« Home | Biggoser diwisuda » | Perempuan dalam Islam » | Zaman Batu dan Pornografi » | Sering Ngibul Siih! » | Nduableg dan Nggak Mutu » | Word's file corrupt! » | Posting dgn Firefox » | Hari ini aku berpuisi » | Mood yang Hilang » | Amerika dan Papua » 

Sunday, August 07, 2005 

P4 100-jam

Malam ini saya teringat akan masa-masa awal ketika saya diterima kuliah di Bandung 16 tahun silam. Waktu itu tanggal 5 Agustus 1989, bertepatan dengan hari ulang tahun saya, kami mahasiswa baru memulai Penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pola 100 jam. Pembukaan acara penataran dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri Rudini yang disambut dengan demonstrasi oleh para mahasiswa. Demonstrasi ini berbuntut pemecatan terhadap 9 mahasiswa, skors 1-4 semester kepada 30 mahasiswa, dan peringatan keras kepada 4 mahasiswa. Waktu itu yang menjabat sebagai rektor adalah Prof. Ir. Wiranto Arismunandar.

Bagi saya, yang lulusan SMA dari sebuah kota kecil bernama Purwokerto, pemandangan acara demonstrasi mahasiswa dengan pembakaran ban dan pemasangan tiang gantungan adalah sesuatu yang benar-benar baru. Apalagi di jaman orde baru, dimana stabilitas nasional menjadi prioritas utama. Jangankan demonstrasi, mengadakan acara seminar pun pada saat itu harus mengantungi ijin dari Bakorstanas (Badan Koordinasi Stabilitas Nasional) atau Bakorstanasda.

Dalam mengikuti penataran P4, mahasiswa baru diwajibkan untuk memakai seragam putih-putih dengan sepatu hitam. Penataran P4 ini buat saya adalah yang ke-2. Penataran P4 juga pernah saya rasakan ketika masuk SMA, tetapi dengan waktu yang lebih singkat (penataran P4 terbagi menjadi beberapa pola mulai dari pola 25 jam hingga 100 jam). Acara dimulai dari pagi hari pukul 07:00 hingga sore hari (saya lupa hingga pukul berapa, 16:00 kalau tidak salah). Para peserta diberi makan siang. Acara penataran dibagi ke dalam kelas-kelas kecil dan kelas bersama. Untuk kelas bersama diadakan di GSG (Gedung Serba Guna), yang merupakan gedung dengan kapasitas terbesar yang ada pada saat itu. Sementara itu untuk kelas-kelas kecil diadakan di ruang-ruang kuliah seperti TVST. Masing-masing kelas beranggotakan sekitar 50 mahasiswa. Acara diisi dengan pemberian materi oleh para petatar yang biasanya dilanjutkan dengan diskusi kelompok, debat dan lain-lain mengenai butir-butir Pancasila dan kawan-kawannya.

Secara umum, acara penataran seperti ini sangat membosankan, tapi mau tidak mau sebagai mahasiswa baru kami harus mengikutinya. Kalau tidak bisa atau tidak mau mengikutinya, kami harus mengulangnya di acara penataran tahun depan. Hal utama yang sangat membosankan adalah karena kami harus menjadikan 36 butir-butir Pancasila dan kawan-kawannya itu sebagai sesuatu yang benar-benar sempurna dan tanpa cacat. Untung saja, kebosanan ini bisa kami hilangkan dengan berbagai cara seperti membaca serial kungfu Kho Ping Ho atau bacaan-bacaan lainnya, mencuri-curi waktu untuk bercanda dan ngobrol jika yang menjadi petatar tidak terlalu galak, dan lain-lain.

Bandung waktu itu adalah kota pertama di luar Purwokerto atau Kabupaten Banyumas yang saya kunjungi. Pertama kali ke Bandung kami (saya dan ayah) menumpang di rumah seseorang yang memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat jauh yang tinggal di belakang gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) di Jalan Jakarta. Selanjutnya, setelah menumpang di rumah itu selama beberapa hari, sebelum mendapatkan kos-kosan selama masa penataran, saya menumpang di kamar kos kakak angkatan waktu di SMA yang kuliah di Jurusan Tekhnik Kimia. Letak kos-kosan dia berada tidak jauh dari terminal Sadang Serang. Sayangnya saya lupa dengan nama kakak angkatan saya ini, yang menurut kabar yang saya dengar tidak berhasil menyelesaikan kuliahnya.

Selesai acara penataran barulah saya sempat mencari kos-kosan, dimana akhirnya mendapatkan kamar di samping Pasar Balubur di pinggir Sungai Cikapayang, dekat tempat pemotongan ayam. Saya sekamar berdua dengan Marlan Ompusunggu yang biasa dipanggil si Ompung ( artinya kakek (?) ) mahasiswa dari Jurusan Kimia. Hal pertama yang harus kami lakukan setelah mendapatkan kamar kos adalah membeli meja belajar, kasur dan atau tempat tidur yang banyak dijual di sepanjang Jalan Tamansari karena kamar kos biasanya disewakan dalam keadaan kosong tanpa perabotan.

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares