« Home | PT. Pos Indonesia, Apa Kabar? » | Agenda Penting Hamburg » | Id Mubarak 1426 H » | Selamat Idul Fitri » | Lap Makan dari Kaos Bekas » | Akal dan Nafsu » | Hak Orang Miskin » | Angsa Alster » | tes vblog » | Mempertanyakan elit kekuasaan » 

Monday, November 14, 2005 

Pertanyaan Kritis Seputar Agama

Menjelang hari Natal, di saluran TV anak-anak mulai disiarkan film-film yang bertema Natal. Salah satu yang kemarin saya tonton adalah film seri tentang Jesus yang disiarkan oleh KIKA berjudul Jesus and Josefine setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 20:15. Film ini berkisah tentang seorang anak bernama Josefine yang tinggal di Denmark yang kebetulan tanggal lahirnya bertepatan dengan hari Natal.

Memasuki bulan Desember, sekolahnya mulai mempersiapkan sebuah acara drama tentang kelahiran Jesus. Dalam mempelajari naskah-naskah drama, mulailah timbul pertanyaan-pertanyaan dalam benak Josefine berkaitan dengan kelahiran Jesus. Dua pertanyaan yang mengemuka dalam benaknya adalah: (1) hari lahir Jesus yang katanya jatuh di musim panas namun dirayakan di musim dingin, dan (2) benarkah Jesus itu anak Tuhan?

Josefine begitu penasaran dengan 2 hal tersebut, sehingga ia mencoba bertanya, baik kepada orang tuanya, gurunya, dan bahkan mengirim surat ke Gereja. Yang saya tangkap dari film tersebut, guru dan gereja tidak memberikan jawaban "memuaskan" atas pertanyaannya tersebut, sementara itu dialog (tanya jawab) dengan orangtuanya tidak bisa saya tangkap dengan baik. Satu yang menarik dalam film ini adalah kebiasaan Josefine yang selalu "mengobrol" dengan Tuhan setiap kali hendak pergi tidur.

Pertanyaan anak seperti itu juga terjadi dalam keseharian saya. Hasna, anak saya, di kelas 3 ini mulai mendapat pelajaran agama. Pelajaran pertama yang diperoleh di sekolahnya adalah kisah tentang Adam dan Hawa. Dalam kisah itu, hal yang menarik perhatiannya adalah tentang penggambaran Setan. Dalam kisah yang disampaikan gurunya, Setan digambarkan sebagai seekor ular. Lalu mengenai buah yang dimakan oleh Hawa, dalam kisah itu digambarkan sebagai buah apel. Sampai di rumah ia mencoba bertanya tentang itu: "Bagaimana kalau dalam Islam?". Mengenai buah apel, saya jadi ingat cerita seorang kawan tentang logo Apple (sebuah perusahaan komputer) yang katanya juga diilhami dari kisah Adam dan Hawa ini.

Sebenarnya, berdasarkan pengalaman saya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu bukanlah dominasi anak-anak saja. Orang dewasa pun kadang memiliki pertanyaan yang sama dalam banyak hal mengenai agama. Dari semua pertanyaan yang ada, ada yang bisa mendapatkan jawaban yang memuaskan, ada yang tidak.

Saya masih ingat, dalam pengajian mingguan yang saya suka ikuti di Masjid Indonesia -waktu itu pengajian diadakan menjelang hari Isra (perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa) dan Mi'raj (perjalanan menembus langit ke tujuh) Nabi Muhammad SAW- ada seorang peserta yang bertanya: "Kenapa yang dijelaskan/dikisahkan dalam Al-Quran hanya Isra-nya saja, sementara Mi'raj hanya ada dalam Hadits?" juga pertanyaan: "Apakah dalam proses Mi'raj, jasad Nabi Muhammad turut serta atau hanya ruhnya saja?". Pertanyaan yang sulit dijawab. Mungkin kita bisa menjawabnya, tetapi belum tentu memuaskan bagi yang bertanya.

Oh iya, mengenai pertanyaan-pertanyaan kritis seperti ini, kadangkala ada orang-orang tertentu yang menganggap atau mengecap si-penanya sebagai orang yang "tersesat" karena bertanya hal yang aneh-aneh. Akibat lebih lanjut, kadang ia akan diasingkan dan dijauhi oleh kawan-kawannya dalam pergaulan, bahkan mungkin diberi cibiran.

Saya selalu suka sama pertanyaan anak2, karena pertanyaan mereka polos dan jujur. Dan saya rasa terhadap Allah pun kita lebih jujur kalau kita berani bertanya tentang apa saja yang terasa aneh oleh kita, daripada kita menyembunyikan perasaan heran dan tidak mengerti, apalagi tidak membolehkan orang lain bertanya, kan lebih munafik...
Asal pertanyaan, keheranan dan ketidakmengertian kita jujur dan polos dari batin kita, bukan disalahgunakan demi kepentingan agenda A atau B. Saya rasa justru selama kita masih bisa merasa heran terhadap sesuatu, kita masih jujur atas kondisi kemanusiawiannya kita. Yang sudah tahu dan mengerti semuanya dan tidak pernah merasa ragu hanya Allah.

@Ni Londo: hmmm... memang sebaiknya orang bertanya jangan suka dianggap aneh, karena kadang kala dengan pertanyaan itu kita pun jadi ikut belajar...

mempertanyakan hal-hal yang dianggap 'aneh' oleh umum dan bahkan berpendapat yang beda dengan pendapat mayoritas memang sulit.

Padahal hikmah dibalik usaha pencarian kebenaran hakiki tersebut jauh lebih bermanfaat ketimbang pemahaman dogmatis belaka...

haduuuhhh.. temanya berat kalii.. ampyun Pak, ndak sanggup komen *jingkat2 keluar ruangan* :D:D

Makax keyakinan itu menjadi utama dlm agama..dan tdak smua keyakinan bisa dirasionalkan sebagaimana ilmu alam..

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares