« Home | Fatamorgana 3-tas » | Diundang makan malam » | Kecanduan Internet? » | Apa hobby dan cita-cita mu? » | Presiden, DPR dan Partai » | Hi DPR! » | Gaji ke-13, siapa takut! » | Maunya koq seragam sih... » | Jakarta banjir di musim kemarau? » | susah login ke blogger.com » 

Saturday, July 23, 2005 

Konsekuensi Keimanan

Dalam ajaran Islam, salah satu syarat wajib untuk menjadi pemeluk Islam adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu suatu ikrar atau kesaksian pribadi bahwa yang bersangkutan mengakui tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah. Ketika kita telah bersedia untuk mengucapkan kesaksian tersebut, maka kita pun harus bersedia untuk menerima segala konsekuensinya.

Dalam Islam, kualitas jauh lebih penting daripada kuantitas. Seseorang yang setelah mengucapkan dua kalimat syahadat dilanjutkan dengan berusaha untuk sedikit demi sedikit belajar dan mengamalkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan ikhlas akan lebih baik daripada seseorang yang banyak melakukan amalan tapi dengan tujuan hanya untuk mendapat pujian manusia semata atau supaya dianggap sebagai orang yang beriman oleh manusia lainnya.

Sebagai konsekuensi dari ikrar atau kesaksian kita yang percaya dengan sungguh-sungguh bahwa hanya Allah lah Tuhan kita, maka kita pun akan dengan sungguh-sungguh percaya dan meyakini akan sifat-sifat Allah. Dikatakan bahwa Allah Maha Melihat, maka sebagai konsekuensinya kita pun akan selalu menjaga tingkah laku kita agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang-Nya meskipun kita sedang sendirian atau berduaan dengan orang lain yang mungkin adalah lawan jenis bukan muhrim, teman yang dipercaya tidak akan membocorkan rahasia bila kita melakukan perbuatan jelek atau jahat, dll. Demikian juga, jika kita percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah mempunya sifat Maha Mendengar, maka sebagai konsekuensinya kita tidak akan berani untuk menggunjing, berkata bohong, memfitnah, mengumpat, bersumpah palsu, membuat kesepakatan jahat atau persengkokolan, dan lain-lain. Demikian juga dengan sifat Allah lainnya seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Tinggi, dan lain-lain.

Selanjutnya, kita juga berikrar bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Rasul secara sederhana dapat diartikan sebagai orang yang ditunjuk oleh Allah untuk menerima wahyu-wahyu-Nya dan menyampaikannya kepada umat manusia. Dengan meyakini bahwa Muhammad adalah rasul Allah, maka kita yakin secara sungguh-sungguh dan sadar bahwa ajaran yang disampaikan oleh Muhammad adalah benar adanya karena ia menerimanya secara langsung dari Allah dan bukan merupakan hasil imajinasi atau karangannya. Jadi kita harus meyakini secara sungguh bahwa Al-Quran yang diwahyukan Allah kepada Muhammad adalah benar. Apa konsekuensinya? Konsekuensinya adalah bahwa kita harus berusaha untuk mempelajari dan memahami isi Al-Quran dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana mempelajari dan memahami Al-Quran? Bacalah sebanyak-banyaknya literatur atau tulisan para ahli Islam yang mengupas isi Al-Quran atau anda dapat mengawalinya dengan membaca Al-Quran setiap hari, lalu sedikit demi sedikit mulai mencoba untuk memahami artinya dan menanyakan kepada yang lebih tahu jika ada yang belum benar-benar anda pahami.

Kecenderungan manusia adalah ia akan mencoba mencari tahu jika ada sesuatu yang belum benar-benar ia pahami (keinginan untuk belajar). Untuk mengetahui bahwa ia belum tahu akan sesuatu hal ia harus banyak berinteraksi dengan hal-hal tersebut. Contoh sederhananya adalah sebagai berikut:

Seseorang yang ingin bisa memasak tentu akan mencari resep-resep masakan. Ketika ia telah berhasil mendapatkan resep masakan, hal selanjutnya supaya ia bisa memasak adalah dengan mencoba resep itu. Jika dalam mencoba resep itu ia menemukan sesuatu yang tidak ia pahami tentu ia akan bertanya kepada orang lain yang bisa memasak. Tetapi untuk mengetahui bahwa ia tidak paham akan sesuatu di dalam resep itu ia harus mencoba resep itu terlebih dahulu bukan? Artinya ia harus berinteraksi dengan resep tersebut. Jika hal yang dilakukannya berhenti hanya pada mengumpulkan buku resep saja, maka ia akan tetap tidak bisa memasak karena ia belum mempelajari resep tersebut dengan mencobanya.

Ilustrasi tersebut setidaknya memberikan gambaran kepada kita bahwa hanya sekedar menyimpan Al-Quran di dalam rumah tanpa pernah membukanya tidak akan menjadikan kita benar-benar mengerti akan isi yang terkandung di dalamnya. Untuk mengetahui isi yang terkandung di dalamnya maka kita harus mulai membuka-buka Al-Quran tersebut, membacanya, mengerti artinya, menanyakan kepada orang yang lebih tahu jika kita menemukan sesuatu yang kurang kita pahami, mencari referensi dari tulisan-tulisan para ahli yang mengupas secara lebih detail isi Al-Quran dan seterusnya dan seterusnya. Dan untuk bisa sampai ke tahap itu, anda harus mulai berinteraksi dengan Al-Quran yaitu dengan membacanya dan tidak hanya sekedar menyimpannya di lemari buku sebagai hiasan atau menyimpannya di tempat yang tidak tersentuh sebagai barang keramat.

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares