« Home | Wind power - energy from the air » | Fakta Laut Dalam (Deskripsi Ilmiah An-Nur:40) » | Panduan Singkat Berpuasa Ramadhan (5) » | Homework Help » | Why waste time on TV? » | Panduan Singkat Berpuasa Ramadhan (4) » | Sekelumit tentang Hurricane (1) » | Breaking News: Hurricane Rita » | The Arctic and the Antarctic » | Panduan Singkat Berpuasa Ramadhan (3) » 

Wednesday, September 28, 2005 

Altitude Illnesses

Sebulan yang lalu saya mendapat undangan silaturahmi di rumah seorang sesepuh di Hamburg. Kebetulan hadir pula Pak Muhammad bin Belfas. Buat mereka yang dulu mengikuti berita ledakan 11 September di NY mungkin masih ingat dengan nama ini yang dahulu bersama Agus Dwikarna sempat dicurigai sebagai anggota teroris yang turut serta dalam rencana peledakan dan ternyata tidak terbukti.

Dalam obrolan santai kami, kemudian beliau mulai berbicara tentang sebuah ayat dalam Al-Quran yang menurut beliau menarik untuk dilihat dari kacamata ilmiah. Menurut beliau pula, ada seorang pakar, yang begitu membaca ayat ini langsung tersentak dan mengakui kebenarannya. Ayat itu tertulis dalam surat Al-Anaam ayat 125 yang berbunyi:
Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.

Selanjutnya beliau menggarisbawahi kalimat "niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit".

Ada sebuah fakta ilmiah di dalam kalimat tersebut, yaitu: konsentrasi oksigen pada permukaan laut sekitar 21%, dengan tekanan barometrik rata-rata sebesar 760 mmHg. Dengan bertambahnya ketinggian, konsentrasi oksigen akan tetap namun jumlah molekul oksigen per satu kali hembusan nafas berkurang. Pada ketinggian 3658 meter, tekanan barometrik hanya 483 mmHg dan molekul oksigen per satu kali hembusan nafas hanya tinggal 40% saja, sehingga untuk memenuhi kebutuhan oksigen, laju bernafas kita harus ditingkatkan (meskipun kita sedang dalam keadaan tidak bergerak). Cara ini akan menambah kandungan (konsentrasi) oksigen di dalam darah, tetapi tidak akan mencapai seperti konsentrasi pada kondisi normal.

Mengapa demikian? Bertambahnya ketinggian akan menyebabkan berkurangnya tekanan udara, akibatnya berkurang pula fungsi respirasi paru-paru dan transpor oksigen dalam aliran darah (fungsi kapiler), meskipun misalnya kandungan oksigen di udara masih 21%. Akibatnya akan timbul beberapa gejala sebagai berikut:
  • meningkatnya laju pernapasan (seperti orang yang mengalami sesak napas dan tersengal-sengal).
  • mengalami pusing atau mata berkunang-kunang.
  • merasakan dingin yang ekstrim.
  • degup jantung meningkat.
  • pandangan menjadi kabur/buram.
  • mengalami insomnia dan nervous.
  • kulit, kuku dan bibir menjadi biru.
  • merasakan seperti orang yang mabuk.
Pada tingkat tertentu, kejadian seperti ini dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian. Oleh karena itu, dalam kegiatan panjat gunung kita sering mendengar istilah aklimatisasi yang fungsinya untuk memberikan waktu kepada tubuh kita menyesuaikan diri dengan kondisi dimana kandungan oksigen di dalam darah menjadi berkurang. Atau dengan menyediakan suplemen oksigen, seperti pada pilot pesawat terbang.

Bahan bacaan:

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares