« Home | Jakarta banjir di musim kemarau? » | susah login ke blogger.com » | Pemanasan Global » | Hari ini rindu Bandung euy! » | Berita lucu sekitar hemat energi » | Pesta Tuan Presiden, contoh buruk sang pemimpin » | Nostalgia : Film Ghost » | Inpres Hemat Energi Dikeluarkan » | Selamat... » | Breaking News: Generasi Tulalit » 

Monday, July 18, 2005 

Maunya koq seragam sih...

Banyak orang yang bilang bahwa orang-orang di negara kita banyak yang sukanya mengekor. Ketika seorang mantan presiden membuat center, mantan-mantan pemimpin yang lain pun ikutan membuat center. Ketika seorang presiden membuat layanan sms, para pemimpin yang lain pun ikutan membuat layanan sms. Ketika seorang pemimpin di suatu daerah menterjemahkan penghematan energi dengan mematikan lampu-lampu penerangan jalan, para pemimpin di daerah yang lain pun menirunya dengan melakukan hal yang sama. Ketika sebuah serial televisi produksi luar negeri ngetop dan banyak penggemarnya di dalam negeri, para rumah produksi pun menirunya dengan membuat serial dengan cerita yang serupa dengan menggunakan komponen dalam negeri. Ketika acara horor dan mistis laris manis dan disukai khalayak ramai dan memberikan banyak keuntungan dari penjualan slot iklan, semua stasiun tv pun saling berlomba membuat acara yang serupa tapi tak sama. Ketika suatu kota menggunakan angkutan kota (angkot) dengan jenis mobil tertentu sebagai sarana transportasi umum, semua daerah pun menggunakan angkot dengan jenis mobil yang sama meskipun itu menimbulkan kemacetan. Ketika suatu kota dipenuhi dengan jalan bertingkat, kota yang lain pun menirunya dengan membuat jalan bertingkat yang serupa. Ketika sebuah Factory Outlet (FO) diserbu oleh pesuka mode, hampir di semua sudut kota (meskipun peruntukan awalnya adalah untuk permukiman) muncul FO-FO baru. Semua serba disamakan, semua serba ditiru, semua saling mengekor.

Satu yang saya ingat ketika dahulu masih belajar di SD adalah bahwa makanan pokok di Indonesia berbeda-beda. Ada yang makanan pokoknya nasi, ada yang sagu, ada yang jagung, dan lain-lain. Tetapi semenjak jaman ORBA berkuasa, makanan pokok orang Indonesia hanya satu yaitu nasi. Struktur pemerintahan pun disamakan, RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kotamadya/Kotatif dan Propinsi. Struktur tradisional/adat dihilangkan dan dimarjinalkan. Anak-anak sekolah pun harus pakai seragam. Alasannya supaya semua sama dan seragam, supaya yang kaya tidak memakai baju yang berlebihan dan yang miskin tidak perlu merasa iri karena tidak bisa memakai seperti yang dipakai oleh si kaya. Bapak dan Ibu guru di sekolah pun mengajarkan anak-anak didiknya untuk selalu sama. Jika ada anak yang menunjukkan perbedaan dibilang sebagai anak yang nakal dan tidak boleh ditiru. Jika ada anak yang berbeda karena berada di bawah rata-rata dibilang sebagai anak yang bodoh. Bukannya mendapat perhatian lebih dari sang guru, mereka malah 'disingkirkan'. Di rumah pun demikian, anak yang suka membantah dan protes kepada orang tua dibilang sebagai anak yang nakal dan harus menjadi sasaran kemarahan orang tua yang seharian bekerja di luar, pergi pagi pulang larut malam. Cap anak yang baik hanya diberikan kepada mereka yang selalu menurut apa kata orang tua. Mereka yang 'berbeda' dengan apa kata orang tua masuk pada kategori 'nakal' dan harus mendapat marah.

Pertanyaannya adalah: "Benarkah kita suka meniru dan mengekor? Haruskah kita selalu sama?" Jawabannya adalah: tidak semua suka meniru dan mengekor, tetapi kebanyakan dari kita memang suka seperti itu. Dan tidak seharusnya kita selalu sama dalam segala hal. Tapi itulah fenoma yang ada di kita. Hampir semuanya serba mengekor dan meniru. Sebagai negara agraris kita bernafsu untuk menjadi negara industri meniru negara tempat kita dulu menuntut ilmu mengambil gelar sarjana, master dan doktor. Kawasan pertanian (sawah dan kebun) dirubah menjadi kawasan industri (pabrik), sementara hutan dan lahan gambut dirubah menjadi sawah. Pesawat ditukar dengan beras ketan, sementara sawah tempat menanam padi jenis ketan dirubah menjadi pabrik pesawat.

Saya suka berkhayal dan mengandai-andai, mungkin kita bisa memanfaatkan kesukaan kita untuk selalu sama dan meniru dengan tujuan yang baik. Seandainya saja para pemimpin suka naik angkot untuk pergi ke tempat kerja, maka para orang kaya kolega sang pemimpin pun akan menirunya untuk naik angkot ke tempat kerja, akibatnya angkot akan dibuat senyaman mungkin, masyarakat pemakai angkot sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki angkot yang nyaman. Andai para pemimpin suka berjalan kaki menggunakan trotoar, para orang kaya kolega sang pemimpin pun akan menirunya untuk suka berjalan kaki di trotoar, akibatnya trotoar akan dibuat senyaman mungkin, dan masyarakat pemakai trotoar sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki trotoar yang nyaman. Andai para pemimpin suka berbelanja di pedagang kaki lima, para orang kaya kolega sang pemimpin pun akan menirunya untuk berbelanja di pedagang kaki lima, dan para pedagang kaki lima pun akan diberi tempat yang nyaman untuk berdagang supaya para pemimpin dan koleganya nyaman berbelanja, akibatnya masyarakat pelanggan pedagang kaki lima sesungguhnya pun menjadi senang karena bisa berbelanja di tempat terjangkau yang nyaman. (Seandainya) para pemimpin selalu berpikir untuk tidak menerima gaji yang sama kecilnya dengan gaji masyarakat kebanyakan, sehingga mereka tidak harus kelimpungan untuk membayar SPP anaknya, dan dapat menyekolahkan anaknya ke sekolah yang 'mantab'... hus... kalau yang ini sih bukan pengandai-andaian tapi kenyataan... Udah ah, back to work.

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares