« Home | Staf ahli, staf khusus dan PNS » | Nasir dari Bone » | Ketika rumah bak penjara » | Kembali ke Kehidupan Nyata » | Wajah Baru » | Si Ucok » | P4 100-jam » | Biggoser diwisuda » | Perempuan dalam Islam » | Zaman Batu dan Pornografi » 

Monday, August 15, 2005 

Negara kesatuan dan separatisme

Banyak para politikus selalu mendengungkan idiom negara kesatuan di atas segala-galanya ketika menghadapi sebuah pergolakan atau gerakan separatis di sebuah daerah. Seolah-olah, bentuk negara kesatuan adalah pilihan dan alternatif yang paling baik dan sempurna di muka bumi Indonesia. Mereka selalu mengatakan bahwa bentuk negara kesatuan adalah sebuah keputusan yang final dan merupakan amanah dari the founding fathers Republik Indonesia.

Akibatnya, banyak di antara para pemimpin dan politikus di negara bernama Republik Indonesia yang menderita paranoid. Ketika ada sekelompok masyarakat di suatu daerah menggeliat karena merasakan ketidakadilan yang telah bertahun-tahun dilakukan oleh pemerintah pusat -dimana hasil kekayaan alam mereka disedot habis-habisan, sementara kesejahteraan diabaikan- mereka dianggap sebagai musuh yang harus diberantas habis. Untuk itu, kita tidak perlu merasa heran jika Angkatan Bersenjata Republik Indonesia membentuk komando teritorial di seluruh wilayah di Indonesia. Konsep ini, kalau menurut saya, sama saja dengan menganggap rakyat sebagai "musuh" yang harus diwaspadai dan diamati setiap saat.

Saya masih ingat, ketika jaman orde baru, betapa peran tentara begitu kuatnya di desa-desa dalam segala aspek kehidupan. Masyarakat yang sedikit nyeleneh akan langsung diamankan dengan cap PKI atau pemberontak, padahal apa sih salahnya kalau kita menggugat sebuah ketidakadilan? Apakah kita harus berpegang pada prinsip: "pejah gesang nderek sampeyan, suarga nunut neraka katut".

Mohon maaf, saya bukannya sedang mencoba menghasut dan atau menebar kebencian supaya orang benci pada tentara. Sebagai negara yang berdaulat dan mempunyai cakupan wilayah yang luas, kita perlu tentara sebagai basis pertahanan negara. Saya selalu mendambakan Republik Indonesia memiliki sebuah angkatan bersenjata yang kuat dan disegani, dan lebih dari itu cinta kepada rakyat. Rakyat yang vokal dan suka bertanya bukanlah musuh yang harus dimusnahkan dan dibasmi. Rakyat yang pasrah dan nrimo bukanlah kaum yang harus dihisap darahnya dan ditakut-takuti hidupnya. Mereka semua adalah bagian dari sebuah bangsa merdeka bernama Indonesia. Mereka punya rasa patriotis dan nasionalis yang tidak kalah jika dibandingkan dengan para tentara. Bukan hanya tentara yang cinta pada bangsa ini, bukan hanya tentara yang bisa dan bersedia bela negara, bukan! Juga bukan hanya para elit saja. Kita semua yang mengaku sebagai warga negara Indonesia, asli atau keturunan, asal bukan penjilat dan koruptor laknat, punya rasa patriotis dan nasionalis yang sama.

Maka dari itu, saya ingin memberi 'nasehat' kepada para birokrat, politikus, jenderal dan anak buahnya, LSM dan kawan-kawannya, janganlah merasa anda yang paling patriotis dan nasionalis di muka bumi Indonesia ini! Apalagi kalau anda hanya bisa ngurusin urusan pribadi dan golongan saja, rebutan kekayaan dan kekuasaan, atas nama rakyat pula! Bikin malu! Untuk anda yang masih seperti itu, lebih baik anda istirahat saja, banyaklah bertobat mumpung masih diberi waktu, atau jika tetap ngotot ingin terus berkecimpung, ambilah beberapa SKS mata kuliah moral dan etika yang ada praktikumnya.

Kembali ke masalah semula, kasus separatis di Aceh, Papua dan beberapa daerah lainnya, saya pikir awalnya tidak terlepas dari ketidakadilan pemerintah pusat yang mereka rasakan. Ambil kasus Aceh, sudah berapa banyak kekayaan alam mereka yang disedot pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Setahu saya, rakyat Aceh termasuk yang getol dalam membela kemerdekaan RI. Bahkan di jaman Soekarno, mereka rela menyumbangkan pesawat RI-001 Seulawah.
Pada tanggal 16 Juni 1948, di Aceh Hotel Kutaraja, Presiden Soekarno berhasil membangkitkan patriotisme rakyat Aceh. Gasida (Gabungan Saudagar Daerah Aceh) yang diketuai Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji, berhasil dikumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh berupa hasil bumi setara dengan 20 kg emas. Dana tersebut kemudian digunakan untuk membeli pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh itu kemudian diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti "Gunung Emas" sumbangan Aceh. Pesawat Douglas DC-3 ini diproduksi oleh Douglas Aircraft Company tahun 1935. DC-3 "Seulawah" yang memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 meter memang berperanan besar dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran Dakota RI-001 Seulawah mendorong dibukanya jalur penerbangan dalam negeri khususnya Jawa-Sumatera, bahkan hingga ke luar negeri untuk melakukan layatan hubungan luar negeri yang bebas dan aktif.

sumber: Aceh Media Center
Demikian juga dengan kasus Papua, berapa banyak bijih logam yang sudah dikeruk pemerintah pusat dan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran Jakarta? Kalau mau adil seharusnya rakyat Aceh, Papua atau daerah kaya lainnya lah yang lebih banyak menikmati kekayaan alam yang mereka miliki tersebut. Atau jika memang kekayaan alam yang ada di suatu daerah akan digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat Indonesia, kita harus sadar bahwa rakyat Indonesia itu bukan hanya ada di Jakarta atau Pulau Jawa saja.

Sekarang, mari kita coba untuk membandingkan pembangunan yang ada di Pulau Jawa dengan pulau-pulau lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini secara jujur. Adakah anda melihat ke-jomplang-an di situ? Kalau kita jujur, pasti akan menjawab "ya!" Ketidakmerataan dan ketidakadilan terlihat secara tegas, jelas, dan bisa dilihat dengan mata telanjang. Dimana-mana, dan ini sesuai dengan kaidah hukum alam, kalau seseorang merasakan ketidakadilan secara terus menerus, maka ia akan mencoba untuk melawan ketidakadilan tersebut. Semut pun akan menggigit ketika ia terinjak.

Sebentar lagi kita akan merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-60. Usia 60 saya kira bukanlah usia yang terlalu muda untuk sebuah negara merdeka. Seharusnya kita sudah cukup kenyang merasakan asam dan garam dinamika kemerdekaan. Dan seharusnya kita juga sudah cukup banyak belajar selama 60 tahun mengarungi kemerdekaan ini, sama seperti halnya dahulu kita pernah banyak belajar selama 350 tahun menjadi bangsa yang terjajah. Kita dapat merasakan, sampai ke tulang sumsum kita, betapa tidak enaknya menjadi bangsa yang terjajah. Dan kita pun pernah sama-sama bersatu untuk mengusir para penjajah di masa silam. Maka dari itu, di jaman kemerdekaan seperti sekarang ini, janganlah kita secara tidak sadar menjadi penjajah bagi anggota keluarga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lain. Jangan sampai orang-orang di Aceh atau Papua merasa bahwa mereka masih dijajah oleh bangsa Jawa, karena semua kekayaan alam yang mereka miliki disedot dan dinikmati oleh orang-orang yang tinggal di Jawa, sementara mereka hanya diberi bualan-bualan kosong dan ditindas ketika mempertanyakan hak mereka.

Untuk apa pusat mempertahankan idiom negara kesatuan kalau yang dirasakan oleh daerah adalah sebuah penjajahan. Marilah kita nikmati kemerdekaan ini secara bersama-bersama. Jangan serakah untuk menikmatinya sendirian saja, marilah kita berbagi!

Mari ... berbagi benar sekali ,mereka serasa di anak tirikan oleh pemerintah pusat yg nota bene berada di Jawa !

Mari kita bernegara secara sehat

MERDEKA

Mari bung rebut kembali
:p

Jaman sekrang - kyakanya garus jadi agen ganda, rebut kembali jalan terus, sementara diplomasi manis dan bener2 ngebangun daerah konflik agar makmur juga harus - kalau nggak malah di caplok asing sekalian, dan jadilah itu negara boneka... lesson's learned the hardway! - liat deh Afrika itu contoh klasik dari dulu yang udah berjalan terus didepan hidung kita..masak sih gak nyadar? :)

Anyhow, mudah2an tulisan ini bisa bikin banyak mata dan hati yang sadar.. salam hangat dari Afrika barat!:)

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares