« Home | Batik dan Hemat » | BBM, bersama kita bisa! » | PDL: Payah Deh Lu! » | Ngelantur... » | Altitude Illnesses » | Wind power - energy from the air » | Fakta Laut Dalam (Deskripsi Ilmiah An-Nur:40) » | Panduan Singkat Berpuasa Ramadhan (5) » | Homework Help » | Why waste time on TV? » 

Tuesday, October 11, 2005 

Mempertanyakan elit kekuasaan

Sabtu minggu lalu di acara pengajian Ramadan yang diadakan oleh Indonesische Islamische Centrum e.V. Hamburg di KJRI Hamburg menampilkan Bapak Konjen sebagai penceramah. Dalam ceramahnya Pak Konjen membicarakan tentang puasa Ramadan dan hikmah-hikmahnya, termasuk juga apa yang disitir oleh Imam Ghazali mengenai nafsu perut. Memperturutkan nafsu pada perut akan menyebabkan manusia berbuat hal-hal yang melanggar aturan yang ada, begitulah kira-kira ringkasannya.

Memasuki sesi diskusi dan tanya jawab, ada pertanyaan sedikit emosional dari seorang ibu. Karena kebetulan yang memberikan ceramah adalah Pak Konjen, yang menurut ibu penanya adalah bagian dari elit kekuasaan, maka ia mempertanyakan tentang kesusahan yang diderita sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini yang bukannya mereda malahan semakin berat. Ibu itu mempertanyakan, bukankah sebagian besar elit kekuasaan yang ada di Indonesia adalah orang Islam, dan sebagian besar dari mereka menjalankan ibadah puasa Ramadan? Lalu kenapa puasa Ramadan yang mereka lakukan seolah-olah tidak bisa memberikan hikmah sama sekali dan cenderung berlawanan dengan hikmah Ramadan yang Bapak Konjen uraikan? Kalau saja hikmah Ramadan yang Bapak uraikan itu benar-benar mereka dapatkan, tentunya tidak mungkin terjadi korupsi yang semakin merajalela, penderitaan rakyat kebanyakan yang tak ada hentinya, dan lain-lain. Mungkin Bapak tahu bagaimana supaya hikmah Ramadan ini benar-benar bisa meresap di dalam hati mereka, sehingga apa yang disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 ("... agar kalian bertakwa") benar-benar menjadi kenyataan?

Pak Konjen kita ini orangnya mudah terharu. Mendengar pertanyaan itu ia terharu dan meneteskan air mata. Agak susah ia menjawabnya, dan secara politis hanya menjawab: Apalah saya ini dalam lingkaran elit kekuasaan? Jika kembali ke Jakarta, saya mungkin hanya ada di posisi paling bawah dari elit kekuasaan yang ada. Mungkin memang banyak anggota elit kekuasaan yang berperilaku buruk, namun masih banyak juga yang baik-baik... dst...dst... Di akhir jawabannya beliau hanya bisa berpesan: mungkin memang generasi yang sedang berkuasa saat ini banyak yang buruk dan kurang berkualitas, maka dari itu marilah kita mendidik anak-anak kita, generasi yang akan datang, agar mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang lebih baik yang insya-Allah dapat membawa bangsa kita kepada kehidupan yang jauh lebih baik.

Saya tidak akan mencoba untuk menanggapi pertanyaan sang ibu ataupun berkomentar atas jawaban dari Pak Konjen. Karena sama halnya seperti Pak Konjen, saya pun tidak tahu apa jawaban dari pertanyaan yang menggugat itu. Bagi saya, mungkin yang lebih penting adalah menggarisbawahi tentang hikmah positif apa saja yang seharusnya dapat kita peroleh dari melaksanakan puasa Ramadan agar gugatan dari pertanyaan ibu di atas tidak terjadi pada kita.

Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus

Setuju dengan Pak Konjen, pertanyaan sang ibu ada tepatnya ada juga sisi emosional berlebihan.

Tapi ibu2 itu orang indo juga?

@kusaeni: iya, ibu itu orang Indonesia juga...

Setuju dgn quote-nya mas. Percuma banget kelaperan dan kehausan tanpa dpt sesuatu dr situ.

"Banyak jg org ber-kata2 spt nabi tp kelakuan spt (maaf) babi".

Semoga kegalauan saat ini karena kita sudah terlalu lama terkekang. Semoga bangsa kita ini cepat dewasa.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares