« Home | Ombak yang di atasnya ombak » | Foto Brussel » | Salju Pertama » | Musim Dingin, Malam Panjang » | Kaki, Buah Menjelang Musim Dingin » | My new blog at WordPress » | Musim Dingin, Saatnya Tidur Panjang » | Salam Disingkat » | Nasib Malang Pendidikan Anak » | SMS Logat Bule » 

Thursday, December 01, 2005 

Kearifan Lokal

Nature pada publikasinya tanggal 28 November memuat artikel berjudul Males can drive species decline yang menceritakan tentang sebuah percobaan yang dilakukan oleh para pakar ekologi pada sebuah populasi kadal. Percobaan dilakukan dengan membuat dua grup populasi kadal, dimana pada grup pertama 78% populasi adalah kadal betina sedangkan sisanya pejantan, dan pada grup kedua dibuat komposisi yang sebaliknya, 78% pejantan dan sisanya betina.

Hasil pengamatan selama 1 tahun menunjukkan bahwa pada grup pertama jumlah kadal meningkat dari 73 menjadi 118 ekor, sedangkan pada grup kedua jumlah kadal justru berkurang menjadi 35 ekor dengan jumlah pejantan yang lebih banyak. Dalam grup kedua ini jumlah kematian kadal betina 4 kali lebih besar daripada grup pertama dan angka kelahiran kadal baru pun hanya sekitar 3 atau 4 ekor per tahun, padahal kondisi normalnya adalah 5 ekor per tahun.

Dari percobaannya itu mereka menyimpulkan bahwa jumlah pejantan yang berlebih pada sebuah populasi kadal akan menyebabkan berkurangnya spesies tersebut. Hal ini terjadi karena tingkat stres kadal betina lebih tinggi akibat tuntutan seks yang lebih agresif karena jumlah pejantan lebih banyak dari betina. Istilahnya, para kadal betina harus menghadapi ajakan kawin yang terus menerus dan juga kekerasan seksual.

Membaca hasil penelitian ini, saya jadi teringat masa-masa hidup di desa. Kebetulan nenek saya punya pekarangan yang cukup luas dan dimanfaatkan untuk memelihara bebek, ayam dan kambing. Yang saya ingat, memang dalam populasi ayam atau bebek yang ada, hanya ada satu pejantan untuk sekitar 10 ekor betina. Bahkan, untuk kambing, beliau tidak perlu punya pejantan karena ada seorang tetangga yang memiliki kambing pejantan yang bersedia untuk meminjamkan pejantannya jika kambing betina nenek saya sedang dalam masa birahi. Selain itu, jika hendak menyembelih ayam atau bebek, atau menjualnya, pasti yang dipilih adalah ayam atau bebek jantan, apalagi jika jumlahnya sudah cukup berlebih.

Nenek saya atau penduduk desa tempat saya tinggal tidak tahu tentang teori ekologi versi sekolahan modern, tapi mereka mampu mengamalkannya karena belajar dari pengalaman atau petuah-petuah nenek moyangnya. Dalam istilah keren atau ilmiahnya hal ini biasa disebut sebagai kearifan lokal.

Dalam hal konservasi lingkungan, kearifan lokal banyak mendapat perhatian serius dari para pakar karena terbukti mampu menjaga kelestarian lingkungan hidup. Sayangnya, dalam kehidupan modern, hal ini sering diabaikan dan bahkan dianggap sebagai sebuah ketertinggalan dan kuno sehingga sering ditinggalkan oleh generasi-generasi yang ada saat ini. Dan yang lebih ironis lagi, mereka baru akan mempercayai kearifan lokal ini (sambil mengangguk-anggukan kepalanya) jika sudah ada hasil penelitian ilmiah dari para peneliti asing yang membuktikannya.

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares