« Home | SMS Logat Bule » | Religiositas » | Pengungkapan Cinta » | Pertanyaan Kritis Seputar Agama » | PT. Pos Indonesia, Apa Kabar? » | Agenda Penting Hamburg » | Id Mubarak 1426 H » | Selamat Idul Fitri » | Lap Makan dari Kaos Bekas » | Akal dan Nafsu » 

Monday, November 21, 2005 

Nasib Malang Pendidikan Anak

Beberapa hari ini berita di beberapa harian online Indonesia banyak yang membahas tentang pendidikan anak. Kemarin, saya membaca tentang dipecatnya sekian anak SMA di sebuah kota di Jawa Barat karena berbuat mesum di sekolah (detik.com). Hari ini, di harian Kompas ada 2 artikel menarik tentang pendidikan anak di Sekolah Dasar yaitu Jangan Kerdilkan Anak dan Ketika Angka Menjadi Siksaan.

Pada kasus pemecatan, sebenarnya saya protes dengan kebijakan itu. Landasan pemikiran saya sederhana saja: seandainya semua anak yang berbuat salah langsung dipecat dari sekolahnya, lalu dimanakah tugas lembaga pendidikan sesungguhnya? Seharusnya, anak-anak yang bertindak seperti itu mendapat perhatian yang lebih agar dapat diperbaiki kualitasnya, karena itulah sebenarnya fungsi pendidikan.

Tetapi, setelah membaca artikel di Kompas tentang betapa hasil pendidikan anak hanya melulu dilihat dari angka-angka (nilai ulangan) saja, saya menjadi "maklum". Mungkin memang "selayaknya" sekolah-sekolah itu harus memecat, menyingkirkan atau "menghukum" anak-anak yang bermasalah dan atau bernilai jelek, karena akan mengganggu sistem yang berlaku dalam konsep pendidikan yang dianut dan akan menjadikan sekolah itu memiliki ranking yang buruk dalam jajaran sekolah-sekolah bergengsi di tanah air.

Sebenarnya menyedihkan (kalau menurut saya), sudah sekolah harus bayar mahal, ternyata anak bukannya dididik menjadi manusia seutuhnya, tapi hanya sekedar diajari bagaimana memperoleh nilai ulangan yang baik. Belum lagi jika ternyata suasana di rumah juga tidak lebih baik daripada di sekolah. Orang tua turut terbawa dan terhanyut dalam konsep "sesat" pendidikan yang ada yang mengharuskan anaknya mendapat nilai yang baik di sekolah.

Kasihan sekali nasib anak-anak kalau sudah begini, terutama untuk mereka yang bermasalah (menurut standar dan kaidah pendidikan "sesat" yang ada tersebut). Padahal, belum tentu semua itu merupakan kesalahan mereka. Bisa jadi, andil terbesar sebenarnya justru terletak di pundak orang-orang dewasa di sekitarnya, baik itu orang tua, penguasa negara maupun guru.

ya ..parahnya kadang anak2 itu tidak mengerti betapa susahnya orang tua mereka menyekolahkan mereka.

Ada yg asal - asalan sekolahnya ada yg semau gue dan bahkan ada yg parah melakukan tindakan asusila disekolah.

invasi budaya barat sudah mengena generasi muda kita kang.

source ; http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/11/tgl/20/time/15138/idnews/482247/idkanal/10

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares