« Home | Ketika rumah bak penjara » | Kembali ke Kehidupan Nyata » | Wajah Baru » | Si Ucok » | P4 100-jam » | Biggoser diwisuda » | Perempuan dalam Islam » | Zaman Batu dan Pornografi » | Sering Ngibul Siih! » | Nduableg dan Nggak Mutu » 

Friday, August 12, 2005 

Nasir dari Bone

Ini adalah cerita tentang seorang kawan yang tinggal di daerah Bone, Sulawesi Selatan. Kawan ini bernama Nasir. Pada suatu ketika ia diajak oleh kakaknya -yang sudah bekerja dan menetap lama di Jakarta- untuk mengisi masa liburan SMAnya dengan mengunjungi ibukota Indonesia ini. Alangkah senangnya Nasir mendapatkan tawaran itu. Dalam angannya, ia selalu bermimpi untuk bisa mengunjungi kota metropolitan tersebut.

Akhirnya, dengan menaiki kapal laut, pergilah Nasir ke Jakarta bersama kakaknya. Singkat cerita, sampailah Nasir di ibukota yang megah tersebut. Ia berdecak kagum melihat bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, jalan yang bertingkat-tingkat, berbagai jenis mobil yang lalu-lalang tiada henti, orang-orang kota dengan gaya modernnya, patung-patung dan monumen megah peninggalan masa pemerintahan Bung Karno, dan lain-lain yang tidak bisa dijumpai di daerahnya.

Melihat adiknya yang begitu antusias dengan kemegahan Jakarta, sang kakak tentu merasa senang. Di sela-sela waktunya yang sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk mengajak adiknya berjalan-jalan. Suatu hari, Nasir diajak oleh kakaknya untuk berjalan-jalan di pusat pertokoan yang ramai dan banyak dijadikan tempat JJS (jalan-jalan sore) dan BLOK-M (bakal lokasi mejeng) ABG (anak baru gede).

Dengan sedikit meniru gaya anak Jakarta yang sering ia lihat dari acara sinetron di televisi, maka Nasir pun dengan penuh percaya diri dan happy berjalan-jalan di pusat pertokoan tersebut. Setelah lelah berjalan-jalan dan cuci mata, sang kakak pun mengajak Nasir untuk duduk istirahat sambil menikmati makanan cepat saji di sebuah rumah makan yang ramai dijadikan ajang nongkrong ABG. Mereka memilih tempat duduk yang kebetulan bersebelahan dengan beberapa cewek yang kalau dilihat dari gayanya adalah anak-anak SMA.

Sambil menikmati makanan yang telah dipesan, Nasir sesekali mencoba mencuri pandang untuk melihat cewek-cewek yang sedang asyik mengobrol tersebut. Kadang-kadang saking terpesonanya dengan gaya ABG metropolitan, Nasir suka lupa kalau dia sedang mencuri pandang. Akibat curi-curi pandang Nasir yang kebangetan tersebut, cewek-cewek yang diperhatikan oleh Nasir pun menjadi keki dan sedikit sebel. Tanpa ba-bi-bu, seorang cewek di antara mereka yang merasa risih dipandangi terus oleh Nasir seperti itu langsung saja berteriak kepada Nasir:

"Apa lu liat-liat! Naksir gua ya?"

Nasir sedikit tergagap mendengar teriakan cewek tersebut, tapi memang dasar cowok yang polos, dia pun menjawabnya dengan santai:

"Oh iya betul, nama saya Nasir. Tapi saya bukan dari Gowa! Saya Nasir dari Bone!"

Tak kepalang lagi, para cewek itu pun cekikikan mendengar jawaban Nasir yang polos tersebut, sedangkan Nasir hanya bisa bengong melihat reaksi mereka yang dirasa aneh olehnya.

Setelah seminggu tinggal di Jakarta, Nasir sudah mulai bisa berjalan-jalan sendiri tanpa harus ditemani oleh kakaknya. Kali ini ia ingin berjalan-jalan mencoba bus kota yang ada di Jakarta. Setiap naik bus kota, ia selalu heran:

"kenapa para abang sopir bus itu selalu berhenti ketika lampu lalu lintas berwarna hijau dan tancap gas justru ketika lampu lalu lintas berwarna merah?" tanyanya dalam hati keheranan.

Suatu waktu, ia pun mendapatkan kesempatan duduk di kursi dekat sopir. Ketika bus sedang berhenti saat lampu lalu lintas berwarna hijau, ia pun memberanikan diri untuk bertanya kepada si sopir:

"bang, kenapa sih abang berhenti justru waktu lampu lalu lintas berwarna hijau?" tanyanya penasaran.

Si abang sopir pun menjawab sekenanya (dengan logat Bataknya yang kental):

"soalnya abangku dari arah yang lampu lalu lintasnya berwarna merah sedang tancap gas bang, makanya aku berhenti waktu lampu lalu lintas di depanku berwarna hijau! tak enak lah, nanti kalau tabrakan aku pula yang kena marah!".

Nasir pun hanya bisa mengangguk tak mengerti.

(garing...!)

hihihi... kasian ah si Nasir...

diteruskan ya ceritanya... menarik bagi pembaca bule, soalnya ini kan tentang "clash of cultures" yang terjadi di dalam satu budaya...

btw... garing tuh apa artinya?

garing itu artinya nggak lucu... hehehe...

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares