Monday, October 31, 2005 

Selamat Idul Fitri

Menarik membaca MoonSighting berkaitan dengan penentuan awal Ramadan 1426H kemarin.

Di Nigeria ada orang yang bersaksi telah melihat bulan baru pada tgl. 2 Oktober 2005, saat dimana, menurut perhitungan, bulan baru belum lahir. Dari kesaksian itulah, maka Nigeria memulai puasa Ramadan pada tgl. 3 Oktober 2005.

Di Eropa, pengamat dari UK menyatakan tidak bisa melihat bulan pada tgl. 3 Oktober 2005, juga pengamat dari San Fransisco, Amerika. Namun demikian beberapa negara di Eropa, juga di jazirah Arab memutuskan awal Ramadan jatuh pada tanggal 4 Oktober 2005 mengikuti keputusan pemerintah Arab Saudi.

Pada tgl. 4 Oktober 2005, pengamat dari beberapa tempat di dunia seperti Australia, Afrika dan Amerika melaporkan dapat melihat bulan baru baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan alat. Sementara itu di beberapa negara di Asia seperti Malaysia dan Pakistan, negara2 di jazirah Arab dan beberapa negara di Eropa seperti UK dan Jerman, pengamat melaporkan tidak bisa melihat bulan baru. Namun demikian, meskipun tidak bisa melihat bulan baru, beberapa negara tetap memutuskan awal Ramadan jatuh pada tgl. 5 Oktober 2005, bahkan ada yang sudah memulainya pada tgl. 4 Oktober 2005 mengikuti keputusan pemerintah Arab Saudi.

Yang lebih menarik lagi, ada pengamat dari Uni Emirat Arab yg melaporkan baru melihat bulan baru pada tgl. 5 Oktober 2005, tetapi negaranya telah memutuskan awal puasa Ramadan pada tgl. 4 Oktober 2005 karena mengikuti keputusan pemerintah Arab Saudi.

Adapun negara-negara yang mengawali puasa Ramadan pd. tgl. 6 Oktober 2005 adalah India, Pakistan dan Bangladesh.

Sekarang, mari kita tunggu saat-saat penentuan awal Syawal 1426 H. Jika mengacu kepada perhitungan MoonCalc, secara astronomis, bulan baru akan lahir pd. tgl. 2 November 2005 pkl. 1:25 UTC. Posisi bulan saat ini berada di Bumi Belahan Selatan (BBS), sehingga untuk wilayah yang berada di selatan ekuator seperti Amerika Selatan dan Afrika Selatan ada kemungkinan dapat melihatnya (baik dgn mata telanjang maupun menggunakan binokuler), namun dengan tingkat kesulitan yang relatif tinggi mengingat waktu antara matahari dan bulan tenggelam hanya 25 menit saja, dimana, karena pengaruh hamburan cahaya matahari oleh atmosfer, langit pada saat itu masih akan terlihat terang. Sementara itu, utk negara2 yg berada di Bumi Belahan Utara (BBU) atau di utara ekuator, meskipun umur bulan baru sudah cukup tua (>24 jam), belum tentu pengamat bisa melihatnya akibat posisi bulan yang berada di BBS.

Kemungkinan besar untuk dapat melihat bulan baru di seluruh tempat di Bumi adalah tgl. 3 November 2005 dimana umur bulan sudah cukup tua (>24 jam). Sehingga dengan demikian Iedul Fitri di banyak tempat di muka Bumi diperkirakan akan jatuh pada tgl. 4 November 2005.

Selamat Idul Fitri 1426 H, mohon maaf lahir dan batin.

Update:
Di Hamburg, kemungkinan besar Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 3 November 2005. Shalat Ied untuk warga negara Indonesia insya-Allah akan diadakan di KJRI Hamburg pukul 09:30 waktu Hamburg dilanjutkan dengan Halal bil Halal pukul 12:00 s.d. 16:00.

Monday, October 24, 2005 

Lap Makan dari Kaos Bekas

Selera makan saya pernah langsung hilang ketika hendak makan di warung makan pinggir jalan akibat melihat mbak yang menjual makanan mengelap piringnya dengan menggunakan lap dari kaos bekas. Pernah juga seorang kawan mengalami hal serupa, tetapi bukan karena lap piring dari kaos bekas, melainkan gara-gara tissue yang ditaruh di meja adalah tissue untuk toilet.

Dua hal di atas adalah contoh bagaimana hal yang mungkin wajar menurut seseorang bisa jadi adalah hal yang tidak wajar buat orang lain. Buat mbak pedagang warung makan, kaos bekas asalkan sudah dicuci dengan bersih adalah sah jika dialihfungsikan menjadi lap piring dan gelas, tetapi buat orang lain, sekali kaos tetaplah kaos. Mungkin bisa dialihfungsikan menjadi lap, tapi harap jangan dijadikan lap piring dan gelas, cukup jadi lap meja saja. Demikian juga dengan kasus tissue toilet. Buat orang yang sudah terbiasa melihat tissue itu hanya berada di WC dan digunakan setelah buang hajat besar, mungkin akan menjadi merinding jika melihatnya ada di meja makan, meskipun tissue itu bersih dan bukan diambil dari persediaan yang ada di WC.

Sebenarnya, dari sudut pandang normal dan standar, memang seharusnya kurang layak jika menggunakan kaos bekas sebagai lap piring atau tissue toilet sebagai lap mulut atau tangan di warung makan. Kenapa demikian? Karena konsumen si mbak itu beragam. Jadi gunakanlah standar dan sudut pandang yang umum dalam menyajikan sesuatu dan segala tetek bengeknya agar dagangan makanan si mbak bisa laris dan si pembeli juga merasa nyaman. Jadi, si mbak penjual makanan jangan ngotot menggunakan standar dan sudut pandangnya sendiri dan mengabaikan konsumen.

Hal yang sama seharusnya juga berlaku dalam percaturan politik saat ini. Dihapuskannya subsidi BBM untuk rakyat yang kemudian dilanjutkan dengan dinaikkannya tunjangan para wakil rakyat, dan disusul kemudian dengan peningkatan anggaran Kepresidenan, adalah kasus yang hampir sama dengan mbak penjual makanan yang menggunakan kaos bekas sebagai lap piring atau tissue toilet sebagai lap mulut. Dari sudut pandang rakyat kebanyakan yang hidupnya semakin hari semakin susah, apa yang dilakukan oleh para eksekutif dan legislatif itu adalah suatu tindakan tanpa hati nurani dan melukai perasaan mereka. Dan yang lebih membuat rakyat kebanyakan sakit hati dan sedih adalah kenyataan yang ada bahwa ternyata para wakil rakyat dan birokrat itu tetap ngotot menggunakan sudut pandang mereka dan mengabaikan apa yang dialami rakyatnya.

Jadi, memang begitulah ternyata kualitas para pemimpin kita itu. Kalau saya kaitkan dengan tulisan saya sebelumnya mengenai akal dan nafsu, mungkin mereka bisa saya masukkan ke dalam golongan manusia yang pertama, dimana nafsu lebih dominan daripada akal, sehingga apa yang ada dalam pikiran mereka hanya terbatas pada hal-hal yang bisa memenuhi nafsu mereka semata.

Ya, selamat mengelus dada saja buat rakyat kebanyakan. Ternyata memang cuman segitu kualitas pemimpin kita, kalau istilah jaman saya kuliah dulu: "cuman bisa dapet nilai E mentok". Sungguh kasihan para pemimpin itu...

Thursday, October 20, 2005 

Akal dan Nafsu

Ada tiga golongan manusia berdasarkan pada akal dan nafsunya yaitu:
  1. Manusia yang nafsunya lebih dominan daripada akalnya.
  2. Manusia yang nafsu dan akal sama-sama dominan.
  3. Manusia yang akalnya lebih dominan daripada nafsunya.
Manusia golongan pertama akan cenderung menuruti keinginan hawa nafsunya. Segala sesuatu didasarkan hanya kepada nafsu semata. Nafsu akan cenderung memegang kendali penuh terhadap akalnya, bahkan aturan negara dan agama pun akan dilawannya bila tidak sesuai dengan kriteria nafsunya.

Secara umum, nafsu ini akan cenderung membawa manusia pada perbuatan yang negatif karena dominasinya terhadap akal. Manusia dalam golongan ini tidak akan pernah punya perasaan bersalah.

Kadang-kadang pada bulan Ramadan ada orang yang suka bertanya: "katanya di bulan Ramadan setan-setan akan dirantai, lalu kenapa masih ada saja orang-orang yang membunuh, berbuat kekerasan, mencuri, merampok dan sebagainya?". Jawabannya adalah karena nafsunya telah membelenggu dirinya dan mengendalikan akalnya.

Manusia golongan kedua adalah manusia yang kadang berbuat atau bertindak berdasarkan akal pada suatu kesempatan dan berdasarkan nafsu pada kesempatan lainnya. Ia akan bisa berbuat baik di suatu kesempatan dan berbuat jahat di kesempatan lainnya. Ketika telah melakukan perbuatan jahat, ada kemungkinan akan timbul rasa bersalah dalam dirinya dan timbul hasrat untuk memohon ampunan. Namun demikian, ada kemungkinan ia akan mengulangi lagi perbuatan jahatnya di waktu yang lain.

Manusia golongan ketiga adalah manusia yang cenderung berbuat baik di setiap kesempatan. Ini adalah kondisi ideal manusia, dimana akal mampu mengendalikan nafsu dan membawanya pada hal-hal yang positif sesuai dengan peraturan negara dan agama.

Akal sendiri adalah bagian terpenting yang membedakan antara manusia dan binatang. Keutamaan manusia adalah karena selain dikarunia nafsu, ia juga dikaruniai akal sebagai suatu sarana untuk belajar dan terus belajar.

Nafsu pada diri manusia tumbuh lebih dahulu daripada akal, oleh karena itu jika kita perhatikan anak-anak kita, mereka selalu ingin agar apa yang diminta dituruti oleh orang tuanya. Bahkan harus menjerit jika kemauannya tidak terpenuhi. Akal pada diri manusia berkembang sedikit demi sedikit untuk membangun kekuatan dan mulai bisa mengimbangi kekuatan pengaruh nafsu pada saat manusia berusia belasan tahun.

Namun demikian, proses tumbuh kembangnya akal pada diri manusia tak lepas dari bagaimana cara orang tua menumbuhkan anaknya. Salah satu faktor terpenting agar akal bisa tumbuh dengan baik (dalam konsep Islam) adalah dengan memberikan makanan yang halal (dan baik). Halal baik dari jenis makanannya maupun dari cara mendapatkannya.

Jadi, marilah kita berhati-hati dalam memberi makan anak kita agar nafsunya tidak mendominasi akalnya sehingga akan tumbuh generasi yang baik di kemudian hari.

Monday, October 17, 2005 

Hak Orang Miskin

Membaca berita tentang antrinya orang-orang miskin mengambil uang kompensasi BBM Rp.300 ribu/3 bulan memberikan perasaan sedih tersendiri. Apalagi dari kegiatan antri tersebut ada yang akhirnya meninggal dunia karena kelelahan. Belum lagi ada yang rela berjalan kaki sekian kilometer dari rumahnya ke tempat pengambilan uang. Dan yang lebih parah lagi, ada juga calo yang rela membeli tanda bukti untuk mengambil uang kompensasi BBM tersebut dan orang-orang yang sebenarnya tidak miskin tetapi mengaku miskin.

Mengamati keadaan ini, kita melihat sebuah negara yang katanya mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi telah salah memahami dan menerapkan Islam dalam kehidupan nyata. Ternyata yang ada baru sebatas ibadah apa adanya dan hanya sekedar menunaikan dan menggugurkan kewajiban yang dibebankan, dan tidak atau belum diterapkan dalam kehidupan sesungguhnya sebagai sebuah falsafah hidup.

Sesungguhnya, kalau kita merujuk kepada Al-Quran, orang kaya memiliki suatu amanah yang sangat berat dengan hartanya.
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tak mendapat bagian (tidak meminta) - Quran surat adz-Dzariyat ayat 19.
Pada firman tersebut, Allah menggunakan kata "hak" dimana hal ini memberikan konsekuensi yang sangat berat bagi orang kaya jika mengabaikannya.

Tetapi ternyata realita yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari sangat berbeda dari apa yang kita yakini (atau setidaknya kita mengakui menyakininya). Kasus antrian kompensasi BBM mempertontonkan secara jelas akan hal itu. Betapa orang miskin semakin terpuruk kondisinya sedangkan orang kaya ternyata "tidak sepenuhnya" perduli kepada hak si miskin yang diamanatkan dalam harta mereka. Dan lebih dari itu, pemerintahan kita yang dipegang oleh pemimpin-pemimpin yang beragama Islam ternyata juga mandul dalam memahami Islam sebagai sebuah falsafah kepemimpinan. Padahal, betapa ributnya tokoh-tokoh Islam ketika menjelang pemilu melarang memilih pemimpin yang berjenis kelamin wanita atau pemimpin yang tidak beragama Islam yang diamini oleh banyak pihak dan elemen masyarakat (dan bahkan di beberapa tempat dapat menyulut perilaku anarkis). Dimana sekarang suara mereka? Mengapa hanya ribut dengan sweeping tempat-tempat maksiat? mengapa hanya ribut dengan Ahmadiyah? Seharusnya mereka juga ribut dengan hak-hak orang miskin yang telah terabaikan selama sekian puluh tahun sejak bangsa bernama Indonesia merdeka.

Memang ini bukan sekedar kesalahan pemerintah atau tokoh-tokoh Islam tertentu semata, lebih dari itu ini adalah kesalahan kita semua. Sebuah ironi bahwa negara bernama Indonesia yang katanya berpenduduk mayoritas beragama Islam ternyata jarang memiliki aturan yang berfalsafahkan atau bersemangatkan Islam (kecuali mungkin Undang-Undang Pernikahan atau Haji). SBY bilang, kita Islam moderat? apa itu Islam moderat? Modal dengkul sama urat? Apalah guna bersibuk-sibuk dengan sebuah istilah? Ada hal yang lebih penting daripada sekedar bermain istilah dan mempertotonkannya ke dunia luar.

Tips:
Mengatasi kemiskinan bisa kita mulai dari lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Kenalilah orang-orang miskin di sekitar rumah kita dan bantulah mereka sesuai kemampuan kita. Berikanlah hak mereka yang ada pada harta kita.

Thursday, October 13, 2005 

Angsa Alster



Salah satu kesukaan Hasna adalah memberi makan angsa dan burung merpati yang hidup bebas di Alster dekat Rathaus, Hamburg. Angsa-angsa ada atau dilepas selama musim semi dan panas dan dikandangkan kembali pada saat musim dingin.

Tempat di sekitar Alster adalah daerah pertokoan dan perkantoran elit. Kami ke sini hanya jika Hasna sedang ingin memberi makan angsa saja, selain itu jarang kecuali jika ada tamu/teman/saudara dari tanah air yang ingin diantar jalan-jalan ke sini.

Kalau cuaca sedang cerah, banyak orang datang ke sini. Ada yang ngerumpi, ada yang berjemur, ada yang baca buku, ada yang makan es krim, ada yang berolah raga, ada juga yang sedikit mabok minum bir, dan lain-lain. Kadang-kadang ada juga anak muda yang ber-break dance di halaman Rathaus, juga tukang ngamen lain seperti pantomim atau badut. Pokoknya rame deh. Selain itu, biasanya di bulan Juni selalu ada layar tancep setiap akhir pekan di halaman Rathaus. Acara-acara seperti pasar musim panas, pasar Natal, perayaan Tahun Baru (dengan petasan dan kembang apinya), dan lain-lain juga diadakan di sini setiap tahunnya.

Oh iya, selain angsa dan merpati, di sini ada juga bebek. Semuanya hidup bebas dan tidak perlu takut bakalan ada yang menembak pakai senapan angin atau menangkapnya untuk disembelih.

Video di bawah ini adalah Hasna sedang memberi makan merpati dan Rathaus.





Jadi kalau ke Hamburg, jangan lupa mampir ke sini ya. Kalau naik S- atau U-Bahn, turun saja di Jungfernstieg. Tidak jauh dari tempat ini ada Alster tourist trip pakai kapal. Kalau tidak salah, rumahnya Rahardi Ramelan juga ada di sekitar Alster ini (gosip resmi). Dan kalau tour naik kapal mengelilingi Danau Alster, nanti bisa juga melihat-lihat rumah-rumah mewah artis dan orang kaya di Hamburg. Saya naksir juga ingin beli rumah di sini, tapi tunggu deh nanti kalau menang lotto toto alias lotere (hahaha, kapan juga pasangnya!).

Wednesday, October 12, 2005 

tes vblog



Ni Londo nanya tentang bagaimana caranya supaya bisa ngeposting video di blog. Berikut saya coba posting video hasil editan dengan Windows Movie Maker dan disimpan dengan format wmv dengan resolusi 320x240 pixel, Bitrate 150KB/sec, 15 frame/sec, ukuran file 11MB.

Update: Saya coba edit ulang video tersebut hingga hanya berdurasi 2,5 menit dan berukuran 2,99MB.

Sayangnya memang Ni Londo nggak bisa ngejalanin Windows Movie Maker soalnya PC-nya masih menggunakan OS Windows 98. Padahal Windows Movie Maker baru ada ketika Windows Milenium (ME) diluncurkan. Ada sebenarnya unoficial service pack utk upgrade dari Windows 98 sehingga memiliki feature Windows ME dan bisa menjalankan Windows Movie Maker. Buat Ni Londo, kalau mau ngedit file videonya, kasih aja ke saya, mungkin bisa saya konversiin ke ukuran yg bisa ditampilin di blog.

OK, kembali ke vblog, kalau dimainin dari sini sih bagus karena memang pakai broadband, tapi saya nggak tahu kalau dilihat dari Indonesia misalnya. Mohon masukkannya ya...

Update: Usul Mas Kus untuk mengkonversi ke Flash sudah saya coba pakai SWISHVideo2, tetapi ternyata host-nya failed mendeteksi format file tersebut waktu upload (mungkin masih ada yg salah waktu konversi?). Selain itu, file hasil konversi koq jauh lebih besar ya? Jadi, ya mungkin untuk sementara ini vblog masih merupakan layanan yg bisa dikonsumsi oleh kalangan terbatas saja :)

Tuesday, October 11, 2005 

Mempertanyakan elit kekuasaan

Sabtu minggu lalu di acara pengajian Ramadan yang diadakan oleh Indonesische Islamische Centrum e.V. Hamburg di KJRI Hamburg menampilkan Bapak Konjen sebagai penceramah. Dalam ceramahnya Pak Konjen membicarakan tentang puasa Ramadan dan hikmah-hikmahnya, termasuk juga apa yang disitir oleh Imam Ghazali mengenai nafsu perut. Memperturutkan nafsu pada perut akan menyebabkan manusia berbuat hal-hal yang melanggar aturan yang ada, begitulah kira-kira ringkasannya.

Memasuki sesi diskusi dan tanya jawab, ada pertanyaan sedikit emosional dari seorang ibu. Karena kebetulan yang memberikan ceramah adalah Pak Konjen, yang menurut ibu penanya adalah bagian dari elit kekuasaan, maka ia mempertanyakan tentang kesusahan yang diderita sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini yang bukannya mereda malahan semakin berat. Ibu itu mempertanyakan, bukankah sebagian besar elit kekuasaan yang ada di Indonesia adalah orang Islam, dan sebagian besar dari mereka menjalankan ibadah puasa Ramadan? Lalu kenapa puasa Ramadan yang mereka lakukan seolah-olah tidak bisa memberikan hikmah sama sekali dan cenderung berlawanan dengan hikmah Ramadan yang Bapak Konjen uraikan? Kalau saja hikmah Ramadan yang Bapak uraikan itu benar-benar mereka dapatkan, tentunya tidak mungkin terjadi korupsi yang semakin merajalela, penderitaan rakyat kebanyakan yang tak ada hentinya, dan lain-lain. Mungkin Bapak tahu bagaimana supaya hikmah Ramadan ini benar-benar bisa meresap di dalam hati mereka, sehingga apa yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 ("... agar kalian bertakwa") benar-benar menjadi kenyataan?

Pak Konjen kita ini orangnya mudah terharu. Mendengar pertanyaan itu ia terharu dan meneteskan air mata. Agak susah ia menjawabnya, dan secara politis hanya menjawab: Apalah saya ini dalam lingkaran elit kekuasaan? Jika kembali ke Jakarta, saya mungkin hanya ada di posisi paling bawah dari elit kekuasaan yang ada. Mungkin memang banyak anggota elit kekuasaan yang berperilaku buruk, namun masih banyak juga yang baik-baik... dst...dst... Di akhir jawabannya beliau hanya bisa berpesan: mungkin memang generasi yang sedang berkuasa saat ini banyak yang buruk dan kurang berkualitas, maka dari itu marilah kita mendidik anak-anak kita, generasi yang akan datang, agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih baik yang insya-Allah dapat membawa bangsa kita kepada kehidupan yang jauh lebih baik.

Saya tidak akan mencoba untuk menanggapi pertanyaan sang ibu ataupun berkomentar atas jawaban dari Pak Konjen. Karena sama halnya seperti Pak Konjen, saya pun tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan yang menggugat itu. Bagi saya, mungkin yang lebih penting adalah menggarisbawahi tentang hikmah positif apa saja yang seharusnya dapat kita peroleh dari melaksanakan puasa Ramadan agar gugatan dari pertanyaan ibu di atas tidak terjadi pada kita.

Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus

Monday, October 10, 2005 

Batik dan Hemat

Mungkin masih inget jaman kantor Presiden dan Wapres memproklamasikan gerakan hemat energi? Salah satu anjuran waktu itu adalah penggunaan batik di tempat kerja, supaya suhu ruang kerja tidak perlu dibuat terlalu dingin karena para birokrat memakai jas tebal dan dasi ketat. Anjuran itu sendiri buat saya memberikan suatu jawaban bahwa akhirnya mereka mengakui bahwa diri mereka adalah orang-orang yang boros. Jadi seperti menunjuk hidung sendiri.

Kalau buat saya, memakai batik bukan berati berhemat, karena biasanya saya memakai batik hanya kalau mau ke undangan saja. Tahu sendiri kan, biasanya kalau kita pergi ke undangan pakaian yang digunakan adalah batik dan lebih dari itu di dalam undangan pasti ada sebuah pesan yang kira-kira berbunyi: "tanpa mengurangi rasa hormat, kami akan sangat berterima kasih bila tanda kasih tidak diwujudkan dalam bentuk barang atau karangan bunga". Artinya pakai baju batik berarti harus bawa amplop yang jangan diisi barang atau karangan bunga, tapi mentahannya saja. Lucu ya? Mau ngundang atau mau nyari sumbangan? Eh maaf ya kalau ada yang tersinggung.

Kembali ke masalah pakai batik dan penghematan. Kalau kita yang pegawai rendahan atau rakyat kebanyakan, kayaknya dari dulu juga sudah biasa berhemat deh. Kantor-kantor kebanyakan biasanya hanya pakai kipas angin yang cuman menyedot sedikit listrik. Rumah-rumah kebanyakan juga paling banter hanya ada kipas angin dan tidak mungkin memasang AC karena listriknya saja hanya bisa langganan yang 450Watt. Kita juga tidak pernah pakai jas ke tempat kerja, bahkan kalau saja boleh pakai kaos dan mungkin celana pendek pasti deh banyak yang setuju dan tanpa dipaksa-paksa akan segera mematuhinya.

Tapi memang saya sampai sekarang punya beberapa pertanyaan:
  1. kenapa sih pakaian kebesaran pejabat kita itu jas, padahal harusnya mereka kan tahu bahwa pakai jas di Indonesia bakalan kepanasan? Dugaan saya, pasti kepingin kelihatan keren seperti pejabat-pejabat di Eropa dan Amerika yang suka keluar di siaran TV.
  2. Kenapa sih gedung-gedung kita banyak yang dibikin seperti rumah kaca buat tanaman, yang memang sengaja dibuat seperti itu untuk mengumpulkan energi panas? Dugaan saya, pasti para arsitek kita belajarnya hanya pakai text book luar negeri (dari pengarang-pengarang di negara lintang menengah dan tinggi yang ada musim dinginnya, sehingga perlu untuk membuat bangunan yang mampu menyimpan atau memperangkap panas).
  3. Jaman saya SD dan SMP, sepeda dan becak itu adalah kendaraan yang paling nyaman untuk bepergian dalam jarak yang tidak terlalu jauh, juga berjalan kaki. Tapi kenapa ya hal-hal yang hemat energi seperti itu malah dihilangkan dengan cara tidak disediakan fasilitas jalan khusus buat mereka? Malah jalan untuk mobil yang jelas-jelas minum bensin dilebarin. Kelihatan kumuh mungkin ya kalau jalan kaki, naik sepeda atau becak? Kurang modern!
  4. Kenapa coba harga kendaraan bermotor diobral sehingga banyak orang yang membelinya? Wah kalau yang ini jawabannya jelas: buat pengusaha ini masalah bisnis dan keuntungan! sedangkan buat pemakai ini masalah prestise dan status sosial!
Jadi, bukan salah bunda mengandung kan?

 

BBM, bersama kita bisa!

Sepulang dari acara buka puasa bersama dan shalat Tarawih di KJRI Hamburg Jumat minggu lalu, saya dan beberapa orang kawan berbicara sersan (serius tapi santai) tentang kenaikan harga BBM termasuk peristiwa dijadikannya Aa Gym sebagai bintang iklan BBM. Karena santai, maka pembicaraan selalu diramaikan dengan derai tawa karena komentar-komentar yang lucu. Kelucuan dan kesantaian yang ada bukan karena kita hendak menyepelekan kasus naiknya harga BBM dan tidak ikut merasa berempati, tetapi lebih karena tidak ada pilihan lain selain mentertawakan nasib kita sendiri. Bukankah itu memang sudah merupakan keseharian kita untuk mentertawakan diri sendiri?

Kebanyakan dari teman seobrolan itu menyoroti tentang melambungnya harga barang-barang kebutuhan baik yang berhubungan langsung maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan BBM menjelang lebaran. Apalagi, kita semua tahu bahwa tanpa kenaikan BBM, karena sudah tradisi, harga barang-barang itu pasti akan melambung menjelang lebaran dan ogah turun setelah lebaran (sama kelakuannya dengan para pemimpin kita, yang kalau sudah naik pasti ogah turun).

Kita yang ngobrol tahu pasti bahwa nasib mereka yang selama ini memang sudah hidup pas-pasan pasti akan semakin berat. Bukan apa-apa, secara pribadi sebagian besar dari kita sudah mengalaminya langsung selama tinggal di Indonesia. Bagaimana rasanya hari-hari di bulan Ramadan harga-harga mulai naik, sementara tradisi kadang-kadang "mengharuskan" kita untuk mengalokasikan dana ekstra untuk naiknya kebutuhan pokok, THR pembantu rumah tangga, baju baru untuk anak, makanan enak di hari Idul Fitri, pulang kampung, dll. Oleh karena itu, meskipun dengan nada bercanda, kawan-kawan ngobrol saya itu protes sama kebijakan pemerintah yang ternyata semakin memberatkan rakyat.

Di sela-sela protes santai mereka, saya mencoba untuk "menenangkan". Saya katakan bahwa pemerintah sudah siap dengan semua kenaikan yang terjadi mengikuti naiknya harga BBM, jadi kita tidak perlu kuatir. Tunjangan uang bensin untuk birokrasi dari mulai Camat hingga Presiden sudah dan akan disesuaikan, juga keperluan belanja barang. Sedangkan untuk rakyat, kita kan menganut sistem perwakilan, tunjangan-tunjangan untuk wakil rakyat juga sudah dan akan disesuaikan. Apalagi dengan memotong subsidi, pemerintah bisa menghemat uang dalam jumlah besar, lebih leluasa bagi-bagi jatahnya. Jadi semua beres kan?

Bersama kita bisa! kata SBY waktu kampanye.

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares