« Home | Animasi tsunami 17 Juli 2006 » | Gempa di lepas pantai selatan Jawa » | Banjir lumpur hanya dianggap sebagai bencana? » | Banjir lumpur karena kesalahan Lapindo? » | Pemanasan global dan overheating » | Carbon sinks » | Bola, Bir, dan Demam Piala Dunia » | Banjir Lumpur Sidoarjo » | One of the global warming effect » | Positive thing of Krakatau eruption » 

Wednesday, July 19, 2006 

Mengempit early warning

Menyampaikan hasil prakiraan atau prediksi atau ramalan kepada khalayak ramai di Indonesia memang cukup sulit, kecuali jika ramalan itu diberikan oleh paranormal kondang atau kyai yang dianggap sakti. Maka dari itu, salah satu pekerjaan tersulit yang dipunyai BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) adalah bagaimana khalayak tidak merasa sinis dengan hasil ramalan mereka tentang cuaca atau masalah kegempaan jika hasilnya “agak” meleset atau malah meleset sama sekali.

Khalayak biasanya akan cenderung menyalahkan atau mencemooh jika hasil ramalan kurang atau tidak tepat dengan kenyataan, padahal namanya juga ramalan pasti ada nilai probabilitasnya. Semakin baik dan banyak data pendukung, dan semakin canggih peralatan dan metode yang digunakan, akan semakin besar nilai probabilitasnya ramalan mendekati kenyataan. Sebaliknya, semakin jelek dan sedikit data pendukung, dengan peralatan dan metode yang seadanya saja, semakin jelek juga hasil ramalannya, nilai probabilitasnya pun menjadi rendah, hasil ramalan pun tidak sesuai kenyataan. Sebenarnya, dengan semakin seringnya BMG mengevaluasi hasil ramalannya dan membandingkannya dengan kejadian sebenarnya, akan semakin terbuka peluang hasil ramalan itu di kemudian hari menjadi lebih baik, tentunya dengan cara memperbanyak jaringan pengamatan dan juga menambah dan memperbaiki fasilitas-fasilitas pendukung.

Hari ini saya membaca di Guardian Unlimited, Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman (KK) menyampaikan bahwa sebenarnya Indonesia sudah menerima early warning (peringatan dini) dari Pacific Tsunamy Warning Centre (PTWC), yang memperkirakan akan kemungkinan terjadinya tsunami di Pantai Selatan Jawa (lihat jurnal peringatannya di sini). Jurnal itu diterbitkan tanggal 17 Juli pukul 08:36 UTC (15:36 WIB), 17 menit setelah gempa dengan kekuatan 7,2 (yang kemudian direvisi oleh USGS menjadi 7,7) terjadi di lepas pantai selatan Jawa pada posisi 9,3 LS dan 107,3 BT. Dalam peringatan dini itu disebutkan bahwa berdasarkan data sejarah kegempaan dan tsunami, memang penyebaran tsunami yang bersifat destruktif belum pernah tercatat di sekitar lokasi tersebut. Namun PTWC juga menyampaikan tentang kemungkinan adanya tsunami yang menerjang pantai yang lokasinya tak jauh dari pusat gempa. Bahkan PTWC juga telah memberikan perkiraan arrival time (waktu tiba) gelombang tsunami tersebut di wilayah Cilacap yaitu pukul 09:00 UTC (16:00 WIB).

Sayangnya, peringatan dini tersebut ternyata hanya dikempit (dipegang) di level atas saja dan tidak disampaikan ke masyarakat. Alasannya sederhana saja: “gimana kalau nggak terjadi?”. Apa yang ada di benak Pak KK itu sama seperti apa yang saya tuliskan dalam bagian pembuka postingan ini. Orang selevel menteri saja takut “disinisin” kalau “warning”-nya ternyata tidak betul-betul terjadi. Padahal namanya juga perkiraan, ada nilai probabilitasnya. Kalau terjadi, setidaknya proses mitigasi bencana akan berjalan dengan cukup baik, kalau tidak terjadi, ya marilah kita bersyukur kepada Tuhan yang masih melindungi kita dari bencana tsunami. Begitu kan seharusnya?

Tapi ya memang kadang sikap positif seperti itu sulit diperoleh dari khalayak. Yang lebih sering, jika para pemimpin salah memberikan “warning”, mereka akan disinisin dan “dibodoh-bodohin”. Tetapi kalau ternyata “warning” itu benar, dan sialnya tidak disampaikan kepada khalayak seperti pada kasus tsunami pantai selatan ini, ya mereka juga akan tetap “disinisin” dan “dibodoh-bodohin”, bahkan mungkin malah terlihat “kebodohan” asli mereka.

Makanya, benar kata Pak Budi Rahardjo, kita memang (sebenarnya) masih bodoh, tetapi karena tidak suka dikira benar-benar bodoh marilah kita katakan itu sebagai siksa dari Tuhan! Lha buat apa Tuhan memberikan kita akal kalau begitu? Memang gempa bumi belum bisa diramalkan, kalau gelombang tsunami datang kita juga tidak mungkin menangkisnya, bangunan-bangunan jelas akan hancur dan rusak, tapi setidaknya kita kan bisa mengurangi jumlah korban manusia dengan mengindahkan peringatan yang ada. Kalau peringatan itu benar, kita bersyukur masih bisa menyelamatkan diri kita. Kalau pun peringatan itu salah, kita juga akan tetap bersyukur karena ternyata tempat kita tidak dihantam tsunami. Iya khan?

Assalamualaikum, wr wb.

Jangan suka nyalahin orang lain pak, anda sendiri sudah berbuat apa? untuk mencegah "musibah" itu, anda juga cuma bisa "nyeracau" di blog tanpa bisa berbuat sesuatu yang real, sama seperti saya, kerja kita cuma berangan-angan, berandai-andai.

Apa dengan tulisan tulisan ini kita merasa sudah berbuat sesuatu?

Ternyata tak satu pun tulisan tulisan kita di blog ini bermanfaat untuk mencegah musibah itu bukan, katanya kita pakar, ada pakar teknologi informasi dan komunikasi, ada pakar kelautan.
Katanya kita menuntut ilmu untuk kemaslahatan ummat, ini saatnya ilmu kita diperlukan untuk ummat, bisa tidak digunakan? tidak bisa bukan.

Mari pak kita ubah pola pikir kita,
jangan terlau percaya dengan ilmu-ilmu dunia, teori teori ilmiyah, teori teori itulah yang justru yang melalaikan kita dari mengingat ALLAH, teori teori yang membuat jalan panjang untuk bertemu dengan ALLAH.

Terserah apa maksud ALLAH dengan musibah ini, Siksa atau Peringatan, kalau itu peringatan, peringatan itu tentu berlaku bukan cuma buat masyarakat Jawa bagian selatan saja, tapi buat kita semua, atau kita masih tetap bersikeras dengan teori kesalahan prosedur, kesalahan pejabat, kesalahan peringatan, kesalahan ini atau itu.

Pak, maaf, kalau ALLAH sudah Berkehendak, tak satu kekuatan pun bisa mengahalanginya, tak satu teknologi pun bisa menahannya, tak satu teori pun bisa menjelaskannya.

Mari pak, kita tundukkan kepala, tafakur, kita perbanyak istighfar, mohon ampun pada ALLAH, perbaiki amalan amalan kita, agar tidak ALLAH turunkan lagi siksa-siksa yang lebih dahsyat, dimana tak satu teknologi pun bisa menghalanginya.

Bapak juga pun sudah salah, karena menyalah nyalahkan pejabat, saya juga salah, karena ngomelin bapak, maafkan saya ya pak.

Atau kita berani menyalahkan ALLAH???

# mister ius:
Anda emosian ya orangnya? hehehe...

Yang saya bingung kenapa kok dia berpatokan "Gimana kalau nggak terjadi?" ... bukan sebaliknya :

"Gimana kalau terjadi?"

Kalau saya yg mengambil keputusan seperti itu, mungkin kini saya kepikiran bunuh diri karena merasa bersalah .....

tidak ada sensor (pelampung) dipasang di selatan jawa. Bagaimana pacific warning system bisa tau? Sepertinya mereka juga tidak bisa menyimpulkan. Sekedar pengetahuan umum, gempa besar terjadi dilaut maka kemungkinan ada tsunami, dan tidak ada salahnya memberi peringatan. Jadi yg salah bukan departemen ristek saja. Semua orang yg tahu bahwa telah terjadi gempa di laut selatan jawa yg bersalah.

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares