« Home | Proses Terciptanya Alam Semesta Menurut Al-Quran » | Konsekuensi Keimanan » | Fatamorgana 3-tas » | Diundang makan malam » | Kecanduan Internet? » | Apa hobby dan cita-cita mu? » | Presiden, DPR dan Partai » | Hi DPR! » | Gaji ke-13, siapa takut! » | Maunya koq seragam sih... » 

Monday, July 25, 2005 

Udin dan Ulama

Barusan saya ngobrol-ngobrol dengan seorang kawan tentang kondisi di Indonesia yang menurut dia penuh dengan kesemrawutan manajemen. Dia sendiri sebelumnya lama belajar di luar negeri dan beberapa tahun yang lalu telah kembali ke tanah air untuk bekerja di sana. Pertama ia bercerita tentang betapa banyaknya para spekulan properti yang menjadikan sektor properti sangat amburadul. Kedua ia bercerita tentang Dana Abadi Umat (DAU) Departemen Agama yang secara logika orang waras sangat keterlaluan. Sebenarnya masih banyak lagi persoalan yang ia kemukakan, mulai dari kebijakan pemadaman penerangan umum untuk penghematan BBM yang ia bilang sebagai kebijakan yang ngaco (kalau tidak mau dibilang tidak cerdas), tentang kesemrawutan lalu-lintas, dll.

Pada posting kali ini saya tertarik untuk mencoba menuliskan tentang hal menarik yang ia simpulkan setelah menghirup udara tanah air tercinta setelah menimba ilmu di luar negeri. Ia mengatakan bahwa saat ini di Indonesia ternyata masih sangat kekurangan ulama, yang ada saat ini (yang mengaku ulama) ternyata kebanyakan hanyalah sekedar udin atau orang yang tahu agama sebagai ritual rutin, tapi sangat kurang ilmunya. Kenapa demikian? Ia mengambil kasus DAU sebagai bukti konkret akan kesimpulannya ini.

Lalu ia mulai bercerita tentang bagaimana masyarakat kebanyakan yang ingin pergi naik haji harus menabung dengan sekuat tenaga, bahkan ada juga di antara mereka yang harus menjual tanahnya (dia memberi contoh masyarakat Betawi) demi untuk mewujudkan keinginan tersebut. Tapi apa yang terjadi kemudian? Ongkos Naik Haji (ONH) yang mereka setorkan tersebut ternyata sebagian harus dimasukkan ke dalam DAU dan secara turun temurun dijadikan bancakan oleh para birokrat untuk membiayai mereka melaksanakan haji abidin (atas biaya dinas) dengan alasan sebagai pemimpin rombongan dan lain-lain. Dan yang perlu anda tahu, itu berlaku secara nasional. Di setiap daerah, kesempatan untuk menjadi haji abidin digilir bak arisan. Tahun ini dari instansi ini, tahun depan instansi itu, dan seterusnya dan seterusnya. Yang lebih parah dari itu, ternyata mereka yang disubsidi oleh kebanyakan orang yang sudah bekerja keras mengumpulkan uang untuk bisa pergi berhaji itu mendapat fasilitas yang lebih di tanah suci sana.

Bahkan ia menggeleng panjang ketika mendengarkan keterangan dari mantan Menteri Agama Tarmizi Taher sebagai mbah-nya DAU yang berasalan bahwa DAU diadakan karena banyaknya keuntungan yang diperoleh Depag selama menyelenggarakan (memonopoli) urusan haji. Tetapi di kesempatan lain, ketika beliau masih menjabat sebagai menteri, juga pernah mengatakan bahwa tidak mungkin untuk menurunkan ONH. Mereka yang mempunya logika yang normal mungkin akan ikut geleng-geleng kepala juga jika mendengar tentang hal ini. Logika berpikir macam apakah yang dimiliki oleh para birokrat yang mengurusi ibadah haji ini? Dan yang lebih parah lagi, hal semacam ini bisa berjalan dalam waktu puluhan tahun!

Dari hal seperti itulah makanya ia berani mengambil kesimpulan bahwa Indonesia masih memerlukan banyak ulama (orang yang berilmu). Menurutnya, kebanyakan mereka yang saat ini mengaku sebagai ulama atau yang didaulat oleh umat sebagai ulama ternyata hanyalah sekedar udin (orang yang sekedar lebih mengutamakan ritual agama). Jika mereka memang benar-benar ulama, pastilah tidak punya logika berpikir yang amburadul seperti itu. Yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa sebenarnya mereka telah berbuat sesuatu yang salah. Yang tidak tahu dan tidak sadar bahwa mereka telah memakan yang bukan haknya. Mereka mungkin pemeluk agama yang baik, tetapi kurang bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam berbisnis, berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara.

Mungkin kita semua perlu mengoreksi diri, sejauh manakah kita telah memandang agama? Apakah kita hanya memandangnya sebagai ritual rutin belaka ataukah kita menganggapnya sebagai pedoman hidup dalam segala bidang kehidupan yang harus kita pelajari, pahami dan amalkan?

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares