« Home | Hikmah Republika hari ini » | Udin dan Ulama » | Proses Terciptanya Alam Semesta Menurut Al-Quran » | Konsekuensi Keimanan » | Fatamorgana 3-tas » | Diundang makan malam » | Kecanduan Internet? » | Apa hobby dan cita-cita mu? » | Presiden, DPR dan Partai » | Hi DPR! » 

Tuesday, July 26, 2005 

Luxus Leben

Kemarin dapat sms dari istri yang sedang berlibur di Jakarta, isinya adalah komentar dari Hasna (nama anak kami, 8 tahun) yang sedang menikmati liburan di Jakarta: pergi bermain seharian di Dunia Fantasi (Dufan), menginap 2 malam di hotel dengan fasilitas kolam renang yang nyaman, makan malam di hotel, katanya "Luxus Leben! (hidup mewah)". Lucu juga mendengar komentarnya yang sudah bisa menilai kehidupan seperti itu sebagai sebuah kehidupan yang mewah.

Ya, memang sejujurnya itu adalah kehidupan yang mewah! Sebagai mahasiswa di luar negeri yang mengandalkan beasiswa yang pas-pasan, untuk bisa hidup bermewah-mewah seperti itu adalah tidak mungkin. Namun, kadang-kadang, kawan-kawan di tanah air suka melihat kami yang sekolah di luar negeri sebagai memiliki kehidupan yang dinilai serba berlebihan. Mereka kadang melihat dari uang beasiswa yang kami terima yang jika di kurs ke mata uang rupiah bernilai puluhan juta. Ditambah lagi jika mereka misalnya mendengar kami bisa jalan-jalan ke negara-negara lain di Eropa. Padahal itu tak ubahnya seperti mereka yang tinggal di Yogyakarta dan jalan-jalan ke Bandung atau ke Jakarta.

Untuk bisa melakukan perjalanan liburan ke negara-negara Eropa seperti itu dari tempat kami tinggal di Jerman, biasanya kami selalu mencari paket-paket murah yang mencakup perjalanan dan akomodasi dalam satu paket. Hal itu pun biasanya kami lakukan pada saat libur sekolah anak, dimana pada setiap pergantian musim selalu ada liburnya (jadi ada libur musim gugur, libur musim dingin, libur musim semi, dan libur yang paling panjang yaitu libur musim panas). Biasanya pada hari-hari menjelang liburan seperti itu, biro-biro perjalanan selalu menyediakan paket-paket murah.

Biaya hidup di kota seperti Hamburg ini sebenarnya cukup tinggi, tetapi masih ada cukup banyak pilihan untuk bisa hidup berhemat. Untuk mereka yang jeli melihat harga, bisa berhemat cukup banyak dengan membeli barang-barang keperluan sehari-hari di toko-toko tertentu yang harganya lebih miring dengan kualitas yang hampir sama. Untuk sayur-sayuran, buah-buahan dan ikan, setiap Minggu pagi di dekat pelabuhan Hamburg ada yang namanya Fisch Markt atau Pasar Ikan dengan harganya yang super obral! 1 Euro bisa dapat satu keranjang sayuran atau buah-buahan cukup untuk 1 minggu! Kalau mau gratis, bisa tunggu sampai pasar bubar (pkl.11). Ikan-ikanan (asap dan segar) pun dijual super obral! Kami bisa membeli calamari berkilo-berkilo dengan harga setara 1 kilo saja (jika kami beli di toko), atau ikan-ikan asap sekian potong dengan harga 1 potong, juga ikan segar sekian kilo dengan harga 1 kilo. Apalagi kalau yang suka kepala ikan, bisa dapat kepala ikan gratis cukup untuk 1 minggu.

Selain di Fisch Markt, setiap hari Jumat selesai shalat Jumat di beberapa toko Turki yang besar di sepanjang jalan Steindamm (mungkin ada juga di beberapa daerah yang lain) selalu ada angebot (obral) sayur-sayuran dan buah-buahan. Satu kardus buah-buahan dengan isi lebih dari 1 lusin dijual dengan harga hanya 1 Euro. Kalau kuat bawanya, kita bisa beli berkardus-kardus.

Maka dari itu, kata istri saya, orang-orang miskin yang tinggal di Hamburg akan selalu tetap terpenuhi kebutuhan gizinya karena alternatif untuk mendapatkan barang dengan harga murah masih banyak. Yang gratis pun masih bisa dicari!

luxus leben!
saya juga klo pergi2 seringnya cari paket murah mas :D

bener kata mas agus pikiran yg terbentuk di orang2 kita klo orang tinggal di luar negeri pasti tajir n hidup mewah, ada benernya tapi banyak ga benernya juga. kliatannya aja mewah tapi bisa jadi itu standar minimum disini.

stlah tinggal disini saya bisa ngrasain kog mas hidup di indon itu jauh lebih mewah. orang sini juga gitu klo kita dateng dari dunia ketiga mesti mikirnya miskin padahal bisa jadi mreka ga pernah ngrasain kemewahan yg bisa kita dapet di indon. hal ini dimungkinkan krn mewah n mlarat di indon jomplang bener. beda dg disini kaya n miskin kejomplangannya tidak terlalu kentara. pun begitu kejomplangan ini kerap dibahas krn gepnya mulai mengkhawatirkan.

kalau dikurs ke euro sih sebenarnya hotel bagus di jakarta jatuhnya jauh lebih murah daripada di hamburg atau di eropa. cuman kan kerasa mewahnya, makanya anak saya langsung komentar luxus leben.

Sama kali yah sama anak kos... Saya sendiri di Bandung nge-kos jadi kadang - kadang luxus leben juga kalau kebetulan orang tua dateng ke Bandung, maklum program peningkatan gizi sih :P.

Nikmatnya hidup sederhana...

kalo pulang dari sekolah diluar negeri trus bisa bangun rumah mewah gimana tuh pak...hehehe.

makanan halal di hamburg mudah didapat nggak pak?

@Hani: Wah, kalau yg pulang sekolah terus bisa bangun rumah mewah, itu mungkin waktu sekolah di LN hidupnya dibuat sehemat mungkin, atau punya penghasilan tambahan dari pekerjaan sambilan.

Di Hamburg jumlah orang Islam cukup banyak, mayoritas dari Turki. Maka dari itu toko-toko Turki yang menjual makanan halal juga cukup banyak.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares