« Home | Negara kesatuan dan separatisme » | Staf ahli, staf khusus dan PNS » | Nasir dari Bone » | Ketika rumah bak penjara » | Kembali ke Kehidupan Nyata » | Wajah Baru » | Si Ucok » | P4 100-jam » | Biggoser diwisuda » | Perempuan dalam Islam » 

Tuesday, August 16, 2005 

HUT RI dan loncatan kuantumku

Salah satu acara yang paling saya suka ketika memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia adalah lomba baca puisi perjuangan. Seingat saya, sejak SD hingga SMA saya selalu menyempatkan diri untuk menjadi peserta lomba. Sayangnya, dari sekian kali menjadi peserta lomba baca puisi perjuangan, belum pernah sekalipun saya berhasil mendapatkan gelar juara. Paling banter hanya bisa masuk babak perempat final. Tapi itu tidak terlalu penting buat saya (ngeles deh!), yang lebih penting dari itu semua adalah saya menikmatinya.

Membaca puisi dan mendengarkan orang membaca puisi memiliki kenikmatan tersendiri. Kadang kala, jika benar-benar bisa menghayati isi puisi tersebut, kita bagaikan mengalami suatu loncatan kuantum masuk ke dalam suasana yang digambarkan dalam puisi tersebut. Itulah sebabnya, saya selalu menikmati lomba baca puisi perjuangan, karena sepertinya saya bisa ikut merasakan bagaimana sebuah perjuangan melawan penjajahan dan penindasan dikobarkan di bumi tercinta Indonesia.

Ketika saya membacakan atau mendengarkan sajak Diponegoro, seolah-olah saya kembali meloncat ke tahun 1800-an ketika Diponegoro dengan gagahnya memimpin perjuangan melawan kekejaman penjajah di tanah Jawa. Seolah saat itu saya berada di tengah-tengah pasukan Diponegoro, membawa sebilah keris yang siap menerjang menghempaskan kekuatan pasukan kompeni.
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
(potongan sajak Diponegoro, karya Chairil Anwar, Februari 1943)
Atau terbayang pula bagaimana saya termasuk ke dalam salah satu dari beribu tulang-belulang berliput debu yang terbaring di antara Krawang-Bekasi, gugur dalam berperang merebut hak kami yang terampas, ketika membaca atau mendengarkan sajak Krawang-Bekasi.
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
(potongan sajak Krawang-Bekasi, karya Chairil Anwar, 1948)
Loncatan kuantum seperti itu sungguh membuat semangat cinta tanah air menggelora dalam dada, mengalir membasahi seluruh relung jiwa...
Merah-Putih !
Kini, kulihat Kau terkibar di tengah bangsa
lambang kebangsaanku di Timur Raya,
Engkau panji perjuanganku
mengejar kemulian bagi bangsaku,

Dan demi Tuhan Pencipta bangsa,
Selama masih bersiut nafas di dada
berdenyut darahku penyiram medan
ta'kan kembali Kau masuk lipatan !
(potongan sajak Merah Putih, karya Usmar Ismail, 1944)
Sungguh suatu kenikmatan tak terperi ketika jiwa muda yang tak tahu dan tak mengalami beratnya mengangkat senjata ini, mampu untuk meloncat dan sedikit merasakan semangat perjuangan, semangat kebersamaan, semangat senasib sepenanggungan dari orang-orang yang tertindas dan terampas harga dirinya.
Impian akan harga kemerdekaan manusia
mengumpulkan seorang tukang cukur, penanam-penanam sayur
gembala-gembala, (semua buta huruf) kecuali dua anak SMT
sopir taksi dan seorang mahasiswa kedokteran
dalam pasukan
di pos terdepan ini
(potongan sajak Jawaban dari Pos Terdepan, karya Taufiq Ismail, 1965)
Dirgahayu Indonesiaku...
Kini saatnya giliran kami untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan, menciptakan kemakmuran dan keadilan bagi semua.
Jangan kamu bilang negara ini kaya
karena orang-orang berkembang di kota dan di desa.
Jangan kamu bilang dirimu kaya
bila tetanggamu memakan bangkai kucingnya.
Lambang negara ini mestinya trompah dan blacu.
Dan perlu diusulkan
agar ketemu presiden tak perlu berdasi seperti Belanda.
Dan tentara di jalan jangan bebas memukul mahasiswa.
(potongan sajak Orang-orang Miskin, karya W.S. Rendra, 1978)

Dirgahayu Indonesiaku!
Mas Agus berlogat Sunda ya? emang di Tatar Sunda sejak lahir?

MERDEKA Bung!!!!

sayang anak muda sekarang sudah males jika disuruh upacara bendera :(

@yanti : Mas Agus tuh cah KEBASEN ... KEmana-mana perginya Bisa AkSEN nya....hehehe..

Merdeka!

wah baru tahu ternyata Mas Agus suka puisi... ! kapan2 dibacakan puisi perjuangan khusus buat biggos yaa... :)

Dirgahayu Indonesia!

sudah pernah baca puisinya Gus Mus pak? judulnya Rasanya Baru Kemarin. bisa liat di jalansunyi.blogspot.com

Sayang yah pelajaran puisi di sekolah hanya seuprit... :(

Dirgahayu RI yang ke 60 .. :p

dirgahayu ri ke 60! merdeka!

wah mas agus suka baca puisi ternyata yach :D *heubaddh* klo saya dulu senengnya nontonin aja bis ga usah baca puisi dapet tugas baca susunan tata tertib upacara bendera aja deg degan he he he...

Halo mas, jangan lupa posting entry tuk lomba ya (mulai besok loo), di blog sendiri dan di link yg diberi (klik nama). Jangan lupa pasang banner lomba :)

Seneng udah bisa ditengokin,kemaren kita juga ngerayain HUT Proklamasi di Monrovia, ngundang para Military Observer yang notabene adalah kapal keruk semua - untungnya makanan banyak sisa..:) masak rendang, ayam panggang kecap, kerupuk udang dan rawon, plus puding susu.. wah, mereka ketagihan tuh! - mereka bilang: Bulan depan ada Indonesian Independence lagi nggak yah ;P - Salam hangat dari Afrika Barat, negeri si hitam nan bau kelek! :)

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares