« Home | Hasna Kecil » | Nostalgia masa muda » | Cinta Buta » | Cover Girl » | Manusia Indonesia dan Waktu » | Waktu » | Kritis » | Putri Cina » | Semoga Sukses PIN Polio 2005 » | PraJab CPNS » 

Friday, September 09, 2005 

Chiklit

Liburan musim panas kemarin istri dan anak saya pulang ke Indonesia. Sebelum kembali ke Hamburg, saya minta tolong dibelikan buku bacaan dalam Bahasa Indonesia sejenis novel untuk bisa dijadikan teman bacaan ketika saya naik S- atau U-Bahn. Lumayan daripada bengong, dan akan lebih baik daripada saya harus membaca textbook yang tebal dan berat. Salah satu dari bacaan yang dibelikan istri saya tersebut adalah sebuah chicklit atau chick literature, yang kalau saya baca dari literatur yang ada merupakan karya tulis yang kebanyakan dibuat oleh wanita dan untuk wanita.

Chicklit ini sebenarnya pesanan saya, karena saya baca di banyak blog sepertinya ia sedang populer di tanah air sana. Jadi kepingin tahu juga seperti apa gerangan chicklit itu dan bagaimana rasanya membacanya. Ternyata... terlalu ringan rasanya. Ibaratnya seperti minum kopi encer atau kopi yang airnya kurang panas, kadar kafeinnya kurang terasa. Mungkin saja saya salah merasa atau mungkin juga chicklit yang saya pilih masuk pada klasifikasi bad chicklit karena menurut chicklitbooks.com, chicklit itu banyak ragam kualitasnya.

Pada artikel di web itu dinyatakan bahwa banyak pembaca yang mengkategorikan chicklit sebagai bacaan sampah, meskipun -menurut penulis artikelnya- tidak demikian sebenarnya karena banyak juga chicklit yang bagus.

Tapi saya tidak kapok dan menyesal sudah membaca chicklit yang saya pesan. Setidaknya saya menjadi tahu seperti apa sebenarnya chicklit. Mungkin saya perlu membaca beberapa chicklit lagi untuk bisa merasakan rasanya lebih dalam lagi. Ada yang mau berbagi chicklit?

said...

walah.... Mas Agus jadi korban chicklit hehehe... saya sendiri belum pernah baca sih, dan bingung, apakah chicklit Jerman juga ada nggak ya? kalau ada, saya rasa itu bacaan ringan utk girls atau young women... unsur sastranya sama dengan majalah wanita... alias the same over and over again... sampai saya sebagai perempuan jadi malu... apakah kaumku udah puas dengan disuguhi yang itu2 melulu?? masakkk.... pembodohan total....

btw... kalau buku di Mas Agus itu ada chicklit asli Indonesia, mau dijual gak?? pengin beli hehehe....

Pernah baca juga beberapa buku chicklit dan memang kayak engga ada isinya :-P, 1-2 jam juga selesai di baca. Isinya dialog mulu. Tapi memang ada beberapa chicklit yang *katanya* bagus, tapi belom sempet baca juga hehehe.

Mending baca ini nih: The rule of four. Baru beli, pas kemaren di Swedia liat harganya (dalam rupiah) 150ribu, eh tadi ngeliat lagi di gramedia harganya 92ribu. Untung saja kemarin - kemarin engga jadi beli.

Enggak baca chiclit jg. Pernah baca sekilas. Enggak terlalu suka lagi dunia remaja.

waduh ketemu lagi nih org indo asli di Jerman, apa kabar nih ?? salam kenal.
Ttg chicklit, bener deh Ummi jg gak pernah baca, liat buku2 itu bertumpuk dan beterbaran di salah satu sudut Gramed..wah malah gak minat belinya.
ternyata gituh yah isinya...syukurlah Ummi tidak pernah beli..hi.hi..

huh ane juga agvak males beli buku kaya gini , ntah kenapa , iri mungkin gak bisa buat buku sendiri :P

bukan , bukan begitu , saya memang tidak suka buku2 chicklit Bikinan orang Indonesia , masalahnya yg di omongin ya masalah itu2 saja , harta , cinta , life style .. dan macam - macam yg tidak terlampau cocok untuk kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Mungkin yg di bidik buku ini adalah konsumen kelas menengah ke atas , jadi buat ane yg orang bawah gak niat beli deh :)

mending beli intisari :)

Post a Comment

My Digest