« Home | Hak Orang Miskin » | Angsa Alster » | tes vblog » | Mempertanyakan elit kekuasaan » | Batik dan Hemat » | BBM, bersama kita bisa! » | PDL: Payah Deh Lu! » | Ngelantur... » | Altitude Illnesses » | Wind power - energy from the air » 

Thursday, October 20, 2005 

Akal dan Nafsu

Ada tiga golongan manusia berdasarkan pada akal dan nafsunya yaitu:
  1. Manusia yang nafsunya lebih dominan daripada akalnya.
  2. Manusia yang nafsu dan akal sama-sama dominan.
  3. Manusia yang akalnya lebih dominan daripada nafsunya.
Manusia golongan pertama akan cenderung menuruti keinginan hawa nafsunya. Segala sesuatu didasarkan hanya kepada nafsu semata. Nafsu akan cenderung memegang kendali penuh terhadap akalnya, bahkan aturan negara dan agama pun akan dilawannya bila tidak sesuai dengan kriteria nafsunya.

Secara umum, nafsu ini akan cenderung membawa manusia pada perbuatan yang negatif karena dominasinya terhadap akal. Manusia dalam golongan ini tidak akan pernah punya perasaan bersalah.

Kadang-kadang pada bulan Ramadan ada orang yang suka bertanya: "katanya di bulan Ramadan setan-setan akan dirantai, lalu kenapa masih ada saja orang-orang yang membunuh, berbuat kekerasan, mencuri, merampok dan sebagainya?". Jawabannya adalah karena nafsunya telah membelenggu dirinya dan mengendalikan akalnya.

Manusia golongan kedua adalah manusia yang kadang berbuat atau bertindak berdasarkan akal pada suatu kesempatan dan berdasarkan nafsu pada kesempatan lainnya. Ia akan bisa berbuat baik di suatu kesempatan dan berbuat jahat di kesempatan lainnya. Ketika telah melakukan perbuatan jahat, ada kemungkinan akan timbul rasa bersalah dalam dirinya dan timbul hasrat untuk memohon ampunan. Namun demikian, ada kemungkinan ia akan mengulangi lagi perbuatan jahatnya di waktu yang lain.

Manusia golongan ketiga adalah manusia yang cenderung berbuat baik di setiap kesempatan. Ini adalah kondisi ideal manusia, dimana akal mampu mengendalikan nafsu dan membawanya pada hal-hal yang positif sesuai dengan peraturan negara dan agama.

Akal sendiri adalah bagian terpenting yang membedakan antara manusia dan binatang. Keutamaan manusia adalah karena selain dikarunia nafsu, ia juga dikaruniai akal sebagai suatu sarana untuk belajar dan terus belajar.

Nafsu pada diri manusia tumbuh lebih dahulu daripada akal, oleh karena itu jika kita perhatikan anak-anak kita, mereka selalu ingin agar apa yang diminta dituruti oleh orang tuanya. Bahkan harus menjerit jika kemauannya tidak terpenuhi. Akal pada diri manusia berkembang sedikit demi sedikit untuk membangun kekuatan dan mulai bisa mengimbangi kekuatan pengaruh nafsu pada saat manusia berusia belasan tahun.

Namun demikian, proses tumbuh kembangnya akal pada diri manusia tak lepas dari bagaimana cara orang tua menumbuhkan anaknya. Salah satu faktor terpenting agar akal bisa tumbuh dengan baik (dalam konsep Islam) adalah dengan memberikan makanan yang halal (dan baik). Halal baik dari jenis makanannya maupun dari cara mendapatkannya.

Jadi, marilah kita berhati-hati dalam memberi makan anak kita agar nafsunya tidak mendominasi akalnya sehingga akan tumbuh generasi yang baik di kemudian hari.

makanan halal dan berkah.. yang dibeli dari uang halal.. bener ga ya? hallo agus gimana puasanya? salam buat keluarga..

ya setuju sekali.... saya jadi kena nih saya ini manusia jenis apa ya???

kamu masuk golongan yg mana, gus? :D

Eh dulu pernah ada quote tentang dua serigala yang hidup di dalam diri manusia. Yang menang adalah yang paling sering diberi makan. Cocok sama tulisannya :-)

@rieke: puasa enak di sini Mom, nggak stress mikirin THR dan mudik...

@sa: hehehe... kali masih jenis ke-2...

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares