« Home | Peneliti Bombastis » | Arsip berita Pikiran Rakyat » | Mengempit early warning » | Animasi tsunami 17 Juli 2006 » | Gempa di lepas pantai selatan Jawa » | Banjir lumpur hanya dianggap sebagai bencana? » | Banjir lumpur karena kesalahan Lapindo? » | Pemanasan global dan overheating » | Carbon sinks » | Bola, Bir, dan Demam Piala Dunia » 

Friday, August 04, 2006 

Awan gempa yang bikin parno

Sejauh ini, kalau kita mencoba mencari tentang fenomena “awan dan gempa” di mesin pencari, informasi yang ada belumlah begitu meyakinkan. Memang ada sebuah “paper” yang ditulis oleh Zhonghao Shou yang berjudul “Earthquake clouds and short term prediction”, yang katanya dimuat di Science and Utopya No.64 Th.1999 dalam edisi Bahasa Turki. Disebutkan dalam paper itu bahwa pada saat akan terjadi gempa, gesekan antar batuan akan menghasilkan energi panas (heat) yang bisa jadi cukup besar dengan temperatur sekitar 300 s.d. 1500 derajat Celcius di sepanjang patahan. Temperatur yang panas ini akan mengakibatkan air tanah menguap dan “terlepas” ke udara dan dibawa naik oleh angin permukaan, bertemu dengan udara yang lebih dingin dan terjadilah kondensasi atau proses per-awan-an (sengaja ditulis seperti itu supaya tidak tertukar dengan kata “perawan”).

Proses per-awan-an ini katanya seperti kalau kita membuat sutra tiruan (artificial silk), maka dari itu salah satu bentuk atau ciri dari awan gempa ini katanya memanjang seperti rambut si gadis Sunsilk yang dikepang atau terurai tertiup kipas angin. Beberapa kemungkinan lain dari bentuk awan gempa katanya ada yang seperti garis, ada juga yang seperti ular yang meliuk-liuk panjang, ada yang seperti bulu, ada juga yang seperti sinar lentera. Bentuk yang berbeda-beda ini katanya ditentukan oleh distribusi sumber uap air dan hembusan angin permukaan. Katanya lagi, awan gempa ini jika dibandingkan dengan awan cuaca bedanya sangat jelas. (Saya pakai kata “katanya” di sini karena memang belum pernah melihatnya sendiri).

Sekarang, untuk sementara, mari kita lupakan terlebih dahulu tentang bentuk awan gempa ini. Ada hal lain yang lebih menarik yang perlu dibahas terlebih dahulu sebelum kita membahas bentuk awan gempa ini. Seperti telah disebutkan di atas, awan gempa ini terjadi karena adanya uap air yang lepas dari batuan akibat adanya energi panas yang dihasilkan oleh gesekan antar batuan pada daerah pertemuan lempeng. Sayangnya hingga kini para ilmuwan yang sudah karatan berkecimpung dalam bidang gempa masih belum bisa mendeteksi jumlah energi panas tersebut sesuai dengan hasil perhitungan menggunakan hukum gesekan sederhana. Fenomena ini dikenal sebagai “Heat Flow Paradox”. Sejauh ini fenomena ini masih menjadi sebuah kontroversi dan belum terpecahkan. Seharusnya memang ada energi panas yang terbentuk ketika terjadi gesekan antar batuan/lempeng, tetapi entah kenapa sepertinya energi panas itu hilang secara misterius dan belum bisa dijelaskan sepenuhnya secara ilmiah.

Kalau kita mencoba mencari di mesin pencari tentang heat flow paradox ini, akan banyak kita temui artikel dan penelitian ilmiah yang mengulasnya dengan sangat lengkap. Jadi sebenarnya kalau kita berangkat dari fenomena heat flow paradox ini, apa yang dijelaskan oleh Shou tentang proses pembentukan awan gempa menjadi mentah kembali karena bagaimana mungkin akan terbentuk uap air dan awan gempa kalau energi panas yang menguapkan air tanah tidak ada?

Oh iya, sebagai informasi saja, di KCM tanggal 24 Juli 2006 ada juga berita tentang awan gempa dengan judul "Awan Gempa Sudah 384 Tahun Menjadi Misteri", yang berisi opini dari peneliti LAPAN Dr. Sarmoko Saroso. Kalau baca artikel tersebut, sepertinya beliau sependapat dengan Shou tentang awan gempa dan proses pembentukannya.

Sampai di sini, sepertinya cerita tentang awan gempa menjadi semakin seru saja ya? Sebetulnya saya kepingin juga melanjutkan ceritanya, karena ada pendapat lain yang mendukung teori Shou tentang awan gempa ini. Tetapi, berhubung lagi banyak setoran kerjaan, bagaimana kalau dilanjutkan minggu depan saja kisah awan gempanya?

gak nulis lagi mas
kangen nech ulasan ulasan nya

Mas, masih inget saya engga? September ini saya mudah - mudahan ke Frankfurt loh :P

# mister ius:
lagi males nulis oom... :)

# oskar:
masih inget dong...
beneran nih mau ke frankfurt? brp lama? mampir ke hamburg atuh...

kangen nech ulasan ulasan nya

hemmhh,,parno juga nwajar mas:)

kunjung balik gan http://www.investasijutawan.com

masih ada bencana susulan

Post a Comment

My Digest

About me

  • I'm agus set
  • From Hamburg, Germany
about me
Google

Powered by Blogger
and Blogger Templates
Listed on BlogShares