« Home | Cerita hari ini » | Kisah Nabi Musa: Terbelahnya Laut Merah » | Kearifan Lokal » | Ombak yang di atasnya ombak » | Foto Brussel » | Salju Pertama » | Musim Dingin, Malam Panjang » | Kaki, Buah Menjelang Musim Dingin » | My new blog at WordPress » | Musim Dingin, Saatnya Tidur Panjang » 

Thursday, December 01, 2005 

Kisah seputar auditor

Sekarang di koran sedang ramai berita tentang auditor BPK Khairiansyah Salman -yang sebelumnya dielu-elukan sebagai pahlawan dan bahkan mendapatkan penghargaan Integrity Award di Berlin akibat jasanya menyingkapkan kasus penyuapan KPU- karena menerima uang transpor dari DAU (Dana Abadi Umat) sebesar Rp. 10 juta sewaktu melaksanakan audit DAU di Departemen Agama. Banyak kalangan menilai bahwa tindakan Kejaksaan Agung yang menjatuhkan status tersangka kepada Khairiansyah dalam waktu yang sangat cepat sebagai sebuah tindakan diskriminatif, karena sebenarnya banyak pihak -baik lembaga maupun perorangan- yang telah menikmatinya dalam jumlah yang lebih besar dan tak pernah diseret sebagai pesakitan. Dalam berita yang ada disebutkan bahwa salah satu hal yang menguatkan -sehingga dengan mudah Khairiansyah dijadikan tersangka- adalah bukti hitam di atas putih berupa tanda tangan pada form penerimaan uang transpor tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum, sebenarnya, bahwa hampir setiap auditor BPK dan atau BPKP di jaman dan pasca Soeharto berkuasa selalu meminta uang transpor atau uang tetek bengek lainnya kepada pihak yang diaudit, baik secara samar-samar maupun terang-terangan. Bahkan, kadang-kadang, jika proyeknya berada di daerah yang tidak sama dengan lokasi tempat lembaga teraudit itu berada, pihak auditor selalu meminta perjalanan dinas untuk bisa mengunjungi lokasi proyek tersebut, tentu saja dengan semua dana yang dikeluarkan ditanggung oleh pihak teraudit. Mungkin akan muncul pertanyaan di benak anda: "apakah BPK tidak memberikan dana operasional kepada para auditor dalam melaksanakan tugasnya?". Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, silahkan tanyakan langsung kepada Bang Anwar Nasution yang mengaku sebagai pahlawan itu. Saya sendiri kurang tahu, karena tak berani menanyakannya langsung kepada para auditor.

Tidak berhenti hingga di situ saja, ketika pihak auditor menemukan kejanggalan atau biasa disebut sebagai "temuan penyimpangan" berdasarkan hasil pemeriksaan awal, maka tuntutannya akan semakin mengada-ada karena posisi mereka yang sudah berada di atas angin. Sebagai pihak yang diaudit -dan karena ada temuan penyimpangan ini- posisi lembaga teraudit menjadi tidak aman dan siap untuk "diperas" bak sapi perah oleh para auditor nakal. Kompromi dengan imbalan biasanya dilakukan berdasarkan temuan yang ada. Semakin banyak temuan penyimpangan, semakin alot proses kompromi, dan tentu saja semakin besar jumlah imbalan yang mereka minta. Untuk proses kompromi ini, biasanya dilakukan di luar kota seperti Puncak atau di hotel-hotel mewah antara auditor dan pemimpin proyek beserta sekutunya (segelintir orang dari kalangan yang sangat terbatas agar bisa bermain aman).

Karena jumlah auditor tidak hanya satu orang, maka perlu keahlian dan pendekatan yang berbeda dari pihak pemimpin proyek dan sekutunya untuk mencapai kompromi yang "win-win solution", yaitu kondisi dimana pihak teraudit cocok dengan laporan akhir auditor (dengan menghilangkan temuan-temuan yang memberatkan dan hanya menyisakan temuan-temuan yang ringan saja), sementara auditor cocok dengan jumlah uang imbalan yang diberikan teraudit.

Jadi memang birokrasi di Indonesia itu sudah begitu amburadul, moral para birokrat pun kebanyakan sudah sangat amburadul. Kejadian seperti ini bukan hanya terjadi antara auditor dan teraudit saja, dalam hampir setiap sudut birokrasi di eksekutif, legislatif, dan yudikatif kita bisa menemukannya tanpa perlu pakai kaca pembesar apalagi mikroskop. Jadi, sekali lagi, tak perlu heran jika seorang "pahlawan baru" bernama Khairiansyah pernah terjerembab dalam nistanya "uang transpor" atau seorang "aktivis kawakan" sekelas Mulyana bisa terjerembab dalam transaksi "uang suap" di sebuah hotel dan harus rela menginap di hotel prodeo.

Lah orang kita punya biasa... begitu kata lagu :D

ironis & kartu mati bener deh awww. mbok ya lain kali tanya2 hati nurani sendiri dulu gitu loh, punya kapasitas pahlawan dan integritas ato enggak.

btw masih punya malu ga ya itu, enggak keknya ya wong dituduh pahlawan, bangga... he he he...

+++ tika

@tika: Probosutedjo yg kemaren dimasukkin ke penjara aja mengaku sebagai patriot mbak... hehehe...

Awas.. ntar ada auditor blog juga :D

Pak Anwar ternyata lebih lucu dari extravaganza.

ha.. ha.. ha..

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares