« Home | Pertanyaan Kritis Seputar Agama » | PT. Pos Indonesia, Apa Kabar? » | Agenda Penting Hamburg » | Id Mubarak 1426 H » | Selamat Idul Fitri » | Lap Makan dari Kaos Bekas » | Akal dan Nafsu » | Hak Orang Miskin » | Angsa Alster » | tes vblog » 

Tuesday, November 15, 2005 

Pengungkapan Cinta

Sebenarnya postingan ini sudah merupakan uneg-uneg lama sekali, terutama ketika saya masih tinggal di Indonesia. Setiap kali saya melihat sinetron di televisi, terutama sinetron keluarga, saya melihat pengungkapan cinta antara suami istri atau orang tua dan anak, dalam adegan sinetron-sinetron yang ada terlihat sangat kaku dan jelek. Ekstrimnya, dalam kehidupan sehari-hari sepasang suami istri tersebut (di dalam sinetron), hampir tidak ada adegan mesra yang menunjukkan rasa saling mencintai atau menyayangi.

Sebaliknya coba perhatikan dengan seksama, jika dalam sinetron keluarga yang diputar terdapat adegan kekerasan dalam rumah tangga, kita melihat hal yang sebaliknya. Adegan kekerasan baik psikis maupun fisik digambarkan secara gamblang dan jelas. Juga dalam sinetron-sinetron yang bertemakan intrik-intrik antar keluarga, kecurangan dan keculasan juga digambarkan dengan sangat jelas dan gamblang.

Ada yang tidak fair dalam menggambarkan 2 kondisi tersebut. Pengungkapan rasa cinta dan sayang seolah ditabukan sementara pengungkapan rasa benci, kekerasan dan kecurangan diperbolehkan. Alasan utamanya, mungkin, hal-hal yang berhubungan dengan pengungkapan rasa cinta dianggap sebagai sesuatu yang mengarah pada pornografi dan tidak sesuai dengan adat ketimuran. Lalu bagaimana dengan adegan kekerasan, keculasan, kecurangan dan sejenisnya?

Bagian ini sedikit keluar dari topik dan mungkin agak basi. Sebenarnya sudah lama saya ingin menuliskannya, hanya saja seringkali lupa. Beberapa waktu yang lalu, dalam sebuah pameran foto, Anjasmara dan Isabele Yahya yang berpose "telanjang" sebagai Adam dan Hawa menuai kritik dan bahkan dilaporkan ke polisi oleh FPI karena dianggap telah menghina Nabi Adam dan Islam. Alasan lainnya, dapat mencemarkan nama baik ustad, karena dalam beberapa sinetron Anjasmara berperan sebagai seorang ustad.

Saya sendiri tidak pernah melihat seperti apa gambar "telanjang" Anjasmara dan Isabele sebagai Adam dan Hawa yang menghebohkan itu. Namun saya sedikit penasaran dengan alasan FPI bahwa gambar itu menghina Nabi Adam dan Islam. Lalu saya coba untuk membaca ayat-ayat dalam Al-Quran yang berkisah tentang Adam dan Hawa, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 30-38 dan Al-A'raf ayat 11-25. Dalam Surat Al-A'raf ayat 22 saya membaca:

Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga...

Artinya, pernyataan bahwa foto itu menghina Nabi Adam dan Islam saya kira terlalu berlebihan, karena Al-Quran secara jelas menyatakan bahwa aurat-aurat mereka memang terlihat setelah mereka memakan buah yang dilarang Allah itu.

Alasan lain yang menyatakan bahwa foto itu akan mencemarkan nama baik ustad lebih tidak masuk akal lagi. Anjasmara hanyalah seorang aktor, kebetulan saja dalam sebuah sinetron ia dapat peran sebagai seorang ustad, tapi itu hanya peran. Seharusnya orang bisa membedakan antara kehidupan nyata dan dunia peran.

Kasihan sekali Anjasmara, karena dia sedang berperan sebagai seorang ustad, dan kebetulan ada tawaran lain untuk berperan sebagai penjahat, dia terpaksa harus menolaknya karena takut dituntut dan dilaporkan ke polisi dianggap mencemarkan nama baik ustad hanya gara-gara menerima tawaran peran sebagai penjahat. Padahal pekerjaan sehari-hari dia adalah aktor bukan ustad atau penjahat.

Topik ini juga sudah agak lama menjadi pertanyaan untuk saya. Kenapa adegan kekerasan dianggap biasa2 aja, tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap penonton yang siapa tahu akan meniru apa yang diperlihatkan dalam suatu film, sedangkan adegan pengungkapan cinta begitu dipermasalahkan dan membuat banyak orang panik... misalnya adegan ciuman dianggap begitu dasyhat dampaknya terhadap penonton sehingga perlu disensor demi melindungi penonton dari contoh "negatif".
Sering argumentasinya gini: adegan cinta, atau hanya ciuman, itu "bukan budaya kami". Lha... apa itu berarti, kekerasan itu "budaya kami"? Padahal kan sebenarnya ciuman atau pengungkapan cinta itu jauh lebih "umum" dipraktekkan daripada kekerasan... Atau penonton dianggap begitu rawan secara psikis terhadap pengaruh adegan pengungkapan cinta atau ciuman, sehingga perlu disensor, tetapi kalau adegan kekerasan, penonton dianggap sudah kebal dan pasti tidak akan meniru apa yg ditonton, biarpun si tokoh utama melakukannya dan para penonton suka identifikasi diri dengan tokoh utama? Dan kekerasan kan jauh lebih fatal buat suatu masyarakat daripada cinta... ?? Why is love something that is deemed so much more dangerous than violence, crime, physical brutality and sadism?
So... pertanyaannya adalah: Ada apa dengan cinta? hehehe... ;)

Asumsi aja nih, kurangya tayangan yang menunjukkan (mengajarkan secara tak langsung ke pada pemirsa) bentuk ekspresi kisah cinta yang tulus (tak harus antara pria-wanita, sebuah eros) mungkin karena :
1. adegan tersebut dianggap kurang komersil dan tidak menjual dibanding violence
2. insan sinetron kurang kreatif mengeksplorasi topik ini hehehehe.... bawaannya koq tipikal melulu

Ohya masalah Adam & Hawa, koq saya gak nemu kalo di Qur'an menyebutkan istri Adam AS itu bernama Hawa ? Apa saya yang kelewatan nyarinya ? Atau pemahaman saya yang salah selama ini ? Terus kita dapet nama Hawa itu dari mana ya ? (just another out of topic question)

@doeljoni: Nama Hawa memang tidak ada dalam Al-Quran. Setahu saya, nama tersebut diambil dari atau bersumber pada kisah-kisah yang disampaikan oleh ulama-ulama terdahulu.

wah trima kasih mas sudah mengangkat tema ini. jadi menjawab kenapa kenapa dari dulu saya tidak menikmati pilem ato sinetron indonesah... dimana coba asyiknya klo yg ditonjolkan ga jauh2 dari istri teriak2 marahin suaminya yg isti ato adegan anak dan istri ngacungin atau menganiaya pembokat ato suami gampar2in istrinya. klopun muncul adegan yayang2an emang bener deh kaku bener ato sebaliknya kaco bener kog malah dibuat mesum...

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares