« Home | Angsa Alster » | tes vblog » | Mempertanyakan elit kekuasaan » | Batik dan Hemat » | BBM, bersama kita bisa! » | PDL: Payah Deh Lu! » | Ngelantur... » | Altitude Illnesses » | Wind power - energy from the air » | Fakta Laut Dalam (Deskripsi Ilmiah An-Nur:40) » 

Monday, October 17, 2005 

Hak Orang Miskin

Membaca berita tentang antrinya orang-orang miskin mengambil uang kompensasi BBM Rp.300 ribu/3 bulan memberikan perasaan sedih tersendiri. Apalagi dari kegiatan antri tersebut ada yang akhirnya meninggal dunia karena kelelahan. Belum lagi ada yang rela berjalan kaki sekian kilometer dari rumahnya ke tempat pengambilan uang. Dan yang lebih parah lagi, ada juga calo yang rela membeli tanda bukti untuk mengambil uang kompensasi BBM tersebut dan orang-orang yang sebenarnya tidak miskin tetapi mengaku miskin.

Mengamati keadaan ini, kita melihat sebuah negara yang katanya mayoritas penduduknya beragama Islam tetapi telah salah memahami dan menerapkan Islam dalam kehidupan nyata. Ternyata yang ada baru sebatas ibadah apa adanya dan hanya sekedar menunaikan dan menggugurkan kewajiban yang dibebankan, dan tidak atau belum diterapkan dalam kehidupan sesungguhnya sebagai sebuah falsafah hidup.

Sesungguhnya, kalau kita merujuk kepada Al-Quran, orang kaya memiliki suatu amanah yang sangat berat dengan hartanya.
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tak mendapat bagian (tidak meminta) - Quran surat adz-Dzariyat ayat 19.
Pada firman tersebut, Allah menggunakan kata "hak" dimana hal ini memberikan konsekuensi yang sangat berat bagi orang kaya jika mengabaikannya.

Tetapi ternyata realita yang dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari sangat berbeda dari apa yang kita yakini (atau setidaknya kita mengakui menyakininya). Kasus antrian kompensasi BBM mempertontonkan secara jelas akan hal itu. Betapa orang miskin semakin terpuruk kondisinya sedangkan orang kaya ternyata "tidak sepenuhnya" perduli kepada hak si miskin yang diamanatkan dalam harta mereka. Dan lebih dari itu, pemerintahan kita yang dipegang oleh pemimpin-pemimpin yang beragama Islam ternyata juga mandul dalam memahami Islam sebagai sebuah falsafah kepemimpinan. Padahal, betapa ributnya tokoh-tokoh Islam ketika menjelang pemilu melarang memilih pemimpin yang berjenis kelamin wanita atau pemimpin yang tidak beragama Islam yang diamini oleh banyak pihak dan elemen masyarakat (dan bahkan di beberapa tempat dapat menyulut perilaku anarkis). Dimana sekarang suara mereka? Mengapa hanya ribut dengan sweeping tempat-tempat maksiat? mengapa hanya ribut dengan Ahmadiyah? Seharusnya mereka juga ribut dengan hak-hak orang miskin yang telah terabaikan selama sekian puluh tahun sejak bangsa bernama Indonesia merdeka.

Memang ini bukan sekedar kesalahan pemerintah atau tokoh-tokoh Islam tertentu semata, lebih dari itu ini adalah kesalahan kita semua. Sebuah ironi bahwa negara bernama Indonesia yang katanya berpenduduk mayoritas beragama Islam ternyata jarang memiliki aturan yang berfalsafahkan atau bersemangatkan Islam (kecuali mungkin Undang-Undang Pernikahan atau Haji). SBY bilang, kita Islam moderat? apa itu Islam moderat? Modal dengkul sama urat? Apalah guna bersibuk-sibuk dengan sebuah istilah? Ada hal yang lebih penting daripada sekedar bermain istilah dan mempertotonkannya ke dunia luar.

Tips:
Mengatasi kemiskinan bisa kita mulai dari lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Kenalilah orang-orang miskin di sekitar rumah kita dan bantulah mereka sesuai kemampuan kita. Berikanlah hak mereka yang ada pada harta kita.

iya, bahkan ada isu beberpa oknum meminta uang keringat buat membagi uang kompensasi BBM, menyedihkan melihat hal semacam itu. Hari begini masih ada saja preman berseragam !!!

mumpung berdekatan dengan ied Fitri , mari kita bersama -s ma mengentas kemiskinan.

pasti banyak penyimpangan deh.. gemes liatnya...
mentalnya kali ya yang kudu dibenahi.. susah susah..

Maka dari itu mas, kudu menjadi pengusaha yang islami. Karena sesungguhnya 9 dari 10 (eh bener ga sih?) penghuni surga itu adalah pedagang (pengusaha lah intinya).

Entrepreneur itu distributor kesejahteraan. Makin besar distributornya, makin bahagia pula lah dia dunia dan akhirat :-)

ya, nggak cuma zakat-infaq-shadaqah aja yg jadi hak orang miskin. tapi bagaimana pemerintah mengatur agar yg miskin bisa memperbaiki taraf hidupnya dgn bekerja. kalo bahasa Orde Baru kan "ngasih kailnya". di agama juga kan ada pernyataan agar kita bekerja untuk mengangkat harga diri ;). lha sekarang lapangan kerja ndak ada, kalaupun ada penghasilannya minim banget :(

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares