« Home | Nostalgia : Film Ghost » | Inpres Hemat Energi Dikeluarkan » | Selamat... » | Breaking News: Generasi Tulalit » | Koleksi perangko bekas dan kartu pos » | Gempita menjelang Piala Dunia 2006 » | Agustusan di luar negeri » | kampanye terumbu karang » | turut berduka cita » | tips matlab (2) - baca/simpan bagian 1 » 

Monday, July 11, 2005 

Pesta Tuan Presiden, contoh buruk sang pemimpin

Saya baca di beberapa blog yang saya kunjungi, banyak pendapat kontra yang mengomentari tentang Pesta Tuan Presiden yang baru saja diselenggarakan di Istana Bogor beberapa hari yang lalu. Mengapa mereka kontra? Karena ternyata Tuan Presiden telah memberi contoh yang buruk sebagai seorang pemimpin di sebuah negara yang saat ini tengah mengalami banyak masalah dan terpuruk. Ternyata Tuan Presiden tak punya kemampuan yang lebih baik sebagai negarawan untuk sedikit mengekang 'nafsu hura-huranya'. Mungkin untuk Tuan Presiden perhelatan yang baru saja diadakan di Istana Bogor itu bukanlah 'hura-hura' karena beliau bisa mengadakan perhelatan yang jauh lebih akbar beberapa kali lipat dari yang diadakan kemarin. Artinya, dari sudut pandang beliau yang memiliki banyak pundi-pundi, perhelatan yang diadakan kemarin itu berada dalam tingkatan 'sangat sederhana'.

Tuan Presiden rupanya lupa bahwa untuk melihat sesuatu itu 'wah' atau sederhana, beliau tidak boleh menggunakan standar yang terlalu tinggi yang tidak bisa dijangkau oleh orang kebanyakan. Mungkin menurut beliau dan kolega serta kroninya (yang menurut dugaan saya semuanya punya pundi-pundi yang cukup berlimpah dan 'biasa berhura-hura' serta tidak pernah secara nyata merasakan penderitaan yang sesungguhnya), perhelatan yang dilakukan kemarin itu sangat sederhana. Maka dari itu kita tidak mendengar satupun nada kontra dari para kolega dan kroni Tuan Presiden.

Pro-kontra perhelatan di Istana Bogor kemarin akan sedikit membuka mata kita bahwa kualitas pemimpin di Republik Indonesia yang ada saat ini memang masih tidak ada apa-apanya. Semuanya masih di bawah standar seorang pemimpin selayaknya. Itulah realita! Satu hal yang bisa diambil sebagai pelajaran adalah: "Jangan ditiru contoh buruk yang telah mereka tunjukkan di depan hidung kita itu!". Kita harus prihatin, sebagai pemimpin ternyata mereka masih memerlukan banyak bimbingan dan didikan dari kita. Jadi mari kita bersama-sama membimbing dan mendidik mereka dengan sebaik-baiknya supaya mereka bisa menjadi pemimpin yang sesuai dengan standar yang layak! Kasihan mereka, kurang mendapat pendidikan kepemimpinan! Tugas kitalah memberikannya.

Ada kawan yang bertanya dengan sedikit sewot: "Kenapa sih kita ribut-ribut? biarin aja lah! kan itu memang hak dia bikin pesta pernikahan?". Hi..hi..hi... kalau beliau itu levelnya bukan Tuan Presiden sih terserah, mau mengadakan pesta 365 hari non-stop juga perduli amat. Ini lain brur! Baru saja beliau mengeluarkan Inpres Penghematan Energi, bicara sana-sini tentang penghematan, wakilnya juga begitu, menterinya juga, lho koq malah kasih contoh yang salah! Kalau misalnya pelayan salah, kan harus dibetulkan toh? Katanya Tuan Presiden dan para koleganya itu pelayan rakyat? *eh, jangan-jangan yang dimaksud rakyat sama Tuan Presiden dan koleganya itu ya mereka dan keluarganya ya?*

Mas, apa udah liat resepsi pernikahan anaknya itu ?
Jangan samakan sederhana pesta pernikahan anaknya seorang presiden dengan anaknya pak lurah lah. Memang kalo kita melihatnya selalu dari mata kebencian, apa yang dilakukan orang itu pasti salah ya ;)

Ita
Nuernberg

@Ita: Hm... sebelum ngomong kayak gitu, coba lihat sejenak ke kaca Jendela mobil - mobil kita, lihat realitas yang ada di sekeliling kita.

Kita bukan hidup pada zaman Platonis yang melihat fakta berdasarkan idealitas. Kita hidup di zaman realis dimana fakta berdasarkan realitas yang terjadi di sekeliling kita.

Kalau saja uang itu dapat dipakai untuk sebuah pesta rakyat, kalau saja uang itu dapat dipakai untuk membangun gedung - gedung sekolah di seluruh pelosok negeri.

Negeri ini sudah kehilangan harapannya.

@Mas Agus: Setuju banget! :) Pasti bakalan lebih banyak yang kontra, yah perbedaan pendapat toh adalah hal yang sehat :)

buat mbak Ita:
Sebenarnya saya tidak terlalu 'mempermasalahkan' pestanya SBY, karena saya yakin SBY juga punya keinginan untuk membahagiakan anak dan keluarganya. Demikian juga tentang standar sederhana dan mewah, karena hal itu bersifat relatif. Hal yang lebih saya tekankan adalah pada masalah keteladanan.

Dalam pandangan sederhana saya, kualitas seseorang dapat dilihat dari apakah dia bisa menjadi teladan yang baik atau tidak bagi lingkungan dimana ia berada. Seorang ayah yang baik adalah ayah yang mampu memberi teladan yang baik kepada anaknya. Seorang ibu yang baik adalah juga ibu yang mampu memberi teladan yang baik kepada anaknya. Demikian juga dengan seorang pemimpin, pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu memberikan teladan yang baik kepada yang dipimpin.

Perkataan yang baik tanpa keteladanan akan menjadi sesuatu yang kurang baik ke depannya, karena hal itu menunjukkan ketidakkonsistenan dari yang bersangkutan dan akan menumbuhkan sikap antipati orang lain kepadanya.

Saya jadi teringat akan definisi seorang pemimpin berikut ini:

Who is a leader? A leader is one who knows the way, shows the way and goes the way.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares