« Home | PDL: Payah Deh Lu! » | Ngelantur... » | Altitude Illnesses » | Wind power - energy from the air » | Fakta Laut Dalam (Deskripsi Ilmiah An-Nur:40) » | Panduan Singkat Berpuasa Ramadhan (5) » | Homework Help » | Why waste time on TV? » | Panduan Singkat Berpuasa Ramadhan (4) » | Sekelumit tentang Hurricane (1) » 

Monday, October 10, 2005 

BBM, bersama kita bisa!

Sepulang dari acara buka puasa bersama dan shalat Tarawih di KJRI Hamburg Jumat minggu lalu, saya dan beberapa orang kawan berbicara sersan (serius tapi santai) tentang kenaikan harga BBM termasuk peristiwa dijadikannya Aa Gym sebagai bintang iklan BBM. Karena santai, maka pembicaraan selalu diramaikan dengan derai tawa karena komentar-komentar yang lucu. Kelucuan dan kesantaian yang ada bukan karena kita hendak menyepelekan kasus naiknya harga BBM dan tidak ikut merasa berempati, tetapi lebih karena tidak ada pilihan lain selain mentertawakan nasib kita sendiri. Bukankah itu memang sudah merupakan keseharian kita untuk mentertawakan diri sendiri?

Kebanyakan dari teman seobrolan itu menyoroti tentang melambungnya harga barang-barang kebutuhan baik yang berhubungan langsung maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan BBM menjelang lebaran. Apalagi, kita semua tahu bahwa tanpa kenaikan BBM, karena sudah tradisi, harga barang-barang itu pasti akan melambung menjelang lebaran dan ogah turun setelah lebaran (sama kelakuannya dengan para pemimpin kita, yang kalau sudah naik pasti ogah turun).

Kita yang ngobrol tahu pasti bahwa nasib mereka yang selama ini memang sudah hidup pas-pasan pasti akan semakin berat. Bukan apa-apa, secara pribadi sebagian besar dari kita sudah mengalaminya langsung selama tinggal di Indonesia. Bagaimana rasanya hari-hari di bulan Ramadan harga-harga mulai naik, sementara tradisi kadang-kadang "mengharuskan" kita untuk mengalokasikan dana ekstra untuk naiknya kebutuhan pokok, THR pembantu rumah tangga, baju baru untuk anak, makanan enak di hari Idul Fitri, pulang kampung, dll. Oleh karena itu, meskipun dengan nada bercanda, kawan-kawan ngobrol saya itu protes sama kebijakan pemerintah yang ternyata semakin memberatkan rakyat.

Di sela-sela protes santai mereka, saya mencoba untuk "menenangkan". Saya katakan bahwa pemerintah sudah siap dengan semua kenaikan yang terjadi mengikuti naiknya harga BBM, jadi kita tidak perlu kuatir. Tunjangan uang bensin untuk birokrasi dari mulai Camat hingga Presiden sudah dan akan disesuaikan, juga keperluan belanja barang. Sedangkan untuk rakyat, kita kan menganut sistem perwakilan, tunjangan-tunjangan untuk wakil rakyat juga sudah dan akan disesuaikan. Apalagi dengan memotong subsidi, pemerintah bisa menghemat uang dalam jumlah besar, lebih leluasa bagi-bagi jatahnya. Jadi semua beres kan?

Bersama kita bisa! kata SBY waktu kampanye.

Ada seorg kamerad yg saya hampir kenal baik berpendapatan 935 dolar per bulan. Disaat 1 dolar identik dgn 8500 rupiah, kita tau brp pendapatan teman kita itu. Disaat 1 dolar sama dgn 10500 rupiah, mmm... kayaknya melemahnya rupiah berdampak sedikit negativ utk bahan bakar tapi berdampak positif banget buat bahan kebutuhan pokok. Kesimpulan, apa perlu kita ganti mata uang kita ke dolar? :)

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares