« Home | Chiklit » | Hasna Kecil » | Nostalgia masa muda » | Cinta Buta » | Cover Girl » | Manusia Indonesia dan Waktu » | Waktu » | Kritis » | Putri Cina » | Semoga Sukses PIN Polio 2005 » 

Sunday, September 11, 2005 

Karnaval Kebudayaan di Hamburg

Hari Sabtu, 10 September 2005 Hamburg mengadakan karnaval kebudayaan yang menampilkan kebudayaan dari negara para pendatang (auslaender) yang tinggal dan bekerja di Hamburg. Mereka berasal dari Asia, Amerika Selatan, Afrika dan juga Eropa. Dari Asia tampil kebudayaan dari Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Cina. Sedangkan dari Eropa tampil kebudayaan dari Portugal dan ada juga dari negara Eropa Timur yang saya tidak tahu namanya. Saya juga lupa peserta dari Afrika. Dan negara-negara dari Amerika Selatan sendiri merupakan peserta yang paling banyak dalam karnaval ini. Tampil di antaranya kebudayaan dari Bolivia, Kolumbia, Peru, Mexico, dan Brazil.

Rombongan Indonesia dalam karnaval ini menampilkan Reyog Ponorogo sebagai andalannya. Disamping itu ada juga kuda lumping, tari Merak dan tarian dari Betawi. Sayangnya, penampilan mereka kurang atraktif, terutama Reyog Ponorogonya. Mungkin karena yang bagian pegang reyog bukan penari reyog beneran ya, jadi nggak tahu gimana maininnya. Penari kuda lumpingnya juga hanya jalan aja, nggak menari-nari.

Rombongan kebudayaan dari Indonesia dengan andalannya Reyog Ponorogo

Peserta paling atraktif adalah dari Bolivia dengan jumlah artis pendukung paling banyak. Sepanjang karnaval mereka tidak lelah terus bergoyang dan menari diiringi musik latin yang ceria. Akibat begitu atraktifnya mereka, saya jadi nggak abis-abisnya terus menshoot mereka dengan handycam yang saya bawa. Sialnya, karena terlalu boros ngeshoot mereka, batere handycam keburu habis sebelum bisa ngeshoot rombongan terakhir yang ternyata merupakan rombongan terpanas.

Yang bikin panas dari rombongan terakhir ini adalah para penari wanitanya semua menggunakan bikini yang hot! plus goyangannya yang menggetarkan dunia. Weleh-weleh, cuaca yang sudah panas saat itu jadi semakin panas aja dengan penampilan mereka. Musik pengiringnya juga sangat menghentak, membuat badan saya jadi ingin ikut bergoyang. Hanya saja, anak saya Hasna paling malu kalau ngelihat bapaknya udah mulai "gila" ikutan bergoyang. Makanya dia langsung pegang saya kuat-kuat ketika ngelihat saya mulai "kambuh" supaya nggak bisa ikut bergoyang. Padahal, biasanya kalau nonton acara kayak gini, saya suka ikutan bergoyang dan juga teriak-teriak...

Ibu-ibu dari Bolivia yang terus semangat bergoyang

Terakhir, buat yang mau melihat gambar-gambar karnaval kebudayaan di Hamburg ini, silahkan ke sini, ada beberapa yang sudah saya upload.

Seru yah kalau di LN banyak Karnaval, kalau di adakan di Jakarta, wah pada batuk2 tuh pesertanya, soalnya asep mobil lebih atraktif ketimbang yg lain..hehe..

:D aduh pak agus..untung ada hasna ya..gak kebayang pak agus ikutan goyang..

duh yang panas-panas gitu mah jangan diliput atuh...;) ada hikmahnya batternya abis..:))

-ari-

Pengen nambahin ajah... Sebagian negara amerika latin tuh sebenernya merupakan pecahan dari Bolivia. Makanya mereka juga lebih suka menyebut diri mereka sebagai Bolivarian. :)

makasih utk liputannya....
kalau yg terakhir itu yg hot dan pakai bikini, kemungkinan besar itu samba ya? samba khas karneval di rio de janeiro... memang the hottest of the hot... ;)

Wah jadi pengin liat karnaval dan pengen lihat bapaknya kunyah-kunyah goyang....hihihihi

Mas Agus bergoyang? Tariikkkk... maaaanngggg... Hehehehee...

@lili: karnavalnya harus pakai masker ya mbak?

@ari: hehehe...

@ozzie: thanks tambahan infonya.

@ni londo: nah itu dia kayaknya, samba. jadi kepingin ke rio janeiro nih...

@mala: wah, kalau lihat saya goyang, jangan2 pingsan...

@ricorea: emang masih ada "tarik mang?"

Hallo...
Grup Karnaval Indo mendapat juara ke 5 terbaik lho. Pak Agus hanya melihat saat kita lagi istirahat, jadi gak pakai tarian ... Penampilan Reog dengan tema "Hidup Harmonis antara 2 Elemen kontrastif" juga dibuatkan koreografi tari. Dengan jarak yang cukup jauh tidak mungkin Reog ponorogo yang berat ditarikan sepanjang jalan. Untung deh ada orang Indo yang mau memperkenalkan kebudayaan Indonesia di Hamburg ini. Tahun depan kita ikutan lagi dengan koreografi "Dari Sabang sampai Merauke" ...biar banyak pesertanya ikutan juga dong Pak!

@dyah-narang-huth: Selamat ya mbak, kontingen Indonesia bisa meraih gelar juara 5.

Saya mulai meliput dari Schlump, mungkin memang sudah capek ya penari reognya karena udara juga cukup panas.

Saya mah orangnya nggak bakat berkesenian mbak (tapi pingin juga sih belajar tari Dayak). Jadi, ikutan jadi tukang liput buat dimuat di blog aja deh :)

OK kalau begitu ... jadi aku lihat-lihat liputannya kalau kami ada acara di Hamburg. Ngomong-ngomong aku ngga sengaja lagi bikin blog buat FOBIS (Forum Seni Budaya Indonesia) ... eh nemu komentar2... jadi biar infonya jelas bisa dilihat di www.fobis.blogspot.com
Salam, Dyah

Post a Comment

My Digest