« Home | Foto memoto » | Bunga » | Karnaval Kebudayaan di Hamburg » | Chiklit » | Hasna Kecil » | Nostalgia masa muda » | Cinta Buta » | Cover Girl » | Manusia Indonesia dan Waktu » | Waktu » 

Thursday, September 15, 2005 

Hidup

Dilihat dari sudut pandang manusia,
hidup memiliki banyak ragam penafsiran dan arti,
sama beragamnya dengan manusia itu sendiri

Di mata mereka yang haus kekuasaan,
hidup adalah mengejar dan merengkuh kekuasaan,
bagaimanapun caranya dan dimanapun adanya
mungkin...

Di mata mereka yang haus kekayaan,
hidup adalah untuk berburu materi dan menumpuknya,
menyimpannya dalam pundi-pundi yang tak boleh disentuh,
bahkan oleh keluarganya sendiri
mungkin...

Di mata mereka yang berpikiran rumit,
hidup adalah suatu yang sangat rumit,
sama rumitnya dengan pemikiran mereka sendiri
mungkin...

Di mata mereka yang beriman,
hidup adalah sebuah ujian yang sangat berat,
ada jalan lurus yang harus ditempuh,
namun banyak jalan berliku yang sanggup menggoda,
dan menyeret mereka larut ke dalamnya jika tidak waspada
mungkin...

Setiap kita punya pendapat dan pandangan tentang hidup,
mungkin ada yang sama, tapi banyak juga yang berbeda
karena pikiran manusia memang berbeda...
dan memang boleh untuk berbeda!

Adakah aturan baku "bagaimana hidup itu sebenarnya?"
dalam pemikiranku, aturan baku akan selalu ada,
sama halnya jika manusia "mencipta" sebuah benda,
pasti ada sesuatu yang dibebankan dan ditugaskan pada benda itu,
yang tertulis dalam buku manualnya,
sesuai fungi, bermanfaat ia
tak sesuai fungsi, ia jadi tak berguna,
atau kurang berguna...

Begitulah pula manusia sebenarnya,
ia punya beban dan tugas,
dan ada pula buku manualnya,
yang tertulis dalam kitab suci,
yang dibuat oleh penciptanya,
dan dikabarkan oleh utusan-Nya

Satu "kemurahan" sang pencipta manusia,
meski ada beban dan tugas dalam diciptanya manusia,
manusia diberi "kebebasan": patuh atau mengingkarinya,
itulah tantangan terberat manusia: mengendalikan diri sendiri,
ia "berkuasa" atas dirinya: menjadi berguna atau tak berguna, patuh atau tak patuh,
dan seterusnya, dan seterusnya...

Ada sebuah kiasan,
yang sebenarnya aku tak sepaham:
"wong urip kui ger mampir ngombe"
"hidup manusia itu cuman mampir minum"
yang berkonotasi: hidup terlalu dianggap santai,
meski maksud yang terkandung di dalamnya:
"hidup ini hanya sebentar"

Memang hidup hanya sebentar,
batas maksimum era kini, tak lebih dari 100 tahun,
sangat sayang jika hanya untuk mampir minum,
apalagi kalau yang diminum air api,
mungkin...

My Digest