« Home | Bola, Bir, dan Demam Piala Dunia » | Banjir Lumpur Sidoarjo » | One of the global warming effect » | Positive thing of Krakatau eruption » | WordPress Guides » | Bird flu reaches Africa » | Index finger and tongue » | Hydropolis: The First Undersea Hotel » | Meteorologist vs Oceanographer » | Are sea foods still good for you? » 

Thursday, June 15, 2006 

Carbon sinks

Di jaman pemanasan global seperti sekarang ini, mengetahui tentang apa itu carbon sinks sepertinya sangat diperlukan. Apalagi untuk kita yang tinggal di Indonesia yang katanya hutan tropisnya hilang sekian lapangan bola setiap harinya akibat penebangan liar, lautnya yang tercemar oleh tumpahan minyak dan berbagai macam polutan dan juga dengan semakin berkurangnya kawasan-kawasan hijau di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang digantikan oleh gedung-gedung, monumen-monumen dan jalan-jalan beraspal.

Menurut beberapa literatur, carbon sinks, atau carbon dioxide (CO2) sinks, adalah reservoir atau tempat untuk menyimpan atau menyerap gas karbon dioksida yang terdapat di atmosfer bumi. Hutan dan laut adalah tempat alamiah di bumi ini yang berfungsi untuk menjadi tempat menyerap gas karbon dioksida. Gas karbon dioksida diserap oleh tumbuhan yang sedang tumbuh dan disimpan di dalam batang kayunya. Di lautan, gas karbon dioksida yang digunakan oleh fitoplankton untuk proses fotosintesa, tenggelam ke dalam dasar lautan bersama kotoran makhluk hidup pemakan fitoplankton dan predator-predator tingkat tinggi lainnya sebagai kotoran dan menjadi kerang-kerangan.

Proses berpindahnya gas karbon dioksida dari atmosfer (ke dalam vegetasi dan lautan) biasa disebut sebagai carbon sequestration. Beberapa ahli di negara-negara maju saat ini banyak yang aktif meneliti tentang proses ini dan berharap menemukan sebuah cara efektif untuk membuat sebuah proses buatan dalam rangka mengurangi laju perubahan iklim global (mitigasi pemanasan global) yang menurut para ahli berada dalam level yang "cukup mencemaskan" abad ini.

Di Hutan, dalam proses fotosintesa, tanaman menyerap karbon dioksida dari atmosfer, menyimpan karbonnya dan melepaskan gas oksigennya kembali ke atmosfer. Hutan yang sedang tumbuh (hutan yang masih muda) akan berfungsi sangat baik sebagai carbon sinks, karena vegetasi di sana secara cepat akan menyerap banyak gas karbon dioksida pada proses fotosintesa dalam rangka tumbuh dan berkembangnya vegetasi. Vegetasi akan kembali melepaskan karbon dioksida ke atmosfer ketika mereka mati. Secara alamiah, dengan mengabaikan aktivitas manusia, proses terserap dan terlepasnya karbon dioksida ke atmosfer akan berjalan secara berimbang atau netral. Artinya, jumlah gas karbon dioksida di atmosfer relatif tetap terhadap waktu.

Aktivitas manusia, seperti penebangan dan pembakaran hutan, akan menjadikan karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer lebih besar daripada yang mampu diserap dan disimpan hutan, apalagi jika memperhitungkan jumlah pemakaian bahan bakar fosil yang semakin hari semakin meningkat. Konversi hutan menjadi daerah pertanian juga berperan sangat besar dalam proses kembalinya gas karbon dioksida ke atmosfer. Makanya, kalau orang-orang di Jawa tahu dan bisa berpikir ke depan, mungkin mereka tidak akan dengan mudah melepas sawahnya dan menjualnya ke perusahaan-perusahaan elektronika, mobil, garmen atau sepatu untuk dijadikan areal pabrik dan malahan membuka sawah atau areal pertanian baru di Sumatera atau Kalimantan melalui program transmigrasi atau lahan gambut sejuta hektar.

Di lautan, fitoplankton adalah titik awal dari carbon sinks melalui suatu sistem rantai makanan. Fitoplankton ini mengekstrak karbon dari gas karbon dioksida yang mereka serap dari atmosfer pada saat proses fotosintesa. Binatang bercangkang atau berkerang juga menggunakan karbon untuk membuat cangkang atau kerang mereka. Ketika mati, cangkang atau kerang tersebut akan tenggelam dan tersimpan di dasar laut hingga kedalaman 2000 sampai 4000 meter dalam waktu ribuan tahun. Carbon sinks juga akan terjadi melalui tenggelamnya makhluk-makhluk hidup yang telah mati, kotoran-kotoran zooplankton dan ikan-ikanan ke dasar laut.

Dalam Protokol Kyoto, negara-negara yang memiliki hutan yang luas dapat mengambil keuntungan, dari sumberdaya hutannya tersebut, melalui skema perdagangan emisi. Dalam skema ini, akan ada negara yang berperan sebagai penjual emisi dan juga negara sebagai pembeli emisi. Saya sendiri kurang tahu sudah sejauh mana para negara penjual dan pembeli emisi ini membuat aturan main perdagangan emisi mereka. Jika ditinjau dari sumberdaya hutannya, Indonesia sebenarnya bisa berperan dan berpeluang cukup besar dalam perdagangan emisi ini, apalagi kalau kita bisa menjaga sumberdaya hutan kita dengan baik.

Cara nya gimana ya pak? makin banyak mempelajari teknologi kaya nya kita jadi makin bodoh ya pak...

Iya tuh, makin pusing aja manusia yaah, yang kagak kagak aja di bahas dan di pelajari, hidup nya di dunia paling lama 70 tahun, ngapain mikirin yang begituan.

Justru tempat dia nanti yang akan hidup nanti ribuan bahkan milyaran tahun gak pernah dia bahas.

Ho oh, disangka nya udah pintar, padalah ALLAH bikin alam ini cuma perlu dua huruf Kaff dan Nun, maka JADILAH.

Tapi untuk menjelaskan soal cipataanNYA itu kepada manusia, saking bodohnya si manusia, ALLAH perlu turunkan satu Al-Quran yang isinya 6000 ayat lebih.

Bodoh banget ya manusia ...

#xxxxxx:
mempelajari teknologi membuat kita semakin tahu bahwa ada sisi negatif dan positif dari teknologi itu.

#hidup:
manusia itu dihadirkan ke bumi sebagai khalifah. bekal utk menuju tempat yg nantinya manusia akan hidup kekal itu diperoleh dan dicarinya di dunia. membahas apa yg ada di dunia akan bermanfaat besar dalam mencari dan mengumpulkan bekal itu.

#bodoh:
anda bicara ttg kebesaran Allah tapi anda juga melecehkanNya dgn mengata-ngatai ciptaanNya yg bernama manusia sebagai "bodoh". Coba anda baca secara seksama surat Al-Baqarah mulai dari ayat 30 (atau surat2 lain yg bercerita ttg penciptaan Adam), bagaimana Allah menciptakan manusia dengan desain yang sangat sempurna.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares