Wednesday, August 30, 2006 

SBY mengijinkan Lapindo membuang lumpur ke laut

Di detik.com hari ini saya membaca berita bahwa SBY akhirnya mengijinkan Lapindo untuk membuang lumpurnya ke laut. Saya yakin Lapindo “tersenyum gembira” dengan ijin yang diberikan itu, karena membuang lumpur ke laut adalah alternatif yang paling mudah dan murah buat mereka. Tapi kalau kita memandang dari sudut lingkungan, ijin yang diberikan SBY jelas mengenaskan dan memprihatinkan karena berpotensi merusak kualitas lingkungan pesisir dan laut.

Secara sepintas memasukkan lumpur ke laut memang tidak akan menimbulkan beda yang signifikan buat manusia, kecuali mungkin secara kasat mata akan terlihat adanya perubahan warna air yg menjadi keruh atau terjadinya sedimentasi. Tapi, dari sudut pandang penghuni laut (tinjauan ekosistem), jelas akan ada pengaruh yang bisa jadi sangat signifikan. Artinya kondisi lingkungan yang sekarang ada akan mengalami perubahan akibat masuknya lumpur tersebut. Hal ini akan dirasakan oleh para penghuni lautan. Sudah pasti tidak mudah bagi para penghuni lautan itu untuk bisa langsung beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Lebih dari itu, proses untuk kembali kepada kondisi “setimbang” atau kondisi baru yang dapat ditolerir oleh para penghuni laut, dari saat ketika lingkungan mengalami kerusakan akibat masuknya lumpur itu, akan memakan waktu yang mungkin saja sangat lama jika ditinjau dari sudut pandang para penghuni laut yang sensitif pada perubahan lingkungan yang drastis.

Dampaknya ke manusia, sebagai predator di level akhir dari rantai makanan yang ada di laut, jelas tidak terlalu signifikan. Mungkin saja dampaknya akan cukup signifikan untuk beberapa kalangan yang mata pencahariannya bergantung pada ekosistem pantai dan laut seperti para nelayan atau petambak. Apalagi jika ternyata di dalam lumpur tersebut ada kandungan bahan yang mungkin beracun dan berbahaya jika terakumulasi di badan air atau di dalam tubuh makhluk hidup penghuni laut. Kalau sudah begini, bisa jadi manusia sebagai predator tingkat akhir pun akan ikut merasakannya akibat melahap makanan laut yang diperoleh dari lokasi yang tidak jauh dari tempat pembuangan lumpur.

Tapi memang, dari sudut pandang manusia, manusia jelas jauh lebih “berarti” dan "berharga" daripada binatang. Rusaknya ekosistem binatang lebih bisa “diterima” daripada “ekosistem” manusia yang rusak. Menenggelamkan desa jelas tidak manusiawi, dan alternatif menggelontorkan lumpur itu ke laut jelas lebih “baik” buat manusia dan dari sudut pandang manusia. Dari sisi ekonomi pun "lebih murah", dan dari sisi teknologi pun "sangat mudah". Tapi, masa sih di dunia ini tidak ada satupun teknologi yang bisa menyumbat lumpur yang keluar akibat kecerobohan manusia yang bekerja di industri pengeboran minyak? Padahal manusia kan sudah cukup lama berkecimpung di bidang ngebor-mengebor. Ah, mungkin mereka harus berkonsultasi dan berguru sama Inul si Ratu Ngebor!

Friday, August 04, 2006 

Awan gempa yang bikin parno

Sejauh ini, kalau kita mencoba mencari tentang fenomena “awan dan gempa” di mesin pencari, informasi yang ada belumlah begitu meyakinkan. Memang ada sebuah “paper” yang ditulis oleh Zhonghao Shou yang berjudul “Earthquake clouds and short term prediction”, yang katanya dimuat di Science and Utopya No.64 Th.1999 dalam edisi Bahasa Turki. Disebutkan dalam paper itu bahwa pada saat akan terjadi gempa, gesekan antar batuan akan menghasilkan energi panas (heat) yang bisa jadi cukup besar dengan temperatur sekitar 300 s.d. 1500 derajat Celcius di sepanjang patahan. Temperatur yang panas ini akan mengakibatkan air tanah menguap dan “terlepas” ke udara dan dibawa naik oleh angin permukaan, bertemu dengan udara yang lebih dingin dan terjadilah kondensasi atau proses per-awan-an (sengaja ditulis seperti itu supaya tidak tertukar dengan kata “perawan”).

Proses per-awan-an ini katanya seperti kalau kita membuat sutra tiruan (artificial silk), maka dari itu salah satu bentuk atau ciri dari awan gempa ini katanya memanjang seperti rambut si gadis Sunsilk yang dikepang atau terurai tertiup kipas angin. Beberapa kemungkinan lain dari bentuk awan gempa katanya ada yang seperti garis, ada juga yang seperti ular yang meliuk-liuk panjang, ada yang seperti bulu, ada juga yang seperti sinar lentera. Bentuk yang berbeda-beda ini katanya ditentukan oleh distribusi sumber uap air dan hembusan angin permukaan. Katanya lagi, awan gempa ini jika dibandingkan dengan awan cuaca bedanya sangat jelas. (Saya pakai kata “katanya” di sini karena memang belum pernah melihatnya sendiri).

Sekarang, untuk sementara, mari kita lupakan terlebih dahulu tentang bentuk awan gempa ini. Ada hal lain yang lebih menarik yang perlu dibahas terlebih dahulu sebelum kita membahas bentuk awan gempa ini. Seperti telah disebutkan di atas, awan gempa ini terjadi karena adanya uap air yang lepas dari batuan akibat adanya energi panas yang dihasilkan oleh gesekan antar batuan pada daerah pertemuan lempeng. Sayangnya hingga kini para ilmuwan yang sudah karatan berkecimpung dalam bidang gempa masih belum bisa mendeteksi jumlah energi panas tersebut sesuai dengan hasil perhitungan menggunakan hukum gesekan sederhana. Fenomena ini dikenal sebagai “Heat Flow Paradox”. Sejauh ini fenomena ini masih menjadi sebuah kontroversi dan belum terpecahkan. Seharusnya memang ada energi panas yang terbentuk ketika terjadi gesekan antar batuan/lempeng, tetapi entah kenapa sepertinya energi panas itu hilang secara misterius dan belum bisa dijelaskan sepenuhnya secara ilmiah.

Kalau kita mencoba mencari di mesin pencari tentang heat flow paradox ini, akan banyak kita temui artikel dan penelitian ilmiah yang mengulasnya dengan sangat lengkap. Jadi sebenarnya kalau kita berangkat dari fenomena heat flow paradox ini, apa yang dijelaskan oleh Shou tentang proses pembentukan awan gempa menjadi mentah kembali karena bagaimana mungkin akan terbentuk uap air dan awan gempa kalau energi panas yang menguapkan air tanah tidak ada?

Oh iya, sebagai informasi saja, di KCM tanggal 24 Juli 2006 ada juga berita tentang awan gempa dengan judul "Awan Gempa Sudah 384 Tahun Menjadi Misteri", yang berisi opini dari peneliti LAPAN Dr. Sarmoko Saroso. Kalau baca artikel tersebut, sepertinya beliau sependapat dengan Shou tentang awan gempa dan proses pembentukannya.

Sampai di sini, sepertinya cerita tentang awan gempa menjadi semakin seru saja ya? Sebetulnya saya kepingin juga melanjutkan ceritanya, karena ada pendapat lain yang mendukung teori Shou tentang awan gempa ini. Tetapi, berhubung lagi banyak setoran kerjaan, bagaimana kalau dilanjutkan minggu depan saja kisah awan gempanya?

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares