« Home | Riset, cara mempelajari ciptaan-Nya » | Heboh Blogger Diciduk Polisi » | Kalau punya uang banyak » | Pemandangan luar jendela » | Sepuluh Tahun Pernikahan » | Kisah seputar auditor » | Cerita hari ini » | Kisah Nabi Musa: Terbelahnya Laut Merah » | Kearifan Lokal » | Ombak yang di atasnya ombak » 

Wednesday, December 14, 2005 

Manusia dan Matematika

Suatu kali mungkin anda pernah menghadapi peristiwa seperti ini:

Di depan anda ada sebuah ember kosong yang tertutup dengan tinggi 30 cm dan diameter 30 cm, selanjutnya anda disuruh untuk mengangkat ember tersebut. Sebelumnya, anda sama sekali tidak tahu bahwa ember tersebut kosong. Apa yang akan terjadi?

Pada saat pertama kali mengangkat ember tersebut, ternyata anda mengeluarkan tenaga yang berlebih sehingga ember tersebut akan tersentak. Pada saat tersebut, otak anda sebenarnya telah berhitung matematis tanpa anda sadari. Kira-kira kalau dijabarkan, otak anda akan bekerja dengan rincian sebagai berikut:

Jika ember itu berisi air dan memiliki dimensi (tinggi dan diameter) seperti itu, maka volumenya adalah sekian. Untuk bisa mengangkatnya maka diperlukan energi sekian.

Sekarang coba anda ulangi untuk mengangkat ember tersebut, tetapi anda sudah tahu bahwa embernya kosong. Apa yang terjadi? Ember itu tidak akan tersentak seperti pada kejadian pertama, karena memang anda tidak menggunakan energi yang berlebih untuk mengangkatnya karena anda sudah tahu bahwa ia kosong.

Apa yang bisa diambil dari contoh tersebut? Ternyata otak kita diberi kemampuan untuk berhitung secara matematis tanpa kita sadari. Artinya, secara default kita mampu bermatematika.

Sekarang ambil contoh lain. Mungkin anda pernah melihat tukang jualan yang menggunakan pikulan untuk membawa barang dagangannya? Apa yang pedagang itu lakukan jika 2 keranjang dagangan di kanan dan kirinya beratnya sama? Dia akan meletakkan pundaknya tepat di tengah-tengah pikulan. Apa yang kemudian dia lakukan jika keranjang di sebelah kiri lebih ringan (karena sebagian isinya sudah terjual)? Dia akan menggeser posisi pundaknya di pikulan sehingga lebih mendekati keranjang yang sebelah kanan.

Coba selanjutnya anda dekati pedagang itu dan suruh ia menuliskan rumus matematika tentang pikulan itu. Tentu saja dia akan menggeleng dan menjawab tidak bisa meskipun dalam kegiatan sehari-hari dia melakukannya, kecuali jika pedagang itu ternyata lulusan atau bahkan dosen Departemen Matematika atau Fisika. :)

Jadi, sekali lagi, secara default kita mampu bermatematika. Urusan selanjutnya adalah bagaimana kita menjadikan kemampuan default itu berkembang dan terus berkembang melalui kegiatan yang bernama pendidikan dan atau kegiatan ilmiah lainnya.

Bagaimana dgn pecatur?

Deep Blue, komputer yang akhirnya berhasil menaklukkan GM Gary Kasparov adalah sebuah multi prosesor dgn kemampuan analisis satu langkah catur mencapai jutaan kemungkinan. Gw aje ulangan matematika probstat dadu/kartu aja masih ampe mimisan (boong ding).

But, Gary masih mampu mencuri beberapa partai imbang dan menang dari Deep Blue.

Tapi kenapa Gary tidak menjadi matematikawan? Krn menurut pengakuan doi, tjukup sulit matematika itu.

Seharusnya, bukan matematika. Tapi kemampuan aritmetika atau kemampuan berhitung yang juga bukan 1,2,3. Kerana matematika berbeza dari berhitung.

Oh iya. Gary tadi pertanyaan lho. :)

@ricorea: yang membuat matematika terlihat dan terasa susah adalah karena kita harus bisa menuangkan segala sesuatu dalam persamaan-persamaan atau bahasa matematika.

menurut wikipedia:

Mathematics is often defined as the study of topics such as quantity, structure, space, and change.

Practical mathematics, in nearly every society, is used for such purposes as accounting, measuring land, or predicting astronomical events.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares