Thursday, July 20, 2006 

Peneliti Bombastis

Saya kurang tahu, ini komentar penelitinya memang "bombastis" atau wartawannya yang sengaja menulisnya dengan gaya bahasa yang "bombastis" supaya "laku dijual". Judulnya saja , menurut saya, sudah sangat "bombastis": "Gempa Pangandaran Terdeteksi Sejak Tujuh Tahun Silam". Mirip ya dengan judul berita infotainment?

Berikut petikannya:

Liputan6.com, Jakarta: Seorang peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi telah menduga akan terjadi gempa di Pangandaran, Jawa Barat, sejak tujuh tahun silam. Dugaan ini didapat setelah Yusuf Djajadiharja meneliti dengan menyelam langsung di Selat Sunda pada 1999. "Satu sistem tetapi ada blok-blok yang membedakannya," kata Yusuf di Jakarta, Rabu (19/7).

Menurut Yusuf, kekhawatiran itu muncul saat ia menemukan terusan patahan Sumatra di sekitar Pulau Jawa. Adanya terusan patahan hingga kawasan Ujunggenteng ini hanya berpotensi menimbulkan gempa tanpa tsunami. Namun masalahnya, di akhir patahan ternyata ada palung laut setinggi dua ribu kilometer yang bila terlanda patahan akan jatuh sehingga mengakibatkan gelombang tsunami.

Wednesday, July 19, 2006 

Arsip berita Pikiran Rakyat

Berikut ada arsip berita dari koran Pikiran Rakyat, mudah-mudahan bisa jadi bahan pelajaran buat para peneliti dan pakar agar tidak mengambil kesimpulan yang terlalu gegabah, apalagi sampai memastikan. Arsip asli bisa dibuka di sini.

Tsunami tak Akan Terjadi di Jabar Selatan

Tim Ahli Pastikan Pangandaran Aman

CIAMIS, (PR).-
Pantai Selatan Jawa Barat, termasuk Pantai Pangandaran, Kabupaten Ciamis, dipastikan aman dari bencana tsunami. Demikian hasil penelitian tim ahli tsunami yang terdiri dari Dr. Nanang dari ITB, Dr. Terry Sriwana dari Sekolah Tinggi Teknologi Mineral, Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Bandung Dr. Hendry Subakti, Dr. Soewarno ahli geologi kelautan, dan Dewi Kurnia dari Bappeda Jabar, yang diumumkan, Kamis (3/3) di sela-sela hajat laut nelayan Pangandaran, Ciamis.
Menurut juru bicara tim ahli Terry Sriwana, sejak terjadinya tsunami di Aceh, pihaknya berusaha melakukan kajian kemungkinan tsunami terjadi di Pantai Jabar Selatan. Lalu, setelah sebulan tsunami terjadi di Aceh dibentuk tim ahli yang sekaligus untuk melakukan recovery untuk objek wisata daerah pantai. Tim melakukan pertemuan setiap pekan untuk membahas masalah kemungkinan tsunami di Pantai Jabar Selatan. Dari kajian kajian ilmiah dan lainnya, akhirnya menyimpulkan bahwa tidak ada masalah dengan pantai di daerah ini.

Dari hasil kajian atau penelitian yang kita lakukan, akhirnya kami simpulkan bahwa pantai ini, termasuk Pangandaran aman dari tsunami. Karena dengan kondisi laut dalam serta pantai terjal, sehingga energi gelombang yang diakibatkan dari tabrakan lempengan Benua Australia dan Asia, tidak akan sampai ke daerah kawasan pantai ini, jelasnya.Pihaknya juga melakukan simulasi dari kemungkinan skenario terburuk ada bencana gempa tektonik di laut. Hasilnya bahwa kalaupun ada gelombang besar, kemungkinannya hingga ke pantai dengan ketinggian gelombangnya satu meter. Itu kondisi paling buruk, sehingga pantai Jabar Selatan itu relatif aman, dan tenang. Wisatawan tidak perlu takut lagi untuk datang ke Pangandaran, tegasnya.

Penelitian ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, karena pakar yang tergabung juga benar-benar ahli dan punya dasar keilmuan yang kuat dalam bidangnya. Namun ia menyarankan, untuk kawasan pantai ini mesti dijaga lingkungannya, seperti ditanam bakau atau tanaman yang cocok. Lalu, baiknya di kawasan bibir pantai tidak ada yang berjualan.

Bupati Ciamis H. Engkon Komara menyambut baik hasil penelitian dari tim ahli yang mengkaji masalah kemungkinan tsunami di daerahnya. Sejak terkena isu tsunami, katanya Pangandaran benar-benar terpukul. Ini jadi momentum yang baik untuk pemulihan, karena hasil dari penelitian pakar Pangandaran dinilai aman.

Sementara itu, Ketua DPRD Jabar H.M. Ruslan mengemukakan, hasil temuan tim ahli yang menyebutkan bahwa daerah Pangandaran aman, mesti dilanjutkan dengan program recovery yang sungguh-sungguh dari semua pihak. Ia optimis Pangandaran maupun Palabuhanratu, bisa pulih lagi kalau semua pihak terkait bekerja keras dan satu sama lain yang mendukungnya. (A-97)***

 

Mengempit early warning

Menyampaikan hasil prakiraan atau prediksi atau ramalan kepada khalayak ramai di Indonesia memang cukup sulit, kecuali jika ramalan itu diberikan oleh paranormal kondang atau kyai yang dianggap sakti. Maka dari itu, salah satu pekerjaan tersulit yang dipunyai BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) adalah bagaimana khalayak tidak merasa sinis dengan hasil ramalan mereka tentang cuaca atau masalah kegempaan jika hasilnya “agak” meleset atau malah meleset sama sekali.

Khalayak biasanya akan cenderung menyalahkan atau mencemooh jika hasil ramalan kurang atau tidak tepat dengan kenyataan, padahal namanya juga ramalan pasti ada nilai probabilitasnya. Semakin baik dan banyak data pendukung, dan semakin canggih peralatan dan metode yang digunakan, akan semakin besar nilai probabilitasnya ramalan mendekati kenyataan. Sebaliknya, semakin jelek dan sedikit data pendukung, dengan peralatan dan metode yang seadanya saja, semakin jelek juga hasil ramalannya, nilai probabilitasnya pun menjadi rendah, hasil ramalan pun tidak sesuai kenyataan. Sebenarnya, dengan semakin seringnya BMG mengevaluasi hasil ramalannya dan membandingkannya dengan kejadian sebenarnya, akan semakin terbuka peluang hasil ramalan itu di kemudian hari menjadi lebih baik, tentunya dengan cara memperbanyak jaringan pengamatan dan juga menambah dan memperbaiki fasilitas-fasilitas pendukung.

Hari ini saya membaca di Guardian Unlimited, Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman (KK) menyampaikan bahwa sebenarnya Indonesia sudah menerima early warning (peringatan dini) dari Pacific Tsunamy Warning Centre (PTWC), yang memperkirakan akan kemungkinan terjadinya tsunami di Pantai Selatan Jawa (lihat jurnal peringatannya di sini). Jurnal itu diterbitkan tanggal 17 Juli pukul 08:36 UTC (15:36 WIB), 17 menit setelah gempa dengan kekuatan 7,2 (yang kemudian direvisi oleh USGS menjadi 7,7) terjadi di lepas pantai selatan Jawa pada posisi 9,3 LS dan 107,3 BT. Dalam peringatan dini itu disebutkan bahwa berdasarkan data sejarah kegempaan dan tsunami, memang penyebaran tsunami yang bersifat destruktif belum pernah tercatat di sekitar lokasi tersebut. Namun PTWC juga menyampaikan tentang kemungkinan adanya tsunami yang menerjang pantai yang lokasinya tak jauh dari pusat gempa. Bahkan PTWC juga telah memberikan perkiraan arrival time (waktu tiba) gelombang tsunami tersebut di wilayah Cilacap yaitu pukul 09:00 UTC (16:00 WIB).

Sayangnya, peringatan dini tersebut ternyata hanya dikempit (dipegang) di level atas saja dan tidak disampaikan ke masyarakat. Alasannya sederhana saja: “gimana kalau nggak terjadi?”. Apa yang ada di benak Pak KK itu sama seperti apa yang saya tuliskan dalam bagian pembuka postingan ini. Orang selevel menteri saja takut “disinisin” kalau “warning”-nya ternyata tidak betul-betul terjadi. Padahal namanya juga perkiraan, ada nilai probabilitasnya. Kalau terjadi, setidaknya proses mitigasi bencana akan berjalan dengan cukup baik, kalau tidak terjadi, ya marilah kita bersyukur kepada Tuhan yang masih melindungi kita dari bencana tsunami. Begitu kan seharusnya?

Tapi ya memang kadang sikap positif seperti itu sulit diperoleh dari khalayak. Yang lebih sering, jika para pemimpin salah memberikan “warning”, mereka akan disinisin dan “dibodoh-bodohin”. Tetapi kalau ternyata “warning” itu benar, dan sialnya tidak disampaikan kepada khalayak seperti pada kasus tsunami pantai selatan ini, ya mereka juga akan tetap “disinisin” dan “dibodoh-bodohin”, bahkan mungkin malah terlihat “kebodohan” asli mereka.

Makanya, benar kata Pak Budi Rahardjo, kita memang (sebenarnya) masih bodoh, tetapi karena tidak suka dikira benar-benar bodoh marilah kita katakan itu sebagai siksa dari Tuhan! Lha buat apa Tuhan memberikan kita akal kalau begitu? Memang gempa bumi belum bisa diramalkan, kalau gelombang tsunami datang kita juga tidak mungkin menangkisnya, bangunan-bangunan jelas akan hancur dan rusak, tapi setidaknya kita kan bisa mengurangi jumlah korban manusia dengan mengindahkan peringatan yang ada. Kalau peringatan itu benar, kita bersyukur masih bisa menyelamatkan diri kita. Kalau pun peringatan itu salah, kita juga akan tetap bersyukur karena ternyata tempat kita tidak dihantam tsunami. Iya khan?

Monday, July 17, 2006 

Animasi tsunami 17 Juli 2006

Berikut animasi tsunami pantai selatan Jawa akibat gempa yang terjadi di lepas pantai selatan Jawa (Samudera Hindia) tanggal 17 Juli 2006. Animasi diperoleh dari Tsunami Research Group ITB.

 

Gempa di lepas pantai selatan Jawa

Mungkin saja benar ada kaitan antara munculnya awan aneh yang terlihat di Bantul beberapa hari yang lalu dengan gempa yang hari ini terjadi berurutan di selatan Pulau Jawa, yang juga disertai tsunami di pantai selatan Jawa (Pangandaran, Cilacap, Kebumen dan Bantul).

Menurut catatan USGS, pada tanggal 17 Juli 2006 ini telah terjadi beberapa gempa secara berurutan di sekitar pantai selatan Jawa, yaitu:

  1. Pukul 15:19 di pantai selatan Jawa pada posisi 9.295°LS, 107.347°BT dengan kekuatan 7,2 pada kedalaman 48,6km (lihat informasi detail di sini).
  2. Pukul 16:05 di pantai selatan Jawa pada posisi 9.798°LS, 107.961°BT dengan kekuatan 5,7 pada kedalaman 10km (lihat informasi detail di sini).
  3. Pukul 16:13 masih di pantai selatan Jawa pada posisi 9.133°LS, 107.653°BT dengan kekuatan 6,1 pada kedalaman 46,6km (lihat informasi detail di sini).
  4. Pukul 17:09 masih di pantai selatan Jawa, pada posisi 8.860°LS, 107.799°BT dengan kekuatan 6 pada kedalaman 20km (lihat informasi detail di sini).
  5. Pukul 17:44 masih di pantai selatan Jawa pada posisi 9.043°LS, 107.777°BT dengan kekuatan 5,4 pada kedalaman 40,4km (lihat informasi detail di sini).
  6. Pukul 18:07 masih di pantai selatan Jawa pada posisi 9.486°LS, 107.732°BT dengan kekuatan 5,9 pada kedalaman 40,7km (lihat informasi detail di sini).

Dikabarkan, dan sesuai dengan peringatan yang diberikan oleh Pacific Tsunami Warning Centre dalam jurnalnya setelah kejadian gempa pertama seperti tersebut di atas, terjadi tsunami yang menghantam Pantai Pangandaran, Teluk Penyu dan Nusakambangan Cilacap, Pantai Ayah dan Suwuk Kebumen, dan pantai selatan Yogyakarta.

Sejauh ini, menurut berita, telah jatuh beberapa korban di lokasi-lokasi tersebut, yang akibat tsunami ini beberapa tempat terendam dan tersapu air laut. Sementara itu orang-orang di sekitar lokasi itu juga keluar dari rumahnya dan mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi. Bahkan di beberapa tempat sempat terjadi kecelakaan akibat padatnya arus lalu-lintas oleh orang-orang yang mencoba mengungsi ke tempat yang dianggap aman.

Dilaporkan run up gelombang tsunami di sekitar Pantai Ayah Kebumen mencapai jarak 200 meter dari garis pantai. Dilaporkan juga bahwa sebelum terjadi tsunami, air laut terlebih dahulu mengalami surut, sama seperti ketika tsunami menerjang Aceh 26 Desember 2004 yang lalu.

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares