« Home | Baca selanjutnya... » | Google AdSense earning » | Try this! » | Persepsi anak tentang peneliti » | Guyonan » | Array, Matlab dan Fortran » | Penampilan baru » | Indonesia Idol » | Joke dari milis » | Manusia dan Matematika » 

Saturday, December 17, 2005 

Hi Arnold! dan matematika

Kemarin saya menonton film seri kartun yang suka dilihat anak saya di televisi, judulnya Hi Arnold! Kisah dalam film ini cukup menggelikan. Seorang anak baru yang berbadan besar masuk di kelasnya Arnold. Dia sangat bodoh dalam pelajaran matematika, bahkan ketika gurunya bertanya 3+3 ia menjawab 33 sehingga semua anak di kelas itu menertawakannya.

Arnold adalah anak yang suka menolong temannya. Dia berusaha untuk membantu anak itu belajar matematika bahkan sampai datang ke rumah anak itu. Tetapi anak itu tetap saja tidak bisa matematika. Setiap Arnold menjelaskan, dia malah asyik bermain sendiri saking frustrasinya tidak bisa matematika.

Suatu ketika, saat Arnold dan anak itu (sebut saja namanya sebagai si Bodoh Besar, karena saya lupa siapa namanya) sedang mengobrol di jalan, lewatlah seorang anak yang biasa dipalak oleh si Bodoh Besar ini. Kebetulan anak yang lewat ini sudah beberapa hari tidak lewat sehingga ia berhutang uang palakan selama beberapa hari kepada si Bodoh Besar. Hebatnya, ketika berurusan dengan uang palakan, si Bodoh Besar jadi begitu lancar berghitung ketika si anak tadi memberikan jumlah yang kurang. Dengan lancar dia mampu mengalikan, mengurangi, dan membagi angka-angka. Hal ini tak lepas dari perhatian Arnold, dan akhirnya dipergunakan sebagai metode untuk mengajari anak itu berhitung.

Oh iya, dalam film itu diceritakan bahwa dalam beberapa minggu ke depan di kelas Arnold akan diadakan ulangan matematika. Jadi kegiatan Arnold mengajari si Bodoh Besar itu matematika adalah dalam rangka menghadapi ulangan tersebut, karena anak itu tidak pernah lulus ulangan matematika.

Singkat cerita, proses belajar mengajar antara Arnold dan si Bodoh Besar berjalan dengan lancar dengan tekhnik menghitung uang palak. Sayangnya H-1 menjelang ulangan, anak itu kembali mengalami minder dan trauma.

Pada hari H, anak itu datang terlambat dan hingga semua anak selesai mengerjakan ulangan matematika, ia masih di dalam kelas dan belum mengerjakan satupun soal-soal ulangannya. Arnold dengan setia menungguinya di luar kelas dengan sekali-sekali melihat melalui kaca pintu.

Suatu kebetulan lagi, anak yang dipalak kemarin lewat di depan kelas itu. Kali ini Arnold menyeret anak itu dan menunjukkannya di kaca pintu agar bisa dilihat si Bodoh Besar. Kebetulan si Bodoh Besar itu melihatnya dan akhirnya dia berhasil mengerjakan soal-soal ulangan yang ada. Dan ketika hasil ulangan matematika dibagikan beberapa hari kemudian, ternyata si anak bisa memperoleh nilai C+.

Ide cerita yang cukup lucu dan menggelikan...

hi hi hi si bodoh besar asli bakat dagang nie. bgitu dihadapkan dgn 'dagangannya' langsung deh lancar...

+++ tika

Sering juga sih ngeliat (sepintas) Hi Arnold!. Cuman karena gambarnya kurang menarik dgn rambut acak kadul, muka tidak proporsional, aku jd jarang ngeliat itu film. Hehehehe... Knp aku jd tau si Arnold itu? Krn tiap mo nonton Wild Thornberys harus nungguin si Arnold itu kelar dulu. Hehehehe... (lagi)

Nikelodeon itu bagus banget. Sayang pilem anak2 tanggungnya kadang suka norak. Biasalah. Beda kultur ame Asia. :)

Eniwei, gut storie.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares