« Home | Sering Ngibul Siih! » | Nduableg dan Nggak Mutu » | Word's file corrupt! » | Posting dgn Firefox » | Hari ini aku berpuisi » | Mood yang Hilang » | Amerika dan Papua » | Ali... Ali... » | Firefox vs IE » | Trotoar » 

Friday, August 05, 2005 

Zaman Batu dan Pornografi

Saya ini orangnya suka baca berita gosip selebritis. Dulu waktu masih di Indonesia, semua infotainmen saya tonton, saingan sama ibu mertua deh. Tentu heran juga yah, koq bisa-bisanya saya suka sama berita gosip.

Itu ceritanya panjang. Tapi saya kasih aja sedikit ringkasan alasan kenapa saya suka sama berita gosip. Hal itu tidak terlepas dari kebiasaan saya yang sejak umur 7 tahun sudah suka banget ngebaca. Masalah muncul ketika di rumah dan di sekitar lingkungan saya, yang ada hanyalah bacaan untuk mereka yang dewasa. Koran-koran seperti Pos Kota, Buana Minggu, Sinar Pagi Minggu dan sejenisnya yang suka dibaca oleh polisi dengan pangkat rendah seperti bapak saya atau majalah-majalah wanita seperti Kartini, Femina, dan lain-lain yang bisa didapat secara lungsuran dari tetangga di asrama. Ada juga kadang majalah anak-anak seperti Ananda atau Bobo, tapi majalah setipis itu bisa dilahap dalam waktu yang sangat singkat. Sementara itu di sekolah, jumlah buku-buku cerita yang bisa dipinjam juga sangat sedikit. Paling-paling hanya ada 1 lemari kecil. Itu pun dalam waktu yang singkat bisa langsung ludes terbaca.

Di antara para penghuni asrama polisi atau tentara kelas prajurit dan bintara, biasanya suka ada acara saling pinjam atau tukar bacaan-bacaan yang mereka miliki, karena harganya yang cukup mahal dan sayang kalau harus beli sendiri. Kadang-kadang bacaan-bacaan itu juga didapat dari kantor, dimana setelah orang-orang di kantor selesai membaca, ada saja prajurit atau bintara yang suka membawanya pulang untuk dijadikan oleh-oleh buat istrinya.

Begitulah, akhirnya saya pun terbiasa untuk membaca bacaan-bacaan dewasa dan gosip-gosip. Seluruh isi majalah selalu habis saya baca, demikian juga dengan koran-koran hingga ke cerpen dan cerbungnya. Semua saya lahap. Maka dari itu, kalau punya anak yang hobi membaca, perlu diperhatikan dengan baik dimana kita menyimpan bacaan-bacaan dewasa kita, terutama surat kabar dan majalah. Apalagi kalau kita tidak punya cukup uang untuk membelikan anak-anak buku khusus untuk mereka. Atau kalau misalnya di sekitar rumah kita tidak terdapat tempat peminjaman buku khusus anak.

Baiklah, sekarang saya mau balik ke berita gosip. Kemarin saya baca berita tentang ribut-ribut pose syur-nya Luna Maya di sebuah majalah. Beritanya saya baca di detikHot.com dengan judul "Luna Maya dan Foto Porno". Saya sendiri nggak tahu siapa Luna Maya, seterkenal apa dia dan sebagainya dan sebagainya. Saya juga nggak ada niat untuk tahu lebih jauh seperti apa pose syur-nya itu.

Ada satu poin yang mau saya garis bawahi dari berita yang saya baca tersebut, yaitu komentar Luna Maya sbb:
Kalau orang yang nggak ngerti seni dan menganggap itu pornografi, maaf-maaf aja, memangnya kita hidup di zaman batu?
Lho, apa yang menarik untuk dikomentari?

Yang menarik untuk dikomentari adalah kata zaman batu.

Kenapa?

Setahu saya, orang-orang yang tidak/belum mengenal pakaian/baju atau hanya sekedar memakai penutup alat kelamin saja itu justru ada di zaman batu atau zaman baheula. Jadi sebenarnya, justru orang-orang yang berpose dengan pakaian minim banget itulah yang sekarang sedang menggiring kita untuk kembali ke zaman batu. Sementara itu orang-orang yang berkomentar bahwa hal itu adalah porno justru adalah orang yang memang tidak sedang hidup di zaman batu.

Terus?

Ya nggak ada terusannya, cuman mau komentar itu aja! Namanya juga gosip, makin digosok makin sip!

Nggak ada pesan moralnya?

Pesan moralnya jelas:
  1. Perhatikan anak anda yang hobi membaca, jangan sampai seperti saya yang kehausan membaca tapi adanya dan dapetnya hanya bacaan yang bukan untuk anak seumur saya. Terus kalau bisa yang namanya TK dan SD harus punya perpustakaan juga. Coba tanya ke anak anda, TK atau SD-nya punya perpustakaan nggak? SD dan SMP saya (saya nggak pake masuk TK) nggak punya yang namanya perpustakaan. Di SMA, ada perpustakaan, tapi cuman sekedar minjemin buku pelajaran, itu juga muridnya nggak boleh masuk. Harus minta ke mbak yang jaga perpus. Waktu kuliah? yang ada cuman buku-buku lama, buku-buku barunya masih dipinjem dosen atau nggak boleh dipinjem takut rusak.
  2. Jangan suka ngelihat gambar orang telanjang atau berpakaian sangat minim, itu konsumsi untuk orang-orang yang tinggal di zaman batu yang memang belum mengenal pakaian atau hanya sekedar kenal alat penutup kelamin. Sekarang kita ada dan hidup di zaman dengan peradaban tinggi.
Gimana? Pada setuju nggak?

Ganti desain yah mas?

Ahem... menurut saya... fotonya memang sexy kok :P

hehehe........
bule2 tuh suka semakin telanjang aja karena budaya mereka udah begitu canggih, sehingga malah pengin back to nature, alias back to "authenticity", back to zaman batu... makanya teknologinya semakin canggih, tapi pakaiannya kok semakin back to nature, alias back to telanjang.... justru pengin belajar dari suku2 pedalaman yang katanya masih hidup *serba sederhana* dan in *harmony with nature*... hehehe....

btw... apakah suku Papua etc. bisa dibilang mempunyai *budaya porno*? karena mereka semua telanjang... atau suku Indian di Brasil...

Ni Londo

@Ni Londo: Mereka bukan punya budaya porno, telanjangnya mereka karena keterbatasan dalam teknologi membuat pakaian. Kita justru harus mengajak mereka untuk mau pakai baju, bukan malah sebaliknya kita yang meniru mereka untuk tidak pakai baju.

@ozzie: iya nih, ganti desain supaya nggak bosen.

hhmmm... tapi kalau misalnya budaya Bali zaman dulu (sampai awal abad ke-20) perempuannya sering "oben ohne" juga, dan budaya Bali sudah jelas tidak ada "keterbatasan dalam teknologi membuat pakaian" .... ?
jadi laki2 Bali zaman dulu menghadapi "tontonan porno" alias payudara telanjang bukan hanya dalam ukuran "gambar" atau "foto", tapi dalam interaksi sosial sehari2... dan anehnya, toh sama sekali tidak terjadi "anarki", atau tata sosialnya budaya Bali mengalami iritasi karena laki2nya BT karena segitu banyak payudara telanjang persis di depan mereka... struktur sosialnya, norma dan etika tetap dipegang dengan kuat.... kok bisa ya?

hehehee... seperti biasa... *ngotot* :)

Ni Londo

[jangan salah ngerti, saya ini walaupun bule dan kadang2 juga mengalami kerinduan "back to nature" toh tidak suka pakai bikini di pantai... gak pede hehehe... dan rasanya tidak estetis... ]

@Ni Londo: Kayaknya belum sampai ke teknologi bikin pakaian deh, cuman baru sampai teknologi bikin kain (?). Ditambah lagi mungkin ada faktor-faktor lain yang berhubungan dengan masalah peradaban (?).

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares