« Home | Waktu » | Kritis » | Putri Cina » | Semoga Sukses PIN Polio 2005 » | PraJab CPNS » | Lagi-lagi OSPEK » | Komputer Amphibix » | Kalau » | Seandainya... » | Mari Berbagi Kemerdekaan » 

Monday, September 05, 2005 

Manusia Indonesia dan Waktu

Sabtu kemarin IIC (Indonesisches Islamisches Centrum) e.V. mengadakan acara pengajian bulanan dalam rangka peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Acara diadakan di Aula KJRI Hamburg. Seminggu sebelumnya undangan sudah saya sebarkan, karena kebetulan saya adalah tukang buat undangan, penandatangan di undangan sekaligus merangkap tukang sebar undangan.

Di penutup undangan, saya selalu memberi kalimat dengan garis bawah: "mohon hadir tepat pada waktunya". Acara pengajian di undangan saya tulis pukul 16:00, sementara itu di jadwal acara yang saya susun secara diam-diam (yang hanya diketahui oleh para pengisi acara saja), acara akan dimulai pukul 16:30. Saya perkirakan, jika tamu undangan datang terlambat antara 30 menit hingga 1 jam, mudah-mudahan dalam waktu 30 menit dari waktu yang tertera di undangan, 50% tamu sudah akan datang. Artinya, ketika acara dimulai, sudah akan ada tamu undangan. Jadi bukan hanya ada moderator, ketua IIC, penceramah dan Pak Konjen saja. Nggak lucu kan?

Ternyata, rencana tinggal rencana. Merubah kebiasaan buruk tak semudah membalik telapak tangan. Hingga pukul 16:30, tamu undangan yang datang baru ada 1,2,3 orang, itu pun mereka malah asyik ngobrol sendiri-sendiri. Ada yang ngobrol di dapur, ada pula yang di halaman sambil merokok, dan lain sebagainya. Meskipun sudah dipanggil dengan pengeras suara untuk memasuki aula KJRI, tetap saja tak cukup berpengaruh. Yang lebih bikin heboh lagi, orang yang sudah saya hubungi untuk membaca ayat suci Al-Quran pun datang terlambat pula! Padahal itulah acara pembuka.

Sebagai orang yang bikin undangan, tentu saya jadi grogi. Apalagi Pak Konjen kita di Hamburg orangnya tepat waktu. Beliau beserta bapak penceramah sudah masuk dan duduk di aula. Sementara saya yang harus berperan ganda, jadi moderator dan pengatur acara, masih sibuk mencari orang untuk mengisi acara. Lowongan moderator sendiri sudah saya sebarkan di milis IIC seminggu sebelumnya, sayangnya tidak satu orang pun yang bersedia! Beberapa orang pun sudah saya minta untuk jadi moderator secara langsung, sayangnya tak satupun yang berani bilang "ya". Menyedihkan bukan?

Akhirnya, acara harus tertunda 15 menit. Bukan hanya karena menunggu undangan yang memang belum banyak yang datang, tetapi juga karena orang yang telah ditunjuk menjadi pembaca ayat suci Al-Quran pun belum datang dan gawatnya tidak ada alternatif orang lain karena semua belum pada datang! Akhirnya ketika beliau datang, langsung saya tarik ke dalam untuk segera bersiap-siap.

Kejadian menyedihkan seperti ini bukan baru sekali ini saya alami. Sudah sangat sering. Dan ironisnya, ini terjadi di sebuah negara yang katanya sangat menghormati waktu. Memang orang yang diundang dalam acara2 ini adalah manusia2 Indonesia, tapi apakah setelah sekian belas dan puluh tahun hidup di Hamburg mereka tidak bisa belajar sedikitpun tentang bagaimana menghargai waktu? Lagipula, tidak semua manusia Indonesia berasaskan pada jam karet, banyak di antara mereka yang sangat menghargai waktu. Ataukah mungkin karena mereka punya pikiran: "untuk orang Jerman, kita harus tepat waktu, tetapi untuk sesama orang Indonesia kita harus berjam karet!" Keterlaluan!

Moga2 Ozzie bisa dpt tambahan bahan dari tulisan Mas Agus hari ini buat "Republik yang Sudah Mati" nya itu. :)

Itulah org Indon. (Ini brarti saya jg menunjuk diri saya sendiri) Knp jg sampe hari ini aku masih tetep nulis Indon utk Indonesia, krn Indon ini adalah ejekan org Malay(sia) utk org2 Indonesia. Org Indonesia benci dibilang Indon karena serasa berbunyi "bondon"; wanita pelacur.

Giliran sama bangsa asing, Indon oleh bangsa asing dibilang sebagai bangsa yg sangat ramah. Tp, giliran sama bangsa sendiri, busyettt... Amit2 deh! Apa mental gitu gak kayak "bondon"?!

Mas yang di Jerman sampe pusing kan ngeliat kelakuan kayak gini. Well.. gimana kami2 yg di Indon? Hehehhee...

Maju terus Mas Agus!

Sama banget! Bahkan supir bus yang dicharter sampe pernah marah - marah gara - gara kelompok kita ngubah - ngubah waktu seenaknya aja. Dan sebenernya budaya tepat waktu orang di sini juga ditunjang sama lingkungannya sih.

Ga usah jauh - jauh deh, contohnya di Singapura MRT tuh udah ada jadwalnya sendiri, setiap 5 menit (eh apa 10 menit yah?) sekali pasti berangkat dan memang tepat. Sehingga kalau kita mau janjian, udah bisa diperkirakan dulu waktu di jalannya.

Nah coba aja lah kalau kita mau kayak begitu di Jakarta. Macet mulu dan engga tentu pula macetnya. Susah juga kalau mau ketemu tepat waktu.

Mas Rico, judulnya udah bukan "Republik yang Sudah Mati", tapi tulisan mas Agus memang memberikan ilham lebih, nanti deh bakalan diposting artikel pendek tentang ini.

Tambahan: Mas Agus, udah ku reply lagi tuh di blog. Plus, aku tuh pengen nyari beasiswa buat sekolah bisnis atau ekonomi ke Jerman (atau short-course juga gapapa), bagusnya nyari di mana yah?

Mas, iya tuh aku heran sekali ada aja orang yang sudah pernah tinggal di luar lama atau tinggal bertahun2 masih belum juga bisa menghargai waktu....
Buat Ozzie trus menulis lebih banyak lagi apalagi ttg kepatuhan Masyarakat Indonesia dalam berlalu lintas, nanti aku nulis di blgku deh...

hehe.. benul sekali, gus. kita jd kek bunglon ya. klo kamu yg jd tamu, bakalan tepat waktu jg ga? kan kemarin itu kr harus.:)

gus, aku ga yakin.. tp mo tanya ajah. kenal hani ga? skrg mungkin udah pulkam. sekolah di hamburg jg tp ga tau deh aktif di kegiatan apa ga. non-muslim. suka nyanyi.
klo ga kenal, gpp sihhhh.. :)

suka sebel kalo ada yang jam karet.. capek ati..

@ricorea, mala dan vi3: bawaan psikologis kali ya... pokoknya kalau tahu acarnya diadain sama orang indonesia, selalu maunya dateng terlambat. ini seperti orang yang tertekan dan terlepas dari tekanan. tertekan karena setiap hari kerja hrs tepat waktu, sementara undangan itu memberi kesempatan utk terlepas dari tekanan datang tepat waktu.

@ozzie: soal sekolah di jerman, biasanya infonya banyak dimuat di DAAD (www.daad.de). Mereka juga biasanya punya program short course.

@sa: pertanyaan yang bagus. kalau saya bukan sebagai panitia kira2 dateng terlambat juga nggak ya? hihihi, mesti diuji dan dibuktikan... jangan2 dateng telat juga ya...

btw. saya nggak kenal sama hani. pulkam tahun berapa dia? soalnya saya baru mulai di hamburg tahun 2003.

Bener tuh... perlu diuji dulu. Ngomongin/Menanggapi kekurangan orang kan paling gampang. Jangan-jangna kalau gak jadi panitia malahan gak datang ...(Males..ah) hehe..

lha kok tukang undangan ndak ngundang saya ya...hehehe

saya pikir orang indo yang tinggal di luar itu jadi ketularan tepat waktu, ndak taunya tetep aja kebal ya pak...hahaha.

duit untuk beli tanah di pulau mapurnya masih diitung-itung nih pak, mudah2an cukup...hehehe

masalahnya... saya sendiri kalau ada acara di konsulat suka datang terlambat, minimal setengah jam ngaretnya... soalnya dari pengalaman selama ini, kalau kita datang tepat waktunya, ternyata belum ada apa2... masih sepi... jadi ya... belajar... sekarang malah kalau datang terlambat 1 jam juga tidak begitu apa2 kayaknya... dan kalau ada undangan konsulat bilang mulainya jam xy, ya otomatis saya sudah tahu: oh itu berarti kalau kita datang jam xy + 30 menit kemungkinan besar masih terlalu awal juga... gak tahu gimana mau mengubah "tradisi" itu... saya sebagai bule aja sudah ketularan kok...

Post a Comment

My Digest