« Home | negara anggota OPEC koq ngantri BBM » | tentang sektor kelautan » | beberapa keajaiban air » | sejarah terbentuknya laut » | model numerik utk oseanografi » | matlab untuk oseanografer » | negara kaya yg terbengkalai » 

Tuesday, July 05, 2005 

WWF dan seafood

Hari Jumat, 24 Juni 2005 koran Kompas memuat berita dengan judul "Hati-hati Memilih Seafood". Hal ini dikaitkan dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh WWF yang berhubungan dengan masalah lingkungan hidup.

Beberapa jenis seafood yang disukai manusia (seperti lobster dan sirip ikan hiu) diambil langsung dari alam, dimana waktu untuk kedua binatang laut itu tumbuh menjadi dewasa relatif lama. Selain itu, dalam mendapatkan lobster, biasanya nelayan menggunakan racun yang bersifat merusak terhadap terumbu karang yang merupakan habitat untuk tempat bertumbuhkembangnya ikan (coba lihat di film "Finding Nemo" deh). Demikian juga untuk jenis ikan kerapu, dimana kebanyakan nelayan di Indonesia mendapatkannya dengan cara menggunakan racun (jenis sianida) yang sangat merusak terumbu karang. Bayangkan apa yang terjadi jika terumbu karang yang ada menjadi rusak?

Makanya tidak usah heran juga kalau kita sering membaca di surat kabar tentang nelayan Indonesia yang banyak tertangkap di Australia. Bukan apa-apa, karena terumbu karang di Indonesia sudah banyak yang rusak, maka jumlah ikan yang dapat mereka tangkap juga mengalami penurunan, jadi salah satu cara untuk tetap mendapatkan ikan adalah dengan mencari di tempat lain yang habitat terumbu karangnya masih bagus.

Demikian juga dengan budidaya udang, tahukah anda bahwa telah begitu banyaknya hutan bakau yang dibabat dan dikonversi menjadi tambak udang di Indonesia? Menurut Menteri Kehutanan M. Prakosa di Asia Pulse (Antara, 15 Mei 2003), dari 8,6 juta hektar hutan bakau yang ada (terluas di dunia lho katanya!), sekitar 5,8 juta hektar (68%) telah mengalami kerusakan yang serius, dimana salah satu penyebab utamanya adalah akibat ekstensifikasi tambak udang. Hal ini dilakukan karena kenaikan permintaan udang dari negara2 di Eropa, Amerika dan Asia.

Jadi, karena permintaan yang terus meningkat, kelestarian lingkungan hidup pun diabaikan dan dikorbankan. Serakah dan lupa anak cucu. Padahal kalau sudah membicarakan masalah "sustainable development" di seminar-seminar dan rapat-rapat, sudah yang paling jago saja layaknya orang2 yang suka pada pakai safari dan jas keren itu. Eh giliran melihat uang setumpuk, 'ngiler' juga. Lupa pula sama apa yang telah diomongkan berbusa-busa dalam seminar(amit-amit deh, mudah-mudahan aja gw kagak kayak gitu!).

Namun yang menjadi pertanyaan berikutnya adalah: "apakah ampuh program yang sedang diusung oleh WWF ini?". Tapi saya sih setuju saja dan mendukung penuh program ini, apalagi kondisi terumbu karang dan hutan bakau di negeri kita saat ini sudah semakin rawan tingkat kerusakannya. Mungkin program WWF ini harus mendapatkan dukungan yang luas dari segala pihak di Indonesia. Dan yang lebih penting lagi, jangan hanya jadi program "hangat-hangat tahi ayam" saja, tapi harus konsisten dan berkelanjutan. Punya tujuan jangka pendek, menengah dan panjang yang baik.

Masa sih, orang-orang yang hidup di negeri kepulauan dengan garis pantai yang katanya terpanjang di dunia dan yang katanya nenek moyangnya dulu itu pelaut, eh masa ngurusin pantai dan segala yang terkandung di dalamnya aja nggak becus? Kalau perlu masukin dong dalam kurikulum pendidikan kita, jangan cuman ngejar unggul di pelajaran eksakta aja dong, pelajaran lingkungan hidup juga penting! Ayo pada bangun...

Hari gini masih ngerusak terumbu karang dan hutan bakau! Berabe Lu! Gimana mau maju Indonesia!

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares