« Home | HUT RI dan loncatan kuantumku » | Negara kesatuan dan separatisme » | Staf ahli, staf khusus dan PNS » | Nasir dari Bone » | Ketika rumah bak penjara » | Kembali ke Kehidupan Nyata » | Wajah Baru » | Si Ucok » | P4 100-jam » | Biggoser diwisuda » 

Wednesday, August 24, 2005 

Mari Berbagi Kemerdekaan

Tulisan dalam rangka lomba entry 17-an BlogFam.

Tahun ini bangsa Indonesia kembali memperingati hari ulang tahun kemerdekaannya. Tak terasa, sudah 60 tahun bangsa ini terlepas dari cengkeraman ganas penjajahan Belanda yang berlangsung hingga 350 tahun dan saudara tua Jepang selama 3,5 tahun. Menurut catatan sejarah, kemerdekaan yang kita rayakan setiap tanggal 17 Agustus ini bukan merupakan hadiah cuma-cuma sang penjajah yang ganas dan bengis itu, melainkan harus direbut dengan mengorbankan jutaan nyawa anak bangsa.

Sejarah menunjukkan bahwa selama 60 tahun usia kemerdekaannya, rakyat Indonesia terus mengalami berbagai macam dinamika dalam berbangsa dan bernegara. Ada dinamika yang positif dan membanggakan, namun sayangnya lebih banyak yang negatif dan membuat negara ini menjadi semakin bangkrut dan terpuruk.

Banyak elit dan politikus selalu mendengungkan idiom keramat negara kesatuan, yang menurut mereka berada di atas segala-galanya dan harus dibela mati-matian, ketika menghadapi sebuah pergolakan, perasaan tak puas atau gerakan separatis di sebuah daerah. Mereka selalu mengatakan bahwa bentuk negara kesatuan adalah sebuah keputusan yang final dan merupakan amanah dari the founding fathers Republik Indonesia dan seolah-olah merupakan pilihan dan alternatif yang paling baik dan sempurna di muka bumi Indonesia sehingga menutup kemungkinan membicarakannya bahkan telah dikategorikan sebagai salah satu alergen (pencetus alergi) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akibatnya, banyak di antara para pemimpin dan politikus di negara bernama Republik Indonesia yang menderita ketakutan berlebihan (paranoid). Ketika ada sekelompok masyarakat di suatu daerah menggeliat karena merasakan ketidakadilan atau ketakpuasan yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh pemerintah pusat -dimana hasil kekayaan alam mereka disedot habis-habisan, sementara kesejahteraan diabaikan- mereka dianggap sebagai musuh yang harus diberantas habis. Pemerintah pusat pun dengan sigapnya menurunkan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia untuk mengadakan sebuah operasi teritorial demi meredam sesuatu yang menurut pendapat saya adalah suatu reaksi wajar dari masyarakat yang terabaikan dan terpinggirkan, dimana sebenarnya kesalahan terbesar adalah milik pemerintah pusat itu sendiri. Apa salahnya kalau kita menggugat sebuah ketidakadilan? Apakah kita harus berpegang pada prinsip: "pejah gesang nderek sampeyan, suarga nunut neraka katut"?

Rakyat yang vokal dan suka bertanya bukanlah musuh yang harus dimusnahkan dan dibasmi. Rakyat yang pasrah dan nrimo bukanlah kaum yang harus dihisap darahnya dan ditakut-takuti hidupnya. Mereka semua adalah bagian dari sebuah bangsa merdeka bernama Indonesia. Mereka punya rasa patriotis dan nasionalis yang tidak kalah jika dibandingkan dengan para tentara. Bukan hanya tentara yang cinta pada bangsa ini, bukan hanya tentara yang bisa dan bersedia bela negara, bukan! Juga bukan hanya para elit dan politikus saja. Kita semua yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, asli atau keturunan, asal bukan penjilat, pencuri harta negara, dan koruptor laknat, punya rasa patriotis dan nasionalis yang sama.

Kasus gerakan separatis di Aceh, Riau, Papua dan beberapa daerah lainnya, menurut pendapat saya, benih awalnya tidak terlepas dari kesalahan dan ketidakadilan pemerintah pusat yang mereka rasakan. Ambil kasus Aceh, sudah berapa banyak kekayaan alam mereka yang disedot pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Setahu saya, rakyat Aceh termasuk yang getol dalam membela kemerdekaan RI. Bahkan di jaman Soekarno, pada tahun 1948, mereka rela menyumbangkan pesawat RI-001 Seulawah yang dibeli dari hasil pengumpulan hasil bumi rakyat Aceh yang setara dengan 20kg emas. Demikian juga dengan kasus Papua, berapa banyak bijih logam yang sudah dikeruk pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Kalau mau adil, seharusnya rakyat Aceh, Papua atau daerah kaya lainnya lah yang lebih banyak menikmati kekayaan alam yang mereka miliki tersebut. Atau jika memang kekayaan alam yang ada di suatu daerah akan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia sesuai dengan amanah UUD'45 -yang begitu kita sakralkan pasal-pasalnya tetapi selalu kita abaikan dalam implementasinya- kita harus sadar bahwa rakyat Indonesia itu bukan hanya ada di Jakarta atau Pulau Jawa saja.

Sekarang, mari kita coba untuk membandingkan pembangunan yang ada di Pulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini secara jujur. Adakah anda melihat ke-jomplang-an di situ? Kalau kita jujur, pasti akan menjawab "ya!" Ketidakmerataan dan ketidakadilan terlihat secara tegas, jelas, dan bisa dilihat dengan mata telanjang. Seharusnya pemerintah pusat sadar dan para elitnya bisa belajar dari pengalaman nenek moyangnya yang terjajah selama 350 tahun oleh Belanda -atau mungkin nenek moyang para elit tersebut bukan termasuk orang yang terjajah karena bersedia bekerjasama dengan para kumpeni?- bahwa jika seseorang merasakan ketidakadilan secara terus menerus dan diabaikan hak-haknya, maka ia pasti akan mencoba untuk melawan ketidakadilan tersebut. Semut pun akan menggigit ketika ia terinjak.

Baru saja kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-60. Usia 60 saya kira bukanlah usia yang terlalu muda untuk sebuah negara merdeka. Seharusnya kita sudah cukup kenyang merasakan asam dan garam dinamika kemerdekaan. Dan seharusnya kita juga sudah cukup banyak belajar selama 60 tahun mengarungi kemerdekaan ini, sama seperti halnya dahulu kita pernah banyak belajar selama 350 tahun menjadi bangsa yang terjajah. Kita dapat merasakan, sampai ke tulang sumsum kita, betapa tidak enaknya menjadi bangsa yang terjajah. Dan kita pun pernah sama-sama bersatu untuk mengusir para penjajah di masa silam. Maka dari itu, di jaman kemerdekaan seperti sekarang ini, janganlah kita secara tidak sadar menjadi penjajah bagi anggota keluarga Negara Republik Indonesia yang lain. Jangan sampai orang-orang di Aceh atau Papua merasa bahwa mereka masih dijajah oleh bangsa Jawa, karena semua kekayaan alam yang mereka miliki disedot dan dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di Jawa, sementara mereka hanya diberi bualan-bualan kosong dan ditindas ketika mempertanyakan hak mereka.

Untuk apa pusat mempertahankan idiom negara kesatuan kalau yang dirasakan oleh daerah adalah sebuah penjajahan. Marilah kita nikmati kemerdekaan ini secara bersama-bersama. Jangan serakah untuk menikmatinya sendirian saja, marilah kita berbagi! Jangan menunggu hingga semua propinsi yang tak puas dan merasa terjajah menuntut adanya referendum baru kita menyesali kebodohan yang telah kita perbuat.

merdekaaa pak!

iya nih, saya nggak mau papua ikutan aneh2. rugi berat buat penyelam...papua khan surganya penyelam :) timor leste aja surganya penyelam juga, sayang kalo mo nyelam ditimor leste sekarang mesti pake paspor...hiks

paus itu berasal dari bahasa belanda pak

merdekaaaa oom !

hehehe... waah andainya gak ada belanda gimana yah..
ck ck ck..
sekarang ini pasti yg kaya bukan belanda tapi indonesia
*dengan syarat minimal yg korup 10% lah*

kekekek
sukses lomba entry nyaaa
^__^

Bener kata Bung Karno, pak:

Musuh di jamanku adalah penjajahan
Sedangkan musuh di jamanmu adalah bangsamu sendiri


begitu kalo gak salah

sukses ya pak lomba entrynya ;)

Peserta, entry lomba di blog ini, panitia posting juga di blog khusus http://lomba-blogfam.blogspot.com untuk keperluan kemudahan member Blogfam dalam memilih 'pemenang favorit lomba entry 17-an Blogfam' yang akan dilaksanakan pada 26-29 Agustus 2005 di Galery Kreasi Blogfam. Mengingat jumlah peserta lomba entry mencapai 61 peserta. Pesan ini sebagai pemberitahuan. Terima kasih atas partisipasi dan kesediaannya. Selamat Berlomba ;)

salam kenal juga OM..
hehehe
merdeka gak merdeka yg penting anggap ajalah udah merdeka! ^__^

euheuheue
yah bapak pembangunan dah jadi macan tua, tp tetep masih ada kroni2nya macan2 muda yg siap menerkam,
hahaahahah... tp ya bebas berpendapat kok, macan tua gak bisa semaunya dia lagi...
hehehehe

*nungguin nih surat wasiatnya bapak pembangunan, hartanya kemana yaks* hahahaha

Mas Agus,

Setuju banget ama tulisannya. Ketakutan yang berlebihan. Sebenernya pemecahan masalahnya cuman satu. "Pemerataan Pembangunan". Mo kita Negara Kesatuan kek bentuknya mo kita Negara Federasi kek tapi gak merata, sami mawon.

Honestly, baru blog ini yang aku baca yang tetep bilang Indonesia itu udah merdeka dan akan tetep merdeka.

Masalah kita blom merdeka financial, blom merdeka hak asasi, blom merdeka hukum dan peradilan, itu kan merdeka yang laen.

Sama persis muatan politisnya dengan quote yg Linda tulis: "Masa Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno?"

So, aku memang bodoh karena hari ini bangsaku masih miskin, masih penuh korupsi, masih tidak memperdulikan sesama dan tidak mengatasnamakan hukum.

Merdeka!

Merdeka, Pak!
Saya juri lomba entry blogfam. Semoga menang ya!.

Merdeka!!
Permisi, ceritanya ini juri numpang lewat. hehe Makasih ya sudah ikutan lomba..

terimakasih buat oom juri yang udah pada mampir, juga buat men-temen yang lain atas komentarnya. pokoke "sekali merdeka tetap merdeka!"

merdeka juga, gus. semoga merdeka merasakan arti merdeka. :)

wah.. 2 pak juri udah lewat ya. ikutan lewat deh. makasih banyak udah ikutan lomba 17-an blogfam. :)

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares