Tuesday, June 20, 2006 

Banjir lumpur hanya dianggap sebagai bencana?

Saya kurang begitu sreg dengan langkah yang telah dan akan diambil oleh Menteri ESDM berkaitan dengan kategori yang diberikan pada kejadian banjir lumpur dan pemberian kompensasi kepada para korban di Kabupaten Sidoarjo. Dalam berita detik.com yang berjudul "Menteri ESDM: data korban lumpur harus akurat", kejadian ini hanya dikategorikan sebagai bencana. Padahal sebenarnya masih terbuka peluang bahwa kejadian ini dapat dikategorikan sebagai sebuah kelalaian kerja (mal praktek) yang telah dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas.

Pengakuan awal dari rekanan PT. Lapindo yang mengatakan bahwa PT. Lapindo tidak melaksanakan rekomendasinya dalam proses pengeboran seharusnya mampu "merangsang" pemerintah untuk bertindak proaktif mencari bukti-bukti yang mendukung dan jangan buru-buru hanya menganggapnya sebagai bencana belaka.

Antara bencana dan kelalaian kerja tentu punya definisi dan konsekuensi yang berbeda. Jika kejadian itu hanya dianggap sebagai bencana, maka hanya sedikit yang bisa dilakukan oleh korban dalam menuntut hak-haknya atas kerugian moril dan materiil yang telah diderita. Tetapi, jika kejadian ini dapat "diperjuangkan" sebagai sebuah kelalaian kerja, maka korban bisa menuntut lebih dari sekedar acuan yang digunakan oleh Menteri ESDM (yaitu ketentuan dari Bakornas PB). Terlebih lagi, dalam berita lainnya, General Manager PT. Lapindo Brantas hanya akan memberikan "santunan" kepada para korban, yang saya kira santunan ini juga tidak akan jauh-jauh dari ketentuan Bakornas PB.

Kalau sudah melihat gelagat seperti ini, sepertinya upaya hukum dari lembaga yang bernama "pemerintah" untuk melindungi masyarakat dari kemungkinan keteledoran pemilik modal hampir tidak ada sama sekali. Memang rakyat yang menjadi korban dari persitiwa ini akan cukup berterimakasih karena telah mendapat "santunan", tetapi santunan yang diberikan adalah sekedarnya saja dan pihak yang lalai sepertinya akan bisa bernafas lega setelah itu.

Mudah-mudahan dugaan saya salah! Amin!

Saturday, June 17, 2006 

Banjir lumpur karena kesalahan Lapindo?

Membaca berita terakhir di KCM tentang kasus banjir lumpur di Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo, sepertinya kesalahan utama yang memicu kejadian itu adalah akibat kelalaian PT. Lapindo Brantas. KCM dalam beritanya yang berjudul "Lumpur Lapindo Mendekati Rel Kereta Api" menuliskan bahwa ada rekemondasi tertulis dari rekanan PT. Lapindo untuk memasang pipa selubung casing pada kedalaman 8500 feet yang tidak dilaksanakan oleh PT. Lapindo, padahal pengeboran terakhir (sebelum terjadi musibah) sudah mencapai 9297 feet.

Bukti baru ini menjadikan pendapat pertama seperti yang saya tulis dalam postingan saya sebelumnya, yaitu kemungkinan terjadinya banjir lumpur dipicu oleh gempa Yogyakarta, menjadi semakin lemah. Dan sebaliknya, pendapat kedua lah yang menjadi semakin kuat. Sayangnya, menurut beberapa berita, pihak kepolisian terkesan bergerak lambat dalam menangani kasus ini, terutama dalam hal pengumpulan berkas-berkas yang dapat digunakan sebagai bukti dalam proses hukum nanti.

Menentukan siapa yang salah dalam kasus banjir lumpur Sidoarjo adalah sangat penting, apalagi jika dihubungkan dengan biaya ganti rugi yang nanti harus dikeluarkan untuk mengganti kerugian yang diderita. Jika PT. Lapindo dinyatakan tidak bersalah karena semua prosedur yang dilakukan dianggap telah diketahui dan disetujui oleh BPMIGAS (karena kurangnya bukti-bukti yang mendukung), maka uang ganti rugi akan masuk ke dalam cost recovery atau harus ditanggung semuanya oleh negara, sebagai sebuah konsekuensi dari sistem Production Sharing Contract (PSC) atau kontrak bagi hasil.

 

Pemanasan global dan overheating

Pada postingan yang lalu (16 Februari 2006) saya me-link sebuah berita dari Science Daily tentang dampak pemanasan global terhadap kawasan Eropa. Disebutkan bahwa pemanasan global akan menyebabkan membekunya Eropa. Hal ini terjadi karena melemahnya proses downwelling di sekitar Greenland akibat semakin banyaknya es di kutub utara yang mencair. Penjelasan agak lengkap tentang hal ini dapat dilihat pada postingan saya yang lain dengan judul Pemanasan Global dan membekunya Eropa.

Isu melemahnya downwelling dan semakin banyaknya es yang mencair di kutub utara ini sendiri termasuk dalam kategori yang banyak dibicarakan di Jerman, baik itu di media massa maupun di seminar-seminar ilmu kebumian di Universitas Hamburg. Bahkan pada tanggal 2-3 Maret yang lalu, ada seminar khusus yang membahas tentang "signal peringatan dari kutub".

Selanjutnya, berdasarkan berita yang saya link tersebut, ada beberapa kawan yang mencoba bertanya tentang apa yang akan terjadi dengan adanya pemanasan global dan melemahnya downwelling di sekitar Greenland terhadap wilayah tropis (salah satunya adalah wilayah Indonesia)?

Great Ocean Conveyor Belt (Sumber: http://www.grida.no)

Gambar di atas adalah apa yang biasa disebut orang sebagai great ocean conveyor belt (biasa saya terjemahkan sebagai sabuk arus laut global). Wilayah di sekitar Greenland adalah tempat dimana terjadi sinking (turunnya massa air laut yang berdensitas tinggi akibat adanya proses transfer energi panas dari laut ke atmosfer melalui pembekuan air laut, dari proses ini terjadi pelepasan kandungan garam). Proses sinking ini merupakan gaya pembangkit utama terjadinya sirkulasi termohalin (sirkulasi yang disebabkan oleh perbedaan densitas air laut). Sabuk arus laut global ini pula yang berperan dalam terjadinya gerakan massa air laut di permukaan dari Samudera Pasifik menuju ke Samedera Hindia melalui wilayah Indonesia yang dikenal sebagai Arus Lintas Indonesia (Arlindo) atau Indonesia Throughflow.

Jika melihat mekanisme sabuk arus laut global (great ocean conveyor belt) tersebut, maka jawaban sederhana dari pertanyaan kawan-kawan adalah akan terjadi apa yang disebut dengan overheating di daerah tropis. Artinya, kawasan tropis akan menjadi semakin panas saja karena transfer energi panas dari matahari yang tersimpan di laut dari daerah tropis ke lintang tinggi akan melemah seiring dengan melemahnya downwelling di sekitar Greenland. Kondisi ini juga akan berpengaruh terhadap pola curah hujan, dimana proses pembentukan awan akan semakin intensif, sehingga musim hujan yang panjang dengan curah hujan yang tinggi bisa terjadi. Akibat lebih lanjut, banjir bisa terjadi di mana-mana di seluruh daerah tropis.

Thursday, June 15, 2006 

Carbon sinks

Di jaman pemanasan global seperti sekarang ini, mengetahui tentang apa itu carbon sinks sepertinya sangat diperlukan. Apalagi untuk kita yang tinggal di Indonesia yang katanya hutan tropisnya hilang sekian lapangan bola setiap harinya akibat penebangan liar, lautnya yang tercemar oleh tumpahan minyak dan berbagai macam polutan dan juga dengan semakin berkurangnya kawasan-kawasan hijau di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang digantikan oleh gedung-gedung, monumen-monumen dan jalan-jalan beraspal.

Menurut beberapa literatur, carbon sinks, atau carbon dioxide (CO2) sinks, adalah reservoir atau tempat untuk menyimpan atau menyerap gas karbon dioksida yang terdapat di atmosfer bumi. Hutan dan laut adalah tempat alamiah di bumi ini yang berfungsi untuk menjadi tempat menyerap gas karbon dioksida. Gas karbon dioksida diserap oleh tumbuhan yang sedang tumbuh dan disimpan di dalam batang kayunya. Di lautan, gas karbon dioksida yang digunakan oleh fitoplankton untuk proses fotosintesa, tenggelam ke dalam dasar lautan bersama kotoran makhluk hidup pemakan fitoplankton dan predator-predator tingkat tinggi lainnya sebagai kotoran dan menjadi kerang-kerangan.

Proses berpindahnya gas karbon dioksida dari atmosfer (ke dalam vegetasi dan lautan) biasa disebut sebagai carbon sequestration. Beberapa ahli di negara-negara maju saat ini banyak yang aktif meneliti tentang proses ini dan berharap menemukan sebuah cara efektif untuk membuat sebuah proses buatan dalam rangka mengurangi laju perubahan iklim global (mitigasi pemanasan global) yang menurut para ahli berada dalam level yang "cukup mencemaskan" abad ini.

Di Hutan, dalam proses fotosintesa, tanaman menyerap karbon dioksida dari atmosfer, menyimpan karbonnya dan melepaskan gas oksigennya kembali ke atmosfer. Hutan yang sedang tumbuh (hutan yang masih muda) akan berfungsi sangat baik sebagai carbon sinks, karena vegetasi di sana secara cepat akan menyerap banyak gas karbon dioksida pada proses fotosintesa dalam rangka tumbuh dan berkembangnya vegetasi. Vegetasi akan kembali melepaskan karbon dioksida ke atmosfer ketika mereka mati. Secara alamiah, dengan mengabaikan aktivitas manusia, proses terserap dan terlepasnya karbon dioksida ke atmosfer akan berjalan secara berimbang atau netral. Artinya, jumlah gas karbon dioksida di atmosfer relatif tetap terhadap waktu.

Aktivitas manusia, seperti penebangan dan pembakaran hutan, akan menjadikan karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer lebih besar daripada yang mampu diserap dan disimpan hutan, apalagi jika memperhitungkan jumlah pemakaian bahan bakar fosil yang semakin hari semakin meningkat. Konversi hutan menjadi daerah pertanian juga berperan sangat besar dalam proses kembalinya gas karbon dioksida ke atmosfer. Makanya, kalau orang-orang di Jawa tahu dan bisa berpikir ke depan, mungkin mereka tidak akan dengan mudah melepas sawahnya dan menjualnya ke perusahaan-perusahaan elektronika, mobil, garmen atau sepatu untuk dijadikan areal pabrik dan malahan membuka sawah atau areal pertanian baru di Sumatera atau Kalimantan melalui program transmigrasi atau lahan gambut sejuta hektar.

Di lautan, fitoplankton adalah titik awal dari carbon sinks melalui suatu sistem rantai makanan. Fitoplankton ini mengekstrak karbon dari gas karbon dioksida yang mereka serap dari atmosfer pada saat proses fotosintesa. Binatang bercangkang atau berkerang juga menggunakan karbon untuk membuat cangkang atau kerang mereka. Ketika mati, cangkang atau kerang tersebut akan tenggelam dan tersimpan di dasar laut hingga kedalaman 2000 sampai 4000 meter dalam waktu ribuan tahun. Carbon sinks juga akan terjadi melalui tenggelamnya makhluk-makhluk hidup yang telah mati, kotoran-kotoran zooplankton dan ikan-ikanan ke dasar laut.

Dalam Protokol Kyoto, negara-negara yang memiliki hutan yang luas dapat mengambil keuntungan, dari sumberdaya hutannya tersebut, melalui skema perdagangan emisi. Dalam skema ini, akan ada negara yang berperan sebagai penjual emisi dan juga negara sebagai pembeli emisi. Saya sendiri kurang tahu sudah sejauh mana para negara penjual dan pembeli emisi ini membuat aturan main perdagangan emisi mereka. Jika ditinjau dari sumberdaya hutannya, Indonesia sebenarnya bisa berperan dan berpeluang cukup besar dalam perdagangan emisi ini, apalagi kalau kita bisa menjaga sumberdaya hutan kita dengan baik.

Wednesday, June 14, 2006 

Bola, Bir, dan Demam Piala Dunia

Orang Jerman memang banyak yang suka bola. Kesukaan mereka akan bola mungkin sama dengan kesukaan mereka akan bir. Bahkan bir adalah minuman yang paling banyak dikonsumsi oleh para penyuka bola tersebut, sambil nonton bola tentunya, baik itu nonton di televisi di rumah atau di kafe ataupun langsung di stadion bola. Kalau di Indonesia, mungkin sama lah seperti penggila bola yang suka lembur nonton Liga Eropa sambil nyeruput kopi! Eh tapi kalau di stadion, masa penonton Indonesia nyeruput kopi juga waktu nonton Liga Indonesia?

Kedai bir sendiri ada dan tersebar di mana-mana di Jerman. Kalau di Bandung mungkin hampir sama lah dengan penyebaran warung Indomie rebus dan penjual gehu. Bir juga dijual bebas di super market. Biasanya kalau hari Sabtu saya belanja ke super market, banyak tuh orang-orang Jerman yang beli bir dalam jumlah yang cukup banyak (minimal 1 krat lah). Di akhir jam kerja di hari Jumat sendiri, banyak kedai-kedai bir yang dipenuhi oleh para pekerja sambil minum bir, mungkin hampir sama banyaknya dengan orang-orang yang antri karcis kereta Parahyangan di stasiun Gambir. Oh iya, kalau di Indonesia iklan rokok biasanya banyak mengisi space iklan acara sepak bola, nah kalau di Jerman justru iklan bir yang suka ngisi spacenya.

Kenapa bir disukai, padahal kan rasanya pahit? saya nggak tahu pasti, mungkin karena enak rasanya buat mereka ya? Kata kawan saya, orang Jerman suka minum bir karena mereka ingin menghemat pemakaian air. Garing ya kawan saya itu? Emang!

Kembali ke bola, di Piala Dunia 2006 ini banyak orang Jerman yang juga suka nonton bola bareng. Banyak tempat-tempat strategis yang dipasangi TV raksasa, baik itu di tempat terbuka ataupun tertutup. Bahkan, kemarin pagi saya lihat berita di salah satu stasiun TV Jerman ada TV besar dipasang oleh seorang uskup, sepertinya di gereja di sekitar St. Pauli Hamburg, dengan spanduk cukup besar bertuliskan "Balleluja", pelesetan dari kata "Haleluja". Di ruang audimax Universitas Hamburg juga ada layar TV besar yang dipasang untuk tempat nonton bareng para mahasiswa, dosen dan peneliti. Di KJRI Hamburg sendiri ada layar lebar yang dipasang untuk nonton piala dunia, menggunakan LCD projector yang dihubungkan ke notebook yang dilengkapi dengan antena digital yang dicolokin lewat USB. Supaya tambah seru, digunakan juga sound dengan subwofer, sehingga suasana stadion bisa cukup terasa di sana. Supaya tambah seru, pas nonton ada juga yang menggunakan kaos kesebelasan kebanggan mereka.

Demam bola memang sedang melanda Jerman, dan juga dunia! itu tidak bisa dipungkiri. Asesori Piala Dunia dan semua yang berhubungan dengan bola juga ada di mana-mana, mulai dari topi, bendera, kaos, sendal, payung, makanan, dan lain-lain. Happy mealnya McD saja tentang Piala Dunia. Mall-mall yang biasanya buka hanya sampai pukul 8 malam, di saat Piala Dunia berlangsung buka hingga pukul 10 malam. Hari Minggu yang biasanya mall-mall tutup, juga buka. Suasana kota yang biasanya cukup sepi pada hari libur akhir pekan, berubah menjadi ramai dan penuh dengan hiruk pikuk bola dan Piala Dunia. Orang-orang dengan kaos dan asesori piala dunia dan bola "bertebaran" dan "beredar" di mana-mana dengan keunikan masing-masing. Anak-anak termasuk golongan yang bergembira menikmati demam Piala Dunia ini.

Satu hal yang ajaib, cuaca di Jerman sebelum piala dunia berlangsung selalu mendung, hujan serta dingin. Aneh bin ajaib, H-1 sebelum perhelatan akbar piala dunia berlangsung, cuaca di seluruh Jerman berubah seketika menjadi cerah ceria dan hangat, sampai hari ini. Sepertinya, alam di Jerman suka dan menyambut baik Piala Dunia ini seperti juga sebagian besar penduduknya. Awan mendung, hujan dan cuaca dingin suka dengan permainan bola dan tak ingin penduduk Jerman terganggu keasyikannya menonton dan menikmati bola bersama-sama.

Bagaimana dengan di Indonesia? yang saya tahu, ada Piala Dunia, eh ada mbak Titik di SCTV! Eh tapi itu kemarin-kemarin, sebelum diprotes penonton maksudnya!

Tuesday, June 13, 2006 

Banjir Lumpur Sidoarjo

Ada diskusi yang menarik seputar bencana banjir lumpur yang menimpa beberapa daerah di Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo yang berdekatan dengan daerah pengeboran gas milik PT. Lapindo Brantas. Beberapa media massa, dalam beritanya, secara eksplisit sudah langsung mendakwa PT. Lapindo Brantas sebagai penyebab banjir lumpur tersebut. Sementara itu, di kalangan ahli geofisika, geologi dan pertambangan ada beberapa pendapat pro dan kontra tentang sumber penyebabnya, tentunya berdasarkan data dan fakta.

Secara umum memang ada beberapa pemicu yang dapat mengakibatkan terjadinya semburan lumpur panas dan gas belerang dari bawah permukaan bumi. Salah satu pemicu yang umum adalah gempa bumi, namun aktivitas pengeboran juga bisa jadi pemicu jika terjadi drilling hazard atau "mal praktek" dalam proses pengeboran tersebut.

Ada dua pendapat yang berkembang di milis orang-orang yang banyak bergelut dengan masalah-masalah geofisika, geologi, dan pertambangan tersebut. Pendapat pertama menyatakan bahwa fenomena yang terjadi di Porong ini ada kemungkinan berhubungan dengan gempa bumi tektonik yang terjadi di Yogyakarta akhir Mei 2006 lalu. Sedangkan pendapat kedua menduga kejadian ini merupakan "mal praktek" yang telah dilakukan oleh PT. Lapindo Brantas dalam aktivitas pengeboran mereka.

Pendapat pertama didasarkan pada beberapa fakta yang ada yaitu bahwa jenis lumpur yang membanjiri beberapa desa di Kecamatan Porong berjenis lumpur sub surface, dan bukan lumpur pengeboran. Selain itu, bersamaan dengan terjadinya gempa di Yogyakarta, stasiun BMG Surabaya mencatat adanya goncangan di Surabaya II-III MMI dengan momen magnitude 3-3.9 MW. Di stasiun Karangkates tercatat III-IV MMI dengan magnitude 4-4.9 MW. Data seismik regional di wilayah ini menunjukkan beberapa gejala diapir. Ada lima titik semburan lumpur dan semuanya di luar titik sumur, permulaan semburan terjadi sejak Senin 29 Mei 2006-Kamis 1 Juni 2006.

Sementara itu pendapat kedua menduga kemungkinan terjadinya blow out akibat over pressure pada saat pengeboran dilakukan. Jika pihak pengebor salah dalam menangani masalah over pressure ini, maka kemungkinan terjadinya banjir lumpur akan cukup besar. Dan bisa jadi, akibat blow out ini, lumpur yang keluar tidak hanya terjadi di sumur pengeboran saja tetapi juga di tempat lain yang berdekatan dengan lokasi pengeboran. Biasanya sebelum pengeboran melewati zona over pressure ini, akan dipasang selubung untuk mengisolasi zona tersebut, dimana selanjutnya akan dilakukan perlakuan khusus berupa peningkatan berat lumpur pada zona yang diisolasi ini. Pekerjaan ini memerlukan ketelitian dan kecermatan karena berhadapan dengan killing zone.

Pendapat mana yang benar? kita belum tahu pasti karena sejauh ini beberapa pihak masih terus mencoba untuk mengumpulkan data dan menganalisanya lebih lanjut.

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares