SBY mengijinkan Lapindo membuang lumpur ke laut
Secara sepintas memasukkan lumpur ke laut memang tidak akan menimbulkan beda yang signifikan buat manusia, kecuali mungkin secara kasat mata akan terlihat adanya perubahan warna air yg menjadi keruh atau terjadinya sedimentasi. Tapi, dari sudut pandang penghuni laut (tinjauan ekosistem), jelas akan ada pengaruh yang bisa jadi sangat signifikan. Artinya kondisi lingkungan yang sekarang ada akan mengalami perubahan akibat masuknya lumpur tersebut. Hal ini akan dirasakan oleh para penghuni lautan. Sudah pasti tidak mudah bagi para penghuni lautan itu untuk bisa langsung beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Lebih dari itu, proses untuk kembali kepada kondisi “setimbang” atau kondisi baru yang dapat ditolerir oleh para penghuni laut, dari saat ketika lingkungan mengalami kerusakan akibat masuknya lumpur itu, akan memakan waktu yang mungkin saja sangat lama jika ditinjau dari sudut pandang para penghuni laut yang sensitif pada perubahan lingkungan yang drastis.
Dampaknya ke manusia, sebagai predator di level akhir dari rantai makanan yang ada di laut, jelas tidak terlalu signifikan. Mungkin saja dampaknya akan cukup signifikan untuk beberapa kalangan yang mata pencahariannya bergantung pada ekosistem pantai dan laut seperti para nelayan atau petambak. Apalagi jika ternyata di dalam lumpur tersebut ada kandungan bahan yang mungkin beracun dan berbahaya jika terakumulasi di badan air atau di dalam tubuh makhluk hidup penghuni laut. Kalau sudah begini, bisa jadi manusia sebagai predator tingkat akhir pun akan ikut merasakannya akibat melahap makanan laut yang diperoleh dari lokasi yang tidak jauh dari tempat pembuangan lumpur.
Tapi memang, dari sudut pandang manusia, manusia jelas jauh lebih “berarti” dan "berharga" daripada binatang. Rusaknya ekosistem binatang lebih bisa “diterima” daripada “ekosistem” manusia yang rusak. Menenggelamkan desa jelas tidak manusiawi, dan alternatif menggelontorkan lumpur itu ke laut jelas lebih “baik” buat manusia dan dari sudut pandang manusia. Dari sisi ekonomi pun "lebih murah", dan dari sisi teknologi pun "sangat mudah". Tapi, masa sih di dunia ini tidak ada satupun teknologi yang bisa menyumbat lumpur yang keluar akibat kecerobohan manusia yang bekerja di industri pengeboran minyak? Padahal manusia kan sudah cukup lama berkecimpung di bidang ngebor-mengebor. Ah, mungkin mereka harus berkonsultasi dan berguru sama Inul si Ratu Ngebor!

gw kecewa banget ama pemerintah..
kenapa segitu mudahnya kasih ijin buang lumpur yang jelas - jelas berbahaya ke laut..
jadi pingin tau, kandungan lumpur itu apa aja. Alasan utama Menteri LH dan Menteri Sumber Daya Kelautan tolak rencana itu khan karena lumpur itu berbahaya banget. Katanya mengandung timbal? bukannya begitu masuk ke rantai makanan (lumpur bercampur pasir laut, ditumbuhi rumput laut, rumput laut dimakan ikan, ikan dimakan manusia), bukannya sama aja meracuni manusia?
Hebat banget pengaruh Lapindo, sampai - sampai Pak SBY juga cuek ama resiko sebesar ini.
Posted by
Anonymous |
9:02 AM
bukan berita yang mengejutkan. ketika skenario ketiga dibeber, sudah sangat kentara akan kegagalannya. bahkan, alternatif terburuk --yakni dibuang ke laut--- sudah menjadi alternatif kegagalan. alasannya, itulah alternatif terbaik, daripada harus mengorbankan 'daratany' yang dihuni oleh manusia.
Posted by
Imponk |
5:25 PM
Wadoooh!
Pak SBY udah ga rasional!
Coba kalo dy jadi ikan di lautan, pasti bakal mencak-mencak !!!
PAk SBY-maaF- kok gobloknya diliatin? kkatanya S3 di IPB tapi kok masalah lingkungan yang erat kaitannya denganIPB malah -maaf- TELMI(telat mikir)!
mungkin nanti beliau akan menyesal di akhirat, ketika ditanya mengapa ia membuat keputusan yang menyengsarakan banyak makhluk ciptaan ALLAH di laut...dasar presiden Indonesia !ga ada yang beres!!!
Saya sebagai pemerhati masalah kelautan, tidak akan pernah merasa respek atas keputusan tersebut!
Pak agus, kalo Bpk punya info seputar kelutan , tlg kirimi saya ya, berbagi ilmu lah...
(nano_theoceanmember@yahoo.co.id)
Posted by
nano_psp |
4:54 PM
Yg Kita perlukan adalah Istighosah, Taat dan Tawakal pada ALLAH.
Yakin yg terlalu berlebihan pada teknologi membuat manusia lupa fithrahnya.
Lupa akan adanya Dzat Yang Maha Jalal, Maha HEBAT, Yang Mengatur Alam ini.
Posted by
Mutia |
8:06 AM
waduh emang menyedihkan dengan keputusan yang diambil ;( memang kadang2 pemerintah hanya melihat jangka pendek tanpa memikirkan jangka panjangnya.
apa kabar pak? skalian mo ngucapin mohon ma'af lahir bathin, selamat menjalankan ibadah puasa ya, salam buat keluarga :)
Posted by
Hani |
4:05 AM
Si Ratu ngebor itu jangan dijadikan konsultan, tapi disuruh pensiun ngebor aja mungkin saja jadi solusi masalah Lapindo :))
Selamat menunaikan Ibadah Ramadhan mohon maaf lahir bathin
Posted by
MFI |
10:13 AM
suck ... !!!
kenapa sih yang punya lapindo tuh ga digantung aja...
Posted by
mitora in life |
8:22 AM
kebetulan mampir di postingan lama. masih menarik untuk di baca2
Posted by
Oil Gas Job |
10:57 PM
kok bisa gitu seh ? ekosistem laut kan secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan manusia juga, orang bule aja rela menanam kembali terumbu karang yang rusak, eh ini malah membuang lumpur ke laut ???!!
Posted by
Kim |
6:12 AM