« Home | Akal dan Nafsu » | Hak Orang Miskin » | Angsa Alster » | tes vblog » | Mempertanyakan elit kekuasaan » | Batik dan Hemat » | BBM, bersama kita bisa! » | PDL: Payah Deh Lu! » | Ngelantur... » | Altitude Illnesses » 

Monday, October 24, 2005 

Lap Makan dari Kaos Bekas

Selera makan saya pernah langsung hilang ketika hendak makan di warung makan pinggir jalan akibat melihat mbak yang menjual makanan mengelap piringnya dengan menggunakan lap dari kaos bekas. Pernah juga seorang kawan mengalami hal serupa, tetapi bukan karena lap piring dari kaos bekas, melainkan gara-gara tissue yang ditaruh di meja adalah tissue untuk toilet.

Dua hal di atas adalah contoh bagaimana hal yang mungkin wajar menurut seseorang bisa jadi adalah hal yang tidak wajar buat orang lain. Buat mbak pedagang warung makan, kaos bekas asalkan sudah dicuci dengan bersih adalah sah jika dialihfungsikan menjadi lap piring dan gelas, tetapi buat orang lain, sekali kaos tetaplah kaos. Mungkin bisa dialihfungsikan menjadi lap, tapi harap jangan dijadikan lap piring dan gelas, cukup jadi lap meja saja. Demikian juga dengan kasus tissue toilet. Buat orang yang sudah terbiasa melihat tissue itu hanya berada di WC dan digunakan setelah buang hajat besar, mungkin akan menjadi merinding jika melihatnya ada di meja makan, meskipun tissue itu bersih dan bukan diambil dari persediaan yang ada di WC.

Sebenarnya, dari sudut pandang normal dan standar, memang seharusnya kurang layak jika menggunakan kaos bekas sebagai lap piring atau tissue toilet sebagai lap mulut atau tangan di warung makan. Kenapa demikian? Karena konsumen si mbak itu beragam. Jadi gunakanlah standar dan sudut pandang yang umum dalam menyajikan sesuatu dan segala tetek bengeknya agar dagangan makanan si mbak bisa laris dan si pembeli juga merasa nyaman. Jadi, si mbak penjual makanan jangan ngotot menggunakan standar dan sudut pandangnya sendiri dan mengabaikan konsumen.

Hal yang sama seharusnya juga berlaku dalam percaturan politik saat ini. Dihapuskannya subsidi BBM untuk rakyat yang kemudian dilanjutkan dengan dinaikkannya tunjangan para wakil rakyat, dan disusul kemudian dengan peningkatan anggaran Kepresidenan, adalah kasus yang hampir sama dengan mbak penjual makanan yang menggunakan kaos bekas sebagai lap piring atau tissue toilet sebagai lap mulut. Dari sudut pandang rakyat kebanyakan yang hidupnya semakin hari semakin susah, apa yang dilakukan oleh para eksekutif dan legislatif itu adalah suatu tindakan tanpa hati nurani dan melukai perasaan mereka. Dan yang lebih membuat rakyat kebanyakan sakit hati dan sedih adalah kenyataan yang ada bahwa ternyata para wakil rakyat dan birokrat itu tetap ngotot menggunakan sudut pandang mereka dan mengabaikan apa yang dialami rakyatnya.

Jadi, memang begitulah ternyata kualitas para pemimpin kita itu. Kalau saya kaitkan dengan tulisan saya sebelumnya mengenai akal dan nafsu, mungkin mereka bisa saya masukkan ke dalam golongan manusia yang pertama, dimana nafsu lebih dominan daripada akal, sehingga apa yang ada dalam pikiran mereka hanya terbatas pada hal-hal yang bisa memenuhi nafsu mereka semata.

Ya, selamat mengelus dada saja buat rakyat kebanyakan. Ternyata memang cuman segitu kualitas pemimpin kita, kalau istilah jaman saya kuliah dulu: "cuman bisa dapet nilai E mentok". Sungguh kasihan para pemimpin itu...

sama mas , tapi soal \kenaikan tunjangan masih dalam perdebatan dan dengar2 banyak yang tidak setuju ( fraksi ) nya.

yah biar gak dapat THR pokoke dapat tunjangan lah sama saja kan .

ya tho.

hidup anggota dewan.

pemimpin boleh kita kasihani, tapi lebih kesian lagi rakyat kecil kan bos? :)

soal tisu:
http://gombal.blogdrive.com/archive/371.html

dalam soal lap dan tisu, baik atau buruk sering ditentukan oleh pikiran. hal baik bisa menjadi buruk bila kita mikirnya buruk. begitu pun sebaliknya.

cantik ... :)

kalo sumpah palapa kek gimana bunyinya? ingetnya cuman gajah madanya doang..

HM....bner2 bner bgt tuh!!!selain pemerintah jga bnyk tuh terdapat di kehidupan skul!!

Pernah makan dgn kasus serupa. Lap piring kaos bekas, tisunya tisu toilet. Hehehehehee... Akhirnya... BUNGKUS! :))

Aduh susah deh ngomongin pemerintahan. Alergi. Cuman, tetep gunakan hak pilih. Jgn abstein. Biar bisa protes2 klo lagi mood. :)

Post a Comment

My Digest