« Home | Lagi-lagi OSPEK » | Komputer Amphibix » | Kalau » | Seandainya... » | Mari Berbagi Kemerdekaan » | HUT RI dan loncatan kuantumku » | Negara kesatuan dan separatisme » | Staf ahli, staf khusus dan PNS » | Nasir dari Bone » | Ketika rumah bak penjara » 

Monday, August 29, 2005 

PraJab CPNS

Inget OSPeK jadi inget PraJab CPNS (Pra Jabatan Calon Pegawai Negeri Sipil). Dua event yang secara umum (menurut saya dan di jaman saya) hampir sama aja.

Sebelum jadi PNS, CPNS harus menjalani apa yang disebut sebagai prajab. Jaman dulu, prajab katanya biasa2 aja, seperti acara kursus intensif. Di jaman militer berkuasa di segala bidang, prajab berubah menjadi "sangar". Kegiatan prajab dilakukan di kamp tentara dengan gaya tentara dan menunya pun menu tentara. Saya kurang tahu di jaman semi sipil seperti sekarang ini, prajab ala tentara masih diterapkan atau sudah diganti dengan gaya baru. Mudah-mudahan aja sudah diganti, dengan bentuk yang lebih pas dan cocok.

Di jaman saya prajab, kegiatan dipusatkan di Rindam Jaya (Resimen Induk Kodam Jaya). Para peserta adalah semua CPNS dari lembaga pemerintah di Jakarta. Seminggu sebelum prajab dimulai, semua peserta dibagikan perlengkapan prajab: sepatu tentara dan pakaian hijau tentara (seragam harian dan pakaian olahraga). Kegiatan prajab dilakukan menjadi beberapa gelombang karena banyaknya peserta dan terbatasnya asrama yang bisa ditempati. Pada hari H, peserta prajab laki-laki sudah harus punya potongan rambut ala tentara alias botak. Banyak yang coba-coba menghindari cukur botak, alias hanya dipotong cepak saja, namun ternyata usaha itu sia-sia belaka, karena sebelum masuk kamp ada penyortiran ulang oleh bapak tentara yang bertampang sangar dan bikin ciut nyali. Yang nggak lulus sortir harus pergi ke suatu tempat yang tidak jauh dari lokasi sortir dimana di sana sudah menunggu beberapa "tukang jagal" yang siap membabat habis rambut di kepala. Satu menit beres, kepala langsung botak.

Menu setiap hari prajab cukup bikin capek, bangun jam 4 pagi harus sudah siap pakai pakaian olah raga dan pergi ke tanah lapang untuk berolahraga selama 1 jam. Mulai dari peregangan sekitar 15 menit, diteruskan dengan lari pagi keliling kompleks sekian putaran selama 30 menit, dan diakhiri dengan pelemasan kembali 15 menit. Istirahat shalat subuh (buat yang shalat) dan cebar-cebur mandi pagi masal di sebuah kamar mandi yang besar (tentunya dipisah laki2 dan perempuan, kalau nggak bisa gawat!). Pokoknya harus bisa cuek mandi barengan saling mempertontonkan "pedang". Buat yang biasa setor pagi, harus rela antri sambil pegang perut karena jumlah WC terbatas. Juga harus siap setor gerak cepat karena jumlah pelanggan cukup banyak dan siap menggedor pintu kalau pelanggan yang sedang asyik di dalam melewati batas waktu rata-rata setor.

Selesai mandi masih harus rapi-rapi barak. Tempat tidur, lemari, rak sepatu, dll. semuanya harus rapi. Ketahuan ada salah satu yang nggak rapi, semua penghuni harus siap menerima hadiah push up. Push up hukuman beda sama push up olahraga. Ketika posisi badan sedang di bawah, harus siap nahan selama beberapa hitungan. Kalau ada satu orang yang nggak kuat nahan dan badannya jatuh menyentuh tanah, hukuman pun diulang. "Nikmat tenan!" kata Pak Sersan.

Acara berikutnya, makan pagi. Sebelum makan harus baris dulu buat apel pagi. Kami selalu berdoa, semoga apel pagi bisa berjalan lancar supaya bisa segera sarapan pagi. Menunya jangan ditanya. Pokoknya sedap, apalagi kalau habis capek olahraga. sepiring nasi, sayur yang cukup banyak, dan sedikit ikan (biasanya pindang atau teri) atau daging yang seringkali cukup alot dan sebuah pisang ambon agak kecil. Makan harus bersama dan selesai pun harus bersama. Semua harus habis. Buat mbak2 atau mas2 yang makannya sedikit, harus bisa nyari temen yang gembul yang siap berbagi. Si mbak/mas happy, si gembul happy, yang lain pun happy karena tidak harus kembali dapet hadiah push up yang nikmat tenan.

Habis makan pagi , boleh istirahat sebentar. Yang suka merokok boleh merokok dulu, yang mau setor silahkan, yang masih mau makan lagi di warung belakang barak juga silahkan. Selesai istirahat 15 menitan, mulai masuk fasa membosankan, masuk ke ruang kelas dan siap mendengarkan ocehan bapak/ibu pengajar sipil dengan materi Pancasila, UUD '45, GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) dan kawan-kawannya. Lha gimana nggak bosen, dari mulai sekolah di SD sampai jadi PNS selalu aja dikasih materi yang itu-itu lagi. Waktu di ruang kelas sebenarnya adalah waktu ideal untuk tidur, sayangnya pak tentara sudah tahu kebiasaan buruk CPNS, jadi selalu saja ada patroli keliling. Yang ketangkep basah diajak keluar kelas, dikasih sedikit olahraga supaya matanya nggak ngantuk lagi.

Materi di kelas berlangsung dari pagi hingga sore hari, dipotong istirahat olahraga dan makan siang. Semakin tinggi matahari, semakin panas ruangan, semakin berat pula mata menanggung beban kantuk. Boro-boro ada materi dari pengajar yang masuk ke otak, malah sebaliknya materi lama yang ada di otak bisa menguap. Nasib CPNS!

Olah raga siang, minta ampun! Panas-panas harus lari keliling komplek dilanjut dengan push up di aspal panas. Lari sambil bernyanyi, bikin kerongkongan semakin kering. Selesai olahraga siang kembali harus masuk ruang makan. Beri hormat sebelum makan dan mulai makan siang dengan badan penuh keringat sehabis olahraga. Makan bercampur bau keringat, pokoknya "sedap nian!". Banyak mbak2 dan mas2 yang nggak tahan dan hilang nafsu makan, namun apa daya makanan harus tetap dimakan. Inilah yang disebut makan siang perjuangan!

Selesai materi di ruang, sore hari adalah materi outdoor bersama pak sersan. Semuanya harus serba gerak badan. Baris-berbaris, lari sore, senam, guling-guling di lapangan. Pokoknya nikmat tenan! Terus begitu sampai tiba waktu istirahat sore yang cukup lama. Waktu istirahat sore adalah waktu bertransaksi dengan ibu-ibu tukang cuci pakaian. Ibu-ibu rumah tangga yang rumahnya berada di sekitar kompleks Rindam Jaya panen order cucian kalau sedang ada prajab seperti ini. Pakaian seragam yang jumlahnya cuman 2 setel harus bergiliran dicuci supaya tetap punya baju yang bersih. Juga pakaian lainnya termasuk daleman. Buat yang suka minum jamu, mbok jamu yang cantik selalu menjadi pengunjung setia di sore hari dengan gendongan jamu di punggungya. Ada jamu kuat push up, tolak angin, dan lain-lain.

Setelah cebar-cebur mandi sore, acara selanjutnya makan malam dan ditutup dengan apel malam. Kalau lagi sial banyak dapat hukuman, ya ditambah dengan menu hukuman malam. Romantis deh, malem-malem masih suruh push up di aspal!

Akhir pekan, hari yang ditunggu-tunggu. CPNS boleh pulang ke rumah atau kos2an masing2. Yang males pulang, boleh juga tetap tinggal di barak. Yang pulang ke rumah atau kos2an harus lapor ke kantor polisi/tentara/RT/RW setempat dan minta cap di surat jalan. Yang nggak melengkapi aturan, siap2 dapat hukuman di hari Senin!

Begitulah sekelumit acara Prajab CPNS yang kalau saya nggak salah inget berlangsung selama 3 mingguan. Sebenarnya saya nggak sreg dengan prajab seperti ini, tapi mau gimana lagi. Kata orang bijak, semua pilihan ada konsekuensinya. Jadi PNS, konsekuensinya ya ikutan prajab. Ya dinikmati aja lah, hitung-hitung jadi nambah pengalaman dan jadi punya kenalan pak sersan dan pak letnan.

Ha..ha..ha..kocak abis. Yang saya ingat salah satu latihan perangnya adalah nyusur sungai Ciliwung di belakang Rindam terus masuk ke perkampungan ngelewatin got-got en bawah jembatan. Asli baru ngeh sampahnya bujubune..belum ranjau organiknya. Kalo kagak salah ada acara lewat bawah ‘helikopter’ bilik MCK segala. Waktu menyusuri got dieluelukan penduduk setempat.. ibu-ibu..anak-anak... en dikasih air + botol aqua. Terharu juga, serasa jadi pejuang yang baru nyergap patroli kumpeni terus disambut rakyat. (am always wondering if those who gave us water did it with the same idea in their mind). Balik ke Rindam disambut Ibu Ibu di kompleks yang rupanya sudah mendapat ’informasi intelijen’ en sudah standby dengan pakaian yang kemaren dicuci + menerima pakaian kotor, servis sikat sepatu dll. Kok latihannya ngga di hutan, sih? Kan kita di Jakarta, jadi musti latihan perang kota. Kok pake lewat dibawah jembatan? Iya, biar bisa ngumpet kalo pesawat musuh lewat. Oke deeehhh! Kata yang paling populer waktu itu: apatis, seperti dalam kalimat ”Kalian ini jangan apatis”, kalimat yang bisa dilontarkan tersendiri atau ditambahkan di belakang setiap keterangan mengenai kesalahan kami..asli apapun jenis kesalahannya... Kata ini seolah jadi pertanda bahwa sebentar lagi kami musti push-up atau menjalani hukuman lainnya.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares