« Home | Word's file corrupt! » | Posting dgn Firefox » | Hari ini aku berpuisi » | Mood yang Hilang » | Amerika dan Papua » | Ali... Ali... » | Firefox vs IE » | Trotoar » | Luxus Leben » | Hikmah Republika hari ini » 

Thursday, August 04, 2005 

Nduableg dan Nggak Mutu

Kenapa sih orang pada ngeributin studi bandingnya anggota dewan yang terhormat ke beberapa negara di Eropa? Ada yang ribut dengan alasan katanya parlemen di Eropa sedang reses di musim panas ini, jadi nggak mungkin para peserta studi banding bisa ketemu sama anggota parlemen. Ada lagi yang bilang bahwa studi banding ini sebenernya cuman alasan anggota dewan supaya bisa pesiar dan shopping ke luar negeri, apalagi ini ke Perancis dan Belanda!

Saya mah sebenernya nggak mau ikutan ribut, soalnya yang namanya studi banding itu sudah dari dulu dijadiin tradisi para pejabat kita. Sama dengan tradisi pengadaan pakaian dinas dan pakaian olah raga untuk pejabat. Sama juga dengan pengadaan mobil dan rumah dinas untuk pejabat. Jadi, kalau cuman sekedar diributin, ujung-ujungnya yang ngeributin bakalan dongkol sendiri. Baca nggak kemaren di Kompas, bagaimana uang anggaran untuk seragam jauh lebih besar dari pada untuk pengendalian busung lapar di Bengkulu?

Dan terbukti kan? Mau diributin sampe ributnya nyaingin pasar Tanah Abang juga, studi banding mah harus tetap jalan. Ada aja kan alesannya, yang katanya udah diatur sejak lama lah, anggaran yang sudah lama cair lah, udah ini lah, itu lah. Pokoknya wes ewes ewes lah...

Terus ada yang nanya: "kalau gitu gimana dong? " Masa dibiarin aja? Saya juga nggak tahu gimana jalan keluarnya. Kali ya catet aja namanya dan dari partai mana dia berasal, terus pemilu depan ya nggak usah dipilih lagi deh. Pilih partai lain yang nggak kaya gitu (huuu.... kampanye nih ye...! eh emang tahu partai mana yang nggak kaya gitu? *lol*). Kan pemilu masih lama? Masa kita harus nunggu selama itu? mana tahaann deh ya...!

Eh... ngurusin badan yang gendut aja perlu diet yang lama, itu juga belum tentu berhasil. Banyak godaan! Apalagi ini, sudah mentradisi! Ngelupain pacar lama aja susah, berhenti ngerokok aja susah. Lho koq, jadi kemana-mana gitu? Eh ini cuman ngasih contoh aja. Sekedar ngasih ilustrasi bahwa untuk ngerubah sesuatu yang sudah jadi budaya dan kebiasaan itu tidak semudah ngebalik telor mata sapi di penggorengan! Jadi harus bersabar.

Tahu kan artinya sabar? Sabar itu bukan ngelus dada atau diem pasrah atau ribut-ribut nggak jelas. Sabar itu artinya terus berusaha secara konsisten dan berkesinambungan serta tidak mudah berputus asa. Dengan mencatat nama-nama anggota dewan yang nggak peka dan nduableg itu beserta nama partainya, berarti kan sebenarnya kita sedang memfilter sumberdaya manusia (sdm) dan partai-partai yang berkualitas rendah. Nah selanjutnya, kita sosialisasikan ke saudara-saudara kita, tetangga kita, temen kantor kita dll nama-nama orang dan partai yang berkualitas rendah tersebut dan kasih judul dengan tulisan besar "daftar nama orang dan partai yang jangan dipilih di pemilu mendatang karena nduableg dan nggak mutu". Kalau perlu, posting ke blog. Seru kan! Gimana?

Lambat laun, orang-orang nduableg dan partai-partai nggak mutu seperti itu akan tersisih dari peredaran dan persaingan. Mereka akan masuk ke dalam kategori spesies yang "tidak perlu dilindungi dan terancam punah".

Saya jadi inget semboyan: "mulailah dari yang sederhana, mulailah dari diri sendiri, dan mulailah sekarang juga".

hihi bapak2 itu belom pernah baca blog kali. jd kesensitipannya tertutupi.
met kenal mas agus. apa kabar jerman?
-maknyak-
http://serambirumahkita.blogspot.com

@Maknyak: kabar baik Maknyak. Jerman juga baik-baik aja, enak tinggal di sini...

Post a Comment

My Digest