 13, 2005 

Hari ini rindu Bandung euy!

nostalgiaHari ini saya rindu Bandung euy... Sudah sejak tahun 2003 saya meninggalkan Bandung membuat rasa rindu semakin menggelora di dada. Menurut SMS yang saya terima dari istri yang saat ini sedang liburan di Bandung menengok orangtuanya, di Bandung sekarang ini banyak berdiri jalan bertingkat seperti di Jakarta. Namun demikian, meskipun sudah banyak berdiri jalan bertingkat ternyata Bandung makin bertambah macet saja. Kendaraan semakin banyak yang berseliweran di jalanan yang terlihat semakin sempit.

Saya pergi dan menetap di Bandung sejak tahun 1989 ketika diterima kuliah di ITB. Waktu itu saya merasakan Bandung begitu sejuknya, maklum saya berasal dari daerah yang panas di tepi Sungai Serayu bernama Banyumas. Kota Bandung banyak memberikan kenangan manis bagi saya sehingga setelah menyelesaikan kuliah sayapun memutuskan diri untuk menjadi penduduk kota Bandung. Hanya saja, sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan pekerjaan tetap di Bandung dan harus mendapatkannya di Jakarta, sementara istri bekerja di Bandung sebagai dosen di ITB. Akhirnya saya terpaksa menjadi anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad), sebagai pelanggan setia kereta api Parahyangan. Pulang mudik ke Bandung setiap hari Jumat untuk berkumpul bersama keluarga di akhir pekan dan kembali lagi ke Jakarta setiap hari Ahad (Minggu) untuk kembali menjadi anak kos di sana. Seingat saya, teman-teman senasib banyak juga saya jumpai di kereta Parahyangan ini, karena di setiap hari Jumat kereta ke arah Bandung ini akan selalu penuh sesak oleh mereka. Dan sebaliknya, pada hari Minggu atau Senin kereta ke arah Jakarta lah yang akan penuh sesak. Akibatnya, banyak di antara mereka yang harus rela untuk duduk di lantai atau berdiri selama 3 jam perjalanan.

Gedung Sate
Biasanya saya selalu memesan tiket kereta sebelumnya untuk bisa mendapatkan tempat duduk. Jadi jika hari Minggu sore atau Senin pagi saya tiba di Stasiun Gambir, hal pertama yang harus saya lakukan adalah pergi menuju loket pemesanan dan mengantri untuk memesan tiket Jakarta-Bandung untuk hari Jumat. Sementara itu istri saya di Bandung pada hari Senin atau Selasa siang akan memesankan tiket Bandung-Jakarta untuk hari Minggu atau Senin berikutnya. Selalu begitu setiap minggunya. Jika misalnya saya tidak bisa mendapatkan tiket dengan tempat duduk, maka saya harus rela untuk duduk di lantai atau berdiri selama 3 jam perjalanan. Kadangkala, jika beruntung, ada pula tempat duduk yang kosong yang bisa saya tempati. Tetapi itu jarang sekali terjadi dan sangat banyak pesaing dan peminatnya.

Kembali ke mengenang Kota Bandung, di Bandung (waktu itu) masih banyak kita jumpai tempat-tempat yang rindang dengan pohon-pohon besar. Jalan Tamansari, Juanda, Wastukencana dan Ganesha adalah beberapa contohnya. Di Ganesha, saya bisa menikmati rindangnya Taman di samping Masjid Salman sambil duduk-duduk melepas lelah dan menikmati ringkikan dan derap kaki kuda serta lonceng delman. Di Wastukencana, saya biasa duduk-duduk di Taman Balai Kota yang juga rindang dan sejuk.

Setiap hari Minggu, tempat favorit kami untuk berjalan-jalan sambil berolahraga dan menikmati jajanan adalah Gasibu dan Gedung Sate. Di sepanjang jalan yang melingkari Gasibu dan Gedung Sate, setiap hari Minggu akan dipenuhi oleh para pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan segala jenis dagangan. Mulai dari VCD bajakan, peralatan dapur made in China, pakaian, aneka makanan sampai ada pula kredit motor semua tumpah ruah di jalan. Sampai-sampai pejalan kaki pun menjadi sedikit tak nyaman dibuatnya saking padatnya jumlah PKL yang berebut pembeli.

Awalnya, jumlah PKL yang ada tidaklah terlalu banyak. Biasanya mereka yang suka berjualan pada hari Minggu adalah para pedagang bubur ayam. Dahulu, untuk berjalan-jalan di Gasibu dan Gedung Sate masih sangat mengasyikkan. Semenjak terjadinya krisis moneter dan meningkatnya jumlah pegawai yang kena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), Gasibu dan Gedung Sate mulai dipenuhi oleh PKL sebagai alternatif untuk mencari penghasilan tambahan.

Dahulu saya sering mengikuti senam yang diadakan oleh GESAT yang instrukturnya adalah tenaga pengajar dari IKIP Bandung. Dahulu senam ini diadakan di jalan raya persis di depan Gedung Sate, namun terakhir saya lihat mereka pun tergusur oleh para PKL yang semakin memenuhi jalan itu dan akhirnya terpaksa pindah ke lapangan GASIBU bercampur dengan orang-orang yang berlari pagi di lintasan lari. Selain senam pagi yang diadakan oleh GESAT di lapangan GASIBU itu, di depan kantor Telkom pun ada senam pagi yang saya tidak tahu diadakan oleh siapa. Malah yang lebih seru lagi, di Jalan Japati (depan kantor Telkom) berdiri pula panggung Nasyid. Jadi bisa dibayangkan kan betapa hingar-bingarnya GASIBU dan Gedung Sate di hari Minggu?

Tempat lain yang juga memberikan kenangan indah buat saya adalah Pasar Simpang dan Balubur. Menurut informasi terakhir, Pasar Balubur sudah tidak ada lagi karena tergusur oleh jalan bertingkat. Para mahasiswa biasanya suka makan dan nongkrong di pinggir jalan di sekitar kedua pasar itu. Ada yang sekedar menikmati roti bakar sambil minum susu atau kopi hangat sambil ngobrol ngalor-ngidul, ada pula yang memesan makanan lain seperti soto, mie rebus, nasi goreng, masakan Padang, dan lain-lain. Kebanyakan rumah-rumah yang berada di sekitar kedua pasar tersebut juga merupakan tempat kos-kosan dan kontrakan.

Tempat kos pertama saya dulu berada di Lebak Siliwangi, yang sekarang sudah tidak ada lagi karena tergusur untuk pembangunan Sasana Budaya Ganesha (SABUGA). Untuk pergi ke kampus dari tempat kos-kosan waktu itu harus melalui jalan 'setapak' yang cukup terjal dan cukup membuat ngos-ngosan pula. Apalagi jika ada kuliah pagi sementara kita bangun kesiangan. Tidak lama mendiami kos-kosan di Lebak Siliwangi karena terlalu banyak nyamuk, saya dan beberapa kawan satu angkatan pindah mencari kos-kosan di dekat Pasar Balubur. Alhamdulillah di sana kami mendapatkan tempat yang cukup nyaman dengan harga yang relatif murah. Hanya saja atap rumahnya terlalu rendah, sehingga seorang kawan dari Medan yang agak tinggi harus sedikit bungkuk jika hendak berjalan. Di tempat kos yang baru ini ada aturan yang agak aneh bagi kami, yaitu di siang hari listrik dimatikan oleh Bapak kos. Sehingga beberapa kali kami harus mengajukan protes untuk bisa menikmati listrik di siang hari. Di siang hari biasanya memang kami jarang berada di kos-kosan karena lebih sering berada di kampus, namun di hari-hari libur peraturan aneh itu banyak mengganggu kami.

Sebagai mahasiswa dengan uang yang sangat pas-pasan, yang kadang-kadang tidak cukup untuk hidup sebulan, membuat saya harus mencari kos-kosan yang semurah mungkin. Selain itu saya juga harus bisa mencari warung makan yang bisa dihutangin di akhir bulan ketika uang bulanan telah habis terkuras. Syukur bahwa saya bisa menemukan semua itu, sehingga di saat saya tidak punya uang pun masih bisa makan dengan cukup enak dan hanya mencatat berapa harga makanan yang saya makan pada saat itu. Di awal bulan ketika saya mendapatkan uang kiriman dari orang tua, maka hutang-hutang itu harus segera dilunasi supaya tidak semakin menumpuk. Menginjak tahun ke-3 saya baru mulai bisa mendapat penghasilan tambahan dengan membantu proyek-proyek dosen atau terlibat dalam kepanitiaan kursus atau pelatihan yang diadakan oleh jurusan. Kadang-kadang juga mendaftar sebagai asisten atau pengawas ujian di jurusan sendiri atau jurusan lain. Memang tidak besar honornya, namun cukuplah untuk sedikit meringankan beban yang ada.

He..he..he.. jadi terharu juga deh mengingat masa-masa seperti itu. Masa-masa ketika hidup 'susah' namun 'bahagia'. Jadi ngelantur deh ya nostalgianya... Ya udah deh... buat yang baca blog ini selamat bernostalgia juga deh ya... Buat penghuni kota Bandung, I miss you all!

wah kenangan saya tentang bandung malah lebih lama lagi yaitu sekitar tahun 1975 an dimana saya sempat tinggal 3 bulan di bandung, ah sekarang bandung tidak nyaman, padat and macet, jadi bandung idaman saya ya seperti tahun 70 an itu.. sepi masih sejuk.. hmmm enak pokoknya.

Tul tul, Bandung udah penuh banget. Gasibu juga udah jadi kayak pasar kalau hari minggu, mobil engga bisa lewat! Bahkan gosipnya, omzet pedagang - pedagang di Gasibu pada hari Minggu mencapai 2 Miliar!

Ternyata bukan hanya saya yang merindukan Bandung seperti dulu, padahal saya dari kecil di bandung sampai sekarang. Untuk yang sama-sama rindu bandung mampir deh di http://yadis9.wordpress.com. Kita bicara Bandung tempo doeloe dan Bandung sekarang..kita sharing pengalaman di Rindu Bandung. Salam.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares