« Home | Selamat Idul Fitri » | Lap Makan dari Kaos Bekas » | Akal dan Nafsu » | Hak Orang Miskin » | Angsa Alster » | tes vblog » | Mempertanyakan elit kekuasaan » | Batik dan Hemat » | BBM, bersama kita bisa! » | PDL: Payah Deh Lu! » 

Friday, November 04, 2005 

Id Mubarak 1426 H

Kamis, 3 November 2005 kemarin, kami warga negara Indonesia yang tinggal di Hamburg sama-sama melaksanakan shalat Id di KJRI Hamburg. Shalat Id dimulai pukul 09:30 dengan Imam dan Khatib Bapak Ustadz Ibnu Jarir dari Indonesia yang kebetulan sedang berada di Berlin selama bulan Ramadan ini. Sejak pukul 08:00 para jemaah mulai berdatangan satu persatu dengan wajah yang ceria dan penuh senyum kegembiraan. Cuaca hari itu yang diramalkan hujan pun terlihat cerah dan terasa hangat, sepertinya turut bergembira menyambut datangnya hari kemenangan ini.

Alhamdulillah, shalat dan kutbah Id dapat berjalan dengan khusyu dan lancar. Dalam kutbahnya, ustadz Ibnu Jarir menyampaikan tentang makna fitri pada peringatan hari raya Idul Fitri. Kalau tidak salah, beliau menyampaikan 6 atau 7 makna fitri, sayangnya saya hanya ingat 1 saja yaitu fitri dalam beribadah (tidak tahu kenapa konsentrasi saya koq bisa melayang ya sampai tidak ingat makna fitri yang lainnya). Namun demikian, meskipun lupa, secara garis besar saya masih bisa sedikit menangkap benang merah dari kutbahnya tersebut.

Beliau menyampaikan bahwa sebelum ruh manusia ditiupkan ke dalam jasadnya, mereka sudah bersumpah setia kepada Allah bahwa Allah lah tuhan mereka. Kondisi seperti itulah yang disebut sebagai kondisi fitri. Hanya saja, sejak keluarnya manusia (jabang bayi) dari rahim ibunya, Iblis (yang dilaknat oleh Allah) mulai menggoda manusia, sehingga akhirnya banyak manusia yang menjadi lupa dan ingkar akan sumpah setianya tersebut, sehingga lahirlah golongan orang-orang yang kufur (ingkar) dan syirik (menyekutukan).

Selesai kutbah Id, para jemaah saling bermaafan. Ada yang sekedar berjabat tangan, namun tak sedikit pula yang saling berpelukan. Selesai saling bermaafan, para jemaah mulai mencicipi hidangan kecil yang sudah tersedia di halaman belakang KJRI. Sementara itu, di dapur beberapa orang mulai menyiapkan hidangan untuk makan besar yang disediakan dalam dua meja panjang (satu untuk kaum perempuan dan satu lagi untuk kaum lelaki). Menunya adalah ketupat (plastik) atau nasi, lodeh sayuran, semur daging, semur ikan, kerupuk ngejreng (yang berwarna-warni itu lho, yang saya bilang ke Ni Londo kalau pewarna yang digunakan adalah pewarna untuk pakaian), apa lagi ya? koq lupa? Yang jelas, tidak ada menu ayam. Saya kurang tahu, apakah tidak adanya menu ayam ini ada hubungannya dengan kasus flu burung di Eropa atau tidak (tetapi memang sejak buka puasa bersama minggu terakhir di KJRI, menu ayam hilang dari peredaran). Antrian cukup panjang, karena para jemaah memang tidak langsung pulang seusai shalat Id. Oh iya, selesai acara makan siang, Ibu Konjen tak lupa memberikan bingkisan lebaran kepada anak-anak. Ada juga seorang anggota staf KJRI yang membagi-bagikan rokok Gudang Garam kepada para bapak, saya pun kebagian satu bungkus.

Saya dan keluarga tidak mengikuti acara sampai habis, SMP istilahnya: Sudah Makan, Pulang. Biasa, ingin bersantai dan bercengkrama di rumah. Oh iya, kalau di KJRI tidak ada menu ayam sama sekali, kami di rumah masih membuat opor ayam. Menu lebaran kami tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, adalah ketupat plastik, lodeh rebung, opor ayam, sambel goreng ati dan kering tempe. Semua buatan istri saya dan dibuat saat malam takbiran. Tak lupa, istri saya juga menyempatkan diri membuat kastengel dan putri salju. Hmm... sedap deh pokoknya...

Mas, masih ada sisanya dari putri salju itu? ein Stück saja? kalau ada, mohon disimpan sampai besok ya, saya pengin tahu apakah memang sama dengan Vanillekipferl buatan ibu saya untuk Natal...

Kayaknya tahun depan saya harus jauh lebih awal ya datangnya... kirain sampai siang kan acara agama, baru setelah itu halal-bihalal sampai jam 4. Eh tahu2 jam setengah tiga sudah gak ada orang di sana hiks...

Hiyaaaaaaaaa opor ayam , di Madiun belum tuh , biasanya dibuat pas hari Raya Lebaran hmm pas ketupat an begitu. Biasanya berselang beberapa hari setelah Hari H nya.

BTW di Germany ada ketupat gak?? ketupat loh yg di bungkus pake daun ... kelapa?? yg di rajut dan tiada duanya??

:D

Kusaeni: Di Hamburg gak ada atuh ketupat dari daun kelapa yang ada itu ketupat daun plastik..unik khan..;)
Mas, wah ati2 atuh makan azam nanti kena flu burung, hihihi enggak deng mas, kalu direbus ato digoreng ampe matang virusnya hilang kok..tenang aja..

wah asyik de bisa lebaran di kjri hamburg ya mas agus. tambah kangen denger kutbah dalam basa indonesah :( bapak2 dapet rokok gudang garam pula :D biar ga ada menu ayam di kjri yg penting mas agus sekeluarga bisa menikmati opor ayam di rumah :) saya mah ga ragu2 makan ayam disini mas n alhamdulillah sampe hari ini masih sehat :D

;) salam kenal dari fani. alles gute!

hallo mas. wie geht es dir? alles gute ya. salam kenal ;)

@ni londo: kalau acara dimulai dengan makan2 besar, pasti deh cepet selesai. kali yg ngurusin acara kurang pengalaman dgn karakter SMP (sudah makan pulang).

@kusaeni: kalau ada ketupat daun kelapa, kali harganya lebih mahal daripada seluruh makanan yang ada...

@mala: kita sih masih makan ayam di rumah, di yang tukang jual kebab juga masih ada koq ayam grill, jadi ya ada temennya sesama pemakan ayam...

@familjen dettmer: padahal saya gak ngerokok, udah lama berhenti, tapi ikutan dapet rokok gudang garam juga... kali bisa buat nostalgia dicoba kapan2, mumpung lagi musim dingin. dulu sih enak kalau ngerokok dingin2, apalagi kalau sambil minum kopi hangat...

@fani: halo Fani, met kenal juga. thanks ya udah ninggalin pesen...

wah... asyik juga tuh acara lebaran di kbri hamburg
kapan-kapan mampir ah,.. (kapan ? hahahha..)


salam kenal, ya

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares