Wednesday, August 31, 2005 

Putri Cina


Coba tebak.... siapa gerangan putri Cina di atas?

Tuesday, August 30, 2005 

Semoga Sukses PIN Polio 2005


Jadwal PIN Polio 2005 : 30 Agustus dan 27 September 2005
yang punya Balita, ayo ikut... ikut... ikut...
(sumber gambar: Epochtimes)


Jakarta (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari optimistis imunisasi polio yang akan dilakukan pada pekan imunisasi nasional (PIN) polio pada 30 Agustus dan 27 September 2005 akan sukses dan dapat menjangkau 24,5 juta anak usia lima tahun ke bawah (balita) di Tanah Air.

"Tentu saya harus optimis. Lagi pula kali ini kita jauh lebih agresif dibandingkan imunisasi polio sebelumnya. WHO dan UNICEF juga lebih agresif," kata Menkes di Jakarta, Jumat.

sumber: Antara News

Monday, August 29, 2005 

PraJab CPNS

Inget OSPeK jadi inget PraJab CPNS (Pra Jabatan Calon Pegawai Negeri Sipil). Dua event yang secara umum (menurut saya dan di jaman saya) hampir sama aja.

Sebelum jadi PNS, CPNS harus menjalani apa yang disebut sebagai prajab. Jaman dulu, prajab katanya biasa2 aja, seperti acara kursus intensif. Di jaman militer berkuasa di segala bidang, prajab berubah menjadi "sangar". Kegiatan prajab dilakukan di kamp tentara dengan gaya tentara dan menunya pun menu tentara. Saya kurang tahu di jaman semi sipil seperti sekarang ini, prajab ala tentara masih diterapkan atau sudah diganti dengan gaya baru. Mudah-mudahan aja sudah diganti, dengan bentuk yang lebih pas dan cocok.

Di jaman saya prajab, kegiatan dipusatkan di Rindam Jaya (Resimen Induk Kodam Jaya). Para peserta adalah semua CPNS dari lembaga pemerintah di Jakarta. Seminggu sebelum prajab dimulai, semua peserta dibagikan perlengkapan prajab: sepatu tentara dan pakaian hijau tentara (seragam harian dan pakaian olahraga). Kegiatan prajab dilakukan menjadi beberapa gelombang karena banyaknya peserta dan terbatasnya asrama yang bisa ditempati. Pada hari H, peserta prajab laki-laki sudah harus punya potongan rambut ala tentara alias botak. Banyak yang coba-coba menghindari cukur botak, alias hanya dipotong cepak saja, namun ternyata usaha itu sia-sia belaka, karena sebelum masuk kamp ada penyortiran ulang oleh bapak tentara yang bertampang sangar dan bikin ciut nyali. Yang nggak lulus sortir harus pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari lokasi sortir dimana di sana sudah menunggu beberapa "tukang jagal" yang siap membabat habis rambut di kepala. Satu menit beres, kepala langsung botak.

Menu setiap hari prajab cukup bikin capek, bangun jam 4 pagi harus sudah siap pakai pakaian olah raga dan pergi ke tanah lapang untuk berolahraga selama 1 jam. Mulai dari peregangan sekitar 15 menit, diteruskan dengan lari pagi keliling kompleks sekian putaran selama 30 menit, dan diakhiri dengan pelemasan kembali 15 menit. Istirahat shalat subuh (buat yang shalat) dan cebar-cebur mandi pagi masal di sebuah kamar mandi yang besar (tentunya dipisah laki2 dan perempuan, kalau nggak bisa gawat!). Pokoknya harus bisa cuek mandi barengan saling mempertontonkan "pedang". Buat yang biasa setor pagi, harus rela antri sambil pegang perut karena jumlah WC terbatas. Juga harus siap setor gerak cepat karena jumlah pelanggan cukup banyak dan siap menggedor pintu kalau pelanggan yang sedang asyik di dalam melewati batas waktu rata-rata setor.

Selesai mandi masih harus rapi-rapi barak. Tempat tidur, lemari, rak sepatu, dll. semuanya harus rapi. Ketahuan ada salah satu yang nggak rapi, semua penghuni harus siap menerima hadiah push up. Push up hukuman beda sama push up olahraga. Ketika posisi badan sedang di bawah, harus siap nahan selama beberapa hitungan. Kalau ada satu orang yang nggak kuat nahan dan badannya jatuh menyentuh tanah, hukuman pun diulang. "Nikmat tenan!" kata Pak Sersan.

Acara berikutnya, makan pagi. Sebelum makan harus baris dulu buat apel pagi. Kami selalu berdoa, semoga apel pagi bisa berjalan lancar supaya bisa segera sarapan pagi. Menunya jangan ditanya. Pokoknya sedap, apalagi kalau habis capek olahraga. sepiring nasi, sayur yang cukup banyak, dan sedikit ikan (biasanya pindang atau teri) atau daging yang seringkali cukup alot dan sebuah pisang ambon agak kecil. Makan harus bersama dan selesai pun harus bersama. Semua harus habis. Buat mbak2 atau mas2 yang makannya sedikit, harus bisa nyari temen yang gembul yang siap berbagi. Si mbak/mas happy, si gembul happy, yang lain pun happy karena tidak harus kembali dapet hadiah push up yang nikmat tenan.

Habis makan pagi , boleh istirahat sebentar. Yang suka merokok boleh merokok dulu, yang mau setor silahkan, yang masih mau makan lagi di warung belakang barak juga silahkan. Selesai istirahat 15 menitan, mulai masuk fasa membosankan, masuk ke ruang kelas dan siap mendengarkan ocehan bapak/ibu pengajar sipil dengan materi Pancasila, UUD '45, GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) dan kawan-kawannya. Lha gimana nggak bosen, dari mulai sekolah di SD sampai jadi PNS selalu aja dikasih materi yang itu-itu lagi. Waktu di ruang kelas sebenarnya adalah waktu ideal untuk tidur, sayangnya pak tentara sudah tahu kebiasaan buruk CPNS, jadi selalu saja ada patroli keliling. Yang ketangkep basah diajak keluar kelas, dikasih sedikit olahraga supaya matanya nggak ngantuk lagi.

Materi di kelas berlangsung dari pagi hingga sore hari, dipotong istirahat olahraga dan makan siang. Semakin tinggi matahari, semakin panas ruangan, semakin berat pula mata menanggung beban kantuk. Boro-boro ada materi dari pengajar yang masuk ke otak, malah sebaliknya materi lama yang ada di otak bisa menguap. Nasib CPNS!

Olah raga siang, minta ampun! Panas-panas harus lari keliling komplek dilanjut dengan push up di aspal panas. Lari sambil bernyanyi, bikin kerongkongan semakin kering. Selesai olahraga siang kembali harus masuk ruang makan. Beri hormat sebelum makan dan mulai makan siang dengan badan penuh keringat sehabis olahraga. Makan bercampur bau keringat, pokoknya "sedap nian!". Banyak mbak2 dan mas2 yang nggak tahan dan hilang nafsu makan, namun apa daya makanan harus tetap dimakan. Inilah yang disebut makan siang perjuangan!

Selesai materi di ruang, sore hari adalah materi outdoor bersama pak sersan. Semuanya harus serba gerak badan. Baris-berbaris, lari sore, senam, guling-guling di lapangan. Pokoknya nikmat tenan! Terus begitu sampai tiba waktu istirahat sore yang cukup lama. Waktu istirahat sore adalah waktu bertransaksi dengan ibu-ibu tukang cuci pakaian. Ibu-ibu rumah tangga yang rumahnya berada di sekitar kompleks Rindam Jaya panen order cucian kalau sedang ada prajab seperti ini. Pakaian seragam yang jumlahnya cuman 2 setel harus bergiliran dicuci supaya tetap punya baju yang bersih. Juga pakaian lainnya termasuk daleman. Buat yang suka minum jamu, mbok jamu yang cantik selalu menjadi pengunjung setia di sore hari dengan gendongan jamu di punggungya. Ada jamu kuat push up, tolak angin, dan lain-lain.

Setelah cebar-cebur mandi sore, acara selanjutnya makan malam dan ditutup dengan apel malam. Kalau lagi sial banyak dapat hukuman, ya ditambah dengan menu hukuman malam. Romantis deh, malem-malem masih suruh push up di aspal!

Akhir pekan, hari yang ditunggu-tunggu. CPNS boleh pulang ke rumah atau kos2an masing2. Yang males pulang, boleh juga tetap tinggal di barak. Yang pulang ke rumah atau kos2an harus lapor ke kantor polisi/tentara/RT/RW setempat dan minta cap di surat jalan. Yang nggak melengkapi aturan, siap2 dapat hukuman di hari Senin!

Begitulah sekelumit acara Prajab CPNS yang kalau saya nggak salah inget berlangsung selama 3 mingguan. Sebenarnya saya nggak sreg dengan prajab seperti ini, tapi mau gimana lagi. Kata orang bijak, semua pilihan ada konsekuensinya. Jadi PNS, konsekuensinya ya ikutan prajab. Ya dinikmati aja lah, hitung-hitung jadi nambah pengalaman dan jadi punya kenalan pak sersan dan pak letnan.

Friday, August 26, 2005 

Lagi-lagi OSPEK

Heran, itu kesan pertama di setiap tahun ajaran baru di Indonesia. Apa yang bikin heran? Apalagi kalau bukan OSPeK (Orientasi Studi Pengenalan Kampus, selanjutnya disingkat OS aja ya supaya nggak terlalu panjang). Selalu aja ada berita tentang mahasiswa korban kerasnya OS (batu kali, keras). Yang tambah bikin heran lagi, kalau nggak salah di SMP dan SMA juga sekarang ada kegiatan semacam OS. Mudah-mudahan anak-anak TK dan SD nggak ikutan niru juga ya, bisa gawat!

Saya dulu juga ikut OS (baik yang barengan sekampus maupun yang himpunan), dan saya juga pernah ikut nge-OS (hanya yang himpunan). Memang kadang-kadang ada juga senior yang suka kebangetan. Baik itu kebangetan usilnya, maupun kebangetan nyiksanya. Saya juga nggak tahu, kenapa ya dulu saya mau ikutan OS? Pingin nyobain rasanya kayaknya deh.

OS itu, kalau menurut saya, rasanya nggak enak, tapi bisa bikin ngakak kalau diceritain lagi. Kadangkala, tak cukup waktu semalam untuk bernostalgila tentang OS. Mungkin itu yang bikin para senior ketagihan dan nggak mau menghapuskan OS begitu saja. Sama kasusnya seperti korupsi di negeri kita, mana mau para koruptor menghapuskan korupsi, lha wong enak je. Jadi sebenernya, manusia itu kalau dipikir-pikir ya sama aja sifat dan kelakuannya ya? (nggak semua sih, tapi rata-rata). Jadi kalau sesuatu yang enak-enak (menurut mereka) mau dihapusin, pasti aja selalu susah dan ada aja alesannya. Selalu maunya dipertahankan. Sudah tradisi, begitu katanya (kaya iklan biskuit aja ya?).

Kalau buat saya, yang alhamdulillah berbadan sehat, OS seberat apapun (asal nggak bikin celaka badan) nggak jadi masalah. Paling-paling lemes dan pegel-pegel dikit, ditambah sedikit luka-luka kecil di sekujur badan akibat disuruh push-up mengepal di jalan beraspal atau berkerikil tajam, atau berguling-guling di tanah lapang gundul yang keras di musim kemarau dan becek di musim hujan, atau kaki yang lecet karena harus pakai sepatu lapangannya para tentara yang berat dan keras, atau kulit yang terbakar disengat matahari tropis yang panas. Kalau omelan para senior (dulu di jaman saya OS disebut Jendral dan Jendril) ya tinggal dimasukkin telinga kiri dan keluarin telinga kanan ajalah, karena banyak yang isinya nggak jelas dan nggak perlu dimasukkin ke otak atau ke hati. Hampir semua kegiatan OS, menurut apa yang saya rasakan sebagai peserta dan panitia, latar belakangnya hanyalah usil dan ngerjain. Ada memang materi seriusnya, tapi porsinya ya sedikit banget lah. Lagian kalau udah masuk materi serius, paling enak ya tidur. Jadi kalau ada yang bilang OS itu bermanfaat, gini, gitu, dst...dst.. itu biasa, hanya alasan yang banyak dipaksakan supaya OS nggak dihapusin.

"Jadi, perlu nggak OS dihapusin?"

Ya tergantung. Kalau masih kepingin punya hiburan lain daripada yang lain di tahun ajaran baru dan pingin punya nostalgia yang kalau diceritain dan dikenang ulang bisa bikin senyum dan bahkan ngakak, ya jangan dihapusin. Tinggal tahu diri aja buat mereka yang memang berbadan kurang sehat dan punya penyakit serius (seksi mampus dulu istilahnya dalam OS yang pernah saya alami). Tahu diri di sini maksudnya ya ngomong jujur sama panitia kalau punya penyakit gawat, kalau perlu yang nggak usah ikutan OS, toh OS juga nggak masuk dalam daftar kuliah pilihan atau wajib. Istilahnya harus punya prinsip gitu lho! Harus bisa memilih: "Ikut OS dan mampus!" atau "Nggak usah ikut OS dan ngapain dipikirin!"

Tapi kalau udah nggak perlu hiburan-hiburan macam gitu lagi, ya hapusin aja. Cuman ya siap-siap aja, para senior pasti nggak rela deh OS dihapusin begitu aja. Pokoknya nggak rela aja! Ya tinggal gimana caranya para mahasiswa bisa bersatu, menuntut supaya OS dibubarin! Sekali-kali perlu kan mahasiswa demo buat membela kepentingan mahasiswa sendiri (meskipun yang didemo juga mahasiswa, yaitu para seniornya). Jangan bisanya hanya demo buat kepentingan rakyat aja. :)

 

Komputer Amphibix

Banyak komputer yang dipasangi 2 sistem operasi oleh pemiliknya, linux dan windows. Saya menyebutnya sebagai komputer amphibix, dari kata amphibi ditambah huruf x supaya ada kesan teknologi informasi, yaitu komputer yang hidup di dua sistem operasi.

Kenapa harus 2 sistem operasi? saya kurang tahu. Tapi komputer saya dahulu di Bandung juga punya 2 sistem operasi, karena saya ingin tahu seperti apa sebenarnya linux. Sayangnya, saya lebih banyak berkegiatan di windows daripada di linux, dan malas untuk reeboot kalau mau mencoba-coba linux.

Di Jerman ini, saya kembali harus hidup di 2 sistem operasi, windows dan linux. Windows untuk komputer di rumah dan linux untuk komputer di tempat kerja di universitas. Sebenarnya tidak masalah, saya sudah terbiasa dengan 2 sistem operasi ini sejak dulu. Kalau mau kerja remote ke komputer di universitas, sebatas tidak pakai x-window, ya tinggal pakai putty. Kalau terpaksa harus menjalankan aplikasi dengan x-window, supaya display bisa muncul di layar komputer di rumah ya tinggal pakai x-windownya cygwin. Jadi sebagai pengguna setia windows di rumah, saya tidak perlu merubah komputer yang ada menjadi komputer amphibix. Alasannya sederhana saja, saya bukan tukang oprek komputer. Selain itu, saya lebih banyak berkecimpung dengan perangkat lunak yang berbasis windows kalau pakai komputer di rumah.

Kalau di universitas pakai linux, itu juga tidak masalah, karena peran saya hanyalah sebagai pengguna biasa. Perintah-perintah yang harus saya kuasai pun tidak terlalu kompleks. Kebanyakan hanyalah perintah-perintah dasar yang sederhana, mudah diingat dan mudah pula dipelajari. Urusan-urusan yang rumit sudah diatur oleh para administrator yang handal dan profesional.

Kalau masalah keamanan komputer, sejauh ini saya tidak punya masalah baik di windows maupun di linux. Menurut saya, apapun sistem operasinya, semuanya punya kekurangan disamping kelebihannya. Tinggal bagaimana kitanya saja untuk selalu berhati-hati. Kalau di rumah, komputer saya lengkapi dengan antivirus yang akan selalu terupdate, firewall pun tak lupa dipasang. Juga perangkat lunak keamanan lainnya. Akses-akses yang tak perlu pun selalu dihindari. Kalau di universitas, tenang saja, semua sudah diurus sama om admin. kita tinggal jadi user yang baik saja.

 

Kalau

Kalau aku tak berilmu,
tentu aku akan berusaha mencari ilmu,
agar aku bisa menjadi orang yang berilmu

Kalau aku sudah berilmu,
tentu aku akan menyebarkan ilmuku itu,
agar orang lain yang tak berilmu menjadi berilmu seperti aku

Kalau orang lain yang tak berilmu,
mau menerima dan mempelajari ilmuku,
tentu aku akan bahagia,
karena ilmuku menjadi berguna bagi sesama

Kalau semua orang sudah berilmu,
dunia akan dipenuhi oleh orang berilmu,
tentu seharusnya dunia akan menjadi lebih baik,
tetapi ternyata tidak selalu!

Kadangkala ada saja manusia berilmu,
yang terlalu bangga pada keilmuannya,
menganggap dirinya paling berilmu,
tak mau dengar pendapat orang lain,
karena dianggap tak cukup ilmu

Kadangkala ada saja manusia yang baru punya sedikit ilmu,
namun sudah begitu sombong dan berlagu,
nyeruduk sana-sini dengan ilmu pas-pasannya

Kadangkala ada saja orang yang berilmu palsu,
ilmu yang dimilikinya bukan dihasilkan dari belajar atau ngelmu,
tapi dibeli dari pengedar sekolah dan ijasah palsu,
akibatnya ia suka menjual ilmu agar modalnya bisa kembali,
berikut dengan labanya

Ngelmu bukanlah dengan membeli ijasah palsu,
atau sekolah di sekolah palsu,
karena itu menipu diri sendiri

Orang berilmu tak harus memasang gelar di belakang atau di depan nama,
kalau memang harus dipasang karena alasan administrasi, pasanglah seperlunya saja,
kalau memang tak punya gelar yang bisa dipasang, ya tak perlu membeli
juga tak perlu pasang gelar 'Haji' yang disingkat menjadi H,
kenapa tidak sekalian pasang gelar ibadah yang lain,
ada 'Syahadat', 'Sholat', 'Puasa', dan 'Zakat', disingkat menjadi SSPZ,
kalau digabung dengan nama menjadi: H. Agusset, SSPZ

Thursday, August 25, 2005 

Seandainya...

Seandainya saja para pemimpin suka naik angkutan umum untuk pergi/pulang ke/dari tempat kerja, maka para orang kaya kolega sang pemimpin beserta kroninya akan meniru untuk naik angkutan umum ke/dari tempat kerja mereka. Akibatnya angkutan umum akan dibuat senyaman dan sebaik mungkin agar mereka bisa nyaman menggunakannya. Akibat lebih lanjut, masyarakat pengguna angkutan umum yang sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki angkutan umum yang nyaman dan baik.

Seandainya para pemimpin suka berjalan kaki menggunakan trotoar, para orang kaya kolega sang pemimpin beserta kroninya pun akan menirunya untuk suka berjalan kaki di trotoar. Akibatnya trotoar akan dibuat senyaman dan sebaik mungkin agar mereka bisa nyaman menggunakannya. Akibat lebih lanjut, masyarakat pemakai trotoar sesungguhnya pun menjadi senang karena memiliki trotoar yang nyaman dan baik.

Seandainya para pemimpin suka berbelanja di pasar tradisional dan kedai kaki lima, para orang kaya kolega sang pemimpin beserta kroninya pun akan menirunya untuk berbelanja di pasar tradisional dan kedai kaki lima. Akibatnya pasar tradisional dan kedai kaki lima akan dibuat senyaman dan sebaik mungkin agar para pemimpin dan koleganya bisa nyaman berbelanja. Akibat lebih lanjut, masyarakat pelanggan pasar tradisional dan kedai kaki lima sesungguhnya pun menjadi senang karena bisa berbelanja di tempat terjangkau yang nyaman dan baik.

Sayangnya, para pemimpin kita tidak suka melakukannya, karena kebanyakan mereka menganggap hal itu bisa menurunkan prestise dan martabat mereka yang terhormat dan mulia. Jangankan melakukannya, memikirkannya pun jarang...

Seandainya para pemimpin memiliki gaji yang sama kecilnya dengan gaji orang kebanyakan dan tidak mendapatkan fasilitas negara dan segala kemudahannya yang berlebihan, mungkin mereka akan dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang kebanyakan. Akibatnya mereka akan lebih memperhatikan nasib orang kebanyakan itu, karena mereka merupakan bagian darinya. Akibat lebih lanjut, orang kebanyakan akan merasa bahagia dan terharu karena nasib mereka dipikirkan dan diperhatikan oleh pemimpin mereka.

Sayangnya, gaji para pemimpin dan segala fasilitas yang mereka terima terlalu berlebihan sehingga mereka sangat sulit untuk bisa membayangkan apalagi merasakan apa yang dirasakan oleh orang kebanyakan...

Seandainya untuk menjadi pemimpin tidak didasarkan semata hanya kepada ketersediaan dana untuk kampanye dan membeli suara, dan seandainya semua suara pemilih tidak bisa dibeli oleh para calon pemimpin yang mengandalkan dana semata, mungkin akan muncul banyak pemimpin yang benar-benar berkualitas dan mengerti bagaimana menjadi pemimpin.

Sayangnya, untuk bisa menjadi pemimpin memang harus punya dana yang lebih dari cukup karena banyak suara pemilih yang bisa dibeli...

Seandainya para pemimpin kita sadar dan tahu bahwa kepemimpinan mereka kelak akan diminta pertanggungjawabannya di hari pembalasan, mungkin mereka akan berusaha untuk selalu menjadi pemimpin yang baik...

Sayangnya, para pemimpin kita banyak yang lupa dan tidak mau tahu tentang hal itu...

Seandainya para pemimpin membaca postingan di blog saya ini, mungkin mereka akan menghubungi saya untuk mengucapkan terimakasih karena sudah diingatkan...

Sayangnya mereka tidak pernah membaca blog saya ini... :)

Wednesday, August 24, 2005 

Mari Berbagi Kemerdekaan

Tulisan dalam rangka lomba entry 17-an BlogFam.

Tahun ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari ulang tahun kemerdekaannya. Tak terasa, sudah 60 tahun bangsa ini terlepas dari cengkeraman ganas penjajahan Belanda yang berlangsung hingga 350 tahun dan saudara tua Jepang selama 3,5 tahun. Menurut catatan sejarah, kemerdekaan yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus ini bukan merupakan hadiah cuma-cuma sang penjajah yang ganas dan bengis itu, melainkan harus direbut dengan mengorbankan jutaan nyawa anak bangsa.

Sejarah menunjukkan bahwa selama 60 tahun usia kemerdekaannya, rakyat Indonesia terus mengalami berbagai macam dinamika dalam berbangsa dan bernegara. Ada dinamika yang positif dan membanggakan, namun sayangnya lebih banyak yang negatif dan membuat negara ini menjadi semakin bangkrut dan terpuruk.

Banyak elit dan politikus selalu mendengungkan idiom keramat negara kesatuan, yang menurut mereka berada di atas segala-galanya dan harus dibela mati-matian, ketika menghadapi sebuah pergolakan, perasaan tak puas atau gerakan separatis di sebuah daerah. Mereka selalu mengatakan bahwa bentuk negara kesatuan adalah sebuah keputusan yang final dan merupakan amanah dari the founding fathers Republik Indonesia dan seolah-olah merupakan pilihan dan alternatif yang paling baik dan sempurna di muka bumi Indonesia sehingga menutup kemungkinan membicarakannya bahkan telah dikategorikan sebagai salah satu alergen (pencetus alergi) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akibatnya, banyak di antara para pemimpin dan politikus di negara bernama Republik Indonesia yang menderita ketakutan berlebihan (paranoid). Ketika ada sekelompok masyarakat di suatu daerah menggeliat karena merasakan ketidakadilan atau ketakpuasan yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh pemerintah pusat -dimana hasil kekayaan alam mereka disedot habis-habisan, sementara kesejahteraan diabaikan- mereka dianggap sebagai musuh yang harus diberantas habis. Pemerintah pusat pun dengan sigapnya menurunkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk mengadakan sebuah operasi teritorial demi meredam sesuatu yang menurut pendapat saya adalah suatu reaksi wajar dari masyarakat yang terabaikan dan terpinggirkan, dimana sebenarnya kesalahan terbesar adalah milik pemerintah pusat itu sendiri. Apa salahnya kalau kita menggugat sebuah ketidakadilan? Apakah kita harus berpegang pada prinsip: "pejah gesang nderek sampeyan, suarga nunut neraka katut"?

Rakyat yang vokal dan suka bertanya bukanlah musuh yang harus dimusnahkan dan dibasmi. Rakyat yang pasrah dan nrimo bukanlah kaum yang harus dihisap darahnya dan ditakut-takuti hidupnya. Mereka semua adalah bagian dari sebuah bangsa merdeka bernama Indonesia. Mereka punya rasa patriotis dan nasionalis yang tidak kalah jika dibandingkan dengan para tentara. Bukan hanya tentara yang cinta pada bangsa ini, bukan hanya tentara yang bisa dan bersedia bela negara, bukan! Juga bukan hanya para elit dan politikus saja. Kita semua yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, asli atau keturunan, asal bukan penjilat, pencuri harta negara, dan koruptor laknat, punya rasa patriotis dan nasionalis yang sama.

Kasus gerakan separatis di Aceh, Riau, Papua dan beberapa daerah lainnya, menurut pendapat saya, benih awalnya tidak terlepas dari kesalahan dan ketidakadilan pemerintah pusat yang mereka rasakan. Ambil kasus Aceh, sudah berapa banyak kekayaan alam mereka yang disedot pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Setahu saya, rakyat Aceh termasuk yang getol dalam membela kemerdekaan RI. Bahkan di jaman Soekarno, pada tahun 1948, mereka rela menyumbangkan pesawat RI-001 Seulawah yang dibeli dari hasil pengumpulan hasil bumi rakyat Aceh yang setara dengan 20kg emas. Demikian juga dengan kasus Papua, berapa banyak bijih logam yang sudah dikeruk pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Kalau mau adil, seharusnya rakyat Aceh, Papua atau daerah kaya lainnya lah yang lebih banyak menikmati kekayaan alam yang mereka miliki tersebut. Atau jika memang kekayaan alam yang ada di suatu daerah akan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia sesuai dengan amanah UUD'45 -yang begitu kita sakralkan pasal-pasalnya tetapi selalu kita abaikan dalam implementasinya- kita harus sadar bahwa rakyat Indonesia itu bukan hanya ada di Jakarta atau Pulau Jawa saja.

Sekarang, mari kita coba untuk membandingkan pembangunan yang ada di Pulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini secara jujur. Adakah anda melihat ke-jomplang-an di situ? Kalau kita jujur, pasti akan menjawab "ya!" Ketidakmerataan dan ketidakadilan terlihat secara tegas, jelas, dan bisa dilihat dengan mata telanjang. Seharusnya pemerintah pusat sadar dan para elitnya bisa belajar dari pengalaman nenek moyangnya yang terjajah selama 350 tahun oleh Belanda -atau mungkin nenek moyang para elit tersebut bukan termasuk orang yang terjajah karena bersedia bekerjasama dengan para kumpeni?- bahwa jika seseorang merasakan ketidakadilan secara terus menerus dan diabaikan hak-haknya, maka ia pasti akan mencoba untuk melawan ketidakadilan tersebut. Semut pun akan menggigit ketika ia terinjak.

Baru saja kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-60. Usia 60 saya kira bukanlah usia yang terlalu muda untuk sebuah negara merdeka. Seharusnya kita sudah cukup kenyang merasakan asam dan garam dinamika kemerdekaan. Dan seharusnya kita juga sudah cukup banyak belajar selama 60 tahun mengarungi kemerdekaan ini, sama seperti halnya dahulu kita pernah banyak belajar selama 350 tahun menjadi bangsa yang terjajah. Kita dapat merasakan, sampai ke tulang sumsum kita, betapa tidak enaknya menjadi bangsa yang terjajah. Dan kita pun pernah sama-sama bersatu untuk mengusir para penjajah di masa silam. Maka dari itu, di jaman kemerdekaan seperti sekarang ini, janganlah kita secara tidak sadar menjadi penjajah bagi anggota keluarga Negara Republik Indonesia yang lain. Jangan sampai orang-orang di Aceh atau Papua merasa bahwa mereka masih dijajah oleh bangsa Jawa, karena semua kekayaan alam yang mereka miliki disedot dan dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di Jawa, sementara mereka hanya diberi bualan-bualan kosong dan ditindas ketika mempertanyakan hak mereka.

Untuk apa pusat mempertahankan idiom negara kesatuan kalau yang dirasakan oleh daerah adalah sebuah penjajahan. Marilah kita nikmati kemerdekaan ini secara bersama-bersama. Jangan serakah untuk menikmatinya sendirian saja, marilah kita berbagi! Jangan menunggu hingga semua propinsi yang tak puas dan merasa terjajah menuntut adanya referendum baru kita menyesali kebodohan yang telah kita perbuat.

Tuesday, August 16, 2005 

HUT RI dan loncatan kuantumku

Salah satu acara yang paling saya suka ketika memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah lomba baca puisi perjuangan. Seingat saya, sejak SD hingga SMA saya selalu menyempatkan diri untuk menjadi peserta lomba. Sayangnya, dari sekian kali menjadi peserta lomba baca puisi perjuangan, belum pernah sekalipun saya berhasil mendapatkan gelar juara. Paling banter hanya bisa masuk babak perempat final. Tapi itu tidak terlalu penting buat saya (ngeles deh!), yang lebih penting dari itu semua adalah saya menikmatinya.

Membaca puisi dan mendengarkan orang membaca puisi memiliki kenikmatan tersendiri. Kadang kala, jika benar-benar bisa menghayati isi puisi tersebut, kita bagaikan mengalami suatu loncatan kuantum masuk ke dalam suasana yang digambarkan dalam puisi tersebut. Itulah sebabnya, saya selalu menikmati lomba baca puisi perjuangan, karena sepertinya saya bisa ikut merasakan bagaimana sebuah perjuangan melawan penjajahan dan penindasan dikobarkan di bumi tercinta Indonesia.

Ketika saya membacakan atau mendengarkan sajak Diponegoro, seolah-olah saya kembali meloncat ke tahun 1800-an ketika Diponegoro dengan gagahnya memimpin perjuangan melawan kekejaman penjajah di tanah Jawa. Seolah saat itu saya berada di tengah-tengah pasukan Diponegoro, membawa sebilah keris yang siap menerjang menghempaskan kekuatan pasukan kompeni.
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
(potongan sajak Diponegoro, karya Chairil Anwar, Februari 1943)
Atau terbayang pula bagaimana saya termasuk ke dalam salah satu dari beribu tulang-belulang berliput debu yang terbaring di antara Krawang-Bekasi, gugur dalam berperang merebut hak kami yang terampas, ketika membaca atau mendengarkan sajak Krawang-Bekasi.
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
(potongan sajak Krawang-Bekasi, karya Chairil Anwar, 1948)
Loncatan kuantum seperti itu sungguh membuat semangat cinta tanah air menggelora dalam dada, mengalir membasahi seluruh relung jiwa...
Merah-Putih !
Kini, kulihat Kau terkibar di tengah bangsa
lambang kebangsaanku di Timur Raya,
Engkau panji perjuanganku
mengejar kemulian bagi bangsaku,

Dan demi Tuhan Pencipta bangsa,
Selama masih bersiut nafas di dada
berdenyut darahku penyiram medan
ta'kan kembali Kau masuk lipatan !
(potongan sajak Merah Putih, karya Usmar Ismail, 1944)
Sungguh suatu kenikmatan tak terperi ketika jiwa muda yang tak tahu dan tak mengalami beratnya mengangkat senjata ini, mampu untuk meloncat dan sedikit merasakan semangat perjuangan, semangat kebersamaan, semangat senasib sepenanggungan dari orang-orang yang tertindas dan terampas harga dirinya.
Impian akan harga kemerdekaan manusia
mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur
gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT
sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran
dalam pasukan
di pos terdepan ini
(potongan sajak Jawaban dari Pos Terdepan, karya Taufiq Ismail, 1965)
Dirgahayu Indonesiaku...
Kini saatnya giliran kami untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menciptakan kemakmuran dan keadilan bagi semua.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
(potongan sajak Orang-orang Miskin, karya W.S. Rendra, 1978)

Monday, August 15, 2005 

Negara kesatuan dan separatisme

Banyak para politikus selalu mendengungkan idiom negara kesatuan di atas segala-galanya ketika menghadapi sebuah pergolakan atau gerakan separatis di sebuah daerah. Seolah-olah, bentuk negara kesatuan adalah pilihan dan alternatif yang paling baik dan sempurna di muka bumi Indonesia. Mereka selalu mengatakan bahwa bentuk negara kesatuan adalah sebuah keputusan yang final dan merupakan amanah dari the founding fathers Republik Indonesia.

Akibatnya, banyak di antara para pemimpin dan politikus di negara bernama Republik Indonesia yang menderita paranoid. Ketika ada sekelompok masyarakat di suatu daerah menggeliat karena merasakan ketidakadilan yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh pemerintah pusat -dimana hasil kekayaan alam mereka disedot habis-habisan, sementara kesejahteraan diabaikan- mereka dianggap sebagai musuh yang harus diberantas habis. Untuk itu, kita tidak perlu merasa heran jika Angkatan Bersenjata Republik Indonesia membentuk komando teritorial di seluruh wilayah di Indonesia. Konsep ini, kalau menurut saya, sama saja dengan menganggap rakyat sebagai "musuh" yang harus diwaspadai dan diamati setiap saat.

Saya masih ingat, ketika jaman orde baru, betapa peran tentara begitu kuatnya di desa-desa dalam segala aspek kehidupan. Masyarakat yang sedikit nyeleneh akan langsung diamankan dengan cap PKI atau pemberontak, padahal apa sih salahnya kalau kita menggugat sebuah ketidakadilan? Apakah kita harus berpegang pada prinsip: "pejah gesang nderek sampeyan, suarga nunut neraka katut".

Mohon maaf, saya bukannya sedang mencoba menghasut dan atau menebar kebencian supaya orang benci pada tentara. Sebagai negara yang berdaulat dan mempunyai cakupan wilayah yang luas, kita perlu tentara sebagai basis pertahanan negara. Saya selalu mendambakan Republik Indonesia memiliki sebuah angkatan bersenjata yang kuat dan disegani, dan lebih dari itu cinta kepada rakyat. Rakyat yang vokal dan suka bertanya bukanlah musuh yang harus dimusnahkan dan dibasmi. Rakyat yang pasrah dan nrimo bukanlah kaum yang harus dihisap darahnya dan ditakut-takuti hidupnya. Mereka semua adalah bagian dari sebuah bangsa merdeka bernama Indonesia. Mereka punya rasa patriotis dan nasionalis yang tidak kalah jika dibandingkan dengan para tentara. Bukan hanya tentara yang cinta pada bangsa ini, bukan hanya tentara yang bisa dan bersedia bela negara, bukan! Juga bukan hanya para elit saja. Kita semua yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, asli atau keturunan, asal bukan penjilat dan koruptor laknat, punya rasa patriotis dan nasionalis yang sama.

Maka dari itu, saya ingin memberi 'nasehat' kepada para birokrat, politikus, jenderal dan anak buahnya, LSM dan kawan-kawannya, janganlah merasa anda yang paling patriotis dan nasionalis di muka bumi Indonesia ini! Apalagi kalau anda hanya bisa ngurusin urusan pribadi dan golongan saja, rebutan kekayaan dan kekuasaan, atas nama rakyat pula! Bikin malu! Untuk anda yang masih seperti itu, lebih baik anda istirahat saja, banyaklah bertobat mumpung masih diberi waktu, atau jika tetap ngotot ingin terus berkecimpung, ambilah beberapa SKS mata kuliah moral dan etika yang ada praktikumnya.

Kembali ke masalah semula, kasus separatis di Aceh, Papua dan beberapa daerah lainnya, saya pikir awalnya tidak terlepas dari ketidakadilan pemerintah pusat yang mereka rasakan. Ambil kasus Aceh, sudah berapa banyak kekayaan alam mereka yang disedot pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Setahu saya, rakyat Aceh termasuk yang getol dalam membela kemerdekaan RI. Bahkan di jaman Soekarno, mereka rela menyumbangkan pesawat RI-001 Seulawah.
Pada tanggal 16 Juni 1948, di Aceh Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Gasida (Gabungan Saudagar Daerah Aceh) yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh berupa hasil bumi setara dengan 20 kg emas. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti "Gunung Emas" sumbangan Aceh. Pesawat Douglas DC-3 ini diproduksi oleh Douglas Aircraft Company tahun 1935. DC-3 "Seulawah" yang memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 meter memang berperanan besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan dalam negeri khususnya Jawa-Sumatera, bahkan hingga ke luar negeri untuk melakukan layatan hubungan luar negeri yang bebas dan aktif.

sumber: Aceh Media Center
Demikian juga dengan kasus Papua, berapa banyak bijih logam yang sudah dikeruk pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Kalau mau adil seharusnya rakyat Aceh, Papua atau daerah kaya lainnya lah yang lebih banyak menikmati kekayaan alam yang mereka miliki tersebut. Atau jika memang kekayaan alam yang ada di suatu daerah akan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia, kita harus sadar bahwa rakyat Indonesia itu bukan hanya ada di Jakarta atau Pulau Jawa saja.

Sekarang, mari kita coba untuk membandingkan pembangunan yang ada di Pulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini secara jujur. Adakah anda melihat ke-jomplang-an di situ? Kalau kita jujur, pasti akan menjawab "ya!" Ketidakmerataan dan ketidakadilan terlihat secara tegas, jelas, dan bisa dilihat dengan mata telanjang. Dimana-mana, dan ini sesuai dengan kaidah hukum alam, kalau seseorang merasakan ketidakadilan secara terus menerus, maka ia akan mencoba untuk melawan ketidakadilan tersebut. Semut pun akan menggigit ketika ia terinjak.

Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-60. Usia 60 saya kira bukanlah usia yang terlalu muda untuk sebuah negara merdeka. Seharusnya kita sudah cukup kenyang merasakan asam dan garam dinamika kemerdekaan. Dan seharusnya kita juga sudah cukup banyak belajar selama 60 tahun mengarungi kemerdekaan ini, sama seperti halnya dahulu kita pernah banyak belajar selama 350 tahun menjadi bangsa yang terjajah. Kita dapat merasakan, sampai ke tulang sumsum kita, betapa tidak enaknya menjadi bangsa yang terjajah. Dan kita pun pernah sama-sama bersatu untuk mengusir para penjajah di masa silam. Maka dari itu, di jaman kemerdekaan seperti sekarang ini, janganlah kita secara tidak sadar menjadi penjajah bagi anggota keluarga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lain. Jangan sampai orang-orang di Aceh atau Papua merasa bahwa mereka masih dijajah oleh bangsa Jawa, karena semua kekayaan alam yang mereka miliki disedot dan dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di Jawa, sementara mereka hanya diberi bualan-bualan kosong dan ditindas ketika mempertanyakan hak mereka.

Untuk apa pusat mempertahankan idiom negara kesatuan kalau yang dirasakan oleh daerah adalah sebuah penjajahan. Marilah kita nikmati kemerdekaan ini secara bersama-bersama. Jangan serakah untuk menikmatinya sendirian saja, marilah kita berbagi!

Sunday, August 14, 2005 

Staf ahli, staf khusus dan PNS

Di setiap departemen teknis dan kementrian negara dalam struktur pemerintahan di Republik Indonesia ada sebuah jabatan non-struktural yang bersifat strategis yang biasa disebut sebagai Staf Ahli Menteri. Jabatan ini biasanya dipegang oleh para pakar atau praktisi yang biasanya adalah orang-orang yang cukup dikenal di masyarakat dan juga dikenal baik oleh sang menteri, dan tentunya orang yang mempunyai pemahaman yang sama (jadi apa dong nilai tambahnya kalau punya paham yang sama? pasti bakalan setuju-setuju saja kan meskipun mungkin kebijakan sang menteri jelek?).

Tujuan dari dibentuknya Staf Ahli Menteri ini biasanya adalah untuk memberikan masukkan bagi sang Menteri sebelum membuat atau melepaskan suatu kebijakan tertentu agar kebijakan yang dihasilkan bisa maksimal. Selain staf ahli, menteri sebenarnya sudah memiliki pembantu struktural yang biasa disebut sebagai Direktur Jenderal (Dirjen). Belakangan saya baca, pihak legislatif pun saat ini menuntut untuk bisa memiliki staf ahli agar bisa bekerja secara maksimal. Padahal kita semua tahu, meskipun departemen teknis dan kementrian negara sudah memiliki staf ahli, ternyata mereka belum bisa bekerja secara maksimal. Hanya jumlah total anggarannya saja mungkin yang maksimal ;)

Selain staf ahli, ternyata di Departemen atau lembaga-lembaga pemerintah ada juga jabatan lain yang biasa disebut sebagai staf khusus. Aturan tentang staf khusus ini tidak begitu jelas dan mungkin malah tidak ada dalam undang-undang atau peraturan pemerintah. Biasanya staf khusus ini adalah orang yang dikenal baik oleh sang pimpinan yang dahulunya -mungkin sebelum sang pimpinan menjadi pemimpin di sebuah departemen atau lembaga negara- adalah teman sejawat, bawahan, pegawai honorer, atau mungkin office boy-nya. Karena sifatnya yang khusus, biasanya bisikan dari staf khusus lebih didengar dan berpengaruh daripada pendapat staf ahli atau bahkan Dirjen.

Pengalaman saya bekerja di lembaga pemerintah selama 8 tahun menunjukkan bahwa lembaga pemerintah biasanya bersifat padat tenaga kerja tapi banyak yang jadi pengangguran. Artinya, jumlah yang tercatat sebagai pegawai adalah banyak tapi kebanyakan dari mereka tidak bekerja dengan baik dan benar, sehingga yang benar-benar bekerja dalam suatu kelompok bisa dihitung dengan jari. Mereka yang tidak mau bekerja dengan baik dan benar ini biasanya juga dilengkapi dan dianugerahi sifat bebal dan bermuka badak alias tidak punya malu. Jadi ya cuek aja meskipun tidak bekerja dan dirasani (dijadiin bahan gunjingan) sama temen-temen yang lain.

Apakah tidak ada sanksi untuk mereka? Menjadi PNS boleh dibilang jauh dari sanksi meskipun kita pemalas dan jarang masuk kerja, tentunya asalkan kita bukan pejabat struktural saja. Mereka yang malas akan tetap bisa naik pangkat secara otomatis setiap 4 tahun sekali dan gaji yang mereka terima pun akan sama banyaknya dengan gaji PNS yang rajin bekerja karena standar gaji yang digunakan menggunakan aturan yang sama yang biasa disebut sebagai Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil (PGPS) dan biasa diplesetkan oleh para PNS sebagai Pinter Goblok Penghasilan Sama.

Akibat banyaknya PNS yang malas dalam sebuah kelompok kerja (direktorat atau sub direktorat), maka untuk menutupi kekurangan jumlah yang mau bekerja para direktur atau kasubdit biasa mengangkat pegawai honorer untuk membantu meringankan pekerjaan mereka, dimana honor untuk mereka diambilkan dari dana taktis yang sumbernya kadang-kadang tidak jelas, mungkin dari rekanan atau dari manipulasi anggaran yang mereka kelola. Orang-orang honorer seperti inilah yang biasanya sering disebut sebagai staf khusus jika bekerja secara langsung kepada atasan. Peran serta kerja staf khusus ini kadang-kadang sama seperti pembantu di rumah yang kalau bisa dipercaya akan selalu menjadi andalan dan tangan kanan sang tuan. Dan jika sang tuan pindah ke tempat kerja yang baru, mereka biasanya akan ikut dibawa pindah.

Struktur tak jelas seperti itu terjadi hampir di semua lembaga pemerintah, maka dari itu Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara pernah menggelar pendataan ulang PNS pada tahun 2003 yang lalu untuk memperbaiki citra dan kinerja PNS. Hanya saja tidak jelas juga sejauh mana tindak lanjut dari kegiatan itu saat ini, karena kita memang seringkali berhangat-hangat tahi ayam dalam melaksanakan sebuah program kerja. Jadi bisa kebayang kan bagaimana ruwetnya manajemen SDM di sebuah kantor pemerintah, maka dari itu jangan terlalu berlebihan marah-marahnya jika anda pernah merasa dikecewakan oleh pelayanan yang diberikan, rugi sendiri! Mereka mah cuek ajah!

Friday, August 12, 2005 

Nasir dari Bone

Ini adalah cerita tentang seorang kawan yang tinggal di daerah Bone, Sulawesi Selatan. Kawan ini bernama Nasir. Pada suatu ketika ia diajak oleh kakaknya -yang sudah bekerja dan menetap lama di Jakarta- untuk mengisi masa liburan SMAnya dengan mengunjungi ibukota Indonesia ini. Alangkah senangnya Nasir mendapatkan tawaran itu. Dalam angannya, ia selalu bermimpi untuk bisa mengunjungi kota metropolitan tersebut.

Akhirnya, dengan menaiki kapal laut, pergilah Nasir ke Jakarta bersama kakaknya. Singkat cerita, sampailah Nasir di ibukota yang megah tersebut. Ia berdecak kagum melihat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, jalan yang bertingkat-tingkat, berbagai jenis mobil yang lalu-lalang tiada henti, orang-orang kota dengan gaya modernnya, patung-patung dan monumen megah peninggalan masa pemerintahan Bung Karno, dan lain-lain yang tidak bisa dijumpai di daerahnya.

Melihat adiknya yang begitu antusias dengan kemegahan Jakarta, sang kakak tentu merasa senang. Di sela-sela waktunya yang sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk mengajak adiknya berjalan-jalan. Suatu hari, Nasir diajak oleh kakaknya untuk berjalan-jalan di pusat pertokoan yang ramai dan banyak dijadikan tempat JJS (jalan-jalan sore) dan BLOK-M (bakal lokasi mejeng) ABG (anak baru gede).

Dengan sedikit meniru gaya anak Jakarta yang sering ia lihat dari acara sinetron di televisi, maka Nasir pun dengan penuh percaya diri dan happy berjalan-jalan di pusat pertokoan tersebut. Setelah lelah berjalan-jalan dan cuci mata, sang kakak pun mengajak Nasir untuk duduk istirahat sambil menikmati makanan cepat saji di sebuah rumah makan yang ramai dijadikan ajang nongkrong ABG. Mereka memilih tempat duduk yang kebetulan bersebelahan dengan beberapa cewek yang kalau dilihat dari gayanya adalah anak-anak SMA.

Sambil menikmati makanan yang telah dipesan, Nasir sesekali mencoba mencuri pandang untuk melihat cewek-cewek yang sedang asyik mengobrol tersebut. Kadang-kadang saking terpesonanya dengan gaya ABG metropolitan, Nasir suka lupa kalau dia sedang mencuri pandang. Akibat curi-curi pandang Nasir yang kebangetan tersebut, cewek-cewek yang diperhatikan oleh Nasir pun menjadi keki dan sedikit sebel. Tanpa ba-bi-bu, seorang cewek di antara mereka yang merasa risih dipandangi terus oleh Nasir seperti itu langsung saja berteriak kepada Nasir:

"Apa lu liat-liat! Naksir gua ya?"

Nasir sedikit tergagap mendengar teriakan cewek tersebut, tapi memang dasar cowok yang polos, dia pun menjawabnya dengan santai:

"Oh iya betul, nama saya Nasir. Tapi saya bukan dari Gowa! Saya Nasir dari Bone!"

Tak kepalang lagi, para cewek itu pun cekikikan mendengar jawaban Nasir yang polos tersebut, sedangkan Nasir hanya bisa bengong melihat reaksi mereka yang dirasa aneh olehnya.

Setelah seminggu tinggal di Jakarta, Nasir sudah mulai bisa berjalan-jalan sendiri tanpa harus ditemani oleh kakaknya. Kali ini ia ingin berjalan-jalan mencoba bus kota yang ada di Jakarta. Setiap naik bus kota, ia selalu heran:

"kenapa para abang sopir bus itu selalu berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna hijau dan tancap gas justru ketika lampu lalu lintas berwarna merah?" tanyanya dalam hati keheranan.

Suatu waktu, ia pun mendapatkan kesempatan duduk di kursi dekat sopir. Ketika bus sedang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna hijau, ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada si sopir:

"bang, kenapa sih abang berhenti justru waktu lampu lalu lintas berwarna hijau?" tanyanya penasaran.

Si abang sopir pun menjawab sekenanya (dengan logat Bataknya yang kental):

"soalnya abangku dari arah yang lampu lalu lintasnya berwarna merah sedang tancap gas bang, makanya aku berhenti waktu lampu lalu lintas di depanku berwarna hijau! tak enak lah, nanti kalau tabrakan aku pula yang kena marah!".

Nasir pun hanya bisa mengangguk tak mengerti.

(garing...!)

Thursday, August 11, 2005 

Ketika rumah bak penjara

jeruji besiMembaca berita tentang terbakarnya rumah Bapak Toni Widjaja beserta seluruh penghuninya sungguh mengenaskan. Dalam berita-berita yang ada digambarkan bagaimana rumah yang terbakar itu tertutup sangat rapat oleh teralis besi, sehingga pertolongan dari luar tak bisa dilakukan, sementara orang yang berada di dalam rumah pun tak bisa untuk keluar.

Membaca berita itu saya jadi teringat komentar mas Edvin yang mengatakan bahwa kebanyakan rumah di Jakarta memang dibuat tak ubahnya sebuah penjara. Pagar keliling dibuat setinggi dan sekokoh mungkin, yang katanya untuk alasan keamanan. Jendela-jendela pun diberi teralis besi yang sangat kokoh.

Saya juga jadi ingat postingannya mbak Rieke yang berjudul jendela, yang mengatakan:
So, I don't know what should I do if my windows were covered by trellis, in my opinion trellis could jeopardize our life, especially if we have to pass through the window in an emergency situation..
Apakah memang Jakarta terlalu rawan untuk rumah yang tidak berpagar tinggi dan berteralis kokoh atau mungkin banyak penduduk Jakarta (terutama yang kaya raya) yang sudah menderita paranoid? Saya nggak begitu tahu, karena saya tidak punya rumah di Jakarta dan saya bukan orang kaya raya. Tapi kalau saya amati, bukan hanya rumah mereka yang di Jakarta saja yang diberi pagar tinggi, yang banyak bertebaran di Bandung pun (untuk berakhir pekan) semuanya serba berpagar tinggi seperti penjara Al-Catraz.


Saya turut berduka atas musibah yang terjadi. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak terjadi lagi di kemudian hari. Selain itu, mudah-mudahan orang-orang yang selama ini terlalu berlebihan dalam mengamankan rumahnya mendapat pelajaran dari kejadian ini, sehingga bisa sedikit merenovasi rumahnya supaya tidak seperti penjara.

Masih mengenai kebakaran, di koran saya baca tentang kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan yang menyebabkan adanya kabut asap yang sangat tebal yang menyesakkan nafas tidak hanya bagi bagi penduduk Indonesia di kedua pulau langganan kebakaran hutan itu saja tapi juga menimpa penduduk Malaysia yang letaknya memang berdekatan. Pak Menteri M.S. Kaban bahkan mengatakan (di harian Kompas, 11 Agustus 2005):
Ketika ditanya titik api yang terjadi di Indonesia, Kaban mengatakan, mencapai sebanyak 200 lebih dan frekuensinya naik dan kemungkinan akan terjadi peningkatan yang cukup tajam pada bulan Juli hingga Agustus 2005 ini. Selain itu, jelasnya, peningkatan titik api yang cukup tajam terjadi di Provinsi Riau dan dalam hal ini juga termasuk di wilayah Sumatera Utara, tanpa merinci jumlah titik api tersebut.
Jadi untuk penduduk Sumatera bagian utara dan Kalimantan bagian barat, juga penduduk Malaysia yang berdekatan dengan kedua daerah tersebut (Kuala Selangor dan Pelabuhan Kelang) bersiap-siaplah untuk kembali memakai masker.

Saya sendiri tidak tahu, sesulit apakah sebenarnya untuk bisa mencegah terjadinya kebakaran hutan. Tapi kalau melihat bahwa yang punya hutan itu bukan hanya Indonesia saja (Malaysia juga kan punya hutan ya?), berarti sebenarnya mencegah terjadinya kebakaran hutan itu pasti bisa dilakukan kan? Jadi... kalau gitu memang kita yang memble kali ya? Dikasih hutan kebakaran, dikasih sungai tercemar, dikasih musim kemarau kekeringan, dikasih musim hujan kebanjiran...

Tuesday, August 09, 2005 

Kembali ke Kehidupan Nyata

Setelah 5 kali 7 hari hidup membujang ditinggal mudik istri dan anak ke Indonesia, hari ini kembali ke kehidupan nyata. Kembali menjadi seorang suami dan ayah. Rumah kembali ramai dengan suara celotehan mereka yang selama 5 kali 7 hari itu hilang dari peredaran yang membuat rumah menjadi senyap. Bahagia tentunya ketika semua kembali ke kondisi semula.

Selain itu, kembali dari mudik, stok makanan khas Indonesia di rumah pun menjadi banyak dan bisa sedikit menghilangkan kerinduan akan tanah air tercinta buat saya yang tidak bisa ikut mudik. Ada oleh-oleh dari Banyumas/Purwokerto (my hometown), ada juga dari Tegal, Surabaya, dan tentu saja dari Bandung.

Lima minggu tinggal di Indonesia, logat Hasna kembali ke logat normal orang Indonesia. Sebelumnya, logat Indonesianya beraksen bule terutama dalam pengucapan huruf r. Beberapa idiom dan tebak-tebakan ala Indonesia pun dibawanya ke Hamburg untuk dijadikan oleh-oleh buat bapaknya. Jadi pangling deh kalau ngedengerin Hasna ngomong. Tapi mungkin logat Indonesianya ini tidak akan bertahan lama, karena sebentar lagi ia akan masuk sekolah, kembali berinteraksi dengan teman-temannya menggunakan bahasa Jerman.

Dapet oleh-oleh foto Hasna berpose dengan kakak sepupunya yang tinggal di Bandung. Senang dan bahagia sekali mereka bisa saling bertemu dan berkumpul kembali, maklum sudah 2 tahun mereka berpisah. Sebelumnya, selama di Bandung, mereka tinggal satu rumah mulai dari bayi, selalu bertemu, bercanda, bertengkar, jalan-jalan, dan lain-lain bersama setiap hari seperti layaknya kakak adik sungguhan. Perpisahan kemarin pun, ketika Hasna harus kembali ke Hamburg, diiringi dengan tangisan oleh keduanya. Sedih harus kembali berpisah...

Sunday, August 07, 2005 

Wajah Baru

Akhirnya, setelah seharian mempelajari secara lebih seksama tentang CSS, kemudian dilanjutkan dengan mencari blog template yang kira-kira cocok dengan hasrat dan suasana hati (caila bahasanya puitis kali pun!), saya pun mencoba untuk sedikit memodifikasi template yang saya sukai tersebut untuk selanjutnya saya jadikan wajah baru blog saya. Karena minimnya pengetahuan dan ketrampilan yang saya miliki dalam hal-hal seperti ini, maka perubahan yang bisa saya lakukan pun sangat terbatas. Nggak apa-apa lah yang penting punya wajah baru yang lebih sesuai selera.

Berkaitan dengan peringatan hari kemerdekaan RI yang ke-60 tanggal 17 Agustus 2005 nanti, maka saya pun tidak ingin ketinggalan untuk menghiasi blog saya dengan sesuatu yang menandakan saya ikut berbahagia dengan peringatan hari kemerdekaan RI ini. Cara yang paling mudah yang bisa saya lakukan adalah dengan mengibarkan sang saka merah putih disertai ucapan dirgahayu Indonesia di dalam blog.

Selanjutnya, untuk menonjolkan kesan ke-Indonesia-an dalam blog saya dan juga kesan ke-Jawa-an (inyong kiye ceritane wong sekang Banyumas kang/mbak!), maka saya memilih gambar latar belakang tarian wayang orang dari Jawa Tengah yang saya scan dari koleksi kartupos istri saya. Sementara itu gambar Candi Borobudur saya 'curi' dari blognya Cosmomama. Belum minta ijin sih, tapi mudah-mudah diijinin (please ya Mom!).

Jadi begitulah, setelah coba dan coba lagi, akhirnya selesai juga proyek di hari Minggu ini. Blog dengan wajah baru pun muncul, tentunya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada. Well, cukup puas juga, meskipun harus seharian melotot di depan komputer. Tapi jadi tertarik juga nih untuk belajar lebih jauh tentang CSS. Kayaknya asyik juga deh... Ya mungkin lain waktu harus beli bukunya, biar bisa dibaca sambil naik S- atau U-Bahn.

OK deh, mau makan siang dulu nih (gile padahal udah mau jam 6 sore). Biasa kalau sudah asyik begini suka lupa sama yang namanya makan, sensor lapernya suka nggak berfungsi dengan baik. Untung istri belum di Hamburg, jadi nggak ada yang ngomel-ngomel... :)

 

Si Ucok

Kembali mengingat ke masa awal kuliah, saya teringat akan seorang kawan satu kos-kosan yang bernama Wolter Sitorus atau biasa dipanggil Ucok, mahasiswa Jurusan Matematika. Kalau sedang menyanyi, suaranya sangat bagus dan mampu mencapai oktaf yang tinggi. Wajar saja, karena dia orang Batak.

Tentu anda tahu akan anekdot tentang orang Batak: sendiri main gitar, berdua main catur, bertiga ... Dan sayangnya, ternyata si Ucok ini tidak memenuhi dua kriteria pertama yang ada dalam anekdot tersebut. Sebagai orang Batak dia punya dua kekurangan yang sangat mendasar yang seharusnya dimiliki oleh orang Batak kebanyakan yaitu tidak bisa main gitar dan catur. Payah kali kau Cok!

Karena itulah, sebagai kawan yang punya sedikit kemampuan bermain catur, saya mencoba mengajarinya bermain catur. Dengan meminjam papan catur milik bapak kos, mulailah saya mengajarinya bermain catur dengan memberi tahu aturan permainan dalam catur, bagaimana buah-buah catur itu melangkah dan memakan buah catur lawannya, dan beberapa strategi sederhana yang saya kuasai. Saya sendiri bisa bermain catur hanya dalam taraf sekedar bisa saja, tak lebih dan tak kurang sehingga apa yang saya ajarkan juga sesuatu yang sangat dasar.

Begitulah, hari demi hari di kala senggang, kami berlatih bermain catur sampai akhirnya dia mulai terbiasa dan bisa. Semua yang saya tahu tentang catur sudah saya berikan kepadanya. Puncak dari proses berlatih ini tercapai ketika dia sudah berhasil mengalahkan saya sebagai gurunya. Saya puas, karena saya punya pemahaman: jika sang murid sudah bisa mengalahkan sang guru, berarti sang guru telah mengajari sang murid dengan benar.

Saya tidak tahu berada di mana dia sekarang, mungkin jika sekali waktu kami bertemu, saya ingin kembali mengajaknya bermain catur. Mati kau Cok, skak mat!

 

P4 100-jam

Malam ini saya teringat akan masa-masa awal ketika saya diterima kuliah di Bandung 16 tahun silam. Waktu itu tanggal 5 Agustus 1989, bertepatan dengan hari ulang tahun saya, kami mahasiswa baru memulai Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pola 100 jam. Pembukaan acara penataran dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Rudini yang disambut dengan demonstrasi oleh para mahasiswa. Demonstrasi ini berbuntut pemecatan terhadap 9 mahasiswa, skors 1-4 semester kepada 30 mahasiswa, dan peringatan keras kepada 4 mahasiswa. Waktu itu yang menjabat sebagai rektor adalah Prof. Ir. Wiranto Arismunandar.

Bagi saya, yang lulusan SMA dari sebuah kota kecil bernama Purwokerto, pemandangan acara demonstrasi mahasiswa dengan pembakaran ban dan pemasangan tiang gantungan adalah sesuatu yang benar-benar baru. Apalagi di jaman orde baru, dimana stabilitas nasional menjadi prioritas utama. Jangankan demonstrasi, mengadakan acara seminar pun pada saat itu harus mengantungi ijin dari Bakorstanas (Badan Koordinasi Stabilitas Nasional) atau Bakorstanasda.

Dalam mengikuti penataran P4, mahasiswa baru diwajibkan untuk memakai seragam putih-putih dengan sepatu hitam. Penataran P4 ini buat saya adalah yang ke-2. Penataran P4 juga pernah saya rasakan ketika masuk SMA, tetapi dengan waktu yang lebih singkat (penataran P4 terbagi menjadi beberapa pola mulai dari pola 25 jam hingga 100 jam). Acara dimulai dari pagi hari pukul 07:00 hingga sore hari (saya lupa hingga pukul berapa, 16:00 kalau tidak salah). Para peserta diberi makan siang. Acara penataran dibagi ke dalam kelas-kelas kecil dan kelas bersama. Untuk kelas bersama diadakan di GSG (Gedung Serba Guna), yang merupakan gedung dengan kapasitas terbesar yang ada pada saat itu. Sementara itu untuk kelas-kelas kecil diadakan di ruang-ruang kuliah seperti TVST. Masing-masing kelas beranggotakan sekitar 50 mahasiswa. Acara diisi dengan pemberian materi oleh para petatar yang biasanya dilanjutkan dengan diskusi kelompok, debat dan lain-lain mengenai butir-butir Pancasila dan kawan-kawannya.

Secara umum, acara penataran seperti ini sangat membosankan, tapi mau tidak mau sebagai mahasiswa baru kami harus mengikutinya. Kalau tidak bisa atau tidak mau mengikutinya, kami harus mengulangnya di acara penataran tahun depan. Hal utama yang sangat membosankan adalah karena kami harus menjadikan 36 butir-butir Pancasila dan kawan-kawannya itu sebagai sesuatu yang benar-benar sempurna dan tanpa cacat. Untung saja, kebosanan ini bisa kami hilangkan dengan berbagai cara seperti membaca serial kungfu Kho Ping Ho atau bacaan-bacaan lainnya, mencuri-curi waktu untuk bercanda dan ngobrol jika yang menjadi petatar tidak terlalu galak, dan lain-lain.

Bandung waktu itu adalah kota pertama di luar Purwokerto atau Kabupaten Banyumas yang saya kunjungi. Pertama kali ke Bandung kami (saya dan ayah) menumpang di rumah seseorang yang memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat jauh yang tinggal di belakang gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Jalan Jakarta. Selanjutnya, setelah menumpang di rumah itu selama beberapa hari, sebelum mendapatkan kos-kosan selama masa penataran, saya menumpang di kamar kos kakak angkatan waktu di SMA yang kuliah di Jurusan Tekhnik Kimia. Letak kos-kosan dia berada tidak jauh dari terminal Sadang Serang. Sayangnya saya lupa dengan nama kakak angkatan saya ini, yang menurut kabar yang saya dengar tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Selesai acara penataran barulah saya sempat mencari kos-kosan, dimana akhirnya mendapatkan kamar di samping Pasar Balubur di pinggir Sungai Cikapayang, dekat tempat pemotongan ayam. Saya sekamar berdua dengan Marlan Ompusunggu yang biasa dipanggil si Ompung ( artinya kakek (?) ) mahasiswa dari Jurusan Kimia. Hal pertama yang harus kami lakukan setelah mendapatkan kamar kos adalah membeli meja belajar, kasur dan atau tempat tidur yang banyak dijual di sepanjang Jalan Tamansari karena kamar kos biasanya disewakan dalam keadaan kosong tanpa perabotan.

Saturday, August 06, 2005 

Biggoser diwisuda


Selamat, satu lagi anggota Biggos selesai nDoktor di Hamburg. Setelah selesai disputasi (melakukan presentasi hasil penelitian secara terbuka dilanjutkan dengan ujian tertutup) dan dinyatakan lulus, teman-teman satu lab merayakannya dengan menyematkan topi sarjana yang terbuat dari kertas, melakukan toast segelas wine atau juice bersama profesor pembimbing dan penguji, dan mengarak sang Doktor baru untuk berjalan-jalan keliling kampus naik taxi. Enak ya Mas? Selamat deh...

catatan: mungkin perlu juga untuk ditiru di Indonesia, tidak perlu ada acara wisuda yang mahal-mahal, yang penting happy dan berkesan.

 

Perempuan dalam Islam

Kali ini saya ingin memuat e-mail dari seorang kawan (Dr. Mufti P. Patria) di milis IIC e.V. mengenai Perempuan dalam Islam. Mudah-mudahan isi dari e-mail ini bermanfaat.

Kaum feminis mengatakan bahwa menjadi perempuan dalam Islam amatlah susah dan terkekang, lihat saja peraturan dibawah ini:
  1. Perempuan auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
  2. Perempuan perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.
  3. Perempuan saksinya kurang dibanding lelaki.
  4. Perempuan menerima pusaka kurang dari lelaki.
  5. Perempuan perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
  6. Perempuan wajib taat kepada suaminya tetapi suami tak perlu taat kepada isterinya
  7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
  8. Perempuan kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yg tak ada pada lelaki.
makanya mereka tidak pernah lelah untuk berpromosi memerdekakan kaum perempuan Islam.

Pernahkah kita lihat hal sebaliknya atau kenyataannya?
  1. Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan di tempat yg teraman dan terbaik. Sudah pasti, intan permata tidak akan dibiarkan terserak bukan? Itulah perumpamaan aurat seorang perempuan.
  2. Perempuan perlu taat kepada suaminya, tetapi laki-laki wajib taat kepada ibunya 3 kali lebih utama dari bapaknya. Bukankah ibu adalah seorang perempuan?
  3. Perempuan menerima pusaka kurang dari laki-laki, tetapi harta itu menjadi milik pribadi dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara itu manakala lelaki menerima pusaka, maka ia harus menggunakannya untuk isteri dan anak-anaknya.
  4. Perempuan perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, akan tetapi setiap saat dia akan selalu didoakan oleh semua makhluk Allah di muka bumi dan malaikat, dan jika ia mati karena melahirkan, maka matinya adalah syahid.
  5. Di akhirat kelak, laki-laki akan diminta pertanggungjawabannya terhadap 4 hal yaitu isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
  6. Sementara itu seorang perempuan, tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang laki-laki yaitu suaminya, ayahnya, anak laki-lakinya dan saudara laki-lakinya.
  7. Seorang perempuan boleh memasuki pintu surga melalui mana-mana pintu surga yg disukainya cukup dgn 4 syarat saja yaitu sembahyang 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat pada suami, dan menjaga kehormatannya.
  8. Seorang laki-laki harus pergi berjihad fisabilillah, tetapi perempuan jika taat akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah, akan turut menerima pahala seperti pahala orang yang pergi berperang fisabilillah tanpa perlu mengangkat senjata.
Masya Allah, demikian sayangnya Allah kepada kaum perempuan.

Friday, August 05, 2005 

Zaman Batu dan Pornografi

Saya ini orangnya suka baca berita gosip selebritis. Dulu waktu masih di Indonesia, semua infotainmen saya tonton, saingan sama ibu mertua deh. Tentu heran juga yah, koq bisa-bisanya saya suka sama berita gosip.

Itu ceritanya panjang. Tapi saya kasih aja sedikit ringkasan alasan kenapa saya suka sama berita gosip. Hal itu tidak terlepas dari kebiasaan saya yang sejak umur 7 tahun sudah suka banget ngebaca. Masalah muncul ketika di rumah dan di sekitar lingkungan saya, yang ada hanyalah bacaan untuk mereka yang dewasa. Koran-koran seperti Pos Kota, Buana Minggu, Sinar Pagi Minggu dan sejenisnya yang suka dibaca oleh polisi dengan pangkat rendah seperti bapak saya atau majalah-majalah wanita seperti Kartini, Femina, dan lain-lain yang bisa didapat secara lungsuran dari tetangga di asrama. Ada juga kadang majalah anak-anak seperti Ananda atau Bobo, tapi majalah setipis itu bisa dilahap dalam waktu yang sangat singkat. Sementara itu di sekolah, jumlah buku-buku cerita yang bisa dipinjam juga sangat sedikit. Paling-paling hanya ada 1 lemari kecil. Itu pun dalam waktu yang singkat bisa langsung ludes terbaca.

Di antara para penghuni asrama polisi atau tentara kelas prajurit dan bintara, biasanya suka ada acara saling pinjam atau tukar bacaan-bacaan yang mereka miliki, karena harganya yang cukup mahal dan sayang kalau harus beli sendiri. Kadang-kadang bacaan-bacaan itu juga didapat dari kantor, dimana setelah orang-orang di kantor selesai membaca, ada saja prajurit atau bintara yang suka membawanya pulang untuk dijadikan oleh-oleh buat istrinya.

Begitulah, akhirnya saya pun terbiasa untuk membaca bacaan-bacaan dewasa dan gosip-gosip. Seluruh isi majalah selalu habis saya baca, demikian juga dengan koran-koran hingga ke cerpen dan cerbungnya. Semua saya lahap. Maka dari itu, kalau punya anak yang hobi membaca, perlu diperhatikan dengan baik dimana kita menyimpan bacaan-bacaan dewasa kita, terutama surat kabar dan majalah. Apalagi kalau kita tidak punya cukup uang untuk membelikan anak-anak buku khusus untuk mereka. Atau kalau misalnya di sekitar rumah kita tidak terdapat tempat peminjaman buku khusus anak.

Baiklah, sekarang saya mau balik ke berita gosip. Kemarin saya baca berita tentang ribut-ribut pose syur-nya Luna Maya di sebuah majalah. Beritanya saya baca di detikHot.com dengan judul "Luna Maya dan Foto Porno". Saya sendiri nggak tahu siapa Luna Maya, seterkenal apa dia dan sebagainya dan sebagainya. Saya juga nggak ada niat untuk tahu lebih jauh seperti apa pose syur-nya itu.

Ada satu poin yang mau saya garis bawahi dari berita yang saya baca tersebut, yaitu komentar Luna Maya sbb:
Kalau orang yang nggak ngerti seni dan menganggap itu pornografi, maaf-maaf aja, memangnya kita hidup di zaman batu?
Lho, apa yang menarik untuk dikomentari?

Yang menarik untuk dikomentari adalah kata zaman batu.

Kenapa?

Setahu saya, orang-orang yang tidak/belum mengenal pakaian/baju atau hanya sekedar memakai penutup alat kelamin saja itu justru ada di zaman batu atau zaman baheula. Jadi sebenarnya, justru orang-orang yang berpose dengan pakaian minim banget itulah yang sekarang sedang menggiring kita untuk kembali ke zaman batu. Sementara itu orang-orang yang berkomentar bahwa hal itu adalah porno justru adalah orang yang memang tidak sedang hidup di zaman batu.

Terus?

Ya nggak ada terusannya, cuman mau komentar itu aja! Namanya juga gosip, makin digosok makin sip!

Nggak ada pesan moralnya?

Pesan moralnya jelas:
  1. Perhatikan anak anda yang hobi membaca, jangan sampai seperti saya yang kehausan membaca tapi adanya dan dapetnya hanya bacaan yang bukan untuk anak seumur saya. Terus kalau bisa yang namanya TK dan SD harus punya perpustakaan juga. Coba tanya ke anak anda, TK atau SD-nya punya perpustakaan nggak? SD dan SMP saya (saya nggak pake masuk TK) nggak punya yang namanya perpustakaan. Di SMA, ada perpustakaan, tapi cuman sekedar minjemin buku pelajaran, itu juga muridnya nggak boleh masuk. Harus minta ke mbak yang jaga perpus. Waktu kuliah? yang ada cuman buku-buku lama, buku-buku barunya masih dipinjem dosen atau nggak boleh dipinjem takut rusak.
  2. Jangan suka ngelihat gambar orang telanjang atau berpakaian sangat minim, itu konsumsi untuk orang-orang yang tinggal di zaman batu yang memang belum mengenal pakaian atau hanya sekedar kenal alat penutup kelamin. Sekarang kita ada dan hidup di zaman dengan peradaban tinggi.
Gimana? Pada setuju nggak?

Thursday, August 04, 2005 

Sering Ngibul Siih!

"Mau tau nggak mas, kenapa uji coba Tempat Pembuangan Sampah Terakhir eh Terpadu(?) (TPST) Bojong ditolak sama masyarakat sekitar TPST? Saya nyangkanya, itu karena masyarakat sering dikibulin sama penguasa" kata saya membuka percakapan ketika nongkrong di warung kopi bersama seorang kawan lama.

"Dikibulin gimana?" tanya dia antusias.

"Ah masa sih nggak tahu? Dikibulin ya diboongin... pas pdkt dikasih janji-janji manis, eh udah dapet diinjek! tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain di hati!"

"Lho, koq sampeyan tahu? Info dari mana itu? Jangan suka nyebar gosip dan jadi provokator gitu, nanti ditangkep intel lho! dituduh meresahkan masyarakat!"

"Lho, ini fakta mas! Sampeyan masih inget, dikasih janji apa pemilu kemaren?"

"Wah... nggak inget lagi mas! udah lupa tuh! apa ya?" kata dia sambil kepalanya ndongak sementara jari-jarinya menggaruk-garuk dengkul.

"Gombal sampeyan! yang dikasih janji aja bisa lupa gitu, apalagi yang ngasih janji! Itulah salah satu alasannya juga kenapa rakyat sering dikibulin, nggak suka perhatian sama apa yang dijanjiin, abis itu baru ngungun, nyesel! kebanyakan makan brutu sih, nyesel ketemu mburi!"

"Sampeyan masih inget sama yang dikatakan si Gombal dulu waktu Bantar Gebang mau dijadiin TPA tahun 89? Dia bilang teknologinya OK punya, sampahnya nanti diurug dengan sistim sanitary landfill dan nggak bakalan bikin bau, ada instalasi pengolahan air sampah jadi nggak bakalin nyemarin air tanah, TPA ini dibikin untuk kepentingan umum, bla.. ble.. blo.. Sampeyan tahu apa yang sekarang terjadi? Kalau lagi musim hujan, bau sampah kemana-mana, air sumur bau tahi kucing, laler dan tikus jadi preman ngalahin preman Tanah Abang. Musim kemarau juga gitu, bau asep busuk bikin sesek napas. Pokoknya bener-bener mbul gombal gambul si Gombal itu!"

"Nah terus apa hubungannya sama TPST Bojong?" temen saya penasaran.

"Sampeyan tahu? sekarang truk sampah ke TPST Bojong nggak boleh masuk? Polisi yang mau ngamanin uji coba TPST berani dilawan, dan jalan ke TPST dipasangin penghalang? Ini supaya TPST Bojong jangan sempat dikuasai sama temen-temennya si Gombal. Soalnya kalau udah bisa dikuasai mereka, susah ngelawannya kalau mereka bener-bener nggombal. Dan yang jelas, kemungkinan besar warga harus siap-siap beli masker atau pindah rumah walaupun mereka janji bahwa teknologi pengolahan sampah yang sekarang ini lebih OK dari yang Bantar Gebang! Teknologi Swedia katanya!"

"Tapi kan, para penguasa sudah berjanji kalau nanti pada masa uji coba ternyata TPST Bojong nyemarin lingkungan bakalan ditutup?" kata dia setelah nyeruput kopi.

"Sampeyan pernah denger cerita gembala dan srigala? Si gembala teriak-teriak minta tolong, katanya ada srigala, tapi ternyata dia cuman bohong. Padahal orang-orang kampung udah pada lari ngos-ngosan mau nolongin dia. Sampe akhirnya orang-orang kampung sadar kalau mereka dikibulin. Akhirnya waktu si srigala dateng beneran dan si gembala juga teriak minta tolong beneran, orang kampung nggak ada yang mau nolongin karena udah bolak-balik dikibulin. Nah itu dia, orang-orang udah sering dibikin kecele sama penguasa. Penduduk di sekitar TPST Bojong belajar dari mereka yang pernah kecele, kaya di Bantar Gebang misalnya. Saya juga ngedukung abis penolakan TPST Bojong! Biar tahu rasa mereka yang suka ngibul!"

Kali ini teman saya nggaruk-nggaruk pipinya sambil bertanya "Tapi aneh ya? penduduk sekitar TPST Bojong kan nolak itu TPST? Nah dulu-dulunya waktu TPST baru mau dibangun udah pada nolak belum itu orang-orang? Harusnya kan kalau emang nolak, udah dari dulu-dulu ya? Atau waktu TPST dibangun, dibilangnya bukan buat TPST kali ya?"

"Wah udah malem nih mas, mau pulang dulu. Besok aja ya dilanjutin ngobrolnya" kata saya sambil ngebayar harga 2 cangkir kopi ditambah 4 potong singkong goreng.

"Yo wis, sampe besok ya! Aku juga mau pulang! Makasih udah dibayarin kopi sama makanannya, besok bayarin lagi ya!" kata dia

"Gombal sampeyan! Senengnya koq ditraktir sih mas!"

 

Nduableg dan Nggak Mutu

Kenapa sih orang pada ngeributin studi bandingnya anggota dewan yang terhormat ke beberapa negara di Eropa? Ada yang ribut dengan alasan katanya parlemen di Eropa sedang reses di musim panas ini, jadi nggak mungkin para peserta studi banding bisa ketemu sama anggota parlemen. Ada lagi yang bilang bahwa studi banding ini sebenernya cuman alasan anggota dewan supaya bisa pesiar dan shopping ke luar negeri, apalagi ini ke Perancis dan Belanda!

Saya mah sebenernya nggak mau ikutan ribut, soalnya yang namanya studi banding itu sudah dari dulu dijadiin tradisi para pejabat kita. Sama dengan tradisi pengadaan pakaian dinas dan pakaian olah raga untuk pejabat. Sama juga dengan pengadaan mobil dan rumah dinas untuk pejabat. Jadi, kalau cuman sekedar diributin, ujung-ujungnya yang ngeributin bakalan dongkol sendiri. Baca nggak kemaren di Kompas, bagaimana uang anggaran untuk seragam jauh lebih besar dari pada untuk pengendalian busung lapar di Bengkulu?

Dan terbukti kan? Mau diributin sampe ributnya nyaingin pasar Tanah Abang juga, studi banding mah harus tetap jalan. Ada aja kan alesannya, yang katanya udah diatur sejak lama lah, anggaran yang sudah lama cair lah, udah ini lah, itu lah. Pokoknya wes ewes ewes lah...

Terus ada yang nanya: "kalau gitu gimana dong? " Masa dibiarin aja? Saya juga nggak tahu gimana jalan keluarnya. Kali ya catet aja namanya dan dari partai mana dia berasal, terus pemilu depan ya nggak usah dipilih lagi deh. Pilih partai lain yang nggak kaya gitu (huuu.... kampanye nih ye...! eh emang tahu partai mana yang nggak kaya gitu? *lol*). Kan pemilu masih lama? Masa kita harus nunggu selama itu? mana tahaann deh ya...!

Eh... ngurusin badan yang gendut aja perlu diet yang lama, itu juga belum tentu berhasil. Banyak godaan! Apalagi ini, sudah mentradisi! Ngelupain pacar lama aja susah, berhenti ngerokok aja susah. Lho koq, jadi kemana-mana gitu? Eh ini cuman ngasih contoh aja. Sekedar ngasih ilustrasi bahwa untuk ngerubah sesuatu yang sudah jadi budaya dan kebiasaan itu tidak semudah ngebalik telor mata sapi di penggorengan! Jadi harus bersabar.

Tahu kan artinya sabar? Sabar itu bukan ngelus dada atau diem pasrah atau ribut-ribut nggak jelas. Sabar itu artinya terus berusaha secara konsisten dan berkesinambungan serta tidak mudah berputus asa. Dengan mencatat nama-nama anggota dewan yang nggak peka dan nduableg itu beserta nama partainya, berarti kan sebenarnya kita sedang memfilter sumberdaya manusia (sdm) dan partai-partai yang berkualitas rendah. Nah selanjutnya, kita sosialisasikan ke saudara-saudara kita, tetangga kita, temen kantor kita dll nama-nama orang dan partai yang berkualitas rendah tersebut dan kasih judul dengan tulisan besar "daftar nama orang dan partai yang jangan dipilih di pemilu mendatang karena nduableg dan nggak mutu". Kalau perlu, posting ke blog. Seru kan! Gimana?

Lambat laun, orang-orang nduableg dan partai-partai nggak mutu seperti itu akan tersisih dari peredaran dan persaingan. Mereka akan masuk ke dalam kategori spesies yang "tidak perlu dilindungi dan terancam punah".

Saya jadi inget semboyan: "mulailah dari yang sederhana, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah sekarang juga".

 

Word's file corrupt!

Pernah punya pengalaman file word yang kita punya nggak bisa dibuka karena korup? Saya pernah. Tadinya pusing delapan keliling (tujuh keliling + 1 bonus menjelang HUT RI) dan shock. Mana nggak punya salinannya lagi. Akhirnya nge-googling, cari program yang bisa mbenerin file word yang korup. Kata kunci yang dipakai "word+corrupt+recover". Banyak keluar list software yang bisa di download utk free trial. Coba download (bahasa Indonesia bakunya: unduh), install dan jalankan. Bisa jalan dan membuka file word yang korup (udah mulai seneng deh), klik menu recover, ngek-ngok, suruh purchase dulu. Free trial nggak bisa buat recover. Gile! Kalau harganya US$1 sih ok, tapi kalau udah puluhan menuju ratusan dolar, lebih baik filenya dihapus aja deh... (lebih sayang uang daripada file ya? dasar pelit kaya Pak Raden!).

Akhirnya otak di kepala memanas, berputar mencari akal (makanya rambut bagian jidat sempet rontok, otak di overclock tapi jumlah kipas pendinginnya kurang). Si akal nggak ketemu juga. Terus dicari, nggak ketemu-ketemu juga. Udah otaknya panas, keringet mulai keluar. Nggak mau kehilangan file, tapi nggak mau juga keluar uang buat beli program word recover.

Akhirnya datang pertolongan yang nggak disangka-sangka. Sebuah ide muncul. Dari windows explorer, saya klik file word yang korup dan kemudian klik mouse kanan, pilih menu send to dan pilih WordPad. Eng-ing-eng, happy end! File wordnya bisa dibuka! Keringat di badan berhenti mengucur, kepala juga mulai mendingin karena otak mulai memperlambat putarannya (padahal otak nggak berputar lho! Itu saya aja yang terlalu berlebihan menggunakan kata kiasan). Untung belum beli software mahal (untung akal sehat masih jalan ya? eh padahal bukannya si akal dari tadi dicariin? ya itu, karena si akal masih jalan, jadi dicari-cari nggak ketemu, soalnya masih di jalan).

Jadi begitulah, setelah kesukaran selalu ada kemudahan!

Jika file word anda korup, jangan bingung dulu. Cobalah cara saya di atas. Kalau nggak mempan juga, carilah cara yang lain.

Eh tunggu, ada pertanyaan: kalau yang korup pejabat negara gimana? ya pakai cara yang sama dengan cara di atas, klik pejabat yang korup, klik mouse kanan, pilih send to, dan pilih Nusa Kambangan. Beres kan? Gitu aja koq repot!

 

Posting dgn Firefox

Tes... posting ke blogspot pakai Firefox... bisakah? Oh ternyata bisa...

Kemaren Firefox saya ngaco berat...
Posting ke blog, setelah di-publish eh yang nongol di blog hanya judulnya aja, body-nya lenyap... Juga waktu mau diedit lagi, body posting tak berbekas... Jadinya misuh-misuh deh #*%*&*#

Kacau betul... padahal sudah nulis cukup panjang. Terpaksa posting ulang pakai IE dan berhasil! Firefox... Firefox, koq kamu gitu sih sama saya? ;)

Tapi hari ini sudah kembali normal. Kayaknya Firefox-nya kurang tahan banting deh? Memang kemarin PC saya pakai running program yang perlu banyak memory sampai bergadang semaleman. Tapi masa gitu sih? Si IE aja cuek, meskipun agak lambat.

Barusan keluar menu untuk update ke Firefox 1.0.6. Ini baru aja selesai updating. Mudah-mudahan nggak ngambekan lagi kaya kemaren.

Sebenarnya saya sudah jatuh hati juga sekarang sama Firefox, si Rubah Api kata mas Kusaeni. Sebelumnya saya pencinta berat IE. Pernah juga sebelumnya nginstall Firefox dan coba-coba dipakai surfing, tapi ya saya uninstall lagi. Kayaknya waktu itu ngerasanya ya sama aja. Tapi kemaren2 coba-coba lagi diinstal, eh perasaan lebih cepet deh ya kalau dipake surfing... Cuman ya itu, masih ada nggak sregnya, kalau dipake buka kompas.com, bagian yang di gambar bawah ini nggak aktif linknya.

link kompas yg nggak aktif di FirefoxMemang artikelnya bisa diklik kalau kita masuk ke bagian indeks, tapi ya sedikit repot kan...? (dasare nggak mau rephuot!). Saya nggak tahu, apakah orang di KCM juga sudah tahu atau belum kalau web-nya kaya gitu bila dibuka pakai Firefox. Saya juga nggak tahu, apakah itu hanya terjadi di PC saya aja atau di semua PC. Eh iya, ngomong-ngomong soal kompas.com, ternyata kasus iklan yang nutupin paragraf pertama di kompas.com sudah nggak saya temui lagi sekarang (hehehe... kali udah baca postingan saya yang berjudul Firefox vs IE ya...? GR deh lu!).

Udah ah, nggak usah dipikirin, mendingan sarapan pagi aja... eh tapi sarapan paginya belum ada, yaaah... harus masak dulu deh...

Wednesday, August 03, 2005 

Hari ini aku berpuisi

Mengapa berdusta?

Aku bertanya pada diriku,
Wahai diriku,
Kenapa engkau berdusta?

Diriku pun menjawab,
Aku berdusta supaya orang tak marah

Aku takut orang kan marah,
Jika mendengar jawaban jujur dariku,
Itulah sebabnya aku berdusta

Aku bertanya pada anakku,
Kenapa engkau berdusta pada ayah nak?

Anakku pun menjawab,
Ayah suka memarahi aku jika aku bersalah,
Dan aku takut dimarahi ayah jika melakukan kesalahan,
Itulah sebabnya aku berdusta,
Agar ayah tak marah padaku...


Doaku

Doaku adalah permohonanku
Doaku adalah harapanku
Doaku adalah penyerahan diriku
Doaku adalah pujianku untukMu
Doaku adalah isi hatiku
Doaku adalah pengaduanku

Doaku hanyalah kepadaMu


Cemburuku

Istriku bertanya,
Aku tak pernah melihat kau cemburu padaku?
Apakah kau tak cinta padaku?

Akupun menjawab,
Wahai istriku,
Kesetiaanmu padaku dan kepercayaanku padamu,
Telah menyirnakan kecemburuan itu


Seberapa banyak cintamu?

Istriku bertanya,
Seberapa banyak cintamu padaku?

Akupun menjawab,
Cintaku padamu tergantung kapasitas ruang cintamu,
Jika kau hanya menyediakan ruang yang kecil untuk cintaku,
Sedikit pula cinta yang bisa aku berikan padamu
Agar tidak meluap kemana-mana
Jika kau sediakan ruang yang besar,
Besar pula cinta yang akan aku berikan padamu
Agar ruang cintamu penuh oleh cintaku


Masakan istriku

Aku marah pada istriku
Masakannya selalu enak dan nikmat
Mengundang selera untuk menyantap
Membuat berat badanku semakin berat

Aku marah pada istriku
Kali ini masakannya tidak enak
Dan telah mengusir selera makanku

Istriku marah padaku,
Masakan enak salah, tak enak lebih salah!


Aku tak menciummu

Kenapa kau tak menciumku?
Tanya istriku padaku
Apakah kau sudah tak cinta padaku?
Ataukah karena aku bau?

Aku tak menciummu,
Bukan karena aku tak cinta padamu
Ataupun karena kau bau

Aku tak menciummu,
Karena aku yang bau


H - 2 dan H - 5

H-2, umurku insya-Allah bertambah 1
Empat tahun menuju puber ke-2

H-5, istri dan anakku insya-Allah kembali meramaikan rumah
yang telah 5 kali 7 hari kutinggali sendirian

H-2 akan datang lebih dulu dari H-5
Itu artinya, di H-2 aku masih akan sendirian

H-2 dan H-5, keduanya sama aku nantikan
Semoga datang membawa kebahagiaan

Monday, August 01, 2005 

Mood yang Hilang

Hari Minggu dan Senin ini, mood saya lagi benar-benar hilang untuk menulis. Ada sih yang mau diceritain, tapi maleeesss banget pencet-pencet papan ketiknya. Jadi, ceritanya masih disimpan di dalam otak, semoga tidak menguap...

Ngomong-ngomong, sudah masuk bulan Agustus ya? Bentar lagi ultah dong! Maunya sih nggak usah inget sama hari ultah sendiri, supaya nggak inget juga kalau sudah jadi semakin tua. Makin tua makin berat tantangannya.

Joke dari seorang kawan: "Masa remaja (mencari) pandangan hidup, masa dewasa (mencari) pegangan hidup, masa tua (adalah) perjuangan hidup". Kaya yang udah tua banged aja yah...? payah deh!

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares